Anak-Anak Korban Orang Tua Yang Labil

anak korban perceraian orang tua

Sharing By Rey - Anak-anak korban orang tua labil di sini, maksudnya anak-anak yang jadi korban perceraian orang tuanya.

Saya menyebutnya korban, karena saya rasa hanya sedikit anak yang jadi lebih bahagia saat orang tuanya berpisah, khususnya saat anak berusia di bawah 17 tahun.

Waktu kecil, saya berada di deretan anak-anak yang menginginkan orang tuanya bercerai.
Sungguh.

Saya bosan selalu hidup dalam ketakutan setiap harinya.
Sering terjadi, di keheningan malam, saya mendadak kaget terbangun oleh suara bentakan bapak, suara gelas pecah atau barang lainnya yang pecah karena dibanting.

Lalu berikutnya, terdengar suara bentakan bapak memanggil saya, menyuruh saya mengambilkan sesuatu. Saya datang sambil menahan ketakutan yang amat sangat, karena bapak marah sambil memegang benda tajam.

Mama?
Boro-boro melindungi kami, beliau hanya menangis saja.
Jika sudah mereda, butuh beberapa hari sampai mama bisa tersenyum lagi.
Mama bahkan tidak pernah mau berbicara dengan kami.

Lalu, saat mama sudah bisa berbicara, yang mama katakan hanya hal yang buruk-buruk tentang bapak. Jadilah saya tumbuh dengan membenci bapak, saking bencinya saya malas ngobrol sama bapak.

Dan di tahun 2007 lalu, saya pernah menjebloskan bapak ke penjara, hanya karena saya sudah nggak tahan lagi ketakutan saat dia marah, (kapan-kapan saya ceritakan kebodohan dan kekonyolan saya tersebut).

Ya Allah, ampuni saya.


Doa Anak Ketakutan Dan Pengakuan Mama


Karena itu, ada 2 doa yang selalu saya rapalkan sejak kecil,

1. Agar orang tua saya cerai
2. Agar saya bisa pergi jauh dari orang tua.

Untungnya yang terkabul hanya satu saja.
Saya akhirnya hidup terpisah puluhan ribu KM dari orang tua saya.

anak berharap orang tua cerai

Mengapa saya bilang untung?
Karena sejujurnya, diam-diam saya menyesali doa tersebut, sekarang saya rindu ingin berbakti kepada orang tua, yang saya baru sadari, betapa mereka mengorbankan banyak hal untuk kami, anak-anaknya.

Bukan hanya mama, yang di mata saya ketika kecil bagaikan malaikat.
Tapi juga bapak, yang akhirnya saya mengerti mengapa bapak seperti itu, setelah saya dewasa, menikah dan punya anak.

Doa yang pertamapun saya syukuri, setelah akhirnya secara tidak sengaja mendengarkan pengakuan mama yang keceplosan.
"Untung mama tidak cerai dengan bapakmu, kalau mama cerai, belum tentu kalian jadi sarjana"
Saya langsung jleb dan sedikit baper.
Tapi akhirnya saya mulai memahami maksud perkataan mama.

Kalau dulu mama saya cerai, atas dasar apa coba mama akan mengorbankan hidupnya membiayai kami, yang notabene bukan anak mama seorang.

Terlebih kalau mama cerai saat kami kecil, mama masih muda, bukan tidak mungkin mama nikah lagi, punya anak lagi.

Lalu, apa alasannya dia harus terikat membiayai kami lagi?
Ya kecuali mama mendapatkan lelaki baik dan kaya raya kali ya.
Sementara, dulu bahkan kebutuhan saya sebagai remaja, mama tidak pernah perhatikan.

Saya ingat banget, saat kakak saya marah karena saya sering pakai mini setnya ke sekolah.
Ye kan, saya sudah STM dan belum dibelikan miniset (itu tuh yang mirip bra olahraga).
Akhirnya bapak saya meminta uang sama mama, lalu mengajak saya dan kakak ke toko, dan membelikan saya beberapa keperluan daleman, serta mukena dan sajadah.

Itu pertama kalinya saya punya sajadah by the way.
Dan miniset!

Bukan hanya kebutuhan daleman, bahkan saat saya mendapatkan menstruasi pertama kali, mama sama sekali nggak mengajari saya.
Justru teman-teman yang mengajari saya.

