Tuesday, April 07, 2020

Bebas Curhat Di Facebook Tanpa Judgement Yang Bikin Baper

curhat di facebook

Sharing By Rey - Siapa nih yang sering kesal dengan komentar teman facebook, yang terkesan sotoy dan menggurui bahkan menghakimi?

Padahal, kita hanya nulis begini, tapi tanggapannya luar biasa begitu.

Gara-gara hal tersebut, kita jadi lebih selektif memilih teman, dan membatasi pilihan privacy kita dengan 'hanya untuk kalangan teman' saja.

Saya akhir-akhir ini, merasa sangat merdeka dengan wall saya sendiri di facebook.
Ibarat saya duduk di halaman rumah, lalu saya main drama, dan para tetangga yang lewat hanya sekadar memberikan applaus, atau reaksi yang sangat bikin hati nyaman.

Saya rasa, Allah memang selalu adil kepada hambaNya.
Di saat saya merasa sangat kesepian tanpa ada keluarga dan teman yang bisa mendengarkan curhatan saya.

Allah berikan saya lingkar pertemanan yang sesuai dengan yang saya butuhkan banget.
Yaitu teman-teman yang memberikan saya kesempatan seluas-luasnya untuk bercerita, tanpa disela, tanpa dihakimi sama sekali.

Mmm... atau mungkin juga saya yang enggak baperan terhadap komentar kali yak? hihihi


Curhat Kok Di Facebook!?


Saya rasa semua, atau sebagian temans mungkin berpikir seperti itu.
"Lebay! curhat kok di facebook? curhat itu sama Allah, sebaik-baiknya tempat curhat!"
Andai semudah itu ya, dijamin nggak ada ibu yang depresi, nggak ada ibu yang bunuh diri, atau bunuh anaknya.

curhat di media sosial

Sesungguhnya, mungkin saya yang masih terlalu lemah mentalnya, terlalu tipis imannya, jadinya saat galau, saya butuh banget yang namanya mencurahkan isi hati saya.
Karena setelahnya saya merasa lebih plong dan kembali baik-baik saja.

Kenyataannya?
Sejak memutuskan jadi IRT, saya murni jadi anak rumahan.
Sama sekali nggak pernah keluar rumah, jangankan keluar rumah, bahkan keluar pagar saja seminggu sekali jarang.

Kecuali memang si kakak lupa melulu buang sampah, baru deh saya keluar pagar buat buang sampah.
Bahkan keluar pintu saja enggak.

Saya terkungkung di rumah terus, bertemankan anak-anak yang setiap saat menjerit dengan suara melengking yang membuat telinga saya sakit banget.
Dan itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.

Saya tak pernah bisa curhat dengan keluarga.
Mama saya jarang aktifin hapenya, jadi kalau mau kasih kabar saya hanya bisa sms, itupun seringnya nggak dibalas.

Kakak saya? kurang lebih dengan sahabat saya lainnya, SIBUK!
Saya tidak pernah bisa duluan menelpon, karena kalau sibuk dia malas angkat.
Sementara, kalau dia butuh telinga saya untuk mendengar, dia bakalan marah besar jika saya telat mengangkat telpon.
Ah sudahlah, hahaha.

Sahabat-sahabat saya?
Sudah pada nikah, dan sibuk urus anak semua.
Apalagi memang sahabat wanita saya hanya beberapa orang.

So sudah kebayangkan bagaimana sesaknya perasaan ini, kalau lagi galau, suami minggat sesukanya, saya tidak bisa beringsut sejenak dari anak-anak dengan teriakan melengking mereka.

Sungguh saya butuh udara sejenak di rongga dada saya.
Dan menulis membuat saya jadi lebih baik.
Termasuk menulis di facebook.


Facebook Tempat Asyik Buat Curhat


Karena pada hakikatnya, saya masih sangat beruntung punya tempat curhat, yaitu blog dan facebook, dibanding teman lainnya yang akhirnya depresi parah hingga akhirnya memicu kondisi mental yang sudah terganggu sejak lahir jadi keluar semua.

Misal anxiety atau semacamnya.

curhat nyaman di facebook

Saya sendiri, meskipun kata suami saya gila (udah tahu sekarang gila, tapi nggak diobatin!), tapi menurut psikolog saya mah masih masuk kategori sangat sehat.
Padahal saya merasa ada yang salah dengan diri saya.

Kok bisa begitu?
Ya karena saya tidak menampung semua beban sehingga infeksi dan meledak di dalam pikiran saya.
Setidaknya saya bisa keluarkan sedikit melalui tulisan.

Hah sedikit?
Dengan tulisanmu 'yang berani' itu sedikit?

