Featured post

Sleek Baby Telon Oil, Bersama Melindungi Si Kecil Dari Kembung Dan Masuk Angin

Sharing By Rey - Masalah kembung dan masuk angin pada si kecil itu, saya rasa sudah merupakan masalah sejuta orang tua di dunia. Seja...

Friday, June 05, 2020

Ego Lelaki Atau Kebiasaan Salah Yang Dipertahankan?

Ego Lelaki Atau Kebiasaan Salah Yang Dipertahankan?

Sharing By Rey - Ego lelaki ataukah kebiasaan salah yang dipertahankan secara turun temurun?
Itu yang terus berkutat di benak saya setelah menikah lebih dari 10 tahun.

Setelah saya mendapatkan banyak masukan dari sesama wanita, yang 99% mengatakan bahwa suami memang seperti itu, seorang lelaki yang punya ego dan menginginkan mereka dirajakan.



⛔⛔⛔***Warning, tulisan ini dibutuhkan pemahaman yang mendalam, mohon maaf jika menyinggung beberapa orang, ini basic ngomongin permasalahan diri sebenarnya πŸ˜„πŸ˜„

Sebagai seorang yang idealis saya berontak.
I mean, seriously?

Kalian para lelaki bangga menjadi hebat karena istrimu mengalah?
Bukan karena kalian memang benar-benar hebat?

Bukankah itu sungguh menyedihkan?
Hebat bukan karena tinggi?
Tapi hasil merajuk sehingga orang lain merendah dan membuat kalian jadi (terlihat) tinggi?

Sungguh itu amat sangat bertentangan dengan keistimewaan yang diberikan sang Pencipta kepada mahluk lelaki berstatus suami itu memegang surga bagi istrinya?
Pemegang surga dong.

Seperti mulianya seorang ibu yang diberi keistimewaan memegang surga anaknya, karena perjuangan dan pengorbanan seorang ibu yang luar biasa untuk anaknya.

Lalu, bagaimana mungkin seorang suami memegang surga istri, jika kelakuannya lebih menyedihkan dari anak kecil?

Saya rasa, ada sesuatu yang salah, dari pernyataan hampir semua wanita khususnya berstatus istri di zaman now


Pola Pikir Lelaki Yang Maskulin


Hal tersebut di atas semakin mendukung pemikiran saya, setelah saya banyak melihat dan membaca kisah lelaki-lelaki dengan pemikiran yang maskulin (menurut saya).

ego suami

Udara segar, makanan enak, rumah yang aman, dan belahan jiwanya.
Cukup itu saja.

Sementara, kebanyakan lelaki dewasa yang saya tahu, hanya akan puas jika mereka mempunyai sebuah benda yang bikin mereka bangga.
Mobil mewah, atau motor mewah atau apapun yang bikin mereka jadi menghabiskan waktu bahkan emosinya terkuras demi mengejar hal tersebut.

Mengapa tidak menjadikan keluarga yang harmonis sebagai kebanggaan?

Masih banyak pola pikir lelaki maskulin yang lebih receh tapi bikin hati meleleh.
Seperti, saat menonton salah satu vidio di channel Youtube Rachel Goddard, di mana saat suaminya ditanya mau punya anak berapa, tahu nggak sih apa jawabannya?
"Terserah Rachel, dia yang punya tubuh, tentunya dia yang lebih berhak menentukan kapan punya anak dan berapa anak yang ingin dia inginkan"
Pernah nggak nemuin perkataan demikian dari kebanyakan lelaki yang kita temuin? preet laahh.
Yang ada,
"Yang, aku maunya punya anak 3, terus kita tunda dulu ya, soalnya aku belum lunasin rumah ini"
"Yang, aku maunya anak kita laki dulu, abis itu baru cewek"
Dan tidak jarang, jika hal tersebut tidak disetujui istrinya atau tidak terjadi sesuai harapan, istri yang disalahkan.

Seolah istri ini punya adonan bayi di perutnya, terus bisa bikin adonan bayi laki atau perempuan.
Duh sungguh kuingin berkata kasar.
"KASAR!!!
Pola pikir lelaki maskulin zaman now hanya ada di segelintir lelaki saja, kebanyakan lelaki berstatus suami selalu dikalahkan egonya.