Tapi jujur, sekarang saya sudah memahaminya, mama demikian karena terlalu sibuk cari uang, karena bapak tidak bisa diharapkan.

Ya begitulah, ternyata perceraian bukan hal yang melulu baik untuk anak-anak.
Kami khususnya.

Karena kadang dalam hubungan yang kayak neraka sekalipun, anak-anak masih beruntung memiliki kesempatan mengubah hidupnya, meski tidak sesempurna anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis.

Bapak saya yang terlihat tidak bisa diharapkan itu, justru menjadi sandaran terkuat kami bisa kuliah.
Dengan power-nya, bapak selalu memaksa mama untuk membiayai kami sekolah setinggi-tingginya.

Mama terbiasa membiayai kami, sampai saya menikah dulu, tetap mama yang biayai.
Hingga saya menikah dan punya anakpun, anak pertama saya masih mencicipi rezeki dari mama.

Akan tetapi, itu tidak terjadi begitu saja, ada andil bapak yang meminta mama melakukan hal tersebut.


Kehidupan Rumah Tangga Orang Hanya Bisa Dipahami Saat Kita Mengalami Hal Sama


Setelah saya dewasa dan menikah, saya jadi tahu betul apa masalah orang tua saya sehingga mereka sering bertengkar, eh salah, bapak yang sering marah ding.
Mama mah diam saja kalau bapak marah, kalau enggak ya nangis sampai matanya bengkak.


Sungguh, keadaan rumah tangga orang tua saya itu mirip banget dengan keadaan rumah tangga saya sekarang. Awalnya, saya mirip bapak saya.
Suka marah dan uring-uringan, karena suami sungguh menyebalkan.

Itu sama dengan mama saya.
Beliau sih diam, terlihat sabar di mata orang awam, tapi sebenarnya mama itu nggak sabar, beliau hanya malas saja, hahaha.
Maklum, mama terlahir sebagai anak manja, sampai usia 5 atau 6 tahun dimanjakan oleh bapaknya.

Saya jadi paham, mengapa bapak kalau marah suka banting barang.
Soalnya emosi, bapak marah sendiri, mama hanya diam saja, entah didengarkan atau enggak, karena masalah itu terjadi berrrrulang kali.

Selain itu, bapak itu depresi.
Sejak hijrah dari Minahasa, sampai di Buton, seolah tertutup rezeki dari bapak.

Yang saat di Minahasa, sering banget bapak mengajak saya dan mama jalan-jalan di Bitung, membelikan apaaa saja kebutuhan kami.
Mama punya banyak emas waktu itu.
Kami tumbuh dengan bahagia, dengan mainan seabrek, meski juga bapak masih sering marah waktu kami kecil.

Setelah pindah ke Buton, apapun usaha bapak selalu gagal, jadi sebenarnya bukannya nggak bisa diandalkan, hanya saja rezeki keluarga pindah arah masuknya melalui mama.
Dan itu membuat bapak jadi depresi, biar bagaimana pun harga diri seorang lelaki ya berada di kemampuannya menafkahi.

Terlebih, bapak itu keturunan Buton asli, daerah yang adatnya lelaki tuh 'haram' hukumnya masuk dapur.
Jadi bapak itu, jangankan mau bantu masak, bahkan kalau ada mama, minuman di meja yang nggak kejangkau tangannya, beliau lebih memilih nyuruh mama dekatin, ketimbang ngangkat pantat sedikit buat ambil gelas tersebut.

Bapak mungkin merasa malu, dia harus hidup seperti itu, tapi tidak bisa menafkahi.
Jadinya depresi sendiri.

Itu juga yang saya rasakan sekarang.
Saya menyalahkan diri sendiri, atas keputusan saya di masa lalu menikah dengan lelaki yang nggak punya kerjaan tetap.

Karena yang terjadi, target saya sendiri jadinya terkorbankan.
Target saya pun juga masuk akal, bukanlah sesuatu yang berlebihan.
Saya hanya ingin bisa sering menjenguk orang tua.

Nggak perlu muluk-muluk, 2 tahun sekali pun nggak masalah.
Tapi yang terjadi, karena biaya hidup yang memang butuh seseorang dengan target hidup lebih yang bisa mengimbangi, saya jadinya gagal bahkan mengumpulkan dana sendiri buat mengunjungi orang tua.

