Selasa, Januari 15, 2019

Pengalaman Dan Cara Menentukan Rate Card Bagi Blogger Pemula Ala Rey

cara menentukan rate card blogger

Assalamu'alaikum :)

#TuesdayTechno
 
"Mbak Rey, bagaimana sih caranya kita nentukan rate card sponsored post di blog?, saya bingung nih ditanya rate card, takut kemurahan atau kemahalan"
Selama menekuni dunia blogger, saya sudah menerima pertanyaan demikian dari beberapa orang teman blogger. Bahkan ada pula yang blak-blakan nanya,
"Mbak Rey, rate card sponsored postnya berapa? aku mau nentukan rate card tapi bingung"





Baca : Pencapaian Blog Tahun 2018 Dan Kisah Dibaliknya
Sebenarnya, saya kadang agak ngerasa gimanaaaa gitu, saat ditanya mengenai rate card oleh sesama blogger, secara... itu kan sama aja kayak ditanya,
"Mbak Rey, gajimu berapa"
Kan semacam awkward momen gitu kaannn...
Semacam kita jadi karyawan di sebuah kantor gitu, trus saling nanya gitu..
"eh kamu dapat bonus berapa?"
Terus dijawab jujur, terus ternyata si A dapatnya lebih besar, terus si B sedih dan ngambek.


Apa Itu Rate Card Blogger


Saya jadi ingat, pertama kali saya ditanya tentang Rate Card.
Dan lucunya, saya sudah mulai ngeh memonetized blog sejak Maret 2018, namun baru mengenal istilah rate card ketika bulan Agustus 2018 lalu.

Ceritanya, saya dihubungi oleh seorang teman Instagram yang ternyata ybs kerjanya di sebuah agency gitu.
Setelah minta nomor WA, ybs segera mengirimkan saya pesan di WA yang isinya bertanya, tentang rate card saya.

Langsung dong saya nganga, apaan tuh rate card?
Semacam kartu kah?

Bingung dong saya, mau nanya temen blogger lainnya, kok ya gak punya keberanian, takut diketawain, atau semacam karena saya tuh introvert yang suka malu kalau nanya-nanya gitu.
Baca : 5 Fakta Tentang Saya Yang Kadang Sulit Dipercaya
Alhasil, saya melabuhkan pertanyaan tersebut pada sahabat saya yang serba tahu, dialah si Google.
Dari Google saya akhirnya tahu, kalau ternyata istilah rate card dalam dunia blogger itu adalah fee atau harga yang ditawarkan para blogger terhadap kerjasama dengan klien.

 Dan hal tersebut gak bikin saya tersenyum lega, justru makin nganga, lahhhh.... berapa dong rate card saya?
Googling lagi, mencari lagi, kali aja ada blogger yang mau berbaik hati membagikan pengalaman mereka dalam menetapkan rate card pribadinya.
Dan ternyata, banyak loh yang bahas tentang rate card.
Sayangnya, sudah capek saya ubek-ubek tulisannya, namun belum juga nemu nominal pastinya.

Duh ya, padahal saya butuh, minimal saya bisa punya bayangan mau nerapi rate card berapa ke klien. Bingung kan ya, secara takut kemahalan atau juga terlalu murah.


Cara Saya Awal Menentukan Rate Card Blogger


Karena bingung mencari tahu berapa rate card blogger pemula, saya akhirnya memutuskan untuk menentukan rate card sendiri, dengan cara :
  • Membuat 1 macam penawaran dulu, yaitu sponsored post yang dijadikan paketan sekaligus termasuk share ke semua media sosial saya. Hal ini saya lakukan sebagai percobaan atas kebiasaan saya.
Saya terbiasa menulis postingan dan kemudian meng-share di semua media sosial saya, dan demi menghindari kebingungan tanpa ujung, saya putuskan untuk membuat 1 macam penawaran saja dulu
  • Menentukan harga penawaran (rate card) dengan cara melihat fee yang ditawarkan saat diundang dalam sebuah event.
  • Untuk mengatasi kebingungan nilai fee atau rate card, saya putuskan untuk hanya menerima kerja sama sponsored post saja dulu, selain agar lebih bisa mempertahankan nilai fee, pun postingan selain sponsored post misal content placement, tidak sesuai dengan ciri khas tulisan saya yang selalu ada kisah dalam sebuah tulisan sponsored post.
  • Agar rate card saya tidak turun atau dinego habis-habisan (karena awalnya saya menerapkan rate card yang mungkin kecil bagi beberapa blogger) jadi sebisa mungkin nilai tersebut tidak bisa dinego, kecuali sponsored post dengan produk yang nilainya lumayan (ratusan ribu)


