Wednesday, December 14, 2022

Mengintip Semangat Achmad Irfandi yang Kenalkan Anak Pada Permainan Tradisional Melalui Kampung Lali Gadget

achmad irfandi kampung lali gadget
Source: nawacita.co

Dewasa ini, gadget sudah menjadi sebuah benda yang vital dimiliki semua orang.
Saking vitalnya, ketika bepergian misalnya, orang memilih lupa membawa dompet, ketimbang lupa membawa gadget khususnya ponsel.

Di manapun berada, rasanya sulit untuk melepaskan pandangan dari gadget.
Rasanya, benda pipih tersebut menjadi super penting dan menarik di muka bumi ini.

Gadget, dalam hal ini ponsel, memang merupakan sebuah hal yang bagaikan pisau bermata dua, di mana di sisi lain, dengan adanya gadget, hidup terasa jauh lebih mudah, bukan sekadar memudahkan kita untuk saling berkomunikasi di manapun berada.

Tapi juga, gadget bisa digunakan untuk menghasilkan uang, dari mana saja, termasuk dari rumah saja, dan tentunya ini lebih praktis.

Namun, di sisi lain, muncul masalah baru, terutama yang terjadi pada anak-anak, terlebih setelah masa pandemi yang mana selama hampir 3 tahun, anak-anak harus belajar dari rumah saja, berbekalkan gadget tentunya, membuat hampir semua anak jadi familier terhadap gadget, lalu ujung-ujungnya jadi seperti kecanduan, tidak pernah mau lepas dari gadget.


Fenomena Ketergantungan Anak Pada Gadget


Tidak peduli anak kecil hingga remaja, di masa kini semuanya sangat dekat dengan gadget, bahkan banyak di antara anak-anak yang benar-benar tak mau lepas dari gadget.

Orang tuanya yang sudah lelah mengingatkan, lama-lama memilih pasrah dan membiarkan anak-anaknya bermain gadget sesukanya.

Bahkan beberapa orang tua malah sengaja memberikan gadget ke anaknya, dengan alasan agar anak bisa lebih tenang, dan tidak mengganggu kegiatan yang harus dilakukan oleh ortunya.

Hal ini memang ampuh, karena gadget memberikan sebuah peluang untuk anak bisa lebih anteng.
Entah anak-anak lebih anteng karena sibuk menonton YouTube, atau mungkin bermain game online dari ponselnya.

Selain itu, gadget dan teknologi juga bisa memberikan banyak manfaat bagi anak, seperti ketika anak bisa membantu meningkatkan keterampilan kognitif dan koordinasi tangan-matanya. 
Atau juga bisa mempelajari hal-hal baru dan mengenal budaya yang berbeda melalui penggunaan aplikasi dan internet.

Namun sayangnya, efek negatif dari gadget juga sangat bisa dirasakan oleh anak-anak, salah satunya anak jadi ketergantungan pada gadget, dan menghabiskan banyak waktunya hanya untuk gadget.
 

Dampak Buruk Ketergantungan Anak Pada Gadget


Meski juga membawa dampak positif bagi anak-anak, setidaknya anak-anak bisa belajar literasi digital melalui gadget, melakukan hal-hal positif dari gadget, seperti belajar membuat konten atau semacamnya.

Namun dampak tersebut akan berubah jadi buruk, jika anak-anak sampai menjadi ketergantungan pada gadget.

Jika seperti itu, anak-anak bisa menjadi sosok yang kurang bisa bersosialisasi dengan baik dengan orang lain, atau juga anak-anak dapat menjadi kecanduan screen time

Ada beberapa dampak buruk yang akan terjadi pada anak, jika mereka mengalami ketergantungan pada gadget, di antaranya adalah:


Dampak kesehatan


Meskipun gadget punya dampak positif dalam segi kesehatan untuk anak, yaitu membantu anak mengembangkan keterampilan motorik halusnya, serta meningkatkan penglihatan anak-anak dan meningkatkan rentang perhatian mereka. 

