Sunday, August 09, 2020

Film Sabtu Bersama Bapak, 'Kasih Dan Peran Bapak Yang Selalu Mendampingi'


Sharing By Rey - Film Sabtu Bersama Bapak ini, sesungguhnya sudah lama banget pengen saya tonton.

Bukan hanya karena Abimana Aryasatya yang gantengnya kebangetan itu *plak **mamak ganjen!
Tapi memang karena kalau dilihat dari judulnya pun, bikin saya penasaran, dengan sebuah pertanyaan kecil di pikiran,
"Ada apa dengan hari Sabtu yang harus bersama Bapak?"
Dan begitulah, beberapa hari kemaren, saya selalu kesulitan tidur, efek dari minum kopi pas ngantuk di saat lagi nulis, alhasil untuk mengundang kantuk, saya coba menonton sesuatu, baik youtube maupun film.

Dan off course, karena keterbatasan waktu, saya benar-benar memilih, film apa yang kudu saya tonton sampai selesai, selain saya punya ekspektasi, nonton mengundang kantuk, membuat mood membaik, daaaan yang paling penting saya dapat ide buat tulisan di blog, hahaha.

Laluuuu...
Saya malah menangis setelah menonton film ini.
Sungguh saya baper maksimal!


Sinopsis Lengkap Film Sabtu Bersama Bapak


Seperti biasa, sebelum memulai bocorin sinopsis ini, i warning you, ini bakal spoiler abis!
Karena saya nggak suka nulis film setengah-setengah, biar suatu saat nanti saya baca nggak bingung sendiri dengan sinopsisnya, hihihi.

Film Sabtu Bersama Bapak, 'Kasih Dan Peran Bapak Yang Selalu Mendampingi'
Sumber : youtube

So, bagi temans yang nggak suka baca cerita lengkap, sila skip ke review di sub judul di bawah aja.

Gunawan Garnida (Abimana Aryasatya) dan Itje (Ira Wibowo) adalah sepasang suami istri berbahagia dengan 2 jagoan mereka, Satya Garnida (Arifin Putra) Dan Cakra Garnida (Dave Mahendra).

Suatu hari, Gunawan dan Itje menerima kabar yang membuat dunia mereka runtuh, yaitu Gunawan divonis menderika kanker dan hidupnya hanya tinggal setahun lagi.

Sebagai seorang bapak yang terbiasa hidup penuh dengan rencana dan kasih sayang untuk kedua anak-anaknya, Gunawan sedih memikirkan bagaimana nasib kedua anaknya tumbuh dewasa tanpa pendampingannya, serta istrinya sepeninggalannya.
Hingga akhirnya memutuskan membuat rekaman-rekaman vidio yang isinya cerita dan pesan-pesan kepada kedua anak dan istrinya.

Gunawan juga berpesan kepada Itje, agar menonton vidio tersebut bersama kedua anaknya, setiap hari Sabtu. 

Demikianlah, Gunawan akhirnya meninggal dunia.
Dan vidio-vidio tersebut menjadi penguat serta hari Sabtu menjadi hari yang amat sangat ditunggu oleh kedua anaknya serta Itje istrinya.
"Mungkin Bapak tidak dapat berada di samping Kalian. Tapi, Bapak ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin dapat mengajarkan kalian"
Baperrrrrrrr......

Fokus Rey, lanjut..

Rekaman-rekaman tersebut, amat sangat membantu kedua anaknya, Satya dan Cakra serta istrinya Itje dalam meneruskan kehidupan mereka tanpa sang Bapak, Gunawan.

sinopsis film sabtu bersama bapak
Sumber : indozone

Atas motivasi dari salah satu vidio yang ditinggalkan, Itje akhirnya bisa membuka sebuah restoran keluarga, dan dengan dibantu kedua anaknya, usaha tersebut sukses menjadi sebagai sumber pemasukan bagi mereka.

Waktu terus berlalu, tanpa disadari, Satya dan Cakra telah tumbuh dewasa, Satyapun bertemu dengan wanita cantik bernama Rissa (Acha Septriasa), dan menikah kemudian mereka pindah ke Perancis, karena Satya memilih bekerja di lapangan yang mana letaknya lebih dekat dari Perancis.