Hal-Hal Yang Saya Perhatikan Dalam Menentukan Rate Card Blogger


Pada dasarnya, rate card atau fee kerjasama blogger itu tidak ada patokan resminya, karena kerjasama yang diadakan termasuk dalam jenis jasa perorangan.
Karenanya, setiap blogger punya hak prerogatif untuk menentukan rate card nya masing-masing.

Mau minta bayaran 1 sponsored post dengan fee 5 juta dan target page view postingan 100 dalam minggu, it's OK.
Gak bakal ada yang larang kok.

Demikian pula, dengan keputusan menerima bayaran 1 sponsored post dengan fee 100ribu dan target page view 500 dalam 1 minggu, juga gak masalah.
Gak ada hukum yang melarangnya.

NAMUN!

Bagi saya, menentukan rate card itu juga masuk dalam personal branding saya.
Saya gak mau, pasang rate card 1 juta per 1 postingan sponsored post, lalu berikutnya karena gak ada job saya rela ambil job dengan fee 100 ribu saja untuk 1 sponsored post.

Saya gak mau nantinya klien bisa 'membaca' keadaan saya, lalu memainkan perannya agar saya selalu terpaksa mau menerima job dengan rate card di bawah yang saya tentukan.
Mungkin saya saklek bagi beberapa blogger, tapi begitulah saya menjaga value dari branding saya .

Karenanya, dalam menentukan rate card ada beberapa hal yang selalu saya perhatikan, yaitu :


1. Mematok 1 harga yang tetap.

Saya belum tahu pasti bagaimana klien bersikap terhadap sesama klien, namun saya menghindari nilai atau fee yang beda antara 1 klien dengan klien lain, yang akan berdampak dengan turunnya nilai rate card saya.

Misal, saya deal dengan klien A seharga 500ribu, sedang klien B menawar dengan alot sehingga akhirnya saya deal seharga 300ribu.
Bisa jadi, klien A dan B saling kenal dan saling membocorkan rate card saya, sehingga bisa dipastikan berikutnya fee saya bakal ditawar jadi paling rendah.

Dengan memberikan 1 harga tetap, saya bisa dengan mudah mempertahankan nilai rate card yang tidak seberapa namun sering ditawar itu, lol


2. Tidak tertarik akan strategi klien yang sudah pernah menanyakan rate card saya.

Tidak dapat dipungkiri, semakin hari blogger semakin menjamur.
Hal tersebut membuat persaingan dalam dunia blogger semakin ketat.

Persaingan tersebut membuat beberapa blogger (biasanya pemula) nekat menerima job berapapun bayarannya.
Akhirnya, tidak jarang klien dengan mudahnya memakai jasa blogger demi meng-Google-kan usahanya.
Baca : Pemasaran Usaha Di Google Melalui Para Blogger
Dan jadilah, para klien semacam bersaing untuk menampilkan postingan usahanya di page one Google.

Dengan bayaran yang murah, amatlah tidak mungkin bisa memaksa blogger mau berusaha menampilkan postingannya agar lebih banyak dibaca orang.
Dan membayar banyak blogger, itu berarti harus menggelontorkan lebih banyak dana.

Maka,  dibuatlah strategi lain demi menjaring banyak blogger dengan suka rela menuliskan produknya secara baik dan detail, MELALUI LOMBA BLOG.

Saya pernah eh sering sih, ada beberapa klien yang meminta rate card saya, setelahnya ditawar dengan alot, ybs malah ngilang.
Tiba-tiba saja saya dapat email dari komunitas yang meminta saya ikutan lomba blog dari produk si klien tersebut.

Ya JELAS SAYA TOLAK LAH, hahahaha
Mengapa?
Karena saya belum bisa bersaing menulis dan memenangkan lomba, serta...
Kalau saya ikut lomba mulu, lama-lama semua klien pakai cara yang sama, memakai jasa blogger melalui lomba blog.