Namun dampak negatifnya juga tetap ada, salah satunya gadget bisa menyebabkan masalah seperti sakit kepala, sakit leher, dan mata kering. 

Dari segi mental, gadget juga memberikan dampak negatif buat anak, seperti bisa menimbulkan perasaan terisolasi dan kesepian pada anak.


Dampak negatif dari media sosial


Dengan gadget membuat siapapun lebih mudah terhubung pada media sosial, yang tentunya punya dampak positif, sekaligus dampak negatif buat anak.

Beberapa dampak negatif dari media sosial buat anak adalah, bisa menyebabkan kecanduan, menyebabkan kecemasan hingga depresi pada anak, hingga bisa menyebabkan cyberbullying salah satunya berasal dari komentar jahat di media sosial. 


Dampak negatif dari perkembangan mental anak


Pengaruh ketergantungan anak pada gadget juga sangat berdampak terhadap perkembangan mentalnya. Beberapa ahli menyimpulkan bahwa, anak yang terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk menatap layar ponsel, bisa memengaruhi kemampuannya dalam berkonsentrasi dan memperhatikan. 

Ketergantungan anak pada gadget juga dapat menyebabkan anak jadi sulit bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain, karena semakin banyak waktu yang dihabiskan bersama gadgetnya, maka semakin berkurang waktu untuk terlibat dalam interaksi tatap muka dengan teman sebayanya, hingga akhirnya mempengaruhi perkembangan keterampilan sosial anak-anak.


Semangat Achmad Irfandi, Pemuda Sidoarjo Mengenalkan Permainan Tradisional Pada Anak Melalui Kampung Lali Gadget


Berbagai dampak buruk dari ketergantungan anak pada gadget, ternyata menggugah perhatian seorang pemuda dari Sidoarjo, Jawa Timur, bernama Achmad Irfandi.

Achmad irfandi kampung lali gadget
Achmad Irfandi - pencetus Kampung Lali Gadget, source: radioidola.com

Bermula dari rasa mirisnya, sering melihat ada anak kecil yang nongkrong berjam-jam lamanya di warung kopi, demi bisa memakai wifi untuk memainkan gawainya.

Kelakuan anak-anak tersebut, sontak membuat hati Achmad Irfandi jadi nelangsa. Dia merasa, anak-anak tersebut sudah merugi, karena telah melewatkan masa kanak-kanak yang seharusnya diisi dengan bermain, bergerak, dan tertawa bersama teman-teman lainya, namun hal itu malah tergantikan dengan situasi anak-anak yang terduduk diam sembari menatap layar HP hingga berjam-jam lamanya.

Di sisi lain, Irfandi juga merasa miris ketika melihat di masa sekarang, hampir tidak ada anak kecil lagi yang mengenal permainan tradisional, yang sebenarnya jauh lebih menyenangkan ketimbang bermain gadget.

Dan dari semua itulah, Achmad Irfandi kemudian tergerak mengajak para pemuda di desa tempat dia tinggal, yaitu desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur, untuk membentuk sebuah tempat yang bisa membuat anak-anak melupakan gadgetnya sementara.

Tempat itu kemudian diberi nama 'Kampung Lali Gadget'

Achmad Irfandi kampung lali gadget
Source: republika.co.id

Kampung Lali Gadget pertama kali didirikan di tahun 2018 silam.
Bermula dari usaha Achmad Irfandi yang berhasil meyakinkan perangkat desanya, agar mau meminjamkan lahan seluas 45 x 50 meter untuk proyek tersebut. 

Untuk acara pertama kalinya, ada sekitar 400an anak dari Surabaya dan Sidoarjo yang hadir ke lokasi tersebut. Dan ternyata anak-anak tersebut mau bahkan merasa sangat asyik bisa memainkan aneka permainan tradisional, yang dimulai dari pukul 08.00 hingga 12.00 siang.

