Saturday, May 26, 2018

Awas, Stunting Mengintai Anak-Anak!

 
Sumber dari sini

Assalamu'alaikum :)

Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat mendengar anak stunting?
Yang pasti bukan seperti pertama kali saya mendengarnya kan, sekilas saya berpikir stunting adalah bunting, ternyata hanya mirip di huruf saja, lol.

Sering terjadi di masyarakat, saat ada anak yang tumbuh dengan tinggi badan kurang. Begini kira-kira situasinya.

A : "Anakmu pendek ya, beda kayak kakaknya"

B : "Gak apa-apa, hal yang biasa jika tiap anak itu beda-beda?"

A : "Belum tentu, kadang juga dikarenakan kurang gizi loh"

B : "Hah? kurang gizi?, orang badannya sehat, gak kurus gini, masa kurang gizi?"

A : "Bisa jadi dia kena stunting!"

B : "Bunting?"

A : "Stunting!"

Stunting memang belum populer di masyarakat. Padahal di Indonesia, masih banyak ditemukan anak-anak yang menderita stunting. Menurut data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013, terdapat 8 juta balita di Indonesia atau 1 dari 4 anak balita menderita stunting.

Apa itu STUNTING?
"STUNTING adalah, kondisi gagal tumbuh pada balita, akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak tumbuh terlalu pendek pada usianya."
Kondisi ini disebabkan kekurangan gizi yang dialami sejak masih berbentuk janin dalam kandungan, dan pada masa setelah lahir, namun baru tampak pada usia 2 tahun.
Selain berdampak pada tinggi badan, stunting juga  mempengaruhi tingkat kecerdasan, rentan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas, dan pastinya bisa menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Tanda-tanda stunting pada anak

  • Berbadan lebih pendek untuk anak seusianya.
  • Proporsi tubuh anak cenderung normal tetapi tampak lebih muda/kecil untuk usianya.
  • Berat badan rendah untuk anak seusianya.
  • Pertumbuhan tulang tertunda.
  • Memiliki kecerdasan yang kurang untuk anak usianya.

Penyebab stunting

Di Indonesia, faktor utama pencetus stunting adalah karena kurangnya asupan gizi yang seimbang sejak dari dalam kandungan ibunya, hingga baru lahir. Hal ini juga merupakan indikator masalah kurangnya gizi yang terjadi sejak lama.

Masalah-masalah kompleks yang terjadi seperti, kemiskinan, perilaku hidup tidak sehat, pola asuh serta pemberian asupan makanan yang dari sejak anak lahir, menyumbang banyak dalam hal terjadinya stunting pada anak.

Secara garis besarnya, penyebab stunting adalah :
  • Kurangnya gizi atau nutrisi ibu hamil
  • Kurangnya pemahaman ASI ekslusif pada bayi selama 6 bulan.
  • Kurangnya pemahaman MPASI yang sehat dan bergizi saat bayi telah berusia 6 bulan ke atas.
  • Kurangnya pemahaman tentang hidup bersih dan sehat sehingga anak serta ibu hamil sering terkena infeksi berulang.
  • Kurangnya pemahaman pentingnya imunisasi, untuk mencegah infeksi berulang pada anak.
  • Kehamilan di bawah usia normal atau usia remaja, yang berpengaruh pada pemenuhan nutrisi pada ibu dan janin.
  • Jarak kelahiran yang terlalu dekat dan terlalu banyak, sehingga ibu tidak maksimal dalam mengasuh anak karena lelah tubuh dan psikisnya.

Penanggulangan dan pencegahan stunting

Pada umumnya, stunting dapat ditanggulangi dan dicegah dengan beberapa cara, yaitu :

A. Edukasi faktor gizi atau Nutrisi

Salah satunya dengan edukasi tentang pentingnya 1000 hari pertama kehidupan manusia. Masa ini terdiri dari :
  • Saat ibu hamil. Perbaiki gizi dan kesehatan ibu hamil, karena saat hamil, janin di dalam rahim sedang bertumbuh dan pembentukan sel-sel organ penting sang anak. Beri tambahan vitamin dan mineral, dan jaga kesehatan agar selama hamil tidak terpapar penyakit.
  • Saat bayi lahir. Lakukan persalinan di dokter atau tenaga kesehatan yang terpercaya, sebisa mungkin lakukan IMD atau inisiasi menyusui dini pada bayi, dan pastikan bayi mendapatkan ASI ekslusif selama 6 bulan.
  • Saat bayi berusia 6 - 24 bulan. Berikan ASI dan MPASI setelah bayi berusia 6 bulan, pemberian MPASI harus dengan memperhatikan kandungan gizi yang seimbang untuk bayi sesuai usianya.
B. Edukasi hidup bersih dan sehat

Selain faktor gizi, kebersihan lingkungan juga turut berperan dalam mencegah stunting. Lingkungan hidup yang kotor mendatangkan banyak penyakit yang membuat anak terkena infeksi berulang.
Sebagai contoh, menciptakan sanitasi yang baik dan sarana air bersih ke daerah-daerah yang masih tertinggal di Indonesia.

