Sunday, December 05, 2021

Vanessa Angel adalah Reyne Raea

Vanessa Angel adalah Reyne Raea

Ini adalah curhat panjang semata, skip aja karena unfaedah juga, hehehe.
Tulisan ini sebenarnya udah mau saya tulis sejak kemarin, saking baper ketika lagi ikut saling support like instagram, eh ternyata buka IG, kebanyakan isinya Almarhumah Vanessa beserta polemik keluarga sepeninggalannya.

Siapa sangka, hari ini juga dikejutkan oleh kabar tentang seorang mahasiswi bernama Novia Widyasari yang ditemukan tewas bunuh diri dengan menenggak sianida di makam ayahandanya.

Hal ini bikin semua rasa malas menulis saya beberapa hari belakangan ini menguap.
Tiba-tiba saya makin baper, karena merasa related banget dengan banyaknya kejadian viral belakangan ini.

Tentang Vanessa Angel yang pernah menjalani kehidupan sebatang kara tanpa dukungan keluarga.
Tentang tindakan bunuh diri Novia Widyasari karena depresi.

Saya seolah terdampar ke masa beberapa waktu silam, lalu mengorek kembali hal-hal yang saya tutupi selama ini dengan rapat.

Entahlah, begitu banyak yang ingin saya ceritakan, tapi bingung mulai dari mana?

Mungkin mulai dari menjelaskan, 

Mengapa saya bisa ada di posisi percobaan bunuh diri yang saya alami di tahun 2020 lalu.

Mengapa saya selalu blak-blakan membuka aib (kata orang aib, padahal kata saya, i need to talk about it!).

Mengapa saya begitu bodoh curhat di medsos?

Mengapa saya nggak curhat sama Allah saja?

Mengapa seolah suaminya ganteng dan kaya sekali, sampai-sampai mau bunuh diri karena suami?

Dan mengapa-mengapa lainnya?

Jawabannya, karena Vanessa Angel yang berjuang sendiri menghadapi kehidupan ini, adalah gambaran si Rey.
Dan suami Vanessa Angel adalah gambaran suami Rey.

Vanessa Angel pernah berkata, dia nggak tahu lagi mau gimana kalau Bibi (suaminya) nggak ada.
Karena di dunia ini, Bibi lah, satu-satunya keluarganya.

Yes, seperti itulah si Rey!

Honestly, saya nggak tahu mau ngapain, ketika suami berubah.
Karena di dunia ini, saya nggak punya keluarga sama sekali, selain dia.


Anak Kedua yang selalu Mengalah tapi tak dianggap


Setelah lulus STM, saya menganggur setahun karena menemani mama yang bersedih karena ditinggal adik saya berpulang ke Rahmatullah.

Saya bahagia banget kala itu, biarpun nganggur.
Karena meski adik saya udah nggak ada, tapi saya seolah menemukan kasih sayang orang tua.

Mama saya jadi lebih perhatian sama saya, bapak mah sejak ada adik saya juga masih tetap perhatian sama saya.
Tapi mama, sungguh mengabaikan saya ketika adik saya lahir (dalam perasaan seorang anak kayak saya ya, bukan berarti sama sekali mengabaikan kayak dibuang gitu).

Setahun nganggur, mama akhirnya kasian sama saya, ditawarinnya saya jalan-jalan ke Surabaya buat ikut UMPTN di Surabaya, dengan tetap memilih universitas di Sulawesi.

Tapi mungkin karena udah jodoh dan jalannya ya, saya malah nggak lulus, dan mama saya kasian, malah memperbolehkan saya kuliah di Surabaya, meskipun harus masuk perguruan tinggi swasta.

Senang banget dong saya.

Tapi siapa sangka, sejak kuliah, mama mulai kurang peduli lagi pada saya, lama baru terjawab, ternyata saat itu mama hamil lagi, tapi karena usianya udah di atas 40 tahun, jadinya kandungannya nggak kuat dan keguguran.