Melihat respon yang luar biasa tersebut, Irfandi jadi lebih semangat meneruskan kegiatan di Kmapung Lali Gadget tersebut.
Hingga akhirnya makin banyak anak-anak yang datang bermain, hingga sekitar 100 anak menghadiri eventnya, dan kesemuanya mengatakan sangat menikmati permainan di sana.

Sayangnya, pandemi lalu melanda, KLG terpaksa vakum selama beberapa waktu, karena kegiatan yang ada untuk sementara dialihkan pada tanggap darurat Covid-19, yaitu mereka memberdayakan masyarakat di sekitar sekitar untuk membuat face shield agar bisa disumbangkan ke tenaga medis di seluruh Indonesia. 

Beruntung pandemi akhirnya melandai, dan Kampung Lali Gadget pun kembali dijalankan.

Bukan sekadar membangun Kampung Lali Gadget, Irfandi juga memberdayakan banyak warga di sekitar lokasi tersebut untuk membuat mainan dan menjualnya. 
Selain itu, mereka juga bisa menjual makanan dan minuman untuk pengunjung yang datang.

Bukan sekadar membangun Kampung Lali Gadget untuk anak-anak, Irfandi juga memberdayakan banyak pemuda serta masyarakat, baik di dalam maupun di luar desa. 
Para pemuda yang diberdayakan tersebut, bertugas sebagai perencana, fasilitator edukasi, ataupun pendamping.


Asyiknya Suasana Kampung Lali Gadget Bikin Anak Lupa Gadget Sejenak


Lalu apa saja sih kegiatan yang ada  di Kampung Lali Gadget, dan bagaimana cara Achmad Irfandi benar-benar memberikan peluang anak-anak tidak tergantung pada gadgetnya, dengan konsep yang dia bangun?

Ternyata ada banyak kegiatan yang diadakan di Kampung Lali Gadget ini, salah satunya dengan mengajak anak-anak mengenal dan melestarikan permainan tradisional yang sebenarnya lebih seru dan menyenangkan untuk anak-anak.

Setiap pekannya, tema permainannya tidaklah sama, namun yang jelas selalu ada jenis permainan tradisional yang selalu bisa dimainkan oleh anak-anak yang berkunjung.

Adapun macam-macam permainan daerah yang dimainkan adalah, seperti: egrang, kelompen tali, kelompen panjang, lompat telapak kaki, hingga gancetan.

Untuk temanya pun beragam, ada tema Dolanan Banyu atau Bermain Air, yang mengajak anak-anak maupun keluarganya untuk bisa berpartisipasi dalam permainan seru yang berkaitan dengan air tersebut.

Kampung lali gadget di sidoarjo
Source: madiunpos

Misal, dengan bermain perahu tiup di air, bermain kapal gedebok, hingga menangkap ikan. 
Agar lebih seru, semua peserta diberi kesempatan menangkap ikan bukan di kolam air bersih. Melainkan di kubangan yang merupakan kolam berlumpur yang didesain khusus untuk menangkap ikan.

Dan ternyata anak-anak sangat menikmati permainan dengan tema tersebut.

Adapun di Kampung Lali Gadget ini, di setiap acara yang berlangsung setiap pekannya, sama sekali tidak ada biaya yang ditetapkan. Bahkan untuk ongkos parkir pun diminta sukarela. 

Namun, untuk pihak sekolah atau komunitas yang hendak menggunakan KLG di luar hari Minggu, maka akan dikenai biaya, yang mana dana yang masuk akan dikelola Yayasan KLG dengan Achmad Irfandi sebagai ketuanya.

Bukan hanya sekadar mengenal permainan tradisional dan menjaganya agar tak punah, di Kampung Lali Gadget, juga membuat pemberdayaan ekonomi masyarakat bisa berjalan. 