Kan jadinya cuman 3 orang atau 5 orang yang merasakan bayarannya, sedang lainnya, sudahlah nulisnya ngabisin tenaga dan waktu, gak pernah menang pula (ini mah si Rey, lol)


3. Menentukan rate card dengan berpedoman terhadap performa blog.

Seorang teman bertanya sambil mengeluh ke saya, ybs minta saya sharing mengenai rate card saya, ybs sudah menanyakan ke blogger lainnya dan dijawab "silahkan tentukan value kamu sendiri, kamu yang tahu kan hargamu sendiri".

Saya rasa, meskipun terdengar agak saklek tapi yang jawab demikian ada benarnya juga, ya kan nilai seorang blogger itu gak ada patokan nyata.

NAMUN!

Buat saya menentukan nilai rate card itu gak asal juga, langsung comot harga 1 juta, 3 juta. Padahal performa blog masih rendah banget.

Thats way, performa blog seperti DA/PA serta pageview blog BERDASARKAN GOOGLE ANALYTICS itu penting banget.
Baca : 8 Bulan Domain Mencapai DA 30, Begini Caranya
Semakin tinggi performa blog kita, semakin PD dan masuk akal dalam meminta fee yang lebih tinggi.
Demikian juga dengan pageview berdasarkan Google Analytics.

Mengapa harus pakai Google Analytics sih?
Karena setahu saya, Laporan Google Analytics belum bisa dibuat-buat, terutama laporan pageviews.
Banyak blogger yang bangga pageview-nya besar, eh giliran di check melalui  Google Analytics pageview-nya tidak sebanyak di dashboard blognya.

Kok bisa?
Karena pageview di dashboard bisa diakalin dengan cara mengeklik postingannya sendiri berulang kali. Dan jika sudah seperti itu, coba deh cek GA atau Google Analyticsnya, dijamin bounce rate atau rasio pentalnya besar banget.


4. Rate card adalah personal branding, cerminan diri kita sebenarnya.

Well, kalau ini mungkin pandangan saya pribadi, mungkin bertolak belakang bagi para blogger lainnya, khususnya yang mastah.

Menurut saya, rate card itu adalah personal branding kita.
Kalau kita suka pasang harga sesuka hati dalam menentukan rate card, jangan protes kalau akhirnya kita sering ditawar dengan harga yang bikin kita mau nyakar tembok mengingat perjuangan kita menaikan performa blog itu nyaris ngalahin rempongnya para downline di Oriflame *eh lol :D

Sebaliknya, kalau kita mempertahankan rate card di angka yang normal, sesuai dengan performa blog, maka ke depannya kita bakalan selalu di 'hargai' dengan lebih.
Ya kan, kita udah terkenal dengan rate card yang segitu dengan performa yang segitu.
Kita gak pernah mau berikan yang segitu dengan harga yang segini, KECUALI OLEH BEBERAPA HAL (misal, harga teman, dll).


Jadi, sudah ada bayangan? Kira-kira mau pasang rate card berapa nih?
Berapapun itu, pastikan selalu memberikan kinerja yang terbaik ya.
Karena, tidak ada bayaran rendah di dunia ini.

Allah bakalan mencukupinya, jika kita bekerja dengan sepenuh hati, sedang bayaran kita mungkin terasa kurang.
Tapi, jangan juga karena itu kita asal sikat job, hehehe.

Btw, postingan ini murni pengalaman saya, bukan pengetahuan expert atau mastah, yang mungkin beda dengan lainnya.
Kalau teman-teman gimana cara menentukan rate card?
Share di komen yuk

Semoga manfaat :)

Sidoarjo, 15 Januari 2019

Wassalam

Reyne Raea

FB : Reyne Raea
IG : @reyneraea
Twitter : @reyneraea

******

67 komentar:

  1. Nice sharing mbak Rey...I appreciate it

    BalasHapus
  2. Wkwkwk.. Kalo Harga teman harusnya lebih tinggi dari harga klien ya.. ? Hahhaa.. menyokong teman kan. Beberapa kali ditanya tentang ratecard sama agency, tapi belum tertarik untuk mengiyakan karena bahasannya beda banget. Emang kebanyakan yang nawarin itu tentang traveling post. Sementara Blog saya kan, jauh dari itu. Hahhaa.. (sok-sokan idealis 不不不) tapi emang saya pinginnya yang sesuai sama isi Blog saya aja. Biar gak timpang isine. 五五