Satya lalu dikaruniai 2 orang anak lelaki, dan sejak menikah Rissa, istrinya terpaksa menguburkan semua karirnya demi mengikuti semua rencana Satya, yaitu Satya bekerja mati-matian untuk menyenangkan keluarganya, sementara Rissa hanya perlu di rumah menjadi ibu dan istri yang baik.

Sementara Cakra, telah sukses menjadi seorang direktur, namun masih belum kunjung mendapatkan jodoh.

Plot cerita kemudian menyorot tentang kehidupan kedua anaknya, Satya dan Cakra yang terus tumbuh dengan berbekalkan pesan bapaknya.

Satya, menjadi seorang lelaki yang benar-benar straight pada rencana-rencana yang sudah dia bicarakan dengan istrinya Rissa.

Namun ternyata, hal itu menjadi masalah buat mereka.
Rissa merasa kesepian karena Satya jarang berada di rumah, terus bekerja keras demi melunasi rumah yang mereka punyai, serta menyediakan tabungan pendidikan buat anak-anaknya.

Bukan hanya itu, Satya juga sangat keras akan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan anaknya.
Anaknya harus menjalani semuanya dengan sempurna sesuai minat dan bakatnya.

Di mana anak pertamanya punya bakat di matematika, Satya menuntut agar Rissa bisa mendampinginya untuk menjadi lebih sempurna di bidang tersebut, demikian juga dengan anak keduanya yang tertarik dalam bidang soccer, Satya menginginkan agar anak-anaknya menjalaninya dengan sempurna.

Rissa juga diharapkan untuk bisa belajar memasak seenak ibunya, di mana bahkan setiap masak pun, meski sudah minta diajarin ibu mertuanya, tetap saja masakannya asin, hahaha.

Berbeda dengan itu, Rissa menganggap kehidupan mereka tidak sempurna, karena Satya tidak pernah bsia selalu ada buat anak-anak mereka, terutama anak-anak mereka adalah lelaki.

Karenanya Rissa nekat bekerja tanpa sepengetahuan Satya yang berakhir dengan keduanya hampir saja jadi korban penculikan anak.

Satya lalu marah besar mengetahui hal tersebut, dan menuduh Rissa gagal menjadi ibu, hal tersebut membuat Rissa muak dan memilih meninggalkan Satya dengan anak-anaknya.
(i am so jealous, andai saya bisa seperti itu, saat marah bisa pergi sejenak meninggalkan suami dan anak-anak, biar suami tahu rasanya menjadi saya, huhuhu).

Sepeninggal Rissa, Satya menjadi kehilangan arah, marah dan kesal kepada bapaknya, karena merasa semua nasihat bapaknya adalah sia-sia, tidak bisa berjalan sesuai kenyataan.
Hingga akhirnya Satya tertidur dan mimpi bertemu dengan bapaknya.

Satya marah dan menuduh bapaknya telah berbohong dengan semua pesan-pesannya.
Bapaknya menenangkannya dan berpesan bahwa, rencana masa depan itu penting sekali, akan tetapi jangan pernah lupakan masa sekarang, dampingilah keluarga dengan nyata.      

Satya akhirnya tersadar, bahwa selama ini dia sudah terlalu fokus pada rencana masa depan, dan lupa dengan kehidupan sekarang.
Dia segera mencari Rissa untuk membicarakan masalah mereka.
Dan demikianlah, akhirnya Satya setuju untuk menjalani rencana kehidupan mereka bersama-sama, dan tentunya selalu ada di samping keluarga.

Sementara untuk Cakra, dia punya masalah dalam mencari jodoh.
Selalu salah tingkah di hadapan wanita, sehingga akhirnya ibunya yang turun tangan menjodohkannya dengan anak temannya, yang ternyata adalah wanita incarannya, Ayu (Sheila Dara Aisha).

Lalu, Itje, yang memilih menjalani hidup tanpa merepotkan anak-anaknya, hingga saat terkena tunor pun, dia memilih merahasiakan dari anak-anaknya dan menjalani operasi tanpa kehadiran anak-anaknya.

Itje selalu ingat kata suaminya bahwa,
"Waktu kecil, kita berusaha tidak merepotkan siapapun, dan setelah tua, jangan sampai merepotkan anak-anak"
Hingga, akhirnya Cakra mengetahui keadaan ibunya, dan meminta ibunya untuk tidak pernah merahasiakan apapun dari anak-anaknya.

