Kata-Kata Roda Kehidupan untuk Bersyukur

roda-kehidupan

Kata-kata roda kehidupan memang selalu membuat kita mengerti, bahwa roda hidup selalu berputar. Membawa kita kepada posisi yang berbeda-beda. 

Kadang di atas, kadang di tengah, ada pula saat kita di bawah.

Beberapa orang bijak mengatakan, teruslah bergerak, agar kita tidak terjebak di posisi bawah kehidupan melulu.

Tapi, sehebat apapun kita bergerak terus, saya rasa ada saatnya memang kehidupan kita harus di bawah, karena sang pemberi kehidupan sesungguhnya maha adil.

Namun, yang membedakan orang-orang pekerja keras dengan yang 'pasrah' saja adalah, saat berada di bawahpun, keadaannya tidak hanya merasa putus asa saja.

Baca juga : Mereka yang Tidak Bersyukur atau Kita yang Sok Bersyukur

Dan bagi saya, selama puluhan tahun hidup di dunia ini, setidaknya saya bisa menyimpulkan secara awal apa yang sering terjadi pada roda kehidupan, yaitu...


Kata-Kata Roda Kehidupan untuk Posisi Di Atas, Indah Sekali!


Baiklah, jujur saya mungkin belum pernah merasakan posisi di roda kehidupan paling atas.
I mean, dalam segi ekonomi loh ya.

Di mana, posisi teratas itu digambarkan selalu bahwa saat kita sudah tidak pernah lagi memikirkan terlalu dalam saat mengeluarkan uang.

Untuk hal apapun, tergantung gaya hidup personal.
Bukan sekadar berfoya-foya selalu ada uangnya dan nggak terlalu banyak pertimbangan untuk mengeluarkan uang.

roda kehidupan selalu berputar

Juga dalam hal berbagi kepada yang membutuhkan.
Saat seseorang sudah sedemikian ringannya mengeluarkan uang untuk semua itu, tanpa banyak pertimbangan,
"Duh, ini kan duit buat beli yang itu!"
Saya rasa, saat itulah posisi kehidupan sedang berada di atas dalam kehidupan seseorang.
Dan sepertinya hal tersebut hanya pernah saya rasakan saat saya kecil dulu.

Bukan karena orang tua saya kaya banget, akan tetapi saya dulu nggak pernah merasa kekurangan, ya kan masih kecil *plak!
I mean, baiklah, saya sepertinya belum pernah mencapai posisi tersebut, semoga Allah pantaskan, aamiin.

Banyak yang menggambarkan, posisi tersebut sangatlah menyenangkan, dan saya sering lihat dari 'pamer' yang dilakukan para leader bisnis Oriflame, eh bahkan banyak bisnis MLM lainnya sih, hihihi.

Baca juga : Ketika Top Leader Bisnis MLM Mengundurkan Diri

Terlepas dari semua itu hanyalah pencitraan semata, tapi sungguh benar kata mereka bahwa,
"Berjuanglah lebih keras mendaki impianmu, di atas sini semuanya terasa dan terlihat begitu indah loh!"
Saya jadi memikirkan sedang berada di puncak gunung tertinggi, atau gedung yang tinggi.
Memang benar kali ya, semuanya indah banget, kita bisa melihat jauuuhhh lebih luas semua hal-hal menakjubkan ciptaanNya di dunia ini.


Kata-Kata Roda Kehidupan untuk Posisi Di Tengah, Nyaman!


Saya rasa, ini adalah posisi sejuta umat banget.
Dambaan hampir sebagian besar orang di dunia ini.

Bagaimana tidak?
Berbeda dengan posisi di atas roda kehidupan yang hanya bisa kita capai dengan pejuangan yang amat sangat keras.

Untuk mencapai posisi ini, semuanya terasa lebih balance.
Di mana, kita akan jarang merasakan kekurangan, meskipun juga tidak pernah merasa kelebihan.
Dan perjuangan yang kita lakukan pun, masih dalam kontrol kita sendiri.

Misal, masih boleh pakai hati nurani dan sedikit bumbu idealis.
Asalkan, kita menghasilkan sesuatu untuk membayar yang kita butuhkan, dan sedikit yang kita inginkan.

Tidak jarang, posisi ini dinyinyirin orang yang posisinya di atas, dengan kata-kata bahwa,
"Keluarlah dari zona nyaman"
Lalu dicibir oleh orang yang posisinya di bawah.
"Duh, sama sekali nggak mau bersyukur!
Hahaha.


Kenyataannya, posisi ini memang kadang berbahaya.
Banyak yang saking nyamannya lupa mempersiapkan diri, sehingga bisa jadi lebih mudah untuk tergelincir ke roda terbawah kehidupan.


Kata-Kata Roda Kehidupan untuk Posisi Di Bawah, Penuh Keajaiban!


