Monday, June 08, 2020

Renovasi Rumah Tidak Selalu Lebih Murah Dari Membangun Rumah Baru

Renovasi Rumah Tidak Selalu Lebih Murah Dari Membangun Rumah Baru

Sharing By Rey - Renovasi rumah katanya lebih murah dari bangun rumah baru?
Nggak selalu sih.

Semua tergantung kondisi rumah yang akan direnovasi, dan bagaimana renovasinya.



Jadi kemaren saya sempat ngobrol melalui chat WA dengan kakak saya, yang mana doi lagi bete menceritakan tentang renovasi rumahnya.

Dari masalah-masalah keluarga, masalah sulitnya cari pekerja yang profesional, hingga repotnya menyediakan tempat untuk material yang harus disiapkan.

Lalu akhirnya si kakak mengeluh, betapa ternyata merenovasi rumah itu sama aja mahalnya dengan membangun rumah baru.

Ya memang betul.
Renovasi rumah itu tidak melulu lebih murah dari membangun rumah baru.


Alasan Renovasi Rumah Tidak Selalu Lebih Murah Dari Bangun Rumah Baru


Ada berbagai alasan, mengapa renovasi rumah tidak selalu lebih murah dari membangun rumah baru, yaitu:

Renovasi Rumah Tidak Selalu Lebih Murah


1. Tergantung kondisi rumah


Renovasi rumah ada bermacam-macam alasannya.
Ada yang memang benar-benar memperbaiki rumah karena memang sudah rusak dan lapuk, serta diperbaiki dengan bentuk yang lebih dari awalnya.

Ada pula hanya semacam make over rumah.
Dan karenanya, tentu saja berpengaruh pada budget pembangunan rumah.

Jika memang hanya make over seperlunya, mungkin saja budget yang dibutuhkan jauh lebih sedikit ketimbang membangun rumah baru.

Karena biaya pembangunan rumah itu, paling besar ada di struktur utamanya, seperti pondasi, kolom dan baloknya.
Terlebih jika lokasi pembangunan rumah berada di lokasi yang kondisi tanahnya kurang kokoh seperti di Surabaya yang kebanyakan adalah tanah rawa yang diurug, dijamin biaya pondasinya jauh lebih mahal, demi kokohnya rumah yang akan kita bangun.

Sementara kalau cuman make over, kita hanya perlu menambah kurangi beberapa struktur, dan biasanya sih nggak perlu menambah struktur pondasi lagi.

Namun, jika renovasi rumah dilakukan karena rumah existing atau awalnya sudah dalam kondisi rusak parah, sudah pasti biaya yang dilakukan bahkan jauh lebih besar, karena kudu menambah pondasi dan semacamnya lagi.


2. Tergantung lokasi rumah


Lokasi rumah  amat sangat mempengaruhi biaya renovasi rumah.
Karena lokasi juga menentukan seberapa sulitnya material yang dibutuhkan akan didatangkan dan disimpan di sekitarnya.

Lokasi rumah  amat sangat mempengaruhi biaya renovasi rumah.

Harga material biasanya juga dihitung dengan kapasitas penyimpanan material tersebut.
Misal, lokasi rumah yang kita bangun berada di jalan yang sempit, rumah renovasinya juga kecil, tetangga lumayan padat.

Ya siap-siap aja beli material harus dalam porsi yang secukupnya, karena pengirimannya harus menyesuaikan jalan akses ke rumah yang dibangun tersebut, pun juga lokasi penyimpanan material.

Ya kali kita taruh pasir dan batu dan bata dan semacamnya di pinggir jalan meluber ke tengah jalan, yang ada kita kena semprit tetangga deh.

Dan semakin sedikit pengiriman material, harganya sudah pasti lebih mahal, karena dihitung dengan tenaga, waktu dan BBM dalam mengantar material tersebut.