Di akhir cerita, Satya dan Rissa pulang menengok ibunya di Indonesia, sementara Cakra dan Ayu, si gadis incarannya jadian dan ibu mereka mulai membaik setelah nurut apa kata dokter dan menerima semua perawatan yang ditawarkan.



Review Film Sabtu Bersama Bapak

     
Film ini merupakan salah satu dari beberapa film Indonesia yang luar biasa menurut saya, di adaptasi dari novel best seller Adhitya Mulya dengan judul yang sama.
Saking larisnya novel tersebut, membuat Maxima Pictures melalui sutradara kenamaan Monti Tiwa, mengangkatnya ke layar lebar.

novel sabtu bersama bapak
Pemeran Satya bersama Adhitya Mulya, sumber : kapanlagi 

Dan menurut saya, jadi sangat berhasil dengan akting keren dari para pemainnya.
Si bapak alias si ganteng Abimana (dasar ya mamak ganjen, hahaha), yang aktingnya tuh nggak pernah failed sih menurut saya.

Terlebih dengan akting Acha Septriasa, idola banget deh buat saya akan akting si mamak imoet tersebut.

Saya belum baca novelnya sih, tapi menurut saya, film ini amat sangat berhasil menyamai tenar dari novelnya.
Meskipun, saya amat yakin, filmnya pasti nggak selengkap novelnya.
Ya kaliii... novel berlembar-lembar, bisa divisualisasikan sempurna dan detail serta lengkap dalam durasi waktu 2 jam saja?

Selain itu aktingnya, cheers banget deh sama MUA yang make up-in para aktrisnya, terutama Ira Wibowo. 
Sumpah ya, saya sampai mengira-ngira, benarkah Ira seumuran dengan Abimana?
Karena di adegan masa si Bapak hidup, Ira sungguh tampil serasa wanita muda banget, nggak ada keriput sama sekali yang terlihat, selain rambutnya yang terlihat banget kalau fake hehehe.
Review film sabtu bersama bapak
Sumber : liputan6

Lalu, keadaan Ira Wibowo setelah anak-anaknya dewasa, mulai terlihat gurat-gurat usianya, terlebih saat berperan sedang sekarat karena terkena tumor.

Kalau Acha nggak usah diragukan lagi kali ya, saya suka banget dia memerankan semua film, dan di film Sabtu Bersama Bapak ini, seperti biasa Acha dan Arifin begitu sukses memerankan peran suami istri, semacam chemistry-nya udah pas banget (mungkin juga karena ada adegan kiss kiss segala kali yak, hehehe)

Serta Dave Mahendra, seingat saya, film Dave yang saya tahu itu baru fim Sabtu Bersama bapak ini dan juga Cinta Laki-Laki Biasa, yang perannya juga agak mirip, sebagai lelaki agak culun, hahaha.

Over all saya memberi rating 4,5 dari 5 untuk film Sabtu Bersama Bapak ini.


Makna Dan Pesan Penting Dari Film Sabtu Bersama Bapak


Film Sabtu Bersama Bapak ini benar-benar sarat makna, bikin baper.
Saking banyaknya makna dan pesannya, saya bingung mau nulis yang mana aja yang penting.

review film sabtu bersama bapak
Sumber : selebtempo

Saya rasa, novelnya pasti lebih banyak kata-kata yang bikin baper, dan sama seperti film Critical Eleven, sayapun jadi pengen baca novel  Sabtu Bersama Bapak ini.
Pengen terooossss, tapi nggak beli-beli, hahaha.   

Demikian beberapa maksa dan pesan dari film Sabtu Bersama Bapak yaitu:


“Anak-anak kita, bukan pengorbanan saya. Mereka, pemberian."


Huwaaaaa....
Saya jleb banget dengan kalimat ini.

Teringat saya yang seringnya ngomel, lalu berakhir dengan pemikiran, betapa punya anak itu berat banget, dan tiba-tiba saya merindukan masa single saya, tanpa beban seperti sekarang.