Saya jadi depresi sendiri, sering marah-marah, dan direspon negatif oleh suami.
Yang hanya menangkap marah-marahnya saya, tidak dengan alasan saya marah.

Dan semua itu mengorbankan anak-anak.
Karena kelabilan kami dalam menyelesaikan masalah, anak-anaklah jadi korbannya.


Anak-Anak Korban Orang Tua Yang Labil


Itulah mengapa, saya sungguh masih belum berani mengambil langkah nyata dalam menyelesaikan masalah dengan suami.
Karena kami punya anak dalam usia sekolah.


Seandainya lima tahun yang lalu saya berani, mungkin tidak se complicated sekarang.
Dulu si kakak belum sekolah, pun juga usia saya masih lumayan produktif.

Saya jadi ingat perkataan Cristian Sugiono dalam membicarakan fenomena kawin cerai, jika memang usia pernikahan masih sebentar, terlebih belum punya anak.
Dan kita merasa kalau memang sudah tidak bisa berkompromi dengan hal-hal yang tidak bisa kita terima dari pasangan.

Mending bercerai secepatnya deh.
Nggak usah mikir sayang biaya nikah ratusan juta, hahaha.
Kesehatan mental kita jauh lebih penting ketimbang biaya nikah tersebut.

Saya rasa, waktu pernikahan yang masih memungkinkan cerai itu ya di 5 tahun pertama pernikahan.
karena meskipun sudah punya anak, setidaknya anak belum memasuki usia wajib sekolah.
Jadi kita masih punya waktu untuk mengejar pemasukan, demi membiayai anak-anak.

Lah mengapa pusing, kan meskipun cerai, seorang ayah wajib menafkahi anaknya hingga anak dewasa?

TEORINYA BEGITU!
Praktiknya? belum tentu semua bisa patuh pada peraturan tersebut.

Dan kalau hanya bergantung dari peraturan tersebut, yang ada sekolah anak jadi korbannya.
Sudahlah anak berkorban perasaan karena semua tidak sama lagi, saat orang tuanya berpisah.
Pun juga  bisa-bisa jadi korban dengan sekolahnya dan lainnya.

Itu yang juga saya pelajari dari seorang psikolog terkenal Roslina Verauli.
Saat dia ngobrol santai di Youtube Analisa channel.

Sesungguhnya tidak ada anak yang bahagia jika orang tuanya cerai asal cerai saja, semua harus dipersiapkan, ada sesi komunikasi atau sounding dari ayah maupun ibu, demikian pula antara keduanya langsung pada anak.

Pun juga ada harus dibicarakan semuanya, bagaimana setelah bercerai, anak ikut siapa? bagaimana sekolahnya?
Ah andai hukum di Indonesia sekuat di Amerika, seperti yang kita lihat di film Marriage Story, di sana mau cerai saja rempong maksimal!

Jadi, alih-alih memilih bercerai demi mencari kebahagiaan, yang ada malah bikin masalah baru, jika cerai hanya karena pengen cerai saja, tanpa adanya persiapan.


Pada akhirnya, sesungguhnya tidak ada anak-anak yang bahagia dengan perceraian orang tua, sebahagia apapun anak, akan lebih bahagia dan beruntung, anak-anak yang punya orang tua yang selalu berjuang demi keutuhan rumah tangganya.

Saya mikirnya sederhana sih.
Saya belum bisa membahagiakan anak dalam segi finansial.
Saya belum bisa memberikan kesempatan pada anak agar bisa bebas mengeksplore bakatnya.
Dan hal lainnya yang butuh finansial banget.

Karenanya, saya masih berupaya memberikan sesuatu yang mereka inginkan dan butuhkan, yup anak-anak saya sesungguhnya butuh mami papinya tertawa bersama.
Dia sedih banget kami berantem melulu dan menyalahkan dia atas pertengkaran kami. 

Setidaknya, itu yang saya tangkap dari beberapa kali percakapan saya dengan kakak, salah satunya saat saya bertanya si kakak mau ikut siapa, saya atau papinya?

Ah semoga diberikan kekuatan, keikhlasan, dan jalan keluar yang terbaik, aamiin.