3. Tergantung nego dan ketegasan kita dalam mengawasi pekerja dan tukang


You know, ngurusin tukang dan pekerja kasarnya itu sungguh bikin sakit kepala.  
Tapi memang butuh kan ye.

memilih dan menentukan tukang dan pekerja yang mengerjakan renovasi rumah

Memakai tukang harian atau borongan, semuanya ada plus minusnya.

Kalau tukang harian, tanpa pengawasan penuh dari kita, dijamin tukang dan pekerja bakal akan santai-santai dengan seribu alasan.
Ye kan, kerjaan mereka selesai, means selesai juga pemasukan.

That's why tukang harian berusaha agar masa kerja mereka lebih panjang, agar pemasukan mengalir terus.

Mungkin banyak yang mengatakan lebih baik borongan saja.
Lebih murah.

Tidak selalu dong!
Kalau borongan pun setidaknya ada orang kepercayaan yang mengawasi mereka.
Karena dengan borongan, tukang dan pekerja malah bekerja lebih cepat, tapiiiii saking cepatnya kebanyakan asal banget.

Jadi, jangan heran kalau ada beberapa pembangunan atau pemasangan utilitas yang jadinya sama sekali nggak sesuai harapan.
Kayak, pintu dan jendela nggak bisa dibuka tutup, atau yang paling sering adalah, aliran air di kamar mandi yang menggenang karena asalnya pemasangan keramik di kamar mandi.

So, dalam memilih dan menentukan tukang dan pekerja yang mengerjakan renovasi rumah, kita wajib lebih tegas baik dalam negosiasi, perjanjian, persamaan persepsi dalam melihat gambar kerja, serta pengawasannya.

Jangan lupa juga bahas semua masalah keseharian para tukang dan pekerja tersebut.
Di mana mereka tinggal?, makan minumnya dari siapa?, pemakaian air dan listrik, dan semacamnya.
Biar nggak drama-dramaan.

Dan yang paling penting, agar biaya renovasi rumah tetap sesuai dengan rencana, setidaknya melencengnya nggak jauh-jauh amat.


Kesimpulan


Jadi, jika ada yang mengatakan dan mengira renovasi rumah itu lebih murah dan mudah, sepertinya memang kudu mempelajari dan melihat atau survey kondisi rumah yang akan disurvey itu lebih detail.

Lalu buatlah gambar dan RAB atau Rencana Anggaran Biaya pembangunan renovasi rumah dengan detail, biar bisa lebih jelas tahu, apakah renovasi rumah lebih murah ketimbang membangun rumah baru.

renovasi rumah itu lebih murah dan mudah

Demikianlah.
Betewe, gara-gara percakapan saya dengan kakak tersebut, saya jadi terpikirkan untuk menulis hal-hal mengenai properti atau lebih ke pembangunan rumah, berdasarkan pengalaman kerja saya meskipun nggak lama-lama amat di sebuah kontraktor rumah mewah dulu.

Menarik juga sih, setidaknya ilmu yang saya pelajari dengan penuh perjuangan dulu bisa disalin kembali di blog ini.

Dan masuk di tema #MondayBusiness
Kalau temans, punya pengalaman apa dalam renovasi rumah?
Share yuk.

Sidoarjo, 8 Juni 2020

Reyne Raea untuk #MondayBusiness

Sumber : pengalaman pribadi
Gambar : Canva edit by Rey
   

21 comments:

  1. klo cmn benerin kamar mandi pastinya lebih murah :D

    Kemaren ada temen renovasi kantornya mba (nyimpang dikit yah, bukan rumah)
    Kantornya dibangun tahun 80an dengan dana 30juta.