Kalimat di atas membuat saya berpikir, seandainya saya nggak diberi 2 anak oleh Allah, kira-kira apa yang akan saya lakukan sekarang?
Bebas sih, bisa bangun dan tidur sepuasnya saat weekend.

Tapi sepertinya saya akan sering menangis kesepian, huhuhu.
Sama seperti saya merasa berkorban banyak untuk anak-anak.

Pertama, anak-anak tak pernah meminta pengorbanan saya bahkan meminta dilahirkan jika punya ibu yang jahat seperti saya.
 
Kedua, anak-anak justru terpaksa rela mencintai takdirnya punya ibu kayak saya, huwaaaaa.....meweeekkkk!


“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung-kepada adaik-adiknya, tapi tugas orang tua kepada semua anak”


Saya yakin, kalau ini mah bukan hanya menggetok kepala saya aja, tapi banyaaakk kepala orang tua di dunia ini.
Udah jadi budaya turun temurun kali ya, hampir semua orang tua selalu meletakan tugas terberat itu buat anak sulung.

TERMASUK SI MAMAK REY INI!
Meski hati saya selalu teriak, setiap kali saya memarahi si kakak, saat dia kesal adiknya usil.
"Kakak, mengapa balas pukul adik? siapa coba yang ngajarin adik usil seperti itu? kan kakak sendiri, sekarang nikmati aja kalau dipukul. Kalau nggak mau dipukul, ajarin dong adiknya jadi orang yang nggak usil, kakak udah besar, harusnya bisa jadi panutan adik"

Lalu di hati kecil saya berteriak suara,

 "Lah, memangnya si kakak belajar usil mukul gitu di mana? bukannya kalian tuh sering berantem di depan anak? makanya jadi ortu itu bisa nyontohin hal baik, biar dicontoh semua anak, bukan hanya tugas seorang kakak!"


Lalu saya jleb-jleb sendiri dalam hati, hiks.

makna dari film sabtu bersama bapak
Keluarga Satya, Rissa dan kedua anaknya


Hal ini bikin saya teringat aka 2 film yang sudah saya tonton sebelumnya, yaitu Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini dan Ode to My Father, yang mengisahkan betapa ngos-ngosannya jadi seorang kakak, hiks.



“Prestasi akademis yang baik bukan segalanya. Tapi memang membukakan lebih banyak pintu, untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain.”


Kalimat tersebut bikin saya rindu banget dengan bapak, bukan bapaknya si Satya dan Cakra, tapi bapak saya sendiri. Bapak adalah sosok yang amat sangat mendewakan sebuah prestasi. Bukan hanya sekadar mendapatkan pujian, akan tetapi bapak ingin anak-anaknya bisa punya banyak kesempatan karena prestasi membuka banyak pintu kesempatan, huhuhu.


“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu.”


Plis kasih tahu saya, nemuin lelaki dengan pola pikir seperti ini di mana ya?
Ini adalah pola pikir saya dulu, di mana hidup ini pada dasarnya adalah tanggung jawab sendiri.


Setiap orang dipasangkan, bukan hanya untuk menikmati saling mengisi, tapi berusaha saling menopang agar bisa maju bersama.

Karenanya, kekurangan itu bukan untuk diterima pasangan, tapi di kurangi dan dihilangkan dengan 
bantuan pasangan.


Sumber : brilio


“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain”


I told you hubungan itu adalah kerjasama yang solid, bukan melengkapi hal-hal yang buruk, lama-lama yang buruk menginfeksi yang baik. 


Intinya, hampir semua adegan film ini dipenuhi oleh quote-quote yang menarik yang mampu bikin kita merasa jleb dan merasuk ke hati.

Termasuk dengan makna sesungguhnya dari kasih dan peran seorang bapak, yang bukan sekadar ucapan belaka. Ini hampir mirip dengan karakter bapak dalam film 'Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini', di mana menceritakan tentang kiprah seorang bapak yang sangat bertanggung jawab, bukan hanya sebatas maknanya seorang bapak, tapi usahanya yang luar biasa.

Rasanya, hanya ada sedikit bapak di dunia ini yang mau melakukan hal tersebut, bahkan sudah tahu akan pergi dari dunia ini pun, masih saja memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang bapak, dan membuktikan tanggung jawab tersebut melalui pesan-pesan buat anak-anaknya.