Sidoarjo, 8 April 2020

Reyne Raea untuk #RabuParenting

Sumber : pengalaman pribadi
Gambar : Canva edit by Rey

37 komentar :

  1. Oohh Christian Sugiono......Kirain Kakek Sugiono temen mangkalnya si Agus.🤣🤣🤣🤣

    Yaa kalau memang hubungan dalam pernikahan sudah tidak bisa dipertahankan lagi, Yaa memang cerai solusinya. Meski dalam agama mengharamkan yang namanya bercerai. Karena semua itu akan banyak resikonya terlebih bila sudah punya anak,, Namun semuanya itu kita bisa ukur mana yang menguntungkan atau menyakitkan...

    Jika banyak yang menyakitkan bahkan hubungan itu memang sudah tidak bisa dirajut kembali yaa Cerai mungkin solusi terbaik. Meski kita tahu masalah apa yang akan kita hadapi nantinya. Tetapi semua jika demi kebaikan selalu ada jalan serta pembelajaran tersendiri untuk diri kita.😊😊

    Dan saya sedikit kaget dengan tulisan dibawah ini.

    1. Doa Agar orang tua cerai
    2. Doa Agar bisa pergi jauh dari orang tua.

    Emang ada Doa seperti itu? Saya rasa tidak,, Saya yang seorang lelaki saja tidak pernah berpikir sampai kesana.🤯🤯

    Eehh!, Tapi iya sudah menyesalinya dengan semua itu. Dan kini iapun kilas balik dengan masalah yang sama persis dari kedua orang tuanya. Solusinya yaa ada pada dir kita sendiri. Orang lain cuma bisa kasih saran2 basi saja. Meski itupun harus tetap kita cerna jua.

    Membaca ini saya jadi teringat dulu kala bandel sewaktu STM. Orang tua membenci saya atas kenakalan yang saya perbuat kala itu yang menurutnya sangat diluar batas wajar. Dan saya pun sering dipukuli sama bapak,, Bahkan ibu saya pun tak jauh beda. Karena tidak ada perubahan saya pun sering diikat di pohon pisang sampai terkencing-kencing.🤣🤣🤣

    Hingga tak kuat dengan semua itu saya kabur dari rumah selama dua tahun. Orang tuapun masa bodoh. Ia hanya menjawab singkat......"Pergi kamu sana kamu,, Nggak mampus hidup diluaran udah syukur luh"....Kata orang tua saya.🤯

    Sayapun senang bisa hidup bebas diluaran sana tanpa ada yang mengatur2....Akan tetapi semua itu selalu bersebrangan dengan hati saya. Sehebat2nya saya bergaul diluaran sana bagi saya rasa penyesalan, Atau bersalah pada orang tua tetap tinggi. Dan banyak orang kasih solusi jangan pernah melawan sama orang tua, Terlebih meninggalkannya.

    Sejak saat itu menurut saya, Sehebat2nya kita diluaran sana tetap orang tua selalu kita butuhkan. Dan sejak itu pula saya berani minta maaf ke orang tua. Meski keduanya acuh saya tetap tak perduli dan selalu memberikan mereka doa yang terbaik. Karena mereka juga sering cekcok kala itu. Terlebih sejak ayah saya pensiun ia sering ribut sama ibu saya. Dan saya hanya menjadi penengah.

    Yaa memang pertengkaran orang tua itu bisa berpengaruh pada anak2 kita. Makanya saya juga sering berdoa agar punya rumah tangga tak mau cekcok seperti kedua orang tua saya. Akan tetapi Sebengis apapun orang tua saya... karena beliau saya bisa seperti sekarang ini.

    Toh sampai sekarangpun saya tetap membutuhkan orang tua saya...Contohnya masih sering nitip anak.🤣🤣🤣🤣🤣 Tapi selama itu nyaman kata ibu saya noproblem. Dengan begitu saya bisa selalu dekat dengan orang tua saya. Beda dengan kakak2 saya yang cuma setahun sekali menjumpainya. Terlebih yang diluar negri bisa 3 tahun sekali.😲

    Eehh! Kok malah kok malah gw yang curhat jadinya...🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ralat sedikit pak ustadz, seingatku dalam Islam boleh kok cerai, tidak haram. Buktinya ada talak satu, dua, tiga kan.😅

      Hapus
    2. Akan lebih bagus tidak cerai begitu maksudnya..😬

      Karena zaman sekarang banyak orang salah sedikit cerai...Masalah sepele cerai..😬😬

      Sama kaya Antum yang dikit2 Mangkal.

