Jarak Dan Virus Corona

Jarak dan virus corona

Sharing By Rey - Jarak, yang akhir-akhir ini sedang giat dilakukan banyak orang, khususnya orang yang berduit, hehehe.

Anjuran pemerintah tentang social distancing ataupun physical distancing, tampaknya dipatuhi sepenuh hati oleh banyak orang.

Meskipun ada juga bahkan cenderung lebih banyak orang yang kurang patuh dengan adanya anjuran jaga jarak tersebut.
Yang kebanyakan sih kalau dilihat dari kaum ekonomi kelas menengah paling bawah, hingga kelas bawaaaaahhh banget hehehe.

Akan tetapi, ada juga sih beberapa dari kalangan ekonomi atas, seperti anak-anak orang borjuis yang bosan di rumah saja.

Sungguh saya nggak habis pikir mengapa bosan di rumah, sementara dengan duit yang diperoleh orang tuanya, dia bisa melakukan banyak hal di rumah.
Tapi ya gitu deh, hanya mereka yang tahu mengapa nggak betah di rumah.


Jarak Yang Menyelamatkan Kita Saat Ini


Menjaga jarak antara tiap individu amat penting, terutama di saat merebaknya virus Corona yang makin memenuhi seantero negeri kita tercinta ini.

Data terakhir yang saya ketahui di tanggal 11 April 2020, jumlah pasien positif virus corona di Indonesia mencapai 3.842 kasus.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 327 orang meninggal dunia dan total pasien sembuh sebanyak 286 orang.

Bayangin, hanya dalam waktu sebulanan lebih, jumlahnya sudah mencapai ribuan orang, itupun yang terdeteksi, yang belum terdeteksi entah berapa banyak lagi, karena memang sebagian mengatakan virus ini kadang tidak memberikan gejala apapun terhadap penderita yang punya imun tubuh bagus.

Karena itu, pemerintah mengambil langkah cepat untuk membatasi merebaknya virus corona ini, salah satunya dengan diberlakukan social distancing ataupun physical distancing, yaitu menjaga jarak antar sesama, agar penularan virus tersebut dapat diputuskan.

Hal ini benar-benar dipatuhi, saya lihat beberapa orang di media sosial, khususnya artis dan semacamnya, benar-benar memperlakukan jaga jarak.

Even sesama sahabat atau keluarga sendiri yang tidak tinggal serumah, mereka bahkan hanya mau bertemu dan bersapa-sapa dari jauh saja.

Bukan hanya artis saja sih, beberapa orang pun juga sempat mengabadikan kegiatan mereka saat jaga jarak, di mana bahkan ke sesama keluargapun sebisa mungkin tidak ada kontak fisik dengan menjaga jarak.

Jangankan pelukan dan cipika cipiki, bahkan salaman pun cukup dengan menangkupkan tangan di dada, dan tiba-tiba saya merasa sangat lucu dengan hikmah dari virus corona ini.


Jarak Yang Menyelamatkan Kita Di Kemudian Hari


Saya lalu teringat, betapa saya dibilang kolot oleh beberapa orang, lantaran saya (terlihat) cemburuan sekali, saat melihat teman-teman sekolah pak suami yang seenaknya tanpa risih menyentuh badan suami.

jarak menyelamatkan manusia

Bersalaman sih oke saja meski sejujurnya sayapun sedang belajar untuk meminimaliskan bersentuhan tangan dengan non mahram, akan tetapi merangkul, memegang bahunya, terlebih di depan saya.
Itu rasanya, entah saya yang kolot, atau mereka yang nggak paham aturan agama dan sosial kali ya.

Seakrab-akrabnya kita dengan sahabat beda kelamin di masa lampau, bukan berarti semua akan sama di saat sekarang.
Selain dalam Islam ada yang namanya jaga jarak alias tidak bersentuhan sesama mahram, juga setidaknya menjaga perasaan pasangan dari sahabat kita.

Tanpa orang sadari, jarak sebenarnya menyelamatkan kita di saat nanti, karena seringnya percikan niat selingkuh yang meruntuhkan rumah tangga dan ketenangan hidup itu ya berawal dari tidak adanya jarak antara dua orang yang bukan mahrom.

Baik itu jarak tubuh, maupun jarak hati *eaaaa...

Seorang pria dewasa yang sudah berstatus suami dan ayah, tanpa sungkan bercerita masalah pribadi dan rumah tangganya ke wanita yang bukan mahromnya, bahkan yang mahromnya pun seharusnya sih lihat-lihat kali ya. Demikian pula sebaliknya.

Sungguh tidak ada jarak di antara keduanya, dan sesungguhnya hal demikian akan menuju sebuah kehancuran dikarenakan jarak tersebut.

Dalam hal fisik juga, Allah tidak mungkin menerapkan aturan jaga jarak karena haram menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom tanpa alasan.
Biar bagaimanapun, kita sadari atau tidak, bersentuhan itu menimbulkan sebuah percikan yang 'berbahaya'.