Meskipun dari film ini juga kita belajar, bahwa sedetail apapun rencana yang kita persiapkan buat anak-anak, pada akhirnya pendampingan secara fisik dan nyatalah yang bisa lebih baik buat anak.

Seperti yang terjadi pada Satya dan Cakra. Mereka benar-benar tumbuh dengan pendampingan vidio bapaknya. Sayangnya, meski dalam bentuk vidio, pendampingan bapaknya hanya dalam bentuk komunikasi satu arah saja.


Sehingga baik Satya maupun Cakra memaknai semua nasihat yang bapaknya tinggalkan dari vidio tersebut dengan pemikiran sendiri.

Satya khususnya, tumbuh menjadi lelaki yang lebih memahami semua pesan bapaknya dengan keras.
Bapaknya selalu bilang di vidionya, bahwa hidup itu selalu penuh dengan rencana-rencana.
Karenanya merencanakan sesuatu itu penting sekali.

Bukan hanya itu, bapaknya juga berpesan, bahwa seorang lelaki itu akan menjadi suami dan imam bagi keluarganya, setiap langkah yang diambil oleh seorang suami, ada istri dan anak-anaknya yang selalu mengikutinya.
Karenanya, seorang lelaki harus kuat agar bisa menjadi suami yang melindungi istri dan anak-anaknya.

Ternyata pesan itu malah membuat Satya tumbuh jadi lelaki yang otoriter dan terlalu straight pada rencana yang sudah dia buat tanpa kompromi. 

Hanya Cakra yang sedikit lebih 'kalem' memaknai pesan ayahnya, mungkin juga karena dia dekat dengan ibunya, hingga dia dewasa, jadi kasih ibu bisa lebih meleburkan pemikirannya terhadap pesan ayahnya yang mungkin dimaknai jadi terlalu kaku. 

Demikianlah.
Film Sabtu Bersama Bapak ini amat sangat recomended menurut saya, dan layak ditonton oleh semua usia.



Eh selain anak-anak sih ya, soalnya ada adegan kiss kiss nya , hahaha.

PS : Di mohon dengan sangat, untuk memaklumi adanya penampakan di tengah poster para pemain film Sabtu Bersama Bapak tersebut ya, wakakakaka.


Sidoarjo, 9 Agustus 2020


Sumber :
  • Film Sabtu Bersama Bapak
  • Opini pribadi
Gambar : berbagai sumber di Google





26 comments:

  1. Lama tak tonton film dari Indonesia. Seingat saya, filem terakhir tengok Ada Apa Dengan Cinta zaman sekolah dulu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh udah lama banget tuh :)
      udah ada AADC 2 pula dan udah lama juga hihihi

      Delete
  2. hahahaha poster terakhir pertama kali ga ngeh kalo belum baca tulisan "PS" nya
    alus banget ngeditnya hehehe
    buku ini sebenernya pengen dibeli tiap ke gramedia, tapi banyak tapinya hahaha, jadi cuman baca sekilas review-an di internet, awalnya aku mengira ceritanya bakal lebih dominan ke bapak, didikan bapak dan sejenisnya. ternyata ya tentang keluarga terutama bapak sebagai kepala keluarga
    menarik ini

    list duluu ahh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, sama Mba Inun, udah lama pengen beli kok ya nggak jadi-jadi, setiap ke Gramed ujung-ujungnya beli komik Keluarga Irit buat si kakak hahaha.

      Itu pas aja cahaya di situ agak temaram, jadinya fotonya kayak gitu, nggak diedit sih, saya nya yang nongkrong di belakang banner besarnya dulu di TP hahahaha.

      Delete
    2. hahaha oalah jadi itu toh trik fotonya

      Delete
    3. wkwkwkw itu aslinya agak seram loh, jadi kami foto di bioskop TP 5 waktu itu baru jadi.
      Tapi sepiii banget.