Maksud saya, tak masalah jika memang kodratnya lelaki diberi ego yang tinggi, tapi bukankah lelaki juga diberi otak buat berpikir?
Setidaknya, setarakan ego dengan kemampuan, jadinya menundukan istri dengan kemampuan, bukan dengan merajuk.


Ego Lelaki Atau Kebiasaan Salah Yang Dipertahankan? 


Demikianlah, saya rasa sesungguhnya ego lelaki bukanlah sebuah kodrat, akan tetapi kebiasaan salah yang dipertahankan sejak dahulu dan turun temurun.

ego salah sang suami

Saya jadi ingat perkataan bapak mertua, saat menasihati saya dan papinya anak-anak.
Katanya, lelaki memang seperti itu, sebuah kalimat yang selalu bikin saya sakit hati.

I mean, mengapa sih lelaki bangga dengan perbuatan buruknya?
Bagaimana kalau wanita bangga dengan hobinya bergosip?
Apa para suami akan bisa bertahan dengan hal tersebut?
Sementara bergosip adalah semacam kodrat dari wanita?

Saya rasa, ketika banyak wanita yang mengusung isue feminisme, di mana menurut mereka patriarkis adalah di mana seorang wanita dituntut untuk di rumah saja.
Justru menurut saya, itu wajar.

Yang patriarkis itu adalah, saat sebagian besar wanita memaklumi kelakuan suaminya yang salah, tapi dimaklumi dengan alasan,
"Ego lelaki memang demikian"
Hasilnya?
Anak-anak lelakinya familier dengan hal tersebut, dan menirunya dengan baik.
Nggak salah jika papinya anak-anak suka kabur setiap kali ada masalah, lah bapak mertua mengakui kalau dulunya juga suka berbuat demikian.

Juga itu pula yang bikin psikolog Mba Rani mengarahkan saya untuk memperbaiki hubungan dengan papinya anak-anak.
Lah Mba Rani bertanya bagaimana kondisi orang tua saya dulu, dan memang ortu juga sering berantem, namun sampai sekarang mereka masih bersama.

Dan Mba Rani yakin jika saya pastinya akan selalu memilih tetap bersama dengan papinya anak-anak meski hubungan kami seringnya kurang harmonis.
Just like my parents, huhuhu.

Jadi, memang sebijaknyalah kita memutus mata rantai hal-hal yang buruk untuk diteruskan ke anak-anak kita, terutama anak saya keduanya lelaki.

Saya ingin mereka tumbuh jadi lelaki dengan pola pikir maskulin.
Layaknya lelaki sejati.
Punya wibawa dan tegas.
Namun juga sangat menghormati hak-hak wanita, yang selama ini terbaca 'tabu buat sebagian besar orang.

Misal, menghormati keputusan wanita akan hak tubuhnya.
Dan selalu bisa berkomunikasi dengan baik serta menjadi pemimpin yang bijak, aamiin.

So para lelaki, khususnya yang berstatus seorang ayah.
Punya ego itu nggak salah.
Akan tetapi, berjuanglah untuk itu.
Jangan memaksakan orang lain menerima egomu.

Tapi buatlah orang menerima egomu, karena memang kau pantas dapatkan.
Bukan hasil memaksa dan merajuk.
Dan, mari kita berani mengatakan salah pada kebiasaan yang salah.

ego lelaki

Tanpa berlindung dibalik 
"Ah, lelaki memang seperti itu!"
Karena saya memuja lelaki, dan saya yakin lelaki lebih dari sekadar 'memang seperti itu'

Demikianlah.


Sidoarjo, 5 Juni 2020

Reyne Raea untuk #FridayMarriage

Sumber : Pengalaman pribadi
Gambar : Canva edit by Rey

28 comments:

  1. Sepakat mbak. Tp ya gmn laki2 kdang juga mikir perempuan sulit dimengeri ya. Wkwkwk
    Intinya kudu saling memahami dan menerima supaya seimbang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, intinya harus memaksa diri untuk belajar komunikasi yang sehat :)

      Delete
  2. Memang butuh sebuah dobrakan besar mba, agar kebiasaan yang sudah turun temurun itu tidak berubah menjadi watak buruk yang bakal terulang lagi ketika anak-anaknya berkeluarga.