Iya, sebenarnya mah apa yang saya tulis ini sudah disaring, yang mana saya sendiri yang tahu batas saringannya hahaha.

Selain disaring, cara menulispun diatur, sehingga mungkin itulah alasan mengapa saya begitu beruntung bisa curhat dengan nyaman di facebook tanpa komentar hujatan dari teman lainnya.

Saya rasa semua itu bukannya tanpa penyebab, mengapa saya dikelilingi oleh lingkar pertemanan facebook yang pengertian, karena :


1. Saya jarang mengurusin urusan orang lain


Saya pernah beberapa kali di-bully di facebook, dengan komentar yang serem banget.
Dan saya sadari, itu karena saya ngurusin urusan orang lain, meskipun ya tidak bikin orang kurus, hanya mengomentari melalui wall saya.

Sejak saat itu, saya jadi sedikit menahan diri untuk menulis tentang urusan orang lain.
Baik itu politik kek, atau perdebatan yang tak berujung, seperti saat virus corona saat ini.
Mungkin karena itu, membuat saya jarang berdebat dengan orang, dan jarang bikin orang tersinggung.

So, tidak ada alasan orang bakal tersinggung dengan saya dan membalasnya di kolom komentar dengan komentar yang serem.


2. Saya fokus bahas diri sendiri


Ye kan, sebenarnya facebook saya gunakan buat branding diri sejak tahun 2014 lalu. Meskipun sebelumnya branding saya tentang hal yang semangat melulu.

Setelah nggak Oriflame an, saya akhirnya memilih jalan menulis dengan lebih jujur dan real.
Dan begitulah, saya selalu fokus membahas diri saya sendiri, seperti dengan hal di blog ini, semua sharing pengalaman pribadi.

Jadi, meski yang baca risih, setidaknya mereka nggak sakit hati.
Karena saya nggak nyuruh orang untuk jadi baik, tapi saya nyuruh diri sendiri.
Ngomongin diri sendiri, bukan ngomongin orang lain.


3. Track record komentar


Pengen dimengerti orang, tapi nggak mengerti orang.
ya sulit kali ye..

Setidaknya semakin hari semakin saya mencoba untuk selalu menjaga jari khususnya saat menulis komentar di status orang.
Akan lebih baik jika komentarnya yang baik-baik saja, lebih pengertian ke orang lain.


Demikianlah, saya beruntung banget punya tempat curhat di facebook, sekaligus menyimpan kenangan, baik sedih maupun susah.
Siapa tahu kan, besok-besok bisa dibukukan dan dijual hahaha.

Kalau temans, berani nggak curcol di facebook?
Jangan ding, kecuali memang udah siapin mental yang kuat :D


Sidoarjo, 7 April 2020

Reyne Raea

21 comments:

  1. Kalau aku dulu jaman masih SMP di tahun 2011 tiap hari curhat di Facebook sampai tahun 2016 pun masih curhat di Facebook. Tapi sejak tahun 2017 sampai saat ini sudah jarang sekali curhat di Facebook. Soalnya lebih suka upload foto produk untuk jualan. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya, kalau buat jualan mending jangan deh :D
      Sebaiknya dipisahkan sama akun buat curhat hahahaha

      Delete
  2. curhat di facebook, saya sih pernah waktu jaman galau melanda dulu

    ReplyDelete
  3. Kalo saya agak segan curhat di pesbuk, karena keluarga add semua. Pernah bikin blog, trus tiba2 ada keluarga yg komentar dgn kata2 bullyan meskipun bercanda tapi kerasa gak enak juga, jadilah skrg pake nama pena ajalah 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha, waduh iya sih, untungnya keluarga saya malas baca :D

      Delete
  4. Kalau aku masih belum berani curhat ke Facebook, Mbak Rey. Curhat ke ibu atau sahabat aja kadang masih susah. Kadang aku pengen curhat, tapi takut orang lain salah pengertian. Kadang pengen curhat buat didenger doang, tapi kebanyakan orang malah memberikan solusi-solusi yang menurut mereka jitu tapi sebenarnya gak membantu sama sekali. Jadi kalau aku lebih nyaman dipendam sendiri sih, Mbak. Walaupun aku tau kalau terlalu memendam rasa yang kurang enak lama-kelamaan efeknya gak baik juga. Apa sekali-kali sebaiknya aku mencoba ke psikolog ya, Mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya ya, kalau memang kita merasa masih bisa mengatasinya, curhat ke Allah saja itu jauh lebih baik.
      Allah yang kasih ketenangan.

      Cuman kalau saya memang udah banyak yang numpuk, dan saya liat sangat berpengaruh terhadap anak-anak saya, akhirnya saya butuh mencurahkan uneg-uneg, nggak punya teman yang bisa dengerin sesuai keinginann saya, cuman ingin didengarkan.