Karena yes banget, sesungguhnya jarak sangat bisa menyelamatkan kita di kemudian hari atau


Jarak Dan Virus Corona



Sesungguhnya, virus corona bagaikan pesan nyata Allah terhadap kita umatNya, salah satunya untuk menjaga jarak selain pesan lainnya.
Lihat saja, bukan hanya para muslim, akan tetapi di seluruh dunia menerapkan jaga jarak tersebut.

Itupun, berbulan setelah virus ini muncul, belum ada juga tanda-tanda virus ini akan hengkang dari muka bumi ini.
Entahlah, mungkin saja jarak yang dianjurkan belum bisa sepenuhnya diterapkan.

Kalau di negara lain, pemerintah terpaksa bertindak keras atas himbauan jarak dan pencegahan lainnya, di Indonesiapun serupa, meskipun tidak bisa juga disamakan seperti negara lain, karena faktor ekonomi masyarakat yang jauh di bawah cukup.

Meskipun demikian, sebisa mungkin kita berusaha menerapkan jarak, setidaknya hal tersebut demi kebaikan kita sendiri.

Dan semoga, nanti setelah virus ini berlalu, masalah menjaga jarak yang diajarkan virus corona akan menjadi kebiasaan baik yang bisa kita terapkan.

Jadi, ada yang masih jaga jarak bahkan dengan orang terdekat?
Kalau saya bahkan rela nggak ke mana-mana, meski kadang terasa bosan juga.
Rela juga belum bisa pulang ke rumah ortu, belum bisa mengunjungi mertua, karena harus menjaga jarak.

Semoga virus corona ini segera berlalu, aamiin


Sidoarjo, 12 April 2020

Reyne Raea untuk tema mingguan 'JARAK' di grup #1minggu1cerita

28 komentar :

  1. Jarak dan Corona, aku kira fokus pada masalah Corona saja, ternyata ditengahnya diisi tausiyah juga.😊

    Alhamdulillah baik aku maupun istri tidak punya teman yang sampai lendotan kalo bertemu, paling hanya salaman tangan saja mbak. Kalo ada teman lelakinya dia yang berani ngga sopan didepan saya, langsung aku jotos, urusan polisi nomer sekian.😂

    Aku kadang juga mikir, kapan Corona hilang ya, kemungkinan tahun ini tidak akan hilang karena belum ada vaksinnya. Mungkin setahun lagi kali ya,

    Yang ngeri tuh kalo sudah kayak Amerika Serikat, Italia, Spanyol yang korbannya diatas 100 ribu, yang mati puluhan ribu.😭😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe mana tausiyahnya Mas, orang curcol sahaja 😂
      Belum punya kapasitas nulis tausiyah, ketauan banget ilmu agamanya cetek, hanya sekadar melaksanakan yang dasar-dasar 😁

      Betul banget, semoga bisa segera berlalu ya, sedih banget nggak bisa lebih bebas mencari nafkah.
      Tapi insha Allah semua ini ada hikmahnya.

      Hapus
    2. Hikmahnya jadi pada jaga kebersihan dan tahu kalo sakit itu mahal ya mbak.

      Hapus
    3. Kalau kena corona itu yang menakutkan kalau kita nggak selamat, hiks sedih membayangkan jenazah yang tidak diperlakukan seperti biasa :(

      Hapus
  2. kalau sudah wabah sepetti ini, adab yang dipakai ya anjuran dokter.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya dong, dan berdoa semoga Allah panjangkan usia, semoga diberi kesempatan untuk berpulang bukan karena virus, karena sebenarnya yang sangat menakutkan itu bukan masalah sakitnya, tapi perlakuan jenazah dengan positif covid 19 yang menyedihkan.

      Dan masalah itu mah, dokter nggak bisa apa-apa selain berusaha nolong.
      Karena nyawa urusan sang pemberi nyawa tersebut 😊

      Hapus
    2. betul nih, aku juga takut banget soal perlakuan masyarakat terhadap jenasah orang yang kena penyakit corona. Masyarakat segitunya penolakannya, udah lupa kali ya sama kebaikan orang tersebut semasa hidup hikss..

      semoga kita gak termasuk yang berbuat demikian. selain dosa, kasian juga kan..