    Seperti dulu pernah saya bilang di blog, tipe tipe seperti itu nunggu hidupnya ancur ato ada yang mati dulu baru akhirnya sadar dan kepikiran mau berubah. Karena gak ada yang nyolek (gak dapet masukan) ato gak ada yang protes dengan keras πŸ˜… yah woles aja, santuy karena berpikir semua baik-baik saja, walaupun dia bersikap seperti itu πŸ™„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah bener, bahkan kalaupun ada yang berani nyolek yang keras, yang nyolek malah disalahkan hehehe

      Delete
  3. Hemm.. ego setiap manusia sih pasti ada. Cuma kalau soal pernyataan ego laki-lagi ingin "dirajakan" saya rasa tidak benar juga. Makanya heran juga kalau ada 99% wanita di zaman sekarang masih berpandangan begitu.

    Sejak memasuki tahun 2000-an, saya rasa sudah terjadi perubahan sangat besar dalam kehidupan banyak laki-laki. Tidak terhitung yang sudah melepaskan pola budaya "feodal" dimana laki-laki berkuasa. Tidak sedikit juga yang bahkan tidak mempermasalahkan untuk menjadi bapak rumah tangga sedangkan istri bekerja. Banyak yang memandang keluarga adalah tim yang harus dikelola bersama.

    Jadi, apa yang Rey alami dengan pak suami tidak mencerminkan "laki-laki" secara umum. Nasib Rey saja mendapat laki-laki yang mungkin masih menganut pemikiran feodal seperti itu. Tapi, bukankah ada selalu sisi sisa feodal dalam diri manusia, contohnya Rey yang masih memiliki impian laki-laki harus menjadi pemimpin keluarga (yang sebenarnya mencerminkan pola feodal masa lalu dimana kesetaraan wanita belum ada).

    Saya sendiri berpikiran berkebalikan. Kalau saya bisa menjadikan istri saya tuan puteri, ya saya jadikan dia tuan puteri. Saya akan berusaha supaya ia hidup nyaman, senyaman-nyamannya. Biar saja saya capek asal dia dan si kribo hidup nyaman dan berkecukupan.

    Jadi, jawaban saya mah, tidak semua laki-laki seperti pak suaminya Rey. Banyak yang justru mengedepankan keluarganya dibandingkan keinginan dirinya sendiri.

    Yang seperti ini mencerminkan kalau pernyataan "99% wanita" soal laki-laki ingin dirajakan itu juga tidak benar. Tidak bisa disamaratakan.

    Yang seperti ini bukan kodrat. Bisa berubah seiring dengan perubahan pola pikir umat manusia dan akan terus berubah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak semua lelaki kok Pak, tapi masih banyak banget :D

      Kalau saya nggak menuntut suami harus bisa jadi pemimpin sih, saya bahkan lebih suka adanya bekerja sama.

      Sebagai wanita idealis jujur saya tidak suka terlalu kaku dipimpin.
      Hanya saja, seiring waktu, pak suami memang jadi kayak lelaki kebanyakan.
      Merasa harus dijunjung tapi caranya dengan memaksa, bukan dengan berjuang :')

      Faktor lingkungan juga mempengaruhi sih, kalau lingkup pertemanannya patriarkis, terlebih memang pola asuh seperti itu, ya ujung-ujungnya jadi gitu juga :D

      Delete
    2. Hahahahaha... nah pertanyaannya mengapa dia berubah? Mungkin itu yang harus ditanyakan kepadanya

      Delete
  4. Sepertinya ada benarnya apa yang dikatakan mas Anton diatas, tidak semua lelaki punya kejiwaan atau tepatnya kepribadian feodal.
    Aku amati di akhir2 ini banyak juga lelaki yang menjalani rumah tangga apa adanya, ngga mementingkan egonya dengan ngga membanggakan apa yang dia punya.
    Tapi ya ada juga yang punya prinsip seolah dia penguasa rumah tangga.
    Mungkin type orang seperti ini kalau sudah kebentur suatu masalah, nantinya akan dapat mengoreksi kekeliruannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Hino, nggak semuanya kok, tapi kebanyakan hihihi :D