Selama kuliah, saya jarang banget bisa komunikasi dengan mama, kalau bapak mah nggak usah ditanya, saya memang selalu menjaga jarak dengan bapak, karena selalu mendengarkan keluhan mama tentang keburukan bapak.

Puncaknya, ketika saya akhirnya lulus.
Mama berharap saya pulang ke Buton.

Akan tetapi...
Saya sudah terlampau nyaman hidup di Surabaya.

I mean, bukan nyaman karena hidup mewah dan berkecukupan, bahkan bisa dibilang saya selalu kekurangan.

Uang kiriman mama hanya pas-pasan, bahkan kadang nggak cukup untuk bertahan sebulan.
Untungnya ketika kuliah, saya pernah dapat beasiswa.

Saya meminta waktu sebulan sama mama, untuk mencari kerja di Surabaya.
Kenyataannya, karena nggak ada restu orang tua, saya sama sekali nggak keterima kerja dalam waktu itu.

Akhirnya saya pulang ke Buton.
Sudahlah 'melelang' (baca: ngasih ke teman-teman) semua barang selama di Surabaya.
Untungnya sebagian, saya kasih si pacar, dan dibawa ke rumahnya.

Sampai di Buton, ternyata saya nggak betah.
Banyak hal yang mengusik kenyamanan hati, yang telah saya rasakan selama 5 tahun di Surabaya.

Salah satunya adalah, saya kembali dipertemukan dengan kondisi nggak nyaman, karena kakak saya merasa saya adalah sosok yang merebut kasih sayang kedua orang tua.

Sementara saya, merasa kalau justru saya selalu dinomor duakan sejak dulu, bahkan semasa adik masih ada, saya adalah anak tengah yang 'nggak keliatan'.

Masalah lainnya adalah, saya merasa nggak nyaman digangguin melulu oleh seorang lelaki, yang memang sudah menyukai saya sejak saya belum ke Surabaya.

Alhasil, saya putuskan mau kembali ke Surabaya.
Tentunya dengan aksi ngambek.

Dan akhirnya mama membolehkan saya kembali ke Surabaya.
Tapi siapa sangka, sepertinya sejak saat itu, mama sudah menganggap saya enggak ada lagi, setidaknya di hatinya.
Meskipun tidak pernah diungkapkan dengan kata-kata.


Sebatang Kara Bertahan di Surabaya


Saya kembali ke Surabaya tanpa perbekalan sama sekali, hanya membawa kembali perangkat komputer saya.
Mama hanya memberikan uang secukupnya beserta membelikan tiket kapal buat saya.

Dan mulailah perjuangan saya, sebatang kara di negeri orang.

Saya pikir, setidaknya mama nggak akan tega membiarkan saya seorang diri di daerah orang, tanpa support sama sekali.

Saya anak perempuan loh, baru lulus kuliah, belum punya pemasukan sama sekali.
Tapi mama tega nyuekin saya.

Shock banget ketika sebulan kemudian, rekening saya tetap kosong, mama nggak mau lagi kirimin duit.
Bukan hanya itu, belakangan saya baru tahu, kalau mama sengaja melakukan hal itu, agar saya menyerah dan mau pulang.

Kenapa nggak ngomong langsung sih kalau keberatan?

Saya tetap bertahan, dan siapa yang ada saat itu?
Yang pontang panting membayarkan sewa kos saya?

Siapa lagi kalau bukan si pacar.

Masalahnya adalah, saat itu si pacar bahkan belum lulus kuliah, nggak punya pemasukan sama sekali.
Si pacar bahkan rela menjual motornya demi membayar biaya hidup saya.

Hal itu berlangsung selama setahun.
Iya, saya nganggur selama setahun.

Selama setahun itu, nggak usah nanya bagaimana kondisi saya.
Masih hidup aja syukur.

