Thursday, November 12, 2020

Saya, Matematika Dan Kehidupan

aku dan matematika

Sharing By Rey - Apa yang ada di benak temans, kalau mendengar kata 'matematika'?
Kalau saya? Duh males banget!

Matematika itu mengingatkan saya akan masa kelam sewaktu kuliah.

Biarpun demikian, saya masih menyimpan rasa takjub sendiri, mengingat saya adalah seorang sarjana teknik sipil, which is saya bisa lulus banyak mata kuliah yang basic-nya adalah matematika.

Kok bisa gitu ya? hahaha.


Matematika Di Masa Kecil Saya


Saya mencoba mengingat-ngingat, apakah memang sejak kecil saya tidak menyukai matematika?
Tapi sepertinya enggak sih ya.

Seingat saya, nilai matematika saya ketika SD juga bagus, SMP demikian.
STM juga sedang-sedang saja.

Bahkan seingat saya, nilai raport saya ketika SD di pelajaran matematika sangat bagus.
Terlebih, dulu saya begitu tajam mengingat sesuatu, dan iya.. matematika itu saya hafal.
Mungkin itu kali ya penyebab saya nggak secinta long lasting itu sama matematika.

Mungkin karena saya gemar membaca, jadinya saya banyak mengingat tentang perkalian dan segalanya.
Bukan hanya rajin membaca, tapi juga rajin berlatih dengan soal-soal buatan sendiri.
Jadinya, nggak heran sih waktu SD nilai-nilai pelajaran saya bisa dibanggakan.

Yang mengherankan itu, justru mengapa sekarang saya malas banget ya belajar, hahaha.

agar mencintai matematika

Mungkin karena saya hanya sebatas menghafal matematika kali ya, bukannya paham secara logikanya.
meskipun soal-soal yang ada tetap bisa saya pahami, tapi nggak tahu kenapa, setelah dewasa kok ya jadi semacam alergi sama matematika.

Karena nilai dan pengetahuan saya akan matematika di masa kecil masih bisa dibilang bagus, jadinya saya nggak pernah menganggap guru matematika itu killer atau seseorang yang harus dihindari.
Saya senang-senang aja saat tiba mata pelajaran matematika, dan bahagia aja ketika gurunya masuk kelas.

Justru seingat saya, rasa semangat langsung memenuhi relung hati, saking nggak sabar untuk memulai tambahan pengetahuan tentang pelajaran matematika.

Dan semua itu terbawa sampai STM kalau nggak salah.


Ketika Matematika Mulai Terasa Berat Buat Saya


Seingat saya, matematika mulai terasa berat ketika saya mulai kuliah.
Entahlah, mungkin karena memang saya tidak benar-benar memahami matematika, atau mungkin saya mulai pikun, dikarenakan dimanjain oleh kalkulator (di Teknik Sipil kalkulator canggih itu wajib dong, hahaha).

Atau bisa juga karena saya sebelumnya menganggur setahun, paska nggak lulus UMPTN di universitas negeri di Kendari.
Selama nganggur setahun itu memang, kerjaan saya cuman main sama anaknya ayam bebek, atau menulis novel (padahal mah nulis diary, hahaha).

Sempat juga sih belajar sedikit-sedikit, namun jarang banget bisa fokus dan meresap pelajarannya.
Justru saya malah lebih suka menghabiskan waktu untuk membaca banyak buku apapun yang belum pernah saya baca, termasuk buku dengan tulisan tangan.

Saya ingat banget, dulu bahkan saya paham beberapa prosedur menangani ibu melahirkan, gara-garanya baca buku pelatihan mama, hahaha.
Bukan hanya itu, saya juga tahu step by step otopsi jenazah kecelakaan, saking membaca dengan seksama buku dokter di Puskesmas, yang dititipkan di rumah kami, ckckck.

Makanya ya, saya nggak lulus UMPTN kedua kalinya, hahahaha.

Setelah masuk kuliah, paska nganggur setahun itu, sebenarnya saya udah terlebih dahulu ikut bimbingan belajar.
Dan mulai saat itulah saya merasa, betapa matematika itu menyebalkan sekali.

Saya benci banget liat soal xyz dan semacamnya itu.
Jadi sebenarnya, nggak harus juga saya kecewa nggak lulus UMPTN 2 kali, lah wong saya ngerjain soal matematika, pakai ilmu kira-kira.
Kalau nggak A, pasti jawabannya B, kalau enggak ya C, dan atau D, hahaha.

Masuk kuliah, lebih parah lagi.
Saking parahnya, saya bahkan dapat nilai D untuk mata kuliah kalkulus I.
Oh ya, btw, bagi yang belum tahu, di Teknik Sipil nggak ada matematika, adanya kalkulus.