Pencegahan infeksi berulang juga bisa dilakukan dengan pemberian imunisasi lengkap pada anak.,

C. Edukasi Cinta Terencana

Dalam edukasi ini, masyarakat diarahkan untuk lebih peduli pada keluarga berencana atau KB, bukan hanya dengan mempunyai anak cukup 2 saja seperti yang orang ketahui selama ini tentang KB.
Tapi lebih ke arah perencanaan kehidupan dengan baik.

Perencanaan tersebut meliputi :
  • Tidak menikah pada usia terlalu dini
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa kehamilan pada usia dini akan sangat berpengaruh pada kebutuhan gizi atau nutrisi janin. Selain itu, mental yang belum matang, membuat sang ibu kurang maksimal dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya.
  • Tidak menikah pada usia terlalu tua
Hamil pada usia yang terlalu tua, biasanya disertai oleh banyak komplikasi, yang pastinya akan berpengaruh pada janin. Selain itu, usia ibu yang terlalu tua membuat sang ibu tidak bisa maksimal dalam mengasuh anak-anaknya.
  • Menjaga/atur jarak lahir dan jumlah anak
Dengan adanya jarak lahir yang pas, membuat ibu lebih fokus dan maksimal dalam mengasuh anak, bayangkan dengan kondisi punya anak dengan jarak yang sempit, sang ibu bisa lebih kelelahan baik mental maupun psikisnya. Hal tersebut bisa berpengaruh buruk bagi anak.
  •  Membangun keluarga yang berkualitas
Keluarga yang berkualitas pastinya adalah keluarga bahagia yang merupakan impian semua keluarga yang ada. Untuk mencapainya butuh beberapa syarat seperti :
  1. Membimbing anak untuk bisa menuntaskan pendidikan hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
  2. Belajar manajemen emosi, agar rumah tangga selalu damai.
  3. Menanamkan pada anak untuk bisa meringankan beban orang tuanya, salah satunya dengan membiayai pernikahan sendiri, atau pendidikan lanjutannya.
  4. Mengedukasi pada anak, bahwa menikah setelah kerja itu jauh lebih enak, karena bisa mandiri dan dapat meminimaliskan drama setelah menikah.
  5. Jangan malu membicarakan kesehatan alat reproduksi, agar setiap pasangan mengerti cara berhubungan yang sehat.
  6. Selalu aktif bermasyarakat.

Stunting memang bukan penyakit yang kronis atau menular, tapi bisa merampas masa depan anak untuk menjadi lebih baik dengan kesempatan yang lebih luas.
Jadi, mari kita cegah stunting bersama, demi Indonesia bebas stunting di mana mendatang.

Ada yang punya atau tahu orang dengan masalah stunting di sekitarnya? share di komen yuk :)
 
Semoga manfaat.

TPJ AV - 26 Mei 2018

Love

 


6 comments:

  1. Nice post, gua jadi tau stunting itu apa hehe

    ReplyDelete
  2. Mbak, aku merasa anak keduaku stunting dulu. Secara tingginya rata-rata saja dengan teman sebayanya. Eh tapi, ternyata pas pulang kampung..Beberapa anak di daerah malah parah. Dan ternyata dibandingkan mereka, anakku normal saja..
    Mungkin kurangnya sosialisasi tentang pentingnya gizi sejak di dalam kandungan dan kurangnya kemampuan ekonomi jadi faktornya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah masa sih mba, keliatannya tinggi-tinggi tuh :)

      Delete
  3. duh anakku stunting ga ya? banyak anak yg lebih muda dr dia lebih tinggi dan besar dari dia. q pikir sih perawakannya kaya aku yg kurus. huhu tapi dia cerdas kok.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Usia berapa mba, bisa diliat tinggi normal di kartu Kesehatan ibu dan anaknya :)

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...