Ini posisi paling ditakutkan banyak orang.
Posisi di mana semuanya terasa begitu menghimpit.
Dan saya pernah mengalami hal ini beberapa kali, baik sebelum menikah, maupun setelah menikah.

roda-kehidupan

Hanya saja, setelah saya menikah, saya baru lebih ngeh bahwa, meskipun posisi di bawah roda kehidupan itu begitu menyedihkan dan menghimpit.

Justru di posisi dasar itu, kita bisa lebih jelas melihat banyaaaakkk banget keajaibanNya.
Asalkan, kita bisa lebih mau membuka mata hati, kita bahkan bisa merasakan betapa Allah bersama orang-orang yang sabar.


Iya, pada posisi roda kehidupan terbawah, kesabaran manusia sangatlah terasa lebih diuji, karena batas antara ada dan tiada itu terasa lebih jelas.
Keajaiban-keajaiban itu hadir dalam bentuk nyata memenuhi kebutuhan kita.

Saya pernah berada di posisi sama sekali nggak punya uang, bingung besok harus masak apa buat anak-anak?
Lalu keesokan harinya, ada keluarga berkunjung dan tebak apa yang mereka bawa?
Bahan-bahan makanan yang kami butuhkan.
Masha Allah, sampai mewek.


Dan itu terjadi berulang kali.

Pernah juga, si kakak sedih karena pengen makan jajan.
Memang sih sejak kecil dia terbiasa dibelikan jajanan, karena dulunya memang picky eater banget, dan sering seharian cuman mau minum susu saja, karenanya saya selalu stock jajanan agar perutnya terisi (judge me mamak nggak bener, i dont care! hahaha)

Sungguh sih ya, kata-kata roda kehidupan yang menggambarkan tentang bagaimana saya melalui hidup ini, seringnya bikin takjub dan bersyukur.

Ternyata, kebiasaan itu terbawa hingga dia besar.
Bahkan di saat selera makannya sudah mulai menghinggapinya, dan setiap hari bolak balik dapur saja untuk makan, dia masih juga menginginkan jajanan.

Pernah suatu saat, saya harus berhemat karena uang yang ada cuman buat beli makanan, dan tiba-tiba saja, ada babang GoFood datang membawa camilan banyak banget.
Entah itu dari keluarga, atau teman-teman dunia blogger dan dunia maya.

Lalu, nikmat mana pula yang harus saya ingkari?
Masha Allah...

Itu terjadi berulang kali saat kami sedang mengalami masa pailit.
Dan tiba-tiba saya merasa, bahwa sebenarnya di manapun posisi kita dalam roda kehidupan ini, jangan pernah takut ataupun takabur.
Karena ada sang empunya hidup ini yang selalu menyertai kita.

Apa yang harus kita lakukan, hanyalah meminta, berusaha, sabar, dan tawakal serta bersyukur.


Iya, bersyukur di mana pun posisi kita.
Agar Allah tidak pernah meninggalkan kita.
Bahkan dalam posisi kita paling atas, jangan pernah lupa bersyukur.
Agar ketenangan dan kebahagiaan selalu kita miliki.

So temans, terkhusus di masa seperti sekarang.
Bahkan sesungguhnya sebelum masa pandemik virus corona ini masuk ke Indonesia.
Sudah terjadi beberapa kekacauan ekonomi di mana-mana.

Baca juga : Gara-Gara Covid, Saya Bisa Melakukan Ini!

Beberapa usaha akhirnya tutup.
Bahkan di sektor pemerintahanpun banyak yang tersendat di dana.

Ditambah dengan efek luar biasa dari pandemik ini, saya rasa kita semua tahu, atau bahkan mengalami langsung dampak luar biasa tersebut dalam segi ekonomi.

Temans..
Jangan menyerah, tetap semangat.
Yakinlah, selalu ada Dia yang menyertai hambaNya yang sabar.
Kalau ada Dia sang pemilik segalanya, apalagi yang harus kita takutkan?

Jadi, masih semangat kan ya?..




Sidoarjo, 19 April 2020

Sumber : Opini pribadi
Gambar : Canva, edit by Rey & Lalaartwork gif

Demikianlah artikel tentang kata-kata roda kehidupan yang selalu berputar, namun harus selalu bersyukur, semoga bermanfaat.

23 komentar :

  1. Bersyukur, dan selalu bersyukur...memang begtu seharusnya ya Mbak. Tapi ternyata hal itu tidak semudah dan sesederhana yang dikatakan. Sering lupa bersyukur.

