Saturday, February 24, 2018

Memutus Rantai Pelakor

WARNING!! Tulisan ini adalah pemikiran saya sendiri, yang mungkin berbeda dengan pemikiran orang lain, MOHON MAAF jika ada yang merasa tersinggung.⚠⚠⚠



Assalamu'alaikum :)

Beberapa hari terakhir ini jagad dunia maya dipenuhi oleh permasalahan PELAKOR.
Pelakor..
Atau Perebut Laki Orang, entah kapan sebutan itu pertama kali muncul, toh sebenarnya kasus seorang wanita 'merebut' suami wanita lain telah terjadi sejak zaman dahulu kala.



Beberapa sumber mengatakan, istilah tersebut merebak setelah kasus perceraian sesembak pemusik/penyanyi yang suaminya juga pemusik/penyanyi tersebut.
Iyaaa... masalah mba Bulan Jalila dengan mba Haia... hahaha
(Ketauan deh dulu suka nonton gosip, iya... dulu!)

Daftar Oriflame
Sebenarnya miris melihat video-video permasalahan tersebut yang sesigap apapun saya menyembunyikan dari timeline facebook, tetap saja ada teman yang share videonya.
Entahlah apa keuntungan ikutan menyebar aib orang, mungkin dengan menyebarkan hal tersebut, mereka semacam curhat terselubung, sambil berkata dalam hati pada yang coba atau pernah merebut suaminya "RASAKAN!"

Well, saya sendiri sebenarnya cukup kesal jika mendengar kata pelakor, meskipun Alhamdulillah saya belum dan (mohon Allah jangan beri saya cobaan seperti itu) jangan sampai merasakan hal sesakit itu, setidaknya saya pernah sakit hati akan percobaan pengkhianatan dalam rumah tangga kami.
Baca : Ujian Lima Tahun Usia Pernikahan 
Huhuhuhu.. Saya baca ulang dong tulisan itu daaann saya nangis sendiri sambil diliatin si bayi hehehe... *Baper!!

Sebagian orang mungkin heran, mengapa saya menulis hal yang mungkin sebagian orang menganggap itu aib rumah tangganya.
Namun saya ingin hal tersebut menjadi pelajaran bagi semua orang, khususnya untuk saya.
Dan saya ingin menulis dengan jujur, karena?? MENGAPA TIDAK??

Haduuhh blank, mau nulis apa nih? hahaha

Okeh lanjut..
Yang namanya pernikahan, gak akan mungkin akan nyaman-nyaman saja, lurus-lurus saja, saling sayang-sayangan tiap hari, bahagia, nari-nari kayak di dongeng kartun-kartun.
Pastilah bakal ada sedikit goncangan karena kerikil yang mana jika kerikilnya tidak dibersihkan, lama-lama bakal jadi batu dan bikin rumah tangga gak terguncang lagi, tapi kesandung dan jatuh.. bruk! (lebaynya ya penjelasannya hahaha)

Oleh karena itu, KOMITMEN adalah hal yang paling penting dalam sebuah pernikahan, bukannya KENYAMANAN.
Komitmen itu sudah masuk di dalamnya, menikah karena Allah (just in case kalau ada yang protes yang paling penting adalah karena Allah, hehehe)
Jika menikah hanya karena nyaman dengan pasangan, maka bersiaplah untuk terlunta-lunta saat tiba-tiba pernikahan kita diberi cobaan ketidaknyamanan.

Banyak orang yang menyerah akan pernikahannya dengan alasan SUDAH TIDAK NYAMAN LAGI.
Okelah kalau mereka baru menikah dan belum ada anak, minimal yang kena batunya cuman orang tua yang malu (cuman???)
Bayangin kalau sudah ada anak, lalu memutuskan untuk berpisah hanya dengan alasan TIDAK NYAMAN LAGI?
Entah karena sering berantem karena beda pendapat, bosan pada pasangan yang sudah tidak seperti dulu, ataupun pasangan lagi eror hingga kepincut yang lain, bukan karena sifatnya.
Ya, saya tau.
Yang namanya jodoh di tangan Allah, dan gak ada yang mau bercerai, tapi takdir mengatakan lain.

I mean, bukankah Allah Maha Pengasih?
Bagaimana bisa Dia memberikan takdir yang buruk bagi hambaNya?
Ya, menurut saya perpisahan itu adalah takdir yang buruk. Setidaknya buat anak..
DAN BUAT RUMAH TANGGA ORANG LAIN hehehe.

