Tuesday, June 12, 2018

Plus Minus Punya Tempat Mudik


Assalamu'alaikum :)

"Enak ya Rey bisa mudik, saya malah iri ama orang-orang yang punya tempat mudik, karena saya sendiri gak pernah sama sekali ngerasain mudik"
Sebagai insan permudikan yang sekali mudik gak tanggung-tanggung menguras isi dompet lumayan jauhnya, saya sering banget mendapat ucapan seperti itu dari teman-teman yang notabene asli Surabaya, baik lahir, besar, sekolah dan hingga sekarang masih aja menetap di Surabaya.

Lalu, apakah memang mudik seasyik itu?

Well, menurut pengalaman saya sih asyik gak asyik.

Saya sendiri bisa mudik alias pulang ke rumah ortu yang berjarak ratusan eh ribuan eh kayaknya puluhan ribu KM deh, melintasi darat dan lautan bahkan samudra, hanya bisa dilakukan setahun sekali (dulu saat sedang kuliah) dan 2-3 tahun sekali setelah menikah.

Emang gak kangen orang tua, Rey?
Gak laaahh, GAK TERPERIKAN MAKSUDNYA!, hiks..

Tapi gimana lagi, sudah menjadi resiko dari pilihan hidup yang mau jauh-jauhan (banget) dari orang tua.

Orang tua saya tinggal di Buton, Sulawesi Tenggara. Sebuah pulau kecil di bagian Tenggara pulau Sulawesi (tumben ya, saya tau arah mata angin, lol).
Untuk mudik ke sana, dulu (sebelum ada pesawat ke Pulau Buton) saya memakai jasa transportasi laut yaitu kapal Pelni. Dulu sih tiketnya lumayan terjangkau (eh gak juga ding, kan kurs rupiahnya juga beda) kalau gak salah untuk kelas Ekonomi hanya sekitar 200-300 ribu per orang.

Sayangnya, saya orangnya manja gak pintar rebutan tempat tidur di kapal (Kalau pakai tiket ekonomi, sebenarnya ada tempat tidurnya seperti barak gitu, namun karena kapasitas penumpang yang sangat banyak, jadilah penumpang rebutan tempat, dan itu bukan saya banget.

Alhasil, saya harus selalu menggunakan tiket kelas, minimal kelas Pariwisata yang tanpa kamar namun tempatnya sesuai tiket, gak ada yang berebut.
Kalau gak salah sih dulu tiketnya sekitar 400-500ribu.

Semenjak kakak Darrell lahir, kami gak mungkin lagi ambil kelas Pariwisata, harus yang ada kamarnya. Dan berhubung kelas 2 biasanya sekamar 6 hingga 8 orang yang mana ranjangnya bersusun. Jadilah kami harus mengambil kelas 1 yang sekamar isi 2 tempat tidur, dengan KM dalam.
Dan tau gak sih berapa tiketnya?
Terakhir kami pulang naik kapal Pelni kelas 1 sebesar Rp. 1,2 jutaan.. WOW dah.

WOW nya karena naik kapal PELNI itu means kami kudu berlayar selama 3 hari 2 malam, terapung-apung di samudra lepas, dan mampir sejenak transit di Pelabuhan Makassar.

Namun, ketika tahun 2016 kami mudik ke Buton, ternyata Pelni telah merombak semua kapalnya, kelas-kelasnya ditiadakan dan digantikan dengan ekonomi semua.
Tiketnya sih sangat terjangkau (menurut saya), hanya sekitar kurang lebih 300-400ribuan per orang, tapiiiii.... sama aja harus rebutan tempat tidur dan si suami gak bisa banget gercep kayak orang-orang rebutan tempat.
Orang suami gak jatuh saja saat rebutan naik tangga kapal itu sudah Alhamdulillah, lol.

Intip deh kisah kami saat mudik tahun 2016, yang berkesan karena harus tidur dan makan berteman kecoak huhuhu.