Dan kabar buruknya, mengapa saya nggak lulus kalkulus I itu, karena matematika dan kalkulus itu beda.
Di mana, matematika itu lebih umum, yaitu sebuah studi yang membahas mengenai besaran, struktur, ruang, dan perubahan.

aku dan pelajaran matematika

Sementara kalkulus adalah, cabang dari matematika, yang mana mencakup ilmu limit, turunan, integral, dan deret tak terhingga.

Oh my....
Saya masih ingat banget, bagaimana alerginya saya sama xyz, eh ketambahan integral yang bikin kepala puyeng, hahaha.

Alhasil, pertama kali ambil kuliah Kalkulus I, saya dapat nilai D dong, yang kemudian saya ulangi di semester berikutnya, dan lalu saya berhasil melewati mata kuliah tersebut dengan nilai E!

Iya, diulangi malah makin parah, hahaha.

Sampai akhirnya saya ulangi yang ketika kalinya mempelajari Kalkulus I, dan lulus dengan nilai C+ (ya lumayan lah yah! hahaha.

Meskipun demikian, lucunya, saya mengulang kalkulus I sampai 3 kali, namun saya bisa sekali lulus di kalkulus II hingga Kalkulus apa ya namanya, yang isinya integral berlapis-lapis.
Sungguh sebuah keajaiban, karena sampai sekarang saya sama sekali nggak ngerti cara penyelesaian integral berlapis-lapis itu.

Integral 1 lapis aja, bingung.
Apalagi berlapis-lapis.


Ketika Matematika Selalu Mengikuti Hidup Saya


Betapa bahagianya saya hidup di alam sekarang.
Terlebih ketika sudah lulus teknik sipil.
Itu juga kali ya, sewaktu habis lulus dulu, mama saya pernah nawarin agar saya lanjut S2, mumpung waktu itu beliau masih kerja katanya.

Tapi saya udah alergi duluan mengingat integral-integral tersebut.

Akhirnya saya malah terjun ke dunia kerja, dan bahagia banget, karena saya bersahabat baik dengan kalkulator canggih, serta program excel yang amat sangat membantu saya dalam menghitung sesuatu.

matematika yang menyebalkan

Meskipun, saking tergantungnya sama kalkulator, bahkan perhitungan, baik penjumlahan, pembagian, perkalian di bawah 10 pun, saya butuh pakai kalkulator.

Kalau ke pasar?
Sok aja gitu nanya, berapa harganya?
Padahal juga percuma, saya nggak bisa menjumlahkan totalnya dengan benar hahaha.

Untuk memperlihatkan pada penjual, bahwa saya nggak bisa dibohongin, saya pura-pura nanya aja, biar kata totalnya nggak tahu pasti hahaha.
Ini juga berlaku saat belanja di supermarket atau semacamnya.

Di depan kasir, saya pura-pura ngecekin struk belanja, biar kasirnya takut macam-macamin total belanjaan.
Padahal mah gegayaan doang, saya juga nggak bisa menjumlahkannya dengan pasti wakakakak.

Hidup bergantung pada orang lain, karena perhitungan saya jadi semakin parah pikunnya.
Ternyata tidak serta merta membuat saya lepas dari matematika.

Ketika si kakak sekolah SD dan ternyata dia juga agak kurang di perhitungan.
Alhasil, selama masa pandemi ini, dan adanya pembelajaran jarak jauh, mau nggak mau saya kudu turun tangan mengajarinya tentang matematika.

Untungnya, si kakak hafal perkalian maupun penjumlahan, tapi kadang saya ngajarin, terus nggak tahu penjumlahan, saya pura-pura nanya untuk ngetes.
Padahal ya nanya karena benar-benar lupa, wakakakak.

Akan tetapi, percaya nggak percaya, gara-gara hal itu, saya jadi mulai mengerti lagi dengan matematika, mulai familier lagi, karena saya berusaha keras untuk membantu si kakak memahami soal matematikanya, yang mana masih kelas 4, tapi soal yang diberikan sungguh luar biasa, hahaha.


Demikianlah kisah saya, matematika dan kehidupan.
Di mana matematika yang dulu saya sukai, tiba-tiba berubah jadi sesuatu yang menyebalkan, sampai akhirnya setelah jadi ibu saya kudu bersahabat lagi dengan matematika tersebut.

Benar kata orang bijak, bukan karena guru memaksa anak-anak harus tahu matematika, biar kata anak nggak suka matematika.
Karena memang matematika dan kehidupan itu nggak akan pernah bisa lepas.