      Akhirnya memang menulis itu healing terbaik.
      Cumannn harus liat-liat, saya berani curhat di FB karena mental udah disiapkan dan memang track record saya menulis dicoba sesopan mungkin hehehe.

      Boleh kok say, sesekali curhat di psikolog, nabung sekitar 300-500 bisa kok, atau di puskesmas, tapi sepertinya memang lebih enak curcol di psikolog swasta :D

      Delete
  5. Saya curhat di blog saja mba, hihihi, ini pun IG saya matikan karena sudah 4 bulan nggak update di sana (entah kenapa malas) :""D menurut saya, mba Rey beruntung karena dikelilingi orang-orang baik, means itu karena mba Rey juga orang yang baik <3 alhasil meski mba curhat di FB, orang-orang nggak akan menghakimi atau membully :D

    Lagipula, kadang kala, apa yang mba curhatkan atau ceritakan, bisa jadi dirasakan juga oleh teman-teman yang baca. Semacam related gitchuuuu kisah hidupnya, jadi yang baca senang dan justru jadi belajar banyak dari pengalaman mba :) soooo, keep sharing ya mbaaaa <3

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi iya, saya kaget kemaren cari akun IGnya nggak ada :D

      Nah betul banget, saya brsyukur di kelilingi orang baik, karena kadang di grup curhat aja banyak banget yang bully, sementara saya buka buat umum tapi aman bully an :)

      Delete
  6. Aduuh aku termasuk yg tidak berani banyak curhat di fb. Hanya sesekali saja, itupun paling posting yg hore hore. Ya itu tadi, dasarnya saya orangnya agak rertutup, tambah kurang kuat mental dengan komen beberapa netijen yang bisa aneh atau garaaang :)

    Eh, tapi pas wfh ini saya bisa curhat lho, tapi di blog sajaa. Mungkin karena sudah merasa susah juga ternyata full mengurus rumah tangga sembari bekerja dari rumah.
    Sekarang saya makin salut dengan mereka yg memutuskan full time mom, apalagi yg disambi menjalankan bisnis dari rumah. Salut!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah iya Mbak, emang butuh mental yang kuat, saya rasa meski komen netizen di postingan saya sopan semua, mungkin ada yang bisa menyinggung terlebih jika dibaca saat galau.

      Nah saat itulah yang namanya kuat mental kudu dikedepankan :)

      Delete
  7. Curhat difacebook selama itu nyaman dan siap menerima resiko kenapa tidak kalau bagi saya..Meski tidak semua orang mau melakukannya karena alasan yang bermacam-macam.😊

    Kalau saya bukan tipe orang yang suka curhat masalah keluarga di FB,, Paling malah ditertawakan.😊😊 Sama keluarga saja nggak pernah terlebih ke facebook.🤣🤣

    Paling saya curhat di facebook kalau cape kerja...Kerjaan menumpuk harus ini dan itu,, Sama ketemu mantan secara tak sengaja atau mendadak seperti kemarin, 🤣🤣 Meski saya tahu tidak ada solusinya. Paling cuma ditertawakan saja.

    Kalau masalah rumah tangga, Solusinya bagi saya,, Yaa pada diri kita sendiri dan pasangan kita meski itu semua butuh waktu. Yaa itu saya sih, Kan setiap orang punya cara sendiri dalam hal curhat pribadinya.😊😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya kalo ada masalah sama bini paling kang satria mangkal di lampu merah atau kampus gitu ya kang, lumayan barang kali dapat job. 😁

      Saran saya sih jangan jadi kebiasaan kang.🤭

      Delete
    2. ckckckckckc, betul-betul yeee.. ketemu mantan curcol di efbi, disikat istri tahu rasa entar hahaha

      Delete
  8. Dulu zaman masih pakai FB, ya begitu Mbak sering nglantur aka curhat. Di like, seneng banget. Di komen...nah ini sering banyak komen yang nyleneh, kadang sering bikin sebel.

    Sekarang saya sudah tidak punya akun FB. Saya ngeblog saja deh sebagai ventilasi dari "jebakan" kehidupan sehari-hari.

    Ketemu mantan di FB? Ini hal yang tak terhindarkan...

    Salam,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, gawat juga tuh ketemu mantan, untung saya nggak punya mantan :D

      Delete
  9. kalau FB kayaknya engga untuk soal yang terlalu "privasi", soalnya isi temennya ada bos wkwkwk. dan temen kantor surabaya, kayaknya tahannnn dulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha, iya nggak enaknya kalau lingkarnya teman-teman kantor :D

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown, auto klik spam :)