Dengan keadaan seperti itu, sama sekali gak memungkinkan jika harus membawa bayi.
Dan satu-satunya pilihan adalah... HARUS NAIK PESAWAT!

Lalu berapa tiket pesawatnya?
Kalau hari biasa sih kita bisa beruntung mendapatkan tiket senilai 1,1 juta.
Tapi kalau lebaran kayak gini, minimal 1,5 juta deh per orang, bahkan bisa lebih.
Itu untuk pesawat sejuta umat yang (katanya) sering delay ya, kalau pesawat yang agak bagusan sih minimal 2 juta huhuhu.
Mari kita berhitung : 1,5 juta x 3 orang x 2 (PP) = 9 juta.
Di tambah bayi, dll minimal 10 juta HANYA UNTUK TIKET Surabaya-Buton hahaha.
Itu hitungan minimal, kalau dapatnya yang lebih mahal (dan biasanya seperti itu) yaaa gitu deh hiks..
Di bandara Betoambari, kota Bau-Bau, baru ngeh ternyata dulu bawa air minum banyak yang lolos pemeriksaan, hanya sendok garpu yang disita petugas hahaha. Btw, pesawatnya pakai baling-baling bambu, LOL

Gak heran setiap kali kami mudik, bukannya mama menyambut dengan penuh haru dan senyum bahagia, yang ada kami malah dihujani oleh omelan.
"Lah kalian itu mudik terus, kapan nabungnya?"
Kesal gak sih, gak tau seberapa besar pengorbanan anaknya demi mengunjungi orang tua, eh malah kena omelan huhuhu.

Sudah kebayang kan, bagaimana kami harus menabung demi mudik?
Lalu... kapan bisa traveling ke tempat lainnya?
Di Buton sih banyaaaakkk banget tempat yang bisa dikunjungi, tapiiii maklum keluarga saya agak-agak kolot, jadinya setiap mudik kami cuman mendekam dalam rumah demi kemaslahatan kuping hahaha.
Karena berani keliling, berani menanggung omelan...
"Rey, kamu tuh udah punya anak, yang irit pegang duit"
Ituuuu saja yang dikumandangkan oleh emak saya yang sensitif itu lol.

Kebayang gak sih sebelnya, ngabisin uang puluhan juta, tapi cuman melungker di rumah saja, di dapur saja tiap hari mikirin makanan, ih...

Jadi, jangan heran kalau postingan traveling saya cuman sekitar Jatim saja, lah kalau keluyuran jauh (dan ketahuan) dijamin kita bakal kena omelan, minimal sindiran... sigh!
Yang ini pesawatnya sudah lebih tidak menakutkan

Jadi, mudik itu tidak melulu ada plusnya kalau menurut saya, minusnya juga banyak (khususnya di rekening, hahaha).

Dan secara garis besar, begini plus dari punya tempat mudik :