      Delete
  5. Gak semua lelaki kok, Mbak, yang seperti itu. Walaupun begitu, tapi memang nyatanya yang punya ego gede tuh buanyak banget. Duh, jadi ingat post ku di grup Facebook kapan hari deh, Mbak. Yang komennya ngengkel bahwa pendapatnya mutlak benar ya laki-laki semua.πŸ˜‚

    Ngomong-ngomong masalah egonya lelaki, memang susah banget buat merubah pola pikir para lelaki yang punya ego besar, Mbak. Soalnya ego itu sudah dibentuk sejak kecil.

    Contohnya kalau di lingkungan sekitarku: seorang anak perempuan harus bantu-bantu beberes rumah, bantu masak, bantu cuci baju, dan melakukan pekerjaan rumah tangga lainnya. Sementara itu, kebanyakan anak laki-laki sama sekali tidak dibebankan kewajiban bantu-bantu pekerjaan rumah tangga itu. Kebanyakan anak laki-laki bebas mau main sampai kapan saja, sementara anak perempuan terbatas waktunya kalau ingin bermain atau bersenang-senang (tentunya gara-gara ada kewajiban buat bantu pekerjaan rumah). Anak perempuan harus jadi sosok yang anggun dan penurut, sedangkan sebagian dari anak laki-laki mau senakal apapun selalu saja dimaklumi. "Namanya juga anak laki-laki" gitu kata para orang tua.😟

    Makanya banyak banget laki-laki yang ketika dewasa seenaknya sendiri. Itu karena kebanyakan dari mereka sejak kecil memang terbiasa untuk selalu diistimewakan. Ironis banget ya, Mbak Rey..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jujur saya anak lelaki satu-satunya dari 4 bersaudara mbak Roem dan dari kecil memang aku agak diistimewakan, misalnya beli sandal saja maunya yang merk lili (walaupun ngga selalu dituruti), minta duit buat jajan kalo ngga dikasih maka ngambek.

      Tapi Alhamdulillah aku setelah dewasa ngga terlalu nakal, bahkan minuman keras apalagi narkoba belum pernah aku cicipi. Tawuran juga ngga pernah karena takut bonyok.πŸ˜‚

      Ini semua karena didikan guru saya yaitu ustadz satria sih yang selalu nakutin anak anak seperti saya bahwa kalo berbuat baik nanti masuk surga kalo nakal masuk neraka, akhirnya jadi nurut.πŸ™

      *Catatan: saya ngga minum narkoba atau miras karena memang ngga ada duitnya sih, buat makan sehari-hari saja keluarga saya susah, entah kalo ada duit.🀣

      Delete
    2. Untung ketemu ustadz Satria ya, mas. Jadi selalu berada di jalan yang lurus.🀭

      Tapi ngomong-ngomong kalau ada duit jangan buat narkoba dan miras lho, mas Agus. Sayang soalnya. Narkoba sama miras bikin umur pendek. Percuma punya uang kalau buat umur pendek, mending buat investasi aja biar tambah kaya.😎

      Delete
    3. Betul sekali mbak, daripada buat miras dan narkoba mendingan buat bini muda, eh investasi Reksadana.🀭

      Delete
    4. eh ada loh yang kayak gitu, kayak Pak Anton ya kalau nggak salah, sodaranya cewek semua, alhasil jadi lelaki yang begitu menghormati wanita.
      Meskipun saya rasa kalau anak lelaki satu-satunya itu malah dimanjakan :D

      Btw Kadang memang orang terjebak narkoba itu karena ada duitnya sih ya.
      jadi ingat saya dulu sering diajak dugem, syaa nolak soalnya nggak punya baju keceh kayakteman-teman saya.

      Dulu sedih, sekarang bersyukur saya nggak punya modal, kalau enggak mungkin juga terjerumus pergaulan yang bebas :D

      Delete
  6. Sama seperti pak Anton dan mas Himawan, aku rasa laki laki zaman sekarang kebanyakan sudah banyak yang bekerjasama dalam mengurus rumah tangga.