      Ada lampu merah baru....Bikin pangkalan.😊😊🙏🙏

      Hapus
    3. Rruaaaaaarbinasaaah panjang beneeeeer komentarnya, yaaaak kang Satria ... ckckkk 😄

      Kayaknya itu komentar apa curhatan sih .. xixixi 😁

      Hapus
    4. Curhatan dong mas him, biasa mau mangkal curhat dulu biar dia adem mangkalnya.😁

      Hapus
    5. wakakakakakakaa..
      Ya ampuuunn, tahu nggak sih, saya itu dulu benci banget sama anak yang nakal, paling musuhan sama bad boy, beda sama cewek kebanyakan, selalu mengejar bad boy.

      Akan tetapi, kalau saya lihat-lihat, kebanyakan memang anak lelaki itu butuh keluar rumah dulu yam butuh melihat dunia luar seperti apa, sampai akhirnya sadar kalau tidak ada yang lebih baik dari orang tua.

      Btw, ayo tulis dong kenakalan remajanya, kisah hidupnya, saya punya anak laki kan dua-duanya, bingung menghadapinya terlebih dengan hubungan saya dengan papinya nggak harmonis hehehe

      Hapus
    6. Ayo kang satria, cerita dong saat mangkal itu gimana, masa kabur dari orang tua ngga mangkal, nanti tidak ada pemasukan dong.😁

      Hapus
    7. Eh iyaaa ya, gimana cara bertahan hidup di luar rumah? Nggak mangkal dong ih :D

      Hapus
    8. Kayaknya dia lagi buat cerpen 95++, soalnya ngga balas dan juga jarang blog walking.🤭

      Hapus
  2. Ralat tuh...Kok malah gw yang curhat 🤣🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dibuat 1 lembar artikel tersendiri ...😀

      Hapus
    2. hahahaha iya ih Kang Satria kalau curhat bisa berlembar-lembar :D

      Hapus
  3. selalu jadi korban nya anak anak ya mba.. tapi gmna lagi, kalau sudah takdirnya begitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang masih bisa diperjuangkan, karena masalahnya sebenarnya hanya ego :)

      Hapus
  4. Ternyata bukan Ortu saya saja yang seperti itu :)

    BalasHapus
  5. Benar,anaklah yang akan jadi korban perasaan juga jadi korban pikiran kalau kedua ortunya harus berakhir.

    BalasHapus
  6. aku dulu waktu kecil nggak ngerti masalah pokok orangtua pisah. Udah gedean, sdikit ngerti mungkin dengan pisah itu yang terbaik (buat mereka).
    bagaimanapun, anak sukanya liat kalo keluarganya harmonis, keluar bisa bareng-bareng.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, bareng-bareng dan selalu tertawa adalah hadiah terindah untuk anak :)

      Hapus
  7. If there is no mutual understanding between the parents, then over time this also applies to the child. It is necessary to break off this destructive relationship. Start living again.

    BalasHapus
  8. Eh, tadi pagi mau komentar lupa karena balas komentar nya satria wajan hitam.😁

    Menurutku dimana-mana anak pasti ingin kedua orangtuanya tidak bercerai. Biarpun kedua orang tua kadang bertengkar dan melihat nya seperti neraka, tapi tetap saja anak tidak mau keduanya pisah.

    Kalo sudah ada anak itu memang bisa menjadi salah satu penyebab orang tua tidak jadi bercerai. Soalnya kadang mikir, kalo nanti kawin lagi biarpun nanti punya bapak atau ibu baru, bagaimana pun itu bukan bapak atau ibu kandungnya.

    Kalo bapak atau ibu barunya sayang sih ngga mengapa, tapi bagaimana kalo ternyata kejam. Di depan pasangan sayang, begitu tidak ada bapak atau ibunya malah disuruh terus kayak pembantu, bukan menyuruh secara wajar tapi karena ngga suka.

    Ah, kayaknya aku kebanyakan nonton sinetron Indosiar.😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu masalahnya.
      Kalau ortu bercerai lalu nikah lagi, punya anak lagi.
      Nggak usah deh ngomongin punya anak dari pasangan lain.

      Bahkan saya punya anak kedua aja, perhatian ke anak pertama jadi sangat berubah, dan anak pertama jadi merasa kehilangan.