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha kalau barang mungkin harga teman kudu lebih besar mba, tapi kalau jasa biasanya saya lebih toleran, terlebih untuk yang usahanya masih berkembang.
      Dengan senang hati deh saya bantuin :)

      Saya pernah bikin usaha juga soalnya, dan tau banget rasanya ngasih tester ke temen dengan maksud agar mereka nyebarin infonya, eh yang ada mereka minta mulu kagak mau beli huhuhu, padahal untungnya ga seberapa

      Btw, kalau travel bisa banget disiasati kok mbaa, disambung2in dengan bullet journal, misal : "merencanakan liburan dengan bullet journal" atau semacamnya, kerwn kan, malah masih jarang yang bahas tuh :D

      Hapus
  3. Postingan ini pelajaran berharga buat saya yang hingga saat ini belum ada yang nanyain rate card. Hehehe.

    BalasHapus
  4. ini tuh yang masih bikin aku ga pede mbak mau nentuin ratecard... aku masih ngerasa baru banget hikz jadi takut kemahalan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw, tapi kadang juga merasa kemurahan ya :D

      Hapus
  5. Jadi penasaran ratenya berapa nih kak rey becanda kak. Kalau emang sebanding dengan usaha, nilai adalah tingkat kepuasan kt sebagai penulis.

    Btw ini lg penasaran google analytics. Hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk rate card saya tahun lalu masih terbilang rendah kok, tahun ini ada kenaikan sih hahaha
      Makanya terus berupaya naikan performa blog, biar lebih pede naikan rate card haha

      Hapus
  6. Saya penasaran nih gimana cara buat rate card, apa cuman nulis di keterangan email, DA saya segini, jadi untuk Content Placemet segini, untuk Sponsor post segini, begitu ya mba rey?gak perlu pake gambar2 gitu kan hehe, rak mudeng rate card, semacam kartu gitu wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya ada yang bikin kayak media kit gitu mba, semacam portfolio gitu.
      Ada keterangan blog, performa blog, pengalaman kerjasama, performa blog dan rate card baik paketan atau bisa dipilah, misal hanya blogpost aja

      Media kit sederhana bisa diliat di website komunitas BPN :)

      Kalau saya belum sempat bikin sih, jadi cuman keterangan aja, syarat dan rate nya berapa

      Hapus
  7. Poin ke-4 malah rasanya bikin aku pengen nangis. Karena kadang harus tabah menolak tawaran harga rendah sementara aku pun sudah punya standar duluan. Kudu sabar memang ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tenang mbaaaa, justru kalau kita punya range sendiri, selama performa blog mumpuni malah jadi poin positif bagi kita kok.

      Kalau saya, seandainya ga deal saya anggap aja bukan rezeki, nantinya bakal ada rezeki lainnya kok, entah job dari komunitas, atau sekadar endorse hehehe.
      Semangaaattt :)
      Teruslah menulis, jangan patah semangat :)

      Hapus
  8. Pengalaman pertama waktu ditanya rate card juga mirip2 dengan mbak Rey. Bingung rate card itu apa, mau tanta ke blogger lain malu akhirnya nanyanya ke google hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, kalau saya malu bertanya, untung Google gak menyesatkan :D

      Hapus
  9. Pertama kenal istilah rate card itu pertengahan tahun 2017, karena tiba-tiba nggak ada hujan nggak ada angin ada yang nawarin sponsored job, hihi. Karena bingung nekad nanya sama salah satu blogger yang namanya udah lumayan dikenal di kalangan parenting blogger. Malu bertanya sesat di jalan, kan, untung ybs dengan baik hati menjelaskan. Job pertama pun muluss tanpa ditawar.

    Sebenernya menentukan rate card itu tergantung pribadi kita masing-masing ya. Apalagi jam terbang dan performa tiap blogger itu beragam. Yang penting kita punya standar sendiri, jadi nggak gampang 'dimainin' juga.