    Saya juga kalo ada keperluan dengan istri rundingan dulu, misalnya beli hape juga harus berunding biarpun yang kuli saya, kalo istri bilang tidak karena ada keperluan yang lebih penting ya manut, bukan nyelonong saja ke konter, padahal kalo udah beli istri saya juga ikut pakai.πŸ˜‚

    Tapi kalo dipikir memang istri saya selalu menyerahkan segala persoalan padaku sih, misalnya ada tukang kredit nawarin panci maka bilang dulu ngga asal kredit. Intinya sih Alhamdulillah komunikasi saya dan istri terjaga, jadi intinya baik saya maupun istri tidak ada yang menjaga ego masing-masing.😊

    Tapi memang benar kalo tidak semua lelaki bisa kerja sama, ada juga yang menjunjung tinggi egonya, buktinya mbak Rey mendapatkan banyak masukan dari sesama wanita, yang 99% mengatakan bahwa suami memang seperti itu, seorang lelaki yang punya ego dan menginginkan mereka dirajakan. Tapi yang disurvei kan hanya sekitar 1000 teman wanita saja, bukan puluhan ribu atau lebih sedangkan jumlah penduduk Indonesia banyak sekali.

    Jadi ingat survei yang dilakukan Fadli Zon, dia bikin survei di akun Twitternya sebelum pemilu siapa presiden pilihanmu, dari 2000an orang yang survei 81% memilih Prabowo. Dia lalu bikin polling lagi di akun Twitternya, dengan catatan bahwa hanya pendukung Jokowi saja yang boleh ikut survei. Surveinya masih sama siapa presiden pilihanmu di pemilu nanti, 72% masih pilih Prabowo dan sisanya pilih Jokowi, padahal sudah ada catatan hanya pendukung Jokowi saja yang boleh ikut survei kok tetap banyak yang pilih Prabowo.🀣

    Jadi menurutku yang kebetulan di survei mbak Rey itu yang punya masalah dengan suami yang menuruti ego-nya, jadi angkanya menang telak 99%, luar biasa.😱

    Yang 0,5% tidak menuruti ego-nya, yang 0,5% lagi masih remang remang, belum menentukan pilihan.πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, kok malah ngakak baca komen Mas Agus, yak.πŸ˜‚

      Mba Rey itu lagi serius loh Mas Agus.. πŸ˜ͺπŸ˜…πŸ˜‚

      Maksudnya Mba Rey, "Kebanyakan Lelaki Dewasa." Lelaki yang masih pake didikan jaman old dengan didikan jaman now emang beda kuk. Jauuuh..

      diantara 99% itu mayoritas udah old-old semua, tapi sayangnya sikap beberapa lelaki olds yang "menuruti egonya" ini menurun ke anaknya. Nah, sebagian atau minoritas dari 99% orang yang dikenal mba rey itu (si lelaki jaman now) yah sikapnya begitu juga, karena mereka masih berhubungan darah alias keturunannya (sayangnya, body mereka aja jaman now tapi pikiran masih jaman old).

      (IMO sih πŸ˜…πŸ˜‚) Kalo salah mohon di revisi Mba Rey πŸ˜‚

      Gak bermaksud mengambarkan bahwa kita berdua ini udah masuk generasi jaman old ya hihihi (hanya sedikit lebih muda dibawah manula) πŸ˜‚

      Delete
  7. Naahlooo nggak ikutan aahh..πŸ™„πŸ™„ Yang komen sudah ahli semua jadi saya manut saja.πŸ™πŸ™πŸ™

    Sederhananya tidak semua lelaki seperti itu. Meski terkadang diera sekarang masih saja ada orang yang berkata Lelaki memang seperti itu.😊😊

    Saya pribadi juga kurang setuju jika ada yang bilang lelaki memang begitu.😲😲😲 Yaa kalau begitu terus kapan berubahnya.😊😊

    Karena sebagai seorang lelaki saya tidak begitu tapi begono.🀣🀣🀣 Naahloo!.🀯🀯

    Mau komen panjang nggak enak ada Ustad Agus. Numpang lewat aja deh.😊😊🚢🏻🚢🏻🚢🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eh pak ustadz datang, sungkem tadz.πŸ™

      Delete
  8. Memang ada ego laki-laki yang tinggi, Mbak. Kadang kita marah, eh dia balik marah juga. Padahal pengennya dibujuk, kasih tambahan belanja atau suruh me time gitu. Ah, ngarep aja. Haha ...