    Saat mau direnov tahun kemaren, puingnya aja dilelang 30 juta :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahhh gede kantornya ya? mungkin ada puing yang lebih berharga, kayak kusen atau semacamnya yang bisa didaur ulang, biasanya jadi lebih mahal.
      Enaknya yang gitu bisa saving biasa bongkar, karena bongkar-bongkar dan angkut gragal itu lumayan menguras biaya hahaha

      Delete
  2. Ayook kak rey dishare ilmu semasa masih bekerja di kontraktor rumah mewahnya,soalnya banyak kan yang searching hihi, kira2 budget renov type luas tanah sekian berapa, type luas bangunan berapa berikut model2 bahan bangunan yang digunakan mereknya apa aja, gitu2 ...
    Paling banyak disearch lagi biasanya foto2 before after setelah renov

    Perbandingan harga tukang harian atau borongan
    Masing2 sebenere punya plus minus
    Klo harian biasanya lebih rapi, tapi kadang ada juga yang sengaja memolorkan waktu, huhu...oknum aja sih. Jadi kesannya nukangnya kagak selese2...hiks2
    Eh tapi klo orang hawam kelas medioker sepertiku tentuw saja pingin tahunya range2an budget buat rumah minimalis (baca : kecil alias sempiiit) , bukan yang mewah2 poenya, ahihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, bisa aja dirimu Mbul, pengalaman saya sedikit kok, cuman setahun lebih, dan ngurus semuanya, jadinya nggak detail.

      Terlebih saya memang backgroundnya tehnik sipil, di mana ilmunya cuman dikit kepake kalau di kontraktor rumah, karena kebanyakan kontraktor rumah itu pakai ilmunya mandor yang tentu sajah ilmu "BIASANYA" hahaha.

      Sementara saya sebelumnya kerja di proyek jalan dan jembatan, di mana strukturnya itu kudu dihitung dengan benar, nggak boleh pakai ilmu "BIASANYA " hahaha

      Tapi setidaknya saya tahulah dikit-dikit apa yang ada di proyek rumah meski nggak semastah mandor wakakakakak

      Delete
  3. Yaa...Iyalah malah terkadang Renovasi bisa seharga rumah...Kenyang & bega saya kalau dalam hal yang beginian...😊😊

    Borongan sama harian sama saja sebenarnya. Kesemuanya itu harus kita yang lebih pintar2 mengatur keuangan & strategi dalam membeli material bahan bangunannya.😊😊


    Bicara soal rumah saya jadi ingat dulu saat nggak betah dirumah...Pokoknya semua orang rumah nggak sejalan dengan saya, Akhirnya saya mencoba mencari rumah dengan kridit dua tahun. Akhirnya saya dapat didaerah Bekasi type 45 dengan harga murah kala itu. Seharga kisaran 80 jutaan dengan bentuk bangunan ngepang ( kurang kokoh ) Akhirnya saya cicil selama dua tahun. Sejak saat itu jika bosan dan kesal dirumah saya bisa pindah tempat dengan nyaman.😊😊

    Singkat cerita rumah itu lunas saya bosan malah tinggal situ karena banyak rumah yang masih pada kosong kala itu. Jadi serasa tak punya tetangga. Ditambah kala itu saya jomblo akut & baru diputusin sama si Anu.🤣🤣


    Jadi meski sudah punya rumah sendiri saya tetap jarang tinggal disitu karena yaa BT tak ada yang menemani kala itu.🤣🤣🤣

    Hingga akhirnya saya berinisiatif merenopasi rumah saya sendiri dengan keinginan saya sendiri pula.😊😊 Tetapi apa yang terjadi,🙄😲😲 karena salah perhitungan & masih belum pengalaman akhirnya bangunan itu mangkrak tidak jelas selama dua tahun.😭😭

    Beruntung tahun berikutnya saya punya rezeki dan rumah itu kini bisa direnovasi kembali sampai kinclong dan tuntas. Sampai akhirnya saya bisa bawa ayank Vina kerumah itu dan menikah.😊😊


    Sampai saya dan istri bosan akhirnya kami pindah rumah Ke Depok, Karena Istri saya jenuh tinggal didaerah bekasi dan iapun memilih membeli tanah kosong dekat rumah ibu saya dan membuat rumah kembali hingga sampai sekarang saya tempati.😊😊

    Dan akhirnya rumah yang dikota bekasi yang telah banyak memakan biayaya cuma jadi rumah kenangan...Eeh tapi lumayanlah kalau bosan di Depok.. Bisa balik ke Bekasi ganti suasana.😊😊

    Dulu rencana pengin aku kontrakin dan Jual tetapi kata istri saya...