      Nah di situ tuh temaram banget, ada banner foto mereka-mereka ini pula per orangan gitu, makanya saya bisa masuk ke tengahnya, tuh di bawah saya ada mukanya si kakak nyempil :D
      Dulu belom ada si adik nih kami foto-foto ini :D

      Delete
  3. saya punya bukunya Mba, kayaknya emang ada perbedaan antara buku dengan filmya. Saya juga lupa-lupa ingat karena udah lama banget. Dulu saya beli bukunya waktu blom terlalu booming.
    😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh Mba Riniii, bikin kepooooo! pengen baca bukunya deh rasanya :)

      Delete
  4. Poster film yang terakhir ternyata ada foto Mbak Rey. Aku udah nonton film dan udah baca novel Sabtu Bersama Bapak. Aku suka film dan novelnya sih karena bagus semua menurutku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha sama yang paling atas sebenarnya hihihi :D
      Saya pengen baca novelnya dong :D

      Delete
  5. Wah, ada penampakan wanita berkerudung merah tuh di poster film Sabtu bersama bapak.πŸ˜‚

    Jujur aku belum baca novelnya ataupun nonton filmnya mbak. Entah kenapa kurang suka film Indonesia, ingatnya soalnya seperti sinetron Indosiar atau ANTV.πŸ˜‚

    Yah, biarpun bapaknya ikut memberikan pengarahan lewat video yang direkam saat belum meninggal, tetap saja peran ibu yang mendampingi langsung itu lebih berpengaruh pada kehidupan anaknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakakaka, iyaaa pas ada bannernya gede waktu tayang di bioskop dulu.
      Saya numpang foto ama bannernya aja, waktu itu belum ngeh dengan dunia blogger, kalau enggak kan lumayan bisa foto bareng artis aselih hahahaha

      Delete
  6. Penampakannya maksa banget ya Allah, wkwkwkwk

    Ini film bagus banget yah pesannya? Kok gw malah gak tau ada film beginian. Udah lama sih gak nonton film. Sejak ada youtube seringnya nonton youtube.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwwkwkwkwkw, diriku mewakili Abimana *eh :D

      Ayo nonton, ini pas banget ditonton buat para ayah ataupun calon ayah :D

      Delete
  7. Aku kaget itu kok ada gambar pemeran lain ditengah-tengah, perasaan pemerannya ga ada yg jilbaban. Ternyata Mbak Rey, hahaha

    Aku nonton film ni pas hamil kayaknya. Duh, yg muncul dalam benakku saat itu idealis sekali, pengen gitu bikinin video anak, bikin buku catatan tentang anak biar dia bisa baca nanti, atau bahkn jadi orangtua yang support dan penuh kasih kayak bapak dan ibunya Cakra dan Satya.

    But, yaa masih tergopoh-gopoh juga. Bikin catatan buat Nahla cuma pas awal-awal doank, itupun ditulisnya sebulan sekali bahkan lebih. Ah, kurang romantis emang jadi orangtua nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, saya dulu tulis semua perkembangan si kakak, bahkan saya dokumentasikan setiap hari, tapi cuman sebulan aja, abis itu malas hahahaha

      Delete
  8. Aku udah lama banget tak nonton pilem Indonesia...
    Baca sebentar asyik juga ceritanya.

    Bagus bener, nih aku suka..[“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu.”]

    PS : Di mohon dengan sangat, untuk memaklumi adanya penampakan di tengah poster para pemain film Sabtu Bersama Bapak tersebut ya, wakakakaka.

    Hahahahaaaa.... pikir q bagian dari pemain pilem jg hihihi...



    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi bisa aja, ayo ditonton, sebenarnya film Indonesia itu banyak juga loh yang bagus-bagus :D

      Delete
  9. Saya juga suka sama bang abimana mbak rey😍 tapi saya belom nonton film ini. Nggak tahu juga kalau ternyata abimana berperan jadi bapaknya.
    Film yang bikin mewek pasti saya suka. Bisa saya masukin list buat download dan tonton bareng sama sepupu😊, eh tapi sepupu saya masih kecil ya😳, yaudah tonton aja sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha ada adegan kiskis, tapi sebenarnya biasa sih, cuman tabu aja bagi saya ditonton anak kecil :D

      Delete
  10. Mba Rey niat bangettt editnya πŸ˜‚ hahaha alus lho nggak kelihatan kalau editan ~ eniwei, saya sudah pernah baca novelnya jaman awal-awal ke luar. Tapi nggak ingat pernah lihat filmnya apa nggak. Sepertinya pernah tapi lupa sama ceritanya 🀣

    Terusssss, saya cuma mau bilang kalau saya suka review film gaya penulisan mba. Karena mba nggak hanya bahas filmnya dan bagaimana alur ceritanya, tapi juga memberikan insight dari sudut pandang mba plus membagikan ilmu-ilmu yang sekiranya bagus untuk diterapkan. Jadi meski sebagian dari pembaca mungkin belum pernah baca bukunya atau lihat filmnya, pembaca blog mba bisa tetap mengambil intisari cerita yang dibagikan cencunya dengan pengetahuan tambahan 😍

    Thank you so much for that, mba πŸ’•

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwkw kagak diedit itu say.