    Soal mengalah, sebenarnya pola pikir saya begini. Memperbaiki hubungan dengan suami dimulai dari diri saya sebagai istri. Daripada saya marah-marah nyuruh dia makan, sekarang saya ambilin makan dan langsung kasihin di depan matanya. Haha , habisnya udah susah payah masak, keburu dingin. Eh, dia malah masak mie coba.

    Ya, kalau kata Mbak Ribka Imari belajar menerima keadaan yang belum bisa Kita terima biar mendamaikan hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, maksud saya dalam lingkup memutus kebiasaan yang salah.
      Bukan masalah siapa yang ngalah sih, tapi bagaimana seorang manusia dewasa tahu mana yang salah mana yang benar.

      Terlepas dari gender maupun status.
      Suami salah, ya minta maaf sama istri.
      Istri juga demikian.

      Orang tua salah pun wajib banget minta maaf sama anak, terlebih anak.

      Jangan sampai satu pihak terus yang ngalah, misal istri, terus sikap tersebut ditiru anaknya, kapan dong kebiasaan yang salah itu putus? :)

      Delete
  9. mungkin bahasa jawanya kardi, kalo kardi cowok cewek juga ada yang seperti ini
    kalau aku baca baca, memang kadang laki laki diidentikkan dengan egonya yang tinggi, seolah olah nggak mau ngalah. tapi harusnya kalo laki laki ini udah berkeluarga, ya pemikiran dua kepala harusnya bisa dijadiin satu dengan baik

    sekarang aja aku masih denger kalo orang orang kantor bilang, laki emang 'gitu', ya seperti pembenaran untuk sikapnya, meskipun dalam artian dia guyon atau serius

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu Mba, egonya tinggi karena memang turun temurun kayak gitu.
      Sooo patriarki.

      Buktinya ada banyak juga lelaki yang tulen, tapi jauh lebih macho karena mereka mengedepankan logika sebagaimana kelebihan mereka.

      Logika pasti tahu mana yang salah mana yang benar :D

      Delete
  10. Berasa ditampar sama tulisan ini walaupun aku belum nikah. wkwk
    btw makasih tulisannya kak

    ReplyDelete
  11. Hi mba :D

    Menurut saya, nggak semua laki-laki demikian, banyak juga yang sangat mementingkan kebahagiaan pasangan dan menurunkan ego mereka demi pasangan ~ jadi memang kembali lagi pada laki-lakinya, apakah tipe yang memanfaatkan keadaan dan egonya untuk menundukkan pasangan, atau tipe yang justru mengalahkan egonya untuk menjadikan pasangan seseorang yang berharga dalam hidupnya :D tapi saya setuju, kalau besar kemungkinan, apa yang anak lihat itu bisa jadi apa yang akan dia contoh kelak ~

    Semoga anak-anak mba kelak akan menjadi laki-laki yang bertanggung jawab untuk pasangannya dan nggak mementingkan egonya, yah :D terlepas dari contoh apa yang anak-anak lihat di rumah ~ semoga mereka belajar bahwa memuliakan wanita itu yang utama <3 especially karena ibunya sudah berjuang keras untuk mendidik mereka dan menjaga mereka, ketika mungkin sang ayah nggak selalu ada di rumah. Saya yakin selama anak nggak kekurangan kasih sayang, dia akan bisa tumbuh menjadi anak-anak yang bijaksana dan dewasa. All thanks to their mom :D so, semangat mba ~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awwww... entah mengapa dirimu selalu menemukan kata-kata yang menentramkan say.
      Bener banget.

      Saya rasa itu bukan ego, tapi memang kebiasaan salah yang diturunkan terus menerus.

      Aamiin, semoga saya mampu menjadi ibu yang mendidik anak lelaki saya menjadi lelaki yang mengedepankan logikanya dengan baik :)

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown, auto klik spam :)

Assalamu'alaikum :)

Selamat datang di blog personal Reyne Raea