      Hapus
  9. Ada juga yang bilang daripada anak setiap hari melihat orang tuanya tidak akur, ribut dan berantem itu malah lebih buruk. Maka dalam hal ini klo ortunya cerai malah suasana nyaman jadinya buat si anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya tidak semua orang tua yang bercerai dengan baik-baik, rata-rata cerai itu menganggap semua selesai, termasuk anak.
      Kebayang nggak sih anak-anak yang masih kecil tapi kehilangan perhatian kedua orang tuanya sendiri :(

      Hapus
  10. Seumur-umur gw liat orang tua gw berantem itu cuman sekali. Yang sering gw yang diomelin sama bapak gw atau sama emak gw. Itupun karna gw bandel.

    Gw gak bisa bayangin, anak udah agak gede, terus orang tuanya cerai, terus nikah lagi. Terus harus beradaptasi sama orang tua barunya. Pasti awkward banget.

    Sabar sama ikhlas. Itu yang ge pelajari kalo menjalani hidup.

    BalasHapus
    Balasan
    1. keren banget ih, ada loh ortu kayak gitu, mereka berantem tidak di depan anak

      Hapus
  11. Mostly anak-anak benci orang tuanya cerai salah satu alasannya karena takut punya bapak / ibu tiri mba, mungkin karena dari dulu sudah didoktrin yang namanya ibu tiri / bapak tiri itu jahat alhasil setiap anak yang melihat orang tuanya bertengkar jadi merasa was-was dan takut berpisah. Selain itu, kalau dari salah satu drama yang lain saya ikuti sekarang, salah satu kekawatiran terbesar seorang anak kalau ortunya pisah adalah harus pindah sekolah dan kehilangan teman-temannya. Mungkin itu alasan kenapa saat anak sudah tumbuh besar, akan semakin susah untuk orang tua memilih berpisah :(

    By the way, saya iseng blogwalking ke link di Diary dan ternyata itu blog mba yang satunya hehe. Saya baca hampir semua tulisan di sana, sambil mendoakan semoga mba Rey bisa kuat dalam menghadapi segala cobaan <3

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha iya benerrrr, dari dulu ibu/bapak tiri selalu kejam, meski sebenarnya ada juga yang enggak loh.

      Yang paling penting sebenarnya, sebelum bercerai harus diatur dengan jelas masa depan anak :D

      Aamiin, thanks ya saayy :*

      Hapus
  12. Ramai banget..kalau saya dari kecil (ga ada yang nanya) memperhatikannya sibuk kerja semua, kurang perhatian ga kurang uang he...mungkin karena sibuk jadi ga sempat berantem.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha jujur kadang orang suka berantem itu karena kurang kerjaan wakakakaka

      Hapus
  13. Selalu suka sharing mba rey untuk rabu parenting..

    Kadang waktu kecil memang yg kita inget itu marah2 n berantem2 nya ya. Karena dulu kota mana ngerti ada yg namanya depresi. Boro2 depresi, sedih2 aja dikatain orang malah kurang iman. Apalagi sosok laki2 yg dituntut hrs kuat. Jadinya malah keluarnya ke emosi ya..
    Baca cerita mba rey aku jd suka ngebayangin skrng gimana kondisi ibu n bapak nya mba rey. Walaupun jarang bs pulang, semoga setiap nama mereka disebut di doa mba rey bs jd penyejuk hati mereka yaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya Allah, makasih ya Mba, insha Allah selalu Mba.

      Iya ya, kasian sebenarnya, suami dituntut kudu tegar, padahal juga manusia.
      Istri juga harus sabar, padahal ya punya hati juga huhuhu

      Hapus
  14. Terharu banget baca postingan ini pengen nangis. Hiks. Btw, aku pernah dger dr buya yahya. Selain msalah anak ada yg lebih bahaya dr efek cerai itu sendiri. Apa? Nafsu Syahwat. Emang pas lg nikah gitu, apalagi lagi ribut2 nya syahwat tuh diredam oleh iblis katanya. Dan setelah gak punya yg halal , syahwat itu menggelora. Apalagi udah pernah ngerasain sebelumnya. Ibarat makan ayam goreng terenak. Trus udah lama gak makan, ya rasanya kepengen lagi. Gitu katanya. Harus cepet2 cari gantinya lagi. Kalo gk bahaya

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)