      Hapus
  3. Banyak sekali hikmahnya bagi umat manusia 🙂

    banyak sekali kebiasaan baik yang semoga tidak akan pernah berhenti, setelah wabah ini menjauh pergi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, betul Mba, tiada sesuatu tanpa hikmah dan pelajaran yang lebih baik :)

      Hapus
  4. Saya sama sekali udah ngga pernah keluar rumah Mba, bahkan kemarin diajakin temen jadi tentor, terpaksa aku tolak karena aku orangnya parnoan banget Mba. Apalagi mama juga udah larang juga ngambil job itu. Alhasil sih sekarang cuma di rumah seriusin ngeblog aja. :)

    BalasHapus
  5. Beberapa hari lalu, suami ambil barang di rumah Bapak Ibu mertua, ini pun barangnya langsung ditaro di depan teras. Suami cuma dadah-dadah aja dari luar, orangtuanya didalem. Sedih sebenernya dengan semua kondisi sekarang, tapi saat ini, jaga jarak adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan, untuk membantu berhentinya penyebaran covid 19.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, paling serem itu kalau sama ortu ya Mba, apalagi yang udah lansia, atau sama yang lagi drop kesehatannya, karena kita nggak tahu jangan-jangan memang kita udah tertular dan nggak menimbulkan gejala :(

      Hapus
  6. Entah kapan si corona pergi cuman kita ambil hikmahnya aja kak Rey, tul gak? semoga setelah gak lagi corona juga kebiasaan baik kayak nyuci tangan sebelum masuk rumah dan hal lainnya juga tetap kita jalani. Nggak ada salahnya kan ya

    btw, menjaga jarak sama lawan jenis menurut aku harus banget, terkhusus kalau udah menikah ya. .godaan syaitan mungkin bakal lebih kenceng ya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul Mba, setidaknya banyak banget hikmah positifnya selain jarak juga tentunya :)

      Hapus
  7. Jaga jarak dan di rumah aja. Ini yang aku lakukan selama kurang lebih dua Minggu ini. Keluar rumah hanya untuk belanja aja sih dan kalau ada urusan penting. Semoga kita semua tetap sehat selalu ya, Mbak.

    BalasHapus
  8. sebenernya, banyak hikmah yang dapat diambil dari corona ini sih. tapi korbannya suda kebanyakan :((

    BalasHapus
  9. Saya dari dulu paling nggak biasa skinship sama orang mba, even sama teman dan sahabat cewek sendiri (cipika cipiki / pelukan / bergandengan tangan) pun saya nggak terbiasa :"D cium tangan orang dewasa juga hanya orang tua dan om tante saja, kalau hanya tetangga rumah meski sudah sepuh, saya nggak cium tangan. Hehehe. Jadi saya cuma bisa skinship seperti bergandengan tangan dan sejenisnya sama orang yang memang saya sayang.

    However berbeda dengan pasangan saya, kultur negaranya itu terlalu ikrib kalau sama teman seumurannya hheehe. Apalagi teman-teman yang tumbuh dari jaman sekolah dasar. Mau sesama cowok, atau sama lawan jenis, buat mereka peluk atau rangkul itu normal. Tapi untungnya, pasangan saya dan teman-temannya tipe yang nggak too much jadi masih sebatas tepukan pundak dan sejenisnya :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwaaaa, yang ini kita kebalik, saya justru kalau nggak pegang tangan orang, jalannya jadi salting gitu hahahaha.

      Tapi cuman pegang sesama cewek sih, atau sama pasangan.

      Nah bener, kadang memang udah biasa untuk budaya di bangsa lain ya, tapi kalau di Indonesia sekarang jaid ikut-ikutan hahaha

      Hapus
  10. reflek kalo keluar rumah, dibiasakan untuk jaga jarak, hampir semua orang sekarang jaga jarak, dideketin aja kayak menghindar.

    palingan waktu kemarin ke mall kecil-kecilan di jember, yang mengharuskan pengunjung harus cuci tangan dulu sebelum masuk , terlihat nggak jaga jarak, karena mereka buru buru pengen belanja, jadinya kayak antri biasa hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah masih rame ya di sana, kayaknya di sini juga mulai rame kembali Mba :D

      Hapus
  11. We could use the quarantine to make all the things we wanted to do for a long time such as reading a good book and watching films.

    BalasHapus
  12. Iya ya, Mbak Rey. Kalau dipikir-pikir setelah ada Corona ini banyak orang yang jadi takut kontak fisik ya, Mbak. Jangankan yang cipika-cipiki, salaman tangan aja gak berani. Sekarang salaman tangan sudah diganti jadi model namaste. Biasanya dulu orang namaste kalau sama orang yang bukan muhrim, eh sekarang sama yang jenis kelaminnya sama pun jadi begitu salamannya. Ironis banget ya. Hehehe.

    Tapi ada juga yang bandel nih, Mbak Rey. Masih banyak juga yang suka nongkrong di warung kopi, atau kongkow-kongkow di kafe. Gemes banget lihat kelakuan orang-orang itu di tv. Kok bisa-bisanya gitu lho, padahal Corona ini ngeri lho.😱

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuulll, hikmahnya jadi berasa dengan adanya jarak :D

      Eh kemaren di Surabaya diadakan test rapid acak gitu di beberapa warkop, hasilnya 2 orang langsung diciduk karena positif corona, sereemmm deeh, gitu masih banyak juga yang bandel, ckckckckc

      Hapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)