    Sharing-nya bermanfaat sekali, Mba Rey. Aku bookmark buat nanti tengok kalo butuh info lagi tentang rate card ini. Thank youuu (:

    BalasHapus
    Balasan
    1. waahh udah lama ya mba, saya baru saja hihihi
      sip mba, sama-sama :)

      Hapus
  10. Kalo aku dulu pertama kali tau harga harga beginian awal tahun 2017 dari salah 1 pengurus komunitas blog. Katanya : Standarnya blogger medium sih 500ribu, kalau seleblog biasanya minimal 1 juta. Hahaa. Tinggal kita sendiri yang ngukur dan bercermin apakah saya blogger pemula, medium atau selebblog ? Hiihii. Tapi setuju sih aku sama mba Rey, performa berdasarkan DA PA dan Pageviews Google Analytic juga bisa jadi "pegangan" kita buat nentuin Rate Card :) kalo udah rejeki mah ngga bakal tertukar. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waoooo, 500rebo itu besar loh, saya awalnya pasang rate card di bawah itu, daaannn masih banyak pula yang nawar wakakak

      Kalau saya emang rada lebay sih ya, belum berani minta bayaran tinggi, karena masih fokus naikan page view per postingan.

      Kan malu juga tuh, pas kita minta bayar sejuta, trus klien minta laporan PV blogpost, eh cuman 100 PV dong di GA hahaha

      Hapus
    2. Eh iya tapi klo 500 ribu standar blogger medium biasanya udah termasuk sama attending event (secara ongkos lumayan ya) terus biasanya paketan sama IG post dan story jugaa.. Hihi. Kalo cuma blog aja segitu kayaknya emang kudu yang bagus banget performanya biar sesuai nanti pas evaluasi.. Hihi

      Hapus
    3. wkwkkwkw iya say, kadang juga rate event beda tiap kotanya, di Jakarta lebih besar deh :)

      Hapus
  11. iya nih mbak, aku lagi gencar-gencarnya buat mantepin posisi SEO, kali aja bisa menambah wawasan, pengetahuan, dan kadang juga ada klien yang bertanya setelah artikel nangkring di google, alhamdulillah.... semangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget tuh, mari semangat menulis :)

      Hapus
  12. Saya sendiri kadang juga bingung jika ditanya rate card, postingan ini bikin saya sedikit tercerahkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi iya, mba, takut kemahalan atau kemurahan ya :)

      Hapus
  13. Kalau saya mah belukm pernah ditanya rate card. Syukurnya baca ini, bisa jadi panduan dan patokan ke depan, dalam hal mematok harga, he he.
    Saat ini sedang berjuang juga. Rajin tayangkan tulisan setiap hari demi pageview. Masih jauh untuk dapat job kayaknya karena DA yang 9 dan usia belum genap 3 bulan.
    Eh, baru tahu pageview bisa diakali, saya biasa buka blog juga dari dasbor atau langsung dari komputer tanpa mikir soal ngakalin. 'Kan harus balas komen dan blogwalking selain lakukan kumbal alias kunjungan balik.
    500 ribu itu besar banget bagi saya, Mbak Rey. Mau matok harga segitu dulu karena sayua fokus dan berupaya konsisten pada blog. Bukankah blog bisa berkembang ke depan, maka rate card ogah jika sampai ditawar rendah.
    Blog adalah investasi bisnis masa depan agar jejak klien bisa nangkring manis di mesin pencari.
    Semangat, Mbak Rey. Tetap istiqomah menentukan patokan sesuai standar yang dimiliki.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar banget mba, semangat naikan performa blog aja dulu ya :)

      Hapus
  14. Menurut saya rate card ini gampanglah diatur,,,,yg susah itu biar ada cliennya wkwkwk kalau saya sih hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk, ayo semangat, konsisten, dan nantikan kejutan email penawaran bertubi2 hehhe

      Hapus
  15. Haha setuju banget mbak kalau ada blogger yang nanya rate card kita, berasa gimana gituuu haha. Gitu ya mbak cara nentuin rate cardya, note deh. Makasih sharingnya mbak. salam, muthihauradotcom

    BalasHapus
  16. Mbak Rey berarti kalo buat pemula kayak saya ini enaknya bikin rate card nya gimana ? Apakah dari kecil dulu terus naik, berdasarkan page view atau gimana mbak ? Soalnya saya bingung sih menentukannya hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. tergantung sih mba, saya dulu mulai dapat job sponsored post itu setelah berkali2 ikut event dan sesekali dapat job review dari komunitas.
      Dan pertama kali terima job, DA saya sudah sekitar 25-26

      Jadi saya pasang rate card awal, agak di atas fee kalau ikut event.