    Saya pernah mengalami apa yang Mbak bilang posisi di bawah roda kehidupan. Itu tahun 1998 Mbak, saat krismon melanda. Thn 1998 juli, anak ke-3 saya lahir. Okt 1998 saya di PHK. Akhirnya hidup mengandalkan uang pesangon. Uang pesangon saya deposito, bunganya saat itu sampai 57% p.a. Tapi lama kelamaan bunga turun karena ekonomi beranjak pulih. Saya mencari pekerjaan, lamar kesana-kesini. Di satu titik, uang saya tinggal hitungan bertahan hidup 2 bulan lagi. Akhirnya saya mendapat pekerjaan lagi atas bantuan teman dan atas ilmu & pengetahuan yang justru saya sepelekan saat dulu ada trainingnya di pabrik. Ilmu itu tentang ISO 9000. Dulu saat ada training 1 minggu di kantor tentang ISO 9000 ini saya ogah-ogahan ikut, karena saya merasa mapan di bidang kerja manajeman informasi.
    Oh iya saat krismon itu saya nganggur selama 14 bulan, dan baru kembali bekerja Januari 2000.

    Begitu Mbak sekilas kisah ketika hidup saya berada dibawah. Berat. Dengan banyak berdoa dan menjalin kontak lagi dengan sahabat-sahabat lama, akhirnya saya terlepas juga. Dan ya, harus bersabar juga.

    Ah jadi kepanjangan nih Mbak komentarnya. Moga Mbak berkenan.

    Salam dari saya di Sukabumi,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masha Allah, terimakasih banyak sudah sharing Pak, means a lot buat saya, sebagai pengingat untuk selalu semangat dan bersyukur :)

      Hapus
  2. Semoga ditengah kesulitan ekonomi karena epidemi ini, selalu ada saja rejeki datang tiap harinya.

    Juga semoga virus menakutkan ini segera minggat dari muka bumi.

    BalasHapus
  3. Kata pak Guru syukuri yang ada maka Tuhan akan menambah yang kita miliki. Makanya syayaselalu mensyukuri istri saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar istrinya bisa nambah ya, Bang Day? Yaampun kok bisa kepikiran sampai situ. Ngakak aku. 😂

      Hapus
  4. Membaca tulisan ini jujur rasanya penat bangat, sebagai kepala keluarga yang harus menghidupi keluarga kecilku sungguh di masa covid 19 ini, bisa jadi kaki di kepala, kepala di kaki, tetapi saya bersyukur selalu ada jalan asalkan pasrah kepada sang khalik dan terus berusaha, ora et labora.

    Oh ya sedikit cerita, masih bujang, saya pernah merasakan posisi di atas, ya ga kayak milioner tetapi setiadaknya saya bisa buat orang tua tersenyum, bisa gonjeng cewek dengan kawasaiki ninja yang tinggal puing - puing.

    tetapi setelah menikah, sungguh semuanya pelik, harus memutar otak agar dapur bisa ngebul. Namun satu hal yang sangat saya syukuri ialah istri menjadi motivator paling the best, manusia paling pengertian selain ibuku. dan tentunya kami selalu sehat, itu yang saya syukuri...

    lantas saat hidup di hari tua mau apa dan bagaimana, jujur hanya pasrah, sedikit asuransi buat keluarga kecilku saya siapkan, barangkali saya sebagai tiang penyanggah tak produktif lagi minimal keluarga kecilku bisa makan.

    Sedikit usaha coba dirintis agar anak tidak mengalami yang bapaknya alami, itu saja selebihnya blogwalking biar ga mumet kepala ini kwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya dulu sendiri, sekarang ada teman berbaginya ya Pak guru :)

      Yang penting selalu semangat, tidak pernah menyerah.
      Bersyukur dan hasil akan mengikuti semua usaha kita :)

      Hapus
  5. Sering jg itu kejadian sama saya mba 😁

    Disekitar bnyk orang baik, bnyk sekali rejeki yg datang tidak di sangka-sangka, tapi kalo harus dibandingkan dengan masa kanak2, saya lebih bersyukur dengan apa yg saya punya sekarang, meskipun gak punya apa2, tapi saya gak sendirian menanggung beban berat yang ada di pundak

    BalasHapus
  6. Aku juga sedih banget, Mbak. Banyak para tetangga yang diliburkan kerja karena adanya virus Corona yang semakin menyebar luas. Para pengusaha kecil pun rugi besar karena virus Corona yang semakin menyebar luas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga selalu semangat ya, insha Allah semua akan berlalu :)

      Hapus
  7. Hidup memang akan terus berputar seperti roda ya mba, dan yang di bawah pelan namun pasti akan naik ke atas juga :) apalagi sekarang saat pandemik seperti ini, banyak orang kehilangan pekerjaannya, hidup kekurangan karena nggak punya tabungan, belum lagi harus bayar cicilan dan banyak tanggungan :( apapun itu, semoga semua yang terdampak dikuatkan agar bisa melewati masa krisis dengan tenang dan hati lapang <3