Beda lagi kalau kasusnya KDRT berat atau perselingkuhan yang berulang-ulang dan memang sebelum nikah pasangan sudah punya track record yang buruk mengenai kesetiaan (itupun saya rasa, jika pasangan tersebut pernah berlaku manis pada kita, saya rasa masih bisa diperjuangkan)

Lah dari tadi ngomongin rumah tangga, trus apa hubungannya dengan pelakor??
ADA!

Coba perhatikan kasus-kasus pelakor yang lewat di depan beranda sosmed kita, yang barusan terjadi 2 atau 3 hari lalu misalnya.
Status si pelakor adalah..... (maaf) janda!

Tidak!
Saya tidak menghakimi kalau janda itu buruk, saya justru menulis ini karena berempati pada saudari-saudari kita yang terpaksa menjanda.

Saya tau persis, karena saya juga wanita, meskipun (Allah, mohon jangan beri saya cobaan yang seperti itu) saya tidak berada di posisi mereka, namun saya bisa merasakan bagaimana rapuhnya kita seorang wanita.

Seorang wanita konon katanya diciptakan dari tulang rusuk lelaki, yang mana wanita itu sebenarnya mudah rapuh dan lemah.
Memutuskan menjadi janda, terlebih harus menjadi single parent, itu bukanlah hal yang mudah.
Seharusnya wanita butuh bahu untuk bersandar, saat anak sakit atau punya masalah.
Terlebih pada kenyataannya, banyak kasus perceraian yang mana jika anak ikut ibunya lalu sang ayah yang seharusnya masih berkewajiban menanggung anaknya, lama-lama jadi amnesia.
Terlebih kalau si ayah sudah punya istri baru.

Seorang janda, membesarkan anak (-anaknya) seorang diri, di tengah cemooh masyarakat (karena image janda yang buruk di mata masyarakat awam), ditimpali godaan lelaki-lekaki yang mungkin ada yang serius, ada juga yang iseng (karena image buruk yang tercipta).
Sekuat apapun mentalnya, lama-lama ada masanya mereka jadi lelah dan menyerah pada keadaan.

Dan di situlah muncul celah menjadi si pelakor!

Banyak sekali terjadi di dunia nyata, wanita-wanita yang memutuskan menyerah pada rumah tangganya karena sang suami tergoda wanita lain atau yang biasa disebut pelakor.
Lalu mereka memutuskan menjanda, eh ujung-ujungnya jadi pelakor juga hiks..
Meskipun mungkin caranya lain, tapi tetap saja di mata umum namanya pelakor.

Meskipun banyak juga yang tau diri, sebelumnya dia menjanda karena ulah pelakor, dan tiba-tiba jatuh cinta dengan suami orang, entah itu mantannya atau siapapun yang ngasih perhatian.
Dia gak mau merusak rumah tangga lelaki tersebut, namun mencintainya selalu..
*hadeeehhhh

Iyaaa.. saya sadar.. Cinta emang gak pernah salah, tapi taukah kita? kalau cinta juga kadang menjadi celah kita menjadi SETAN hahaha.

Memutuskan mencintai suami orang, namun tidak mengganggunya, tapi sering memikirkannya.
Adalah hal yang gak mungkin kalau kita gak sering stalking kehidupannya.
Lalu tiba-tiba kita melihat suami orang itu 'TAMPAK'nya gak bahagia dengan istrinya.
Lalu dia dengan sotoy nya menghakimi istrinya dan mulai berusaha membuat si suami orang itu nyaman padanya.
Lama-lama bisa ditebak!
Yaaa.... jadi juga deh sebagai pelakor!

Lalu bagaimana dong?
Cinta kan adalah perasaan? Gak bisa kita prediksi kapan datangnya?

Jawabannya menurut saya adalahh..
Mundurlaaahh.. mundurrrr sampai ke kasus sebelum terjadi perceraian.
Ya.. karena menurut saya itulah masalah utamanya.

Menikah atau berumah tangga menurut saya adalah perjuangan.
Yaaa.. karena hidup adalah perjuangan!
Termasuk memperjuangkan pasangan hidup kita agar kembali ke jalan lurus ideal versi bersama yang dibina sejak awal.
Itu pula pentingnya membicarakan visi dan misi pernikahan sebelum menikah.
Baca : Hal-Hal Penting Yang Harus Di Bicarakan Sebelum Menikah
Meskipun pastinya, dalam perjalanan pernikahan kita ada yang berubah, namun CINTA yang sesungguhnya adalah jika selalu ada yang berjuang mempertahankan ikatan saat yang lain ingin menyerah.
Berat memang, tapi itulah hidup.