  • Mudik rasa traveling. Bahkan dari zaman dahulu kala, di saat traveling belum menjadi seheboh sekarang, saya sudah riwa-riwi menjelajahi antar pulau Jawa dan Buton demi mudik.
  • Mudik membuat kita menjajal berbagai transportasi yang tersedia. Di saat teman-teman saya masih belum tau seperti apa sih rasanya naik kapal Pelni itu? makannya gimana? tidurnya gimana? mereka pikir kapalnya kayak perahu nelayan kali ya, lol. Saya sudah menikmati asyiknya pemandangan samudra di waktu senja atau hembusan angin di buritan kapal ala-ala Titanic gitu. Dan saya juga punya alasan untuk menjejal naik pesawat duluan ketimbang teman-teman lainnya yang mudiknya di seputaran pulau Jawa saja hehehe.
  • Mudik membuat refresh karena ada tempat berbeda yang dikunjungi setiap tahunnya. Kebayang sih betapa gak berwarnanya hidup jika menikmati lebaran setiap tahun di tempat yang itu-itu saja, begitu-begitu saja.
  • Mudik membuat makanan lebaran jadi enak banget.  Meskipun makanan lebaran memang lumayan beda dari sehari-hari, tapi kalau tiap tahun makan yang itu - itu lagi, rasanya kurang berwarna. Dengan mudik, saya bisa merasakan makanan rumah mama yang pastinya beda dari makanan lebaran di rumah ibu mertua yang notabene selalu lontong beli di pasar dan opor serta sayur labu siam. Kalau di rumah mama, saya bisa menikmati lapa-lapa (di Jawa biasa disebut lepet), atau buras, ditemani sup ayam yang enak banget (karena memorial masa kecil), ayam kecap memorial buatan mama (dulu sih, sekarang buatan kakak karena mama sungguh makin malas masak), mie goreng ala kakak yang gak ada duanya di Jawa, daging yang gak tau apa namanya, udang juga cuman ditumis tapi enak banget, dan semacamnya (sungguh kurindu dan lapar mengenangnya lol)
  • Mudik membuat kita jadi dielukan banyak orang. Seperti kata pepatah, dekat jadi bau dan jauh jadi wangi (eh pepatah aslinya pakai Bahasa Jawa deh, lol). Begitulah, saya kalau pulang selalu dielukan bapak, om, tante, sepupu-sepupu. Kalau mama sih biasa saja hiks (emak saya emang gak bisa romantis sama anaknya).
  • Mudik membuat anak punya cerita liburan yang lebih seru ketimbang gak mudik.

Tapi, bukan berarti gak ada minusnya, yaitu :

  • SUNGGUH MENGURAS ISI REKENING! lol. Ditulis pakai huruf besar, karena minus banget buat saya. Seirit dan seminimnya, kami menghabiskan 20 juta untuk mudik. Tiket yang fantastis, oleh-oleh dua arah, biaya selama di sana. Sungguh ku sedih bolak balik ke ATM ambil duit, hiks. Terdengar pelit ya, tapi beneran kerasa loh setelah anak masuk SD dengan SPP yang ngalahin SPP kuliah saya dulu serta dana daftar ulang yang mmmm.... gitu deh *mau cry
  • Sulit nabung. Ini sebenarnya sinkron dengan poin di atas yak, dan sebenarnya bukan salah mudik sepenuhnya juga sih, salahmu juga Rey gak pintar ngelola duit hahaha *okeehh salahin sajahh sepuasmu huhuhu. Sejak anak masuk SD yang SPP dan daftar ulangnya lumayan, bikin saya makin puyeng atur keuangan. Gitu tetep saja boros di jajan hahaha.. *syukurin Rey!
  • Sulit memilih kunjungan ke tempat lainnya. Yang ini sih sebelum anak masuk SD juga udah kerasa, gegara biaya mudik yang fantastis menurut dompet dan rekening kami, sulit rasanya bisa liburan ke tempat lainnya. Atuh maaahh, saya pengeeennn banget ke Jakarta, (Iyaaaa.. bully me saja, saya belum pernah sama sekali ke Jekardah, lol). Ya gimana bisa ke sana? orang duitnya dikumpulin buat mudik. Kami bisa liburan ke tempat lain itu secara gak terencana dan sangat super duper verry irit (kasian amat ya), kami pernah ke Bali waktu lebaran tahun 2013 dan itupun dibuat sangat irit banget, saking iritnya kami cuman makan sekali sehari hahaha. (karena memang di sana sulit nemuin makanan halal juga sih). Kalau gak salah kami cuman menghabiskan uang sebanyak 3 juta saja deh dengan lama traveling 4 hari 3 malam. Irit kebangetan kaannn lol.
  • Jadi gotshong (baca : gosong) dan kulit jadi ruam parah gegara alergi. Atuh mah, saya memang wanita manjah yang lebay, tapi suer.. mudik ke Buton itu berarti kami siap balik dalam keadaan gotsong lol. Di Surabaya sih memang panas, tapi entah mengapa di sana tuh panasnya lebih parah sampai bikin kulit saya, suami dan kakak Darrell jadi gosong parah. Bukan hanya gosong, setiap mudik kulit di pergelangan tangan sayapun sukses ruam parah karena alergi kena matahari. Padahal ya, saat mudik kami jarang keluyuran juga, cuman goleran di rumah menanti waktu makan sambil ngemil, hahaha.
  • Capek dan drop. Kalau yang ini mah si kakak Darrell, gak pernah terjadi dia mudik, lalu baliknya baik-baik saja, pasti balik membawa batuk. Mungkin karena kecapekan di jalan plus perbedaan cuaca dari yang panas ke panas banget.
  •  Kakak Darrell jadi sedikit over control. Namanya juga ketemu kakek nenek, terlebih neneknya yang super sensitif, jadinya kami sulit mendisiplinkan si kakak di sana, dan semacam memperoleh kemerdekaan si kakak jadi manjaaa banget. Terlebih kalau bergaul dengan anak kakak saya yang memang beda metode parentingnya, dijamin saya kudu naikin ekstra sabar dalam menghadapi dan mengembalikan si kakak di jalan parenting ala saya.
 See, mudik itu gak melulu asyik kok, justru di posisi saya, mending memilih tinggal sekota sama orang tua, jadi pas libur panjang, duitnya bisa dipakai keliling Indonesia. Kan masih banyak tempat yang bisa dikunjungi, masa tiap 2 tahun cuman mendekam di rumah ortu sambil ngemil dan makan saja?