    Dan untuk mba Rey juga agar tetap semangat berbagi ilmu melalui tulisan :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, bener banget ya, semua sebenarnya akan berlalu.
      Yang harus kita lakukan adalah tetap semangat melewati masa ini dengan ikhlas.
      Semoga bisa jadi cerita buat anak cucu kita nanti, aamiin :)

      Hapus
  8. Memang kehidupan begitu mbak, kadang ada diatas, kadang dibawah, dan juga kadang dibawah. Mungkin setiap orang pernah mengalami kecuali tentu saja anak sultan yang banyak duitnya dari kecil.😁

    Keluarga saya juga pernah diatas, jadi misalnya kalo panen pas harganya bagus, itu bisa buat beli motor. Jaman dulu jarang sekali yang punya motor, satu desa itu bisa dihitung jari berapa yang punya motor.

    Tapi kalo lagi apes, misalnya bapak saya menanam bawang dengan harapan harganya tinggi, ternyata malah kemarau dan bawangnya mati. Padahal menanam bawang itu banyak sekali, sebagian dari hutang. Akhirnya motor dijual, emas juga dijual. Duit pokoknya habis-habisan dan itu belum cukup. Orang yang ngutangin duit datang terus nagih duit. Nagihnya juga kadang bisa tiap hari, jadi jangankan motor, buat makan saja saya dan keluarga harus makan nasi putih sama kangkung tempe tiap hari selama berminggu-minggu. Kalo duit buat beli beras sama nasi abis, terpaksa beli nasi aking yang murah. Sekolah terpaksa putus di tengah jalan karena ngga ada biaya.

    Alhamdulillah sekarang sudah mendingan sih, ngga ada yang neror lagi nagih utang, kalaupun ada itu juga tiap bulan, tagihan cicilan panci yang ngga terlalu bikin mumet sih, daripada tagihan jaman dulu yang horor banget, soalnya pintu rumah digedor dengan kasar.😓

    BalasHapus
    Balasan
    1. masa Allah, semoga kita semua selalu tidak pernah lupa bersyukur ya.
      Setidaknya masa kita sedang di bawah adalah pengalaman hidup yang tidak bisa digantikan :)

      Hapus
  9. Bener banget, Mbak. Hidup itu memang seperti roda. Kadang di atas, kadang di tengah, kadang di bawah. Semua orang pasti akan melewati semua fase itu. Entah orang itu orang yang biasa-biasa saja ataupun orang kaya. Kalau kita-kita mungkin yang membuat kita merasa di atas, tengah, atau bawah adalah masalah duit. Tapi buat sultan mungkin yang bikin mereka merasa di fase-fase itu bukan tentang duit lagi melainkan hal-hal lain yang kita gak tau, tentang ketentraman dan ketenangan jiwa mungkin. Entahlah, aku gak tau.

    Tapi memang di setiap fase dalam hidup itu sebaiknya kita tetap menjadi manusia yang pintar bersyukur. Seperti kata Bang Day, jika kita mensyukuri semua yang kita miliki niscaya Allah akan menambahkan nikmat yang lebih besar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha asal nggak kayak Bang Day minta tambah istri bahahaha

      Betul ya, orang di posisi manapun pasti punya masalah sendiri :D

      Hapus
  10. aku sendiri berusaha untuk selalu bersyukur, bekerja keras dan memang rumput tetangga lebih hijau, tapi kita nggak ngerti dia udah berusaha sampe jungkir balik mungkin.

    tiap orang punya cara sendiri buat "memperkaya dirinya" dan Tuhan sudah kasih cara & ujian yang harus kita jalankan sesuai kemampuan
    kadang ada saatnya aku merasa "kaya" dan bilang terima kasih ke Tuhan & kadang pernah alami juga "kok kurang ya" mungkin bersyukurnya kurang, ada cobaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi betul Mba, kadang memang kita kurang bersyukur, padahal udah dikasih semua yang kita butuhkan :)

      Hapus
  11. Hidup itu seperti roda berputar, itu benar sekali. Sebenarnya baru-baru ini aku dan suami mengalami hal yang nggak mengenakkan. Rasanya ngenes banget di tengah wabah ini kok ya ada aja yang harus kami terima. Di keadaan kayak gini tuh sulit banget rasanya untuk bersyukur. Tapi ya, Tuhan yang memberi, Tuhan juga yang mengambil. Kita hanya bisa mengucap syukur kalau hari ini masih bisa cukup makan. Semoga kita semua bisa dikuatkan dan berjuang untuk bertahan di masa-masa ini ya.

    Untuk Mba Rey, semangat terusss untuk membagikan pengalamannya lewat blog ini ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget ya, apa yang kita miliki saat ini, bahkan tubuh dan nyawa ini sesungguhnya hanyalah dipinjamkan semata :)

      Hapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)