Di mana para pengunjung dapat mengoleksi langsung permainan tradisional yang dipasarkan di sana. Mulai kitiran bambu, kitiran klutuk, toktok, hingga gasing bunyi. 
Termasuk juga tekotek, seruling suit, maupun bola bekel.

Begitu besarnya peran yang dibangun dari semangat Achmad Irfandi sang pemuda desa, dalam mengenalkan anak-anak pada pelestarian permainan tradisional, berangkat dari niat mulianya membantu anak-anak terbebas atau melupakan ketergantungannya sejenak terhadap gadget.

Dan siapa sangka, gebrakan yang dibangun oleh Irfandi, sangat berdampak bukan hanya untuk anak-anak, namun juga mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Tak heran jika akhirnya Achmad Irfandi mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Astra Awards, sebagai apresiasi terhadap kontribusinya yang luar biasa melalui Kampung Lali Gadget.


Penutup


Gadget telah menjadi sebuah hal yang sangat dibutuhkan saat ini, dan akhirnya berdampak negatif menjadikan anak-anak ketergantungan pada gadget.

Padahal kita tahu, banyak dampak negatif yang timbul pada anak yang selalu ketergantungan pada gadget, baik dalam segi kesehatan, media sosial maupun perkembangan mentalnya.

Achmad Irfandi, seorang pemuda desa di wilayah Wonoayu Sidoarjo juga melihat fenomena ini, di mana karena ketergantungan anak pada gadget, banyak yang akhirnya nongkrong di warkop demi bisa mengakses wifi secara gratis selama berjam-jam lamanya.

Tak ingin anak-anak di desanya menjadi seperti itu, tercetuslah ide mengajak anak-anak bermain permainan tradisional yang seru, sekaligus melestarikan berbagai jenis permainan tradisional yang makin menghilang digilas gadget itu.

Dan ternyata, semangatnya untuk mengajak anak-anak melupakan gadget, berdampak luas, bukan hanya kepada anak-anak yang datang bermain di Kampung Lali Gadget yang dicetuskan oleh Irfandi.
Tapi juga berdampak positif terhadap kenaikan taraf hidup banyak masyarakat di sekitar tempat tersebut.

Salut ya, dengan semangat Achmad Irfandi, dan sangat pantas mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Astra Awards.


Sidoarjo, 14 Desember 2022

Sumber:
  • https://www.satu-indonesia.com/satu/satuindonesiaawards/finalis/penggerak-konservasi-budaya-kampung-lali-gadget/
  • https://dppkbpppa.pontianak.go.id/informasi/berita/dampak-penggunaan-gadget-terhadap-perkembangan-sosial-anak
Gambar: Canva edit by Rey dan berbagai sumber

1 comment :

  1. Ya ampuuuun gratis Rey?????? Hebat sih diaaa. Berarti maintenance-nya dari hasil penjualan mainan Yaa? Aku mau bangetttt ajak anak2 kesini kalo ntr ke sana. THN depan aku ada planning sih ke Surabaya. Bisa lah mampir ke Sidoarjo ini.

    Anak2ku juga suka gadget, tapi untungnya bukan yg tahap addict. Krn aku Batasin juga dan tegas soal begini.

    Aku pernah liat anak yg kecanduan gadget. Ponakannya suami kebetulan. Itu beneran jadi ga bisa sosialisasi samasekali, bahasanya kasar, ngelawan pas bicara Ama ibunya, yg lebih parah dia juga gampang banget menghina orang2 bahkan yg lebih tua. Tapi ortunya aku liat diem aja. Kalo anakku begitu, aku serahin ke pesantren sekalian biar dididik keras. Aku nya jadi males tau ketemu sodara suami yg 1 ini 🤣🤣. Bawaan emosi gara2 anaknya. Ga pengen lah anakku begitu. Makanya mnding dari skr aku tegasin soal gadget.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)

Back to Top