Stres, merasa terbuang oleh keluarga, mama sama sekali nggak pernah nelpon saya, padahal saya rajin ngirim surat, kasih tahu kabar dan lengkap dengan nomor telpon kos saya.

Saya tak meratapi mama tega nggak ngasih uang lagi dengan sedalamnya sih.
Yang saya ratapi adalah, udahlah tega membiarkan anak perempuan hidup sendiri di negeri orang.
Tapi juga nggak mau doakan dan restui saya bisa segera mandiri.

Saya kesulitan mendapatkan pekerjaan, sampai setahun lamanya.
Dan itulah mengapa saya katakan kepada diri sendiri, bahwa....

Di kemudian hari Rey, sebagaimana kecewanya dirimu kepada anakmu.
Restuilah anak-anakmu, Rey.
Doakan dia.

Karena Restu dan doa ibu itu luar biasa dahsyatnya.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa sih menyalahkan mamanya, sementara saya sendiri yang memaksakan diri kembali ke Surabaya?

Ya karena mama nggak pernah menahan saya untuk jangan balik ke Surabaya.
Dan bertahun kemudian, setelah saya menikah dan punya anak, mama baru jujur bahwa dia sengaja membiarkan saya sendiri tanpa uang di Surabaya, biar saya kapok, hiks.

Hati saya sedih banget dengarnya.

Tega banget seorang ibu sengaja membiarkan anak gadisnya seorang diri.
Masih untung saya nggak jadi pelacur, demi bertahan hidup, hiks.

Saat itu, saya sudah berhubungan selama 4 tahun dengan si pacar, dan setelah sebatang kara bertahan di Surabaya, dialah satu-satunya yang berdiri di depan saya.

Dia yang selalu mengantarkan saya makanan, karena saya nggak punya uang sepeserpun buat makan.
Kalau dia punya uang sedikit, dia pasti mengajak saya makan di luar, kalau enggak, dia yang nganterin makanan dari rumahnya.

Demi mengurangi rasa malu saya yang dibiayain oleh si pacar, saya akhirnya membantunya mengerjakan skripsinya yang tak kunjung selesai.

Bahkan bisa dibilang, seluruh isi skripsinya, saya yang kerjain, nggak heran dia harus mengulang sidang 2 kali, saking yang pertama nggak lulus oleh pertanyaan dosen.

Ya iyalah, gimana bisa jawab, orang yang ngerjain saya, hahaha.


Akhirnya Dapat Kerjaan dan Mudik Pertama Kalinya dengan Uang sendiri sambil Kasih Hadiah ke Mama


Setahun lamanya saya menganggur, selama itu pula saya nggak pernah lagi bisa berkomunikasi dengan mama, kakak, apalagi bapak.

Sampai kahirnya saya dapat kerja, meski gajinya sukses bikin saya menjerit malam-malam di jalanan Surabaya saking stresnya.

Iya, saya keterima kerja dengan gaji di bawah UMR.
Namun saya tetap terima, mulai bekerja dengan giat, dan Alhamdulillah dalam beberapa bulan saya pindah kerja di proyek dengan gaji yang lebih lumayan.

Dengan gaji itulah, saya akhirnya bisa mudik, dengan memakai uang sendiri.
Baik beli tiket, beli oleh-oleh dan hadiah buat mama yang saya belikan HP buat bisa komunikasi dengan saya.

Mama menyambut saya dengan biasa saja, bapak begitu gembira, sampai-sampai saya digendongnya, hiks.

Tapi dasar hati saya memang udah tertutup buat bapak, saya acuhkan perhatian bapak dan fokus ke mama.

Meskipun akhirnya saya mencelos sendiri, ketika mama dengan tegas bilang, kalau dia hanya pengen saya cepat nikah, dia mau biayain nikah saya, namun itu yang terakhir mama mau biayain saya.