      Jadi itu ada kayak banner patung-patung para pemain film ini, dulu pas tayang di bioskop.
      Kebetulan kami lewat, langsung deh orang narsis ini tidak menyia-nyiakan kesempatan, saya masuk di antara patung banner tersebut, cuman karena cahayanya di situ agak remang, jadinya hasil fotonya juga remang dan malah bikin saya kayak nyatu dengan banner itu.

      Itu juga ada si Kakak kok, mukanya nongol dikit di bawah saya :D

      Delete
  11. Mba Reyy, aku kalo nggak baca komentar teman-teman di atas, nggak tau kalau ternyata posternya ada yang diedit huahahaha

    Btw, sebelum nonton filmnya aku udah sempat baca novelnya dan memang bagusss banget penyampaian morilnya. Masih inget deh nonton ini di bioskop bareng paksu, kemudian paksu kaget karena mendadak aku mewekkk di beberapa adegan T__T

    Aku agak tersentil di bagian ini: "baik Satya maupun Cakra memaknai semua nasihat yang bapaknya tinggalkan dari vidio tersebut dengan pemikiran sendiri." Kalau Mba Rey nggak menuliskan ini, aku juga nggak ngeh. Iya juga yaa, meski Bapak mereka 'menemani' melalui video, namun nasihat yang mereka terima hanya bisa dimaknai dengan pemikiran mereka sendiri. Mungkin karena ini, sang kakak sempat frustasi dan menyalahkan Bapak di tengah masalahnya ya ):

    Ahhh, jadi ingin nonton ulang film ini karena pembahasan Mba Rey. Terima kasih banyak yaa, Mba! (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, bukan diedit say, tapi sayanya masuk ke banner patung itu :D
      Saya mewek pas ibunya sakit dan nggak berani ngomongin anak-anaknya, karena dia ingat kata suaminya, jangan ngerepotin anak.
      Soalnya saya juga pengennya gitu besok, nggak mau repotin anak di hari tua :(

      Delete
  12. Yaa sebuah Film yang menggambarkan kisah keluarga dan anak. Yang boleh dikatakan cukup bikin orang untuk memeras air mata kembali.😊😊

    Bahkan karena filmnya terlalu sedihnya sehingga mendatangkan sebuah mahluk tak kasat mata yang sempat terekam kamera..πŸ™„πŸ˜² Ternyata seorang wanita berkerudung merah..Bahkan wanita berkerudung merah itu ikut menyengir saat tertangkap kamera.🀣🀣



    Terkadang tiada anak kita bimbang...Ada anak selalu bikin emosi..😊😊 Padahal anak itu Karunia tuhan yang harus kita pertanggung jawabkan nantinya.

    Banyak tidaknya seorang anak yang kita punya sebenarnya tuhan sudah lebih tahu. Dan mampu mengukur kekuatan setiap umatnya yang wanita.😊😊


    Gw rasa sutradara film ini buatnya waktu lagi galau kali yaa atau sedang diputusin pacarnya, Bisa juga sudah diceraikan istrinya.🀣🀣🀣

    Karena judulnya aneh : "SABTU BERSAMA BAPAK".πŸ™„πŸ˜²πŸ˜²


    Kenapa nggak sama pacarkan lebih enak.πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ

    ReplyDelete
    Replies
    1. Astagaaaahh, udah baca dengan seksama, kenapa kok ada mahluk tak kasat mata wakakakak.
      Berkerudung merah pula ya, untung bukan kerudung putih, serem beneran itu :D

      Iya juga ya, Sabtu kan harusnya bersama pacar, eh itu kan si Kang Ustadz :D

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)