      Btw event sendiri beda2 loh, event di Jakarta dan dari agency langsung lebih besar fee nya ketimbang event di luar Jakarta.

      Mengapa rate card saya pasang di atas event?
      Karena event biasanya dapat goodybag, ilmu.
      Pun cuman diminta update di blog dan IG biasanya.

      Kalau saya update blog, udah sepaket dengan share di semua sosmed saya.

      Pun, karena semua sponsored post tsb ada kisahnya, biasanya saya masukin backlink nya di postingan lain juga.

      Awalnya saya pasang rate rendah kok, di bawah 500rb malah, itupun liat2, beberapa klien yang usaha kecil dan kirim produk saya malah gak ambil fee.

      Hitung2 membantu orang melalui tulisan dengan review yang jujur hehehe.

      Kalau saya sih mending pilih kecil dulu, lalu naikan berdasarkan PV serta demografik pengunjung setia blog.

      Misal, pengunjung kita 80% wanita usia 18-30 tahun.
      Ya jangan pasang rate gede untuk produk laki2 hahaha.
      Percuma juga, gak banyak yang baca.

      Kan malu atuh udah minta bayaran gede, tapi pas diminta laporannya PVnya dikit wkwkwkw.

      Apalagi laporan PV Google Analytics, kalau PV dashboard mah mudah diakalin wkwkwkw :D

      Hapus
  17. Rate card dilihat dari personal branding blog yang bersangkutan, setuju Kak Rey. Haha. Saya juga pernah ditanya begitu, akhirnya saya nanya lagi ke teman-teman lain yang sudah berpengalaman. Ooooh jadi ternyata beda-beda rate card-nya untuk masing-masing pekerjaan; kopas artikel mereka, bikin artikel, sampai cuma naruh link doank :D thanks atas sharingnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, kan kalau bikin artikel sendiri lebih sulit hahaha.
      Saya pernah dapat sponsored post produk luar, saya minta harus pakai bahasa Indonesia dan nulis sendiri.
      Mereka mengiyakan.
      Dan abis itu saya puyeng gegara materi mereka berbahasa Inggris semua, saya rempong mengartikan dalam bahasa Indonesia dan bikin cerita mengenai itu hahaha

      Udah gitu, bayarannya standar banget, tapi senengnya, cepeeett banget dibayar :)

      Hapus
  18. jadi
    dengan melihat DA PA blog ini
    maka rate cardnya adalah
    .......
    :D :D

    Jaman ngeblog dahulu kala, job review bayarannya pakedollar, karena masih jarang agency blogger di indonesia. Kalau sekarang klien dari Indonesia udah cukup banyak ya, jadi gak perlu puyeng pake bahasa inggeris lagi sponsored postnya.

    Mmm masalahnya, ini udah lama belum ada yang nawarin kerjaan lagi nih? Hiyaa hiyaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. wwkwwkkw...
      tapi masih ada loh temen2 yang terima CP pakai bahasa Inggris, dan lucunya pas dikomen, saking kurang ngerti pakai bahasa Inggris, adanya komennya ga nyambung wakakak

      Di saya ada beberapa yang masuk, setelah tawar menawar saya diminta nunggu, gak lama kemudian muncullah dia dalam bentuk lomba blog wkwkwkwk

      Job yang bagus semakin jarang, karena klien banyak pakai strategi lain demi mendapatkan backlink gratis dari blogger, salah satunya ya dengan lomba blog, atau kasih CP dengan harga di bawah rata2, bahkan di bawah 100ribu ternyata banyak loh :(

      Hapus
  19. aku dulu2 gak terlalu care sama rate card. mau rendah mau sedang kalo artikelnya fine2 aja ya aku terima. tapi setelah lihat rate temen2 pada pasang harga akhirnya aku mikir juga...kayanya harus punya standar juga nih. btw thanks for sharing nya mbak. aku sering bw ke blog mbak tapi sering lupa mau komen hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, sebenarnya kalau kita gak punya standar tertentu, sama aja kita menjatuhkan kualitas blog sendiri dan menjatuhkan harga para blogger.