Setelah itu, mama juga berpesan, kalau nanti setelah menikah dan punya anak, mama nggak mau sama sekali diminta jagain cucu, karena mama mau istrahat, hiks.

Sungguh saya baper dengan ibu teman-teman saya, yang malah mengajukan diri buat jagain cucu, agar anaknya bisa bekerja dan mandiri financial, huhuhu.

Dalam kepulangan saya tersebut, makin besarlah keputusan saya untuk nggak bisa tinggal dekat orang tua maupun saudara saya di Buton, karena kakak saya ternyata malah jadian dan menikah dengan lelaki yang selama ini saya hindari dan bikin nggak nyaman ketika saya di Buton.

Dan, hati saya bisa merasakan, kalau si lelaki yang akhirnya menjadi kakak ipar saya itu, sama sekali belum melupakan saya.

Saya merasa, memang udah jalannya saya mengalah, pergi jauh dari kehidupan orang tua dan keluarga, melepas semua perhatian orang tua untuk kakak saya.
(Kakak saya juga punya masalah mental terhadap orang tua, karena waktu kecil, kakak malah dititipkan di rumah tante, kakaknya mama).

Selain itu, saya bakalan membuat hubungan kakak dengan suaminya jadi runyam, kalau saya berada dekat dengan mereka.
(Ini terbukti, sampai saat ini, tapi tak perlulah saya ceritakan, demi keutuhan kebahagiaan kakak saya).


Menghadapi Badai Kehidupan Seorang Diri


Singkat cerita, saya akhirnya menikah dan dibiayain sama mama.
Setelah menikah, ternyata mama membuktikan kata-katanya.

Sampai setelah mama pensiun pun, dia ogah diminta jalan-jalan ke Surabaya, (hanya datang ketika pertama kali saya melahirkan sesar, karena di keluarga kami, sesar adalah tindakan paling menakutkan, karena lainnya lahiran biasa aja).

Padahal ya, saya sama sekali nggak berniat meminta mama jagain anak-anak saya.
Justru saya ingin agar mama jalan-jalan ke sini, menikmati masa pensiun selama sebulanan kek.

Kalau mama betah, dia bisa tinggal di sini, kok.
Nyatanya, sama sekali dia nggak mau, entahlah takut disuruh jaga cucu, huhuhu.

Karena mama nggak mau ke sini, sayalah yang selalu tertekan mengumpulkan uang dan pengennya 2 tahun sekali setidaknya bisa pulang menjenguk orang tua.

Masalahnya adalah, saya udah nggak bisa kerja lagi, semua pemasukan dari pak suami.
Terlebih ketika akhirnya pak suami mengalami masalah financial, jadilah 5 tahun saya nggak bisa pulang menjenguk orang tua.

Selama 5 tahun itu, saya sama sekali nggak pernah bisa berkomunikasi dengan mama.
Mama selalu nggak mau mengangkat telepon saya, bahkan sekadar menjawab sms saya.

Sampai akhirnya pandemi melanda, hubungan saya dengan paksu menjadi makin nggak karuan.
Saya sama sekali nggak punya tempat bercerita lagi.

Seolah saya kehilangan pegangan.

Bagaimana bisa saya berpegang?
Sementara selama ini pak suamilah tempat saya berpegang dalam segala keadaan.

Dialah satu-satunya keluarga saya sejak tahun 2001.
Sejak mama perlahan mulai seolah melupakan saya dan kembali fokus ke kakak saya.

Sejak saya yang baru setahun merasakan kasih sayang mama, selepas adik meninggal.
Lalu harus merelakan, semua kasih sayang itu tercurah ke kakak saya aja.

Saya nggak punya siapa-siapa.

Punya beberapa teman sih, tapi we know kan ya, setelah menikah, kita nggak akan bisa sedekat dulu sebelum masing-masing belum menikah.

Bisakah Temans membayangkan, mengapa saya akhirnya berpikir pengen mati saja?
Meski dalam hati saya juga nggak yakin, karena keingat anak saya ada dua?