    "Emang Kamu nggak Makan Sampai Mau Jual Rumah"...🤣🤣🤣


    Sejak itu jadi rumahku sebuah rumah kenangan & romantis meski sebulan sekali saja dikunjungi.😊😊


    Dan selalu tekap kuping bila ada yang ingin mengontrak rumah saya yang berada dikota bekasi...🤯😲😲


    Eehh ini gw komen apa bikin artikel ..Kaaabuuurrrr!!.🏃🏃🏃🏃🏃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata suhu Satria banyak juga ya rumahnya. Daripada rumah di Bekasi nganggur mendingan buat bini muda saja kang, jadinya rumah ada yang mengurusnya, kalo istri kebetulan datang ke Bekasi dan nanya itu siapa yang ngurus, bilang saja asisten rumah tangga gitu.🤣🤣🤣

      Delete
    2. Etdaahhh ini mah artikel yang salah tulis blognya hahaha.
      Btw itu rumah sayang banget dong nggak ditinggalin.

      Nggak enaknya investasi rumah memang gitu, mending tanah :D

      Delete
  4. Nggg, aku ngga bisa komentar panjang lebar soalnya kurang paham masalah bikin rumah apalagi renovasi rumah. Tahunya rumah jadi saja lalu ditempati saja. Iya, nempati rumah punya mertua saja yang sudah jadi, enak kan.😂😂😂

    Soal renovasi rumah atau bikin rumah, guru saya kang satria yang lebih berpengalaman mbak, bahkan ada rumah yang nganggur tuh.😊😊😊

    Penginnya sih buat saya kalo boleh.😂😂🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu deh, si Kang Sat mending dihibahkan tuh rumahnya, saya juga antri nih hahahaha

      Delete
  5. Ayo, Mba Rey, share pengalaman propertinya. Pasti banyak yang nyari info tersebut.

    Kalau saya, ada sedikit pengalaman membangun rumah sendiri dan renovasi kecil. Semua ada ceritanya.

    Betul sekali yang dikatakan Mba Rey. Renovasi mau yang seperti apa. Kalau rombak total, jatuhnya seperti membangun rumah baru.

    Kalau saya, biasanya pakai jasa tukang borongan. Desain dan material, lakukan sendiri. Padahal suami saya nggak ada background sipil atau arsitek. Tapi dia bisa gambar rancangan rumah. Belajar karena kepepet, hehehe.

    Alhamdulillah, di rumah yang saya tempati ini, kami malah punya tukang kepercayaan. Tinggal bilang ini itu, bapak tukang sudah paham. Kadang beliau juga kasih saran sama suami baiknya gimana. Soal harga, biasanya nanya tetangga berapa. Kami minta disamain aja. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah asyik tuh kalau ada tukang kepercayaan, soalya nyari tukang itu susah-susah gampang :D

      Delete
  6. Info bermanfaat nih, Mbak Rey. Kalau aku sih belum ada pengalaman apa-apa masalah beli rumah, bangun rumah, atau renovasi rumah. Soalnya sekarang belum punya rumah sendiri sih, Mbak. Hehehe.

