Thursday, February 15, 2018

Cerita Darrell Vaksin Difteri


Assalamu'alaikum :)

Baru tersadar akhir-akhir ini jarang menulis tentang kakak Darrell,  padahal kan blog ini juga memuat kisahnya.

Baiklah,  kali ini saya bakal bercerita mengenai drama vaksin Difteri pada kakak Darrell.
Seperti yang kita ketahui, beberapa bulan ini pemerintah lagi menggalakan vaksin Difteri gratis bagi masyarakat,  khususnya untuk anak di atas 9 bulan.
Mengingat beberapa waktu ini Indonesia lagi darurat Difteri.

Di sekolah Darrell juga mengadakan vaksin gratis yang bekerja sama dengan puskesmas Medaeng, Sidoarjo.

Dan..  di akhir bulan Januari kemarin,  datanglah pula surat keterangan adanya vaksin difteri gratis dari sekolahnya.

Saya yang masih trauma akan kejadian kakak Darrell yang demam tinggi saat dia suntik DPT 1 waktu bayi di puskesmas,  tentulah galau. Terlebih saat itu Darrell masih batuk pilek.

Dengan pertimbangan itu,  akhirnya saya memutuskan menolak Darrell
di vaksin saat itu dan memberikan alasan kalau dia lagi batuk pilek serta bakal vaksin sendiri ke puskesmas saat sembuh.

Bukan hanya saya,  di grup WA kelas Darrell para wali murid banyak yang galau, namun mereka tetap memaksakan anaknya divaksin di sekolah.
Padahal vaksin tersebut dilaksanakan hari Kamis,  dan hasilnya pada hari Jumat,  banyak anak yang gak masuk sekolah karena demam hehehe.

Saya sendiri sebenarnya bingung kapan akan mengantar Darrell untuk vaksin,  dan di mana hendak vaksin?
Kebetulan baby Adean harus imunisasi DPT 2 yang sudah ketunda melulu karena sedang batpil juga.
Baca : Mengatasi Batuk Pilek Pada Bayi 3 Bulan Dengan GADDD
Maka kami pilih Senin, 29 Januari untuk ke puskesmas dan sekalian Darrell juga vaksin difteri.

Tapi ternyata,  Darrell masih batuk dan pilek di hari Senin,  dan kembali kami galau karena hari Selasanya dia ada Evaluasi di sekolah.
Takut nanti dia demam dan gak bisa ikut evaluasi, akhirnya kami tunda di hari Jumat 2 Februari saja.

Dan,  akhirnya.. Hari Jumatpun tiba,  Darrell sebenarnya meminta saya menemaninya,  namun karena ribet plus takut bawa baby Adean di puskesmas dan antri lama (di puskesmas Surabaya gak perlu antri lama)
Baca : Menikmati Fasilitas Kesehatan Gratis Tanpa Antri
Akhirnya, setelah merayunya,  diapun rela berangkat ditemani papi saja.
Saya memilihkan puskesmas Medaeng saja,  karena selain  dekat dengan sekolahnya,  pun juga data sekolahnya tercatat di situ.
Sebelumnya saat vaksin DPT 2 baby Adean di Puskesmas Gayungan saya sempat nanya pada petugasnya,  apa boleh Darrell yang sekolahnya masuk wilayah Sidoarjo sedang KK kami Surabaya untuk vaksin Difteri di sana?

Ternyata petugasnya bingung dan mengatakan sebaiknya vaksin aja di puskesmas yang ada data sekolahnya,  biar lebih mudah pencatatannya.

Tak butuh waktu lama Darrell dan papi menunggu di puskesmas,  saat petugas puskesmas nya datang, kakak Darrell langsung di suntik.
Dan proud me,  dia gak nangis sama sekali,  padahal baca - baca di berbagai tulisan,  bahkan orang dewasa aja mengeluh kalau suntikan vaksin difteri itu sakit dan bikin tangan pegal berhari-hari.

Setelah vaksin,  dia langsung masuk sekolah, sebelumnya langsung di minumin sirup parasetamol agar bekas suntikannya gak terlalu mengganggu sakitnya.

Dan pas pukul 11.00 pulang sekolah, langsung saya sambut dengan memeriksa keningnya,  Alhamdulillah gak demam.
Saya lega dan membiarkannya sholat Jumat di masjid.
Sepulang masjid dia lalu makan siang,  ngerjakan PR kumon lalu tidur siang.

Sorenya sewaktu hendak mandi,  keningnya saya raba,  terasa normal.
Darrell pun tetap sholat Magrib dan ngaji di masjid.

Lega rasanya karena Darrell baik-baik saja,  bahkan saya tanya apakah bekas suntikan di lengannya sakit?
Katanya biasa saja.
Alhamdulillah..

Sampai akhirnya tengah malam pas si papi baru balik dari lembur,  saat hendak tidur seperti biasa dia memeriksa Darrell dan terkejut,  wah panas banget.

Saya ikutan meriksa pakai tangan,  dan menurut saya suhunya biasa saja.
Nantilah setelah di ukur pakai termometer dan ternyata..
39 DC sodaraaaahhh...

Usut punya usut ternyata saya sudah gak bisa familier dengan suhu normal kakak Darrell, karena keseringan gendong baby Adean yang memang sejak lahir suhu bagian kepalanya hangat banget.

Hiks sedih..

Terpaksa lah kami membangunkannya,  lalu diberi sirup parasetamol,  Sanmol.
Suhunya Alhamdulillah sedikit turun,  namun keesokan harinya naik lagi.
Padahal kami harus keluar karena waktunya belanja bulanan.

Kasihan kakak Darrell harus jalan-jalan padahal lagi demam.

Menjelang Sabtu malam,  suhunya mulai turun,  tapi batuknya kembali lagi.
Saya sudah mulai sedikit panik,  karena Senin nya kakak Darrell harus UAT atau Ujian Akhir Tema.

Alhamdulillah di hari Minggu,  suhu badannya mulai normal,  dan di Senin pagi sudah bisa masuk sekolah untuk mengikuti UAT.

Ternyataa...
Usia bukan balita tidak membuat kakak Darrell jadi kuat terhadap vaksin Difteri.
Makanya dulu waktu bayi dia cuman sekali vaksin di puskesmas,  selanjutnya sering ke dokter pakai vaksin DPT yang gak ada efek demam.

Aahh..  Semoga sehat dan kuat selalu kakak Darrell,  si mata bundarnya mami..

Para bunda ada yang belum vaksin Difteri?
Share di komen yuk.

Semoga manfaat.


TPJ AV - 15 Februari 2018

LOVE

REYNE RAEA

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...