      Klien pastinya akan selalu menjatuhkan harga sponsor, karena merekaa pikir toh yang mau juga banyak

      Kalau kayak gitu ya gak heran profesi blogger lama2 bakal membosankan, karena reward yang kita peroleh juga gak sepadan :)

      Btw makasih sering berkunjung ya :)

      Hapus
  20. Kak Reyne artikel ini betul-betul kusimak sampai detil cerita bagaimana pengalaman dan cara kak Reyne menentukan rate card.
    Ini panduan buatku untuk tau cara mempersonal branding dengan baik.
    Jika diperbolehkan, aku ingin minta kontaknya kak Reyne untuk bertanya dan belajar lebih banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Terimakasih kak nomor telpnya, udah aku save.
      Maaf nomor kontaknya kak Reyne jadi muncul di balasan komentar.
      Sebaiknya dihapus saja komentar yang ada nomor telpnya kak Reyne, takut disalahgunakan orang.

      Hapus
  21. Wuaa makasi sharingnya kak.. gini nih blogger ga pelit ilmu ngomongin dapurnya biar orang lain juga pd tau

    BalasHapus
  22. Waw thank yout tulisannya bikin saya tergugah untuk segera menentukan rate card.

    Cheers
    Nabilah
    www.travelonyet.com

    BalasHapus
  23. Kak e panutanku ehehe,,, kalo ini aq jg masih bingung sebenarnya tapi kalo lomba blog aq mah ga mau ikutan lg,, apalagi yg berjenis SEO nampak kali kak drama nya,, ahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha, bete ya kadang hasilnya gak sesuai dengan rule yang mereka buat sendiri :D

      Hapus
  24. postnya informatif banget! aku juga masih pemula mbak soal rate card begini tapi udah pernah ngalami ditolak dan menolak haha. eh tapi yang bikin sebel tuh kalo ada yang nanya mulu tapi pas kutanya jadi/nggak malah menghilang :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasa itu mah, sama aja kayak orang jualan, pasti ada hit and run wkwkwkw
      Kalau saya gak pernah nanya sih, memberikan waktu sepenuhnya buat klien mutusin :)

      Hapus
  25. Mantap ka.. postingannya bermanfaat banget untuk blogger pemula seperti saya ini, salam kenal ka :D

    BalasHapus
  26. Iya ya, Mak. Kadang gimana gitu ya kalau ada yang nanya gitu. Kalau aku belum pernah ditanyai berapa harga per postingan atau aku tanya sama teman sesama blogger. Rasanya kok malu meh tanya kayak gitu. Kurang sopan gitu deh menurutku. Aku pun udah mulai jarang ikut lomba karena ingin fokus di hal yang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya, tapi emang kadang mereka butuh pencerahan juga sih, bingung mengira2 sendiri :D

      Hapus
  27. Walau belum ada potensi untuk menentukan rate card, postingan ini saya pantengin matang-matang supaya tidak menyesal ketika nanti telah tiba waktunya dimintai rate card sama klien hehe XD Ijin screenshot ya Mba...

    Sering sih diminta posting produk teman di blog, tapi karena yang namanya 'temen' mah saya ngga enak patokin harga. Selain itu, blog saya masih sangat baru.. Performanya masih sangat minim.

    Seperti kata Mba Rey di komen atas, saat ini saya lebih pilih review jujur dan itung-itung bantu usaha orang :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapa say, justru bermanfaat juga sebagai latihan :)

      Hapus
  28. Pengalaman banget ini, mbak. Ilmu baru bagi saya yang belum pernah ditanyain rate card. hehehe eh, pernah ding waktu ngisi data penawaran kerjasama, tapi belum pernah keangkut. Tetap semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangaaattttt, semua bakal indah pada waktunya :D

      Hapus
  29. Nah ini sama aja. Kirain bakal ada bocoran ternyata nggak ada juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe emangnya mau bocoran kayak gimana? nominal 100 ribu? 200ribu? 1 juta?

      Gak bisa sama dong, karena beda performa blog, beda juga bayarannya, beda kota juga pengaruh :)

      Hapus
  30. nice info mbak, paling nggak aku jadi punya gambaran "value" aku tuh pantesnya berapa

    BalasHapus
  31. Baikin performa blog dulu. Noted!!! Makasih sharingnya mbak. Aku tak rajin nulis aja nih PR nya. Haha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. diriku juga mulai kehilangan (waktu) buat nulis hahaha

      Hapus
  32. baru tahu juga ini ttg rate card, artikelnya sangat informatif, salam kenal mba dari Sidoarjo juga :)

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...