Karenanya, suka nggak suka, setidaknya kudu paham akan ilmu dasar matematika.
Karena itu bakal dipakai selama di kehidupan ini.

How about you, temans? 
 
Sidoarjo, 12 November 2020

Artikel ini diikut sertakan dalam challenge 'Nulis Blog Bareng Ning Blogger Surabaya' bulan November 2020
dengan tema : 'aku dan matematika'

Sumber: pengalaman pribadi
Gambar: Canva edit by Rey

7 comments:

  1. Hemm.. matematika sih termasuk pelajaran yang saya suka, tetapi tidak dengan fisika dan kimia.

    Saya ga kesulitan kalau harus berhitung ringan di luar kepala karena dulu diajarin "mencongak" waktu sekolah alias berhitung di luar kepala. Jadi kalo soal jumlah jumlahin is OK.

    Si kribo rupanya juga mewarisi dan nggak masalah soal matematika, masalah sama dengan fisika dan kimia.. wakakakakak..

    dua-duanya milih jadi fotografer sajah..

    btw, berarti harus jadi tanda buat Rey bahwa matematika bukan kekuatan si Kakak dan berarti harus mengarahkan pada sisi dimana dia kuat.. iya nggak sih

    ReplyDelete
  2. Masih mending mbak lulus dengan C+ aku C doang hahahha, sejak kecil emang aku lemah banget sama matematika mba, dan payahnya aku ga mau belajar lebih, beda samaa bahasa inggris, walopun sampe lulus kuliah aku ga ngerti apa2 tentang bahasa inggris, tp pas udah kerja aku malah rajin banget belajar otodidak tiap hari hahahha.

    Kalau matematika sampe skrg masih nyerah deh, ngitung diskonan baju di mall aja pake kalkulator hahahaha, payah.

    ReplyDelete
  3. Hahahaha kita samaan Kak Rey πŸ™ˆ
    Sebenarnya aku suka aja sama matematika, tapi kalau udah belajar integral dan teman-temannya, aku suka malas karena rumusnya banyak 🀣
    Makanya waktu masuk kuliah, aku senang banget karena akan terhindar dari matematika. Ternyata kebahagiaanku semu, ternyata di Semester 5 aku dapat pelajaran matematika walaupun yang umum dan hanya 1 semester, tapi tetap aja kepala jadi ngebul karena udah lama nggak belajar matematika 🀣

    Dan betul kata Kak Anton. Karena Si Kakak udah kelihatan tidak begitu tertarik ke matematika, ini saatnya Kak Rey untuk mengarahkan ke bidang lain. Mungkin ke bahasa? Hahaha. Semangats Kak Rey! πŸ€—

    ReplyDelete
  4. Dulu wkt SMA, aku pernah suka pelajaran matematika, tapi itu karena guru yang ngajarnya enak...
    E#tapi pas ganti guru, jadi deh hilang sukanya.
    Makanya pas kulia, aku pilih jurusan yg kagak ketemu sama matematikaπŸ˜…

    Sekarang anak suruh les matematika, biar kalo ada yg gak ngerti, tanya ajah sama guru lesnya...😊

    ReplyDelete
  5. hahahaha kisahnya mirip lah sama aku
    kadang kalau belanja pun, aku pasrah sama uang kembalian, auk ahh gitu aja, wes percoyo ae sama yang jual. Dan kayaknya pernah juga, uang kembalian kurang, kalau ini aku ga yakin, antara kurang atau habis terima uang kembalian, langsung aku pake belanja lagi, jadi lupa minusnya dimananya

    sekarang aja kalau lagi blank, ngitung suka ga bener hasilnya :D
    aku dulu juga pakai ilmu kira-kira, apalagi kalau kata gurunya, kertas jawaban ga boleh kosong, yaudah isi aja ngarang hahahaha

    ReplyDelete
  6. Saya sukaaaaa banget matematika, mba πŸ˜‚

    Sampai sekarang masih suka, paling hobi hitung uang hahaha (iya Matematika sangat membantu saya dalam urusan kerja) πŸ˜† However, meski saya cinta matematika, saya nggak suka pelajaran yang menghapal. Atau yang nggak ada angkanya 🀣 Jadi nilai saya nggak balance. Hahaha.

    Saya agree kalau matematika dibutuhkan dalam keseharian kita, bahkan untuk hal paling basic yaitu hitung uang kembalian 🀣 Jadi sebisa mungkin, meski nggak jago-jago amat, si kakak tetap perlu belajar basic matematika agar terbiasa berhitung di luar kepala. Mungkin bisa diperkenalkan ke video Youtube Jerome Polin, mba hahaha 🀣

    ReplyDelete
    Replies
    1. wowww aku beda banget sama mba eno hehehehe

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)