Jadi, bagi yang iri sama teman-teman pada mudik ke kampung halaman sedang kita lupa halaman berapa, gak usah galau. Segera packing.. dan go..
Indonesia luas untuk bisa dikunjungi, even bukan dipakai buat mudik.

Kalau teman-teman lebih suka mudik atau liburan? Atau mudik sekaligus liburan?
Share di komen yuk :)

Semoga manfaat.

TPJ AV - 12 Juni 2018

Yang lagi rindu tapi bete sama mama.

10 comments:

  1. Suami orang tuanya di jakarta, mbak. Tapi dia jarang banget mudik. Pas habis nikah aja kayaknya yang lumayan sering pulang. Soalnya istrinya modus mau jalan-jalan.wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah mudiknya lumayan juga ya mba hihihi..
      Paling enak kalau mudik rasa traveling aka jalan-jalan :)

      Delete
  2. alhamdulillah, jarak rumah dan rumah orang tua hanya cukup ditempuh dengan sepeda motor.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh idealnya sebenarnya gitu ya, biar duit mudik bisa dipakai buat traveling ke tempat lain hehehe

      Delete
  3. Asik asik tulisannya keren sampe terbawa suasana aku, seru ceritanya. Dan waww butan itu jauh bgt di sulawesi sedangkan Aku jabar emang bener gak kebayang ongkosnya. Jodoh emng rahasia tuhannya, sy aja yg berjodoh dengan org indramayu yg masih satu profinsi masih cengeng bgt gak bisa move on dari kampung halamn bekasi ����. Jadi klo jauh gitu mudiknya bisa 5 tahun sekali aja, uang nya di tabung buat mudik 5thn berikutnya. Ternyata gak mudah ya hidup perantauan itu. Semoga betah di jawa Dan berhasil ngumpulin biaya pendidikan anak mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi.. Iya mbak, ngos-ngosan deh berat di ongkos.
      Dulu sebelum anak SD, kami masih berani nekat pulang meski akhirnya rekening jadi kosong hiks..

      Sekarang, mikir-mikir..
      Semoga ortu mengerti deh, aamiin.

      Kalau se propinsi masih enak ya mbak, bisa mudik kapan saja.
      Naik bis juga bisa hehehe

      Delete
  4. Wow ... mahal banget beaya mudiknya itu,kak !.
    Wadooh .. bisa buat jalan-jalan ke luar negri kalo nominalnya sebesar itu.

    Tapi mau gimana lagi ya ..., sudah kewajiban seorang anak menengok orang tua.

    ReplyDelete
  5. Gitu deh, bahkan tiket pesawat keluar negeri kadang lebih murah hiks

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...