    Tapi dulu waktu masih di kampung, ibu punya langganan tukang. Jadi kalau sewaktu-waktu butuh renovasi pasti pakai tukang itu. Soalnya pernah pakai tukang lain kerjanya sudah molor-molor, gak beres pula.😂

    Ngomong-ngomong, bahas tentang enaknya beli rumah baru, beli rumah yang sebelumnya sudah pernah ditempati orang, atau beli tanah dan bangun rumahnya sendiri dong, Mbak Rey.😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya pribadi? beli rumah itu liat lingkungannya, itu nomor satu.
      Ah nanti saya bahas deh di postingan selanjutnya :D

      Enaknya lagi sih beli tanah dan bangun sendiri, jadi kita bisa bangun strukturnya harus kuat buat puluhan tahun.
      Pertimbangan pondasinya kuat, dan struktur utamanya kuat, besok-besok mau direnovasi, udah nggak repot tambahin pondasi dan struktur utama lagi :)

      Delete
  7. setuju! memang tak murah. macam-macam nak renovate. Kos bahan dan upah pekerja pun dah semakin mahal. kalau nak ubah pun sikit-sikit mengikut bajet

    ReplyDelete
  8. Mbak Rey, ditunggu banget sharing ilmunya soal pengalaman waktu bekerja di kontraktor rumah mewah. lagi galau soal gini nih. Perihal lebih murah mana, kredit rumah baru atau renovasi rumah lama. meskipun masih lama tabungan menuju ke arah sana, tapi nambah-nambah ilmu sejak dini itu bagus kaan. apalagi dari orang yang memang berpengalaman.

    Kalau kata orangtua, lebih baik renovasi. tapi kalau kata orang, lebih baik beli baru karena tidak ribet. Tapi di sisi lain, beli rumah dengan spek yang kita inginkan dengan kualitas baik itu, susaaah... kalau beli rumah subsidi, mbak rey tahu sendiri rumah subsidi itu bagaimana :'D

    akhir-akhir ini suka lihat akun instagram yang merenovasi rumah, dan jadi tergoda untuk mencari tahu lebih dalam. ya itu, sumber-sumbernya rasanya kurang. makanya, kalau ada info tambahan lagi, pasti saya baca!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya tergantung lokasinya.
      Kalau rumah lama memang lokasinya menyenangkan, mending renovasi aja, dikit-dikit dulu juga nggak apa-apa.

      Iyaaa, rumah subsidipun kudu direnovasi dulu biar layak huni hehehe

      Delete
  9. karna belum punya rumah sendiri jadi belum ngerasain pengeluaran biaya untuk renovasi
    cuman kadang suka ngelamun aja seandainya punya rumah yang mewah di cluster, model udah cakep kayaknya udah nggak perlu renov lagi, rumahnya aja harganya udah setengah M, masa masih kurang bagus ehhehe

    punya temen yang tinggal diperumahan type RS bisa disebut begitu, dari yang awalnya tampak depan kecil,ke belakang cuman 2 atau 1 kamar tidur, sekarang dibagian belakang udah bagus, keramik full, terlihat luas, langit langit tinggi. kayaknya dia renov atau menambah dan memperbaiki beberapa bagiannya udah abis muahall alias banyak bangett

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tergantung say, kadang juga masih tetep kudu direnovasi lagi dikit-dikit hihihi.
      Apalagi kalau belinya di kota besar kayak Surabaya.
      500juta itu masih kudu ada perbaikan dikit-dikit :D

      Delete
  10. Setuju, kadang renovasi mahal banget mba 😂

    Bisa seharga rumah baru yang tipe subsidi pemerintah padahal yang diperbaiki nggak banyak. Hanya saja karena harus dibongkar dulu sebelum mulai direnov akhirnya bayar biaya double ke tukang 😆

    Saya pribadi lebih pilih bangun rumah dari nol (dari masih tanah) karena biaya jauh lebih murah mba 😁 apalagi kalau urusan materialnya diatur sendiri jadi bisa pilih yang terbaik sesuai selera ~ 😍

    Enihon, ditunggu ya mba pembahasan soal rumahnya 🥳

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah benerrrr, apalagi pas bangun tetangganya masih dikit, itu bangunnya jadi lebih murah dan mudah :D

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)