Bagaimana caranya? banyak!
Namun yang terpenting adalah komunikasi, entah bagaimanapun bentuknya, komunikasi itu penting.
Jika komunikasi begitu alot untuk ketemu, carilah pihak ketiga yang recomended.
Sebijaknya hindari libatkan orang tua!

Eiitt jangan protes dulu..mending baca kisah ini..
Baca : Ario Kiswinar - Potret Seorang Anak Yang Menjadi Korban Dari Ego Kedua Orang Tuanya
Bisa cari pemuka agama yang netral atau cari lembaga penasehat pernikahan.
Mahal?
Tidak ada yang mahal untuk sebuah kebahagiaan rumah tangga.

Semoga kita semua, diberi kekuatan untuk saling mempertahankan ikatan suci pernikahan.

Kalau saya, sering menanamkan pada diri sendiri dan juga suami..
Nikah itu sulit! Mahal! Repot! Ribet!
Lah kok sekarang mau pisah?? hehehe

Karena mempertahankan pernikahan adalah salah satu ikhtiar MEMUTUS RANTAI PELAKOR.

Semoga bermanfaat

TPJ AV - 24 Februari 2018

Love

12 comments:

  1. Nggak kunjung selesai tuh ramainya jagad sosmed tentang pelakor. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang buruk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, tiap hari muncul kasus baru di timeline sosmed

      Aamiin, semoga kita semua dijauhkan yaaaa..

      Delete
  2. Betul sekali, Mbak..pastinya jadi janda itu nggak akan mudah. Semoga keluarga kita selalu dilindungi dari pelakor2..miris sekarang banyak kasus aneh2 gitu.. :(

    ReplyDelete
  3. Yang pasti si pelakor n laki2nya dua2nya sama aja. Ga mgkn pelakor itu sukses klo yg laki2 bisa menjaga hatinya. Nyatanya sekarang laki2 banyak yg ga punya iman. Lihat dada montok dikit aja udah lupa deh sama bini dirumah.

    ReplyDelete
  4. Halooo mbak Reyne. Makasih loh sudah mampir ke blog saya.

    Hmmm tentang pelakor ya?
    Perebut LAKI orang. Katanya sih gitu, maksudnya yg direbut ya LAKI orang. Tapi mah menurut saya celah pelakor itu hadir saat si LAKI mencari2 celah hal yg ga ada di istrinya atau ga bersyukur sama istrinya sekarang.
    Ya laki ga akan jg terebut kalo dia ga nyerah sama godaan di luar sana. Hihihi
    Itu sih menurut saya.

    ps. Makasih saran ttg template blog saya. Cuma... Saya jg ga ngerti ganti warna hurupnya. Maafkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga mba :)

      Bener banget, kalau saya tetep lebih nyalahin laki sih, lebih mudah menjaga laki, seorang saja soalnya, ketimbang melarang pelakor yang seabrek diluar sana hehehe

      Iya mba, semalam saya liat pakai HP ternyata masih lumayan eye catching blognya mba, cuman kemaren saya liat melalui laptop agak sulit bacanya soalnya tulisannya halus dan berwarna grey ya :)

      Delete
  5. Semoga keluarga kita dilindungi dari hal-hal yang gak baik gitu ya bun. Kalau saya pribady berusaha memberikan kebutuhan fisik dan psikologis suami serta titipapkan suami padaNya lewat doa. Paling ga kita pun berusha menjaga hubungan yg kuat dari dalam. Krna jika di dalamnya sudah kuat, sulit utk dimasuki oleh org lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin ya Allah, iya banget bun.
      Hanya Allah tempat berlindung dari godaan hal-hal buruk seperti itu di luar, kita gak bisa juga tiap saat ngekorin suami demi gak diganggu ya :)

      Delete
  6. Menikah memang tantangannya banyak mbak. Dan kadang, kita nggak bisa "taking for granted" pada pasangan kita. Nggak selalu harus dicurigai, tapi membangun komunikasi memperhatikan, benar-benar harus dilakukan.
    Duh, kalau denger kata pelakor, saya jadi pengen ngremes jilbab. Nggak ngerti apa yang diotak mereka :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mba, komunikasi itu kunci paling utama, kebanyakan juga pelakor berhasil menggaet suami orang gegara pandai mengimbangi komunikasi

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...