Lebih sedih lagi ketika saya akhirnya curhat ke media sosial, atau di blog, banyak yang komen atau juga DM.
"Rey, jangan menyerah, pulanglah ke rumah orang tuamu! untuk apa menangisi lelaki nggak pantas ditangisi itu?"
Saya makin sedih dan nangis, bagaimana enggak?
Saya nggak sanggup menjelaskan, kalau saya nggak punya keluarga lagi.

Saya masih sering bisa menghubungi kakak, tapi seperti biasa, yang jadi alasan mengapa saya memilih mengalah dan pergi dari keluarga, karena saya nggak tahan dengan karakter kakak saya.

Alih-alih mau mendengarkan curhatan, yang ada saya malah dimarahin balik.
Diungkit-ungkit siapa suruh pilih lelaki itu.

Andai saya tega untuk membalasnya,
"Kalau saya nggak milih lelaki ini, manalah mungkin kamu bisa nikah dengan suami idamanmu?"

Nelpon mama, nggak digubris, smspun nggak terbalas.

Itulah mengapa saya tulis di facebook curhatan saya.
Selain saya butuh release semua beban hati yang sungguh nggak sanggup lagi rasanya saya hadapi, juga saya ingin agar keluarga saya tahu cerita saya, kabar saya.

Agar nantinya, kalau beneran saya menemui akhir hidup karena depresi ini, keluarga saya tahu penyebabnya.

Lalu gimana orang tua saya setelah mengetahui kabar saya yang depresi?

Mama saya histeris, bukan histeris karena sedih sayanya bermasalah, tapi dia histeris, karena saya mempermalukan keluarga dengan mengatakan saya gila dan depresi.

Beeberapa teman saya yang tahu kabar saya di facebook, datang ke rumah saya memberitahukan keadaan saya, dan mama kesal banget mendengarnya.

Mama lalu menelpon kakak saya untuk menyampaikan ke saya, agar saya jangan ngasih kabar ke mama lagi.
Terserah saya mau ngapain, mereka nggak peduli.
Kakak saya bahkan ikut marah dengan tindakan saya curhat di medsos karena mempermalukan keluarga saja katanya.

Can you imagine that?
Bagaimana saya bisa mengabaikan kisah Vanessa Angel yang seorang diri diterpa masalah, dan nggak ada seorang pun keluarga yang membelanya?

Tidak!
Saya sangat mengerti perasaannya.
Sangat mengerti bagaimana kalutnya dia saat itu.

Sedihhh banget.
Sedih banget, ketika kita sudah mengambil keputusan untuk melindungi orang tua dan saudara, tapi malah dikapok-kapokan.
Sedih banget, ketika tidak dianggap ada lagi.


Reyne Raea si Anak Yatim yang Menjadi Yatim Piatu 


Tapi, di tengah rasa putus asa dan depresi saya, Allah kirimkan hal baik, saya diizinkan-Nya bisa pulang menjenguk orang tua yang sudah 5 tahun tak pernah saya jenguk.

Meski akhirnya saya harus pulang dengan membawa luka baru.

Iya, ternyata kepulangan saya adalah kesempatan terakhir melihat bapak saya, karena akhirnya beliau berpulang setelah 12 hari saya bersamanya.

Dan sedih tak terkiranya lagi, setelah bapak pergi, saya baru sadar, betapa orang yang sangat mencintai saya selain si pacar adalah, bapak saya.

Sakit banget mengetahui hal itu, setelah bapak udah nggak ada.
Beneran!

Dan sedihnya lagi, saya baru tahu, kalau status saya yang anak yatim ini, udah jadi kayak yatim piatu, karena mama udah bener-bener nggak peduli sama saya.

Jadi ceritanya, saya memang nggak pernah akur dengan kakak saya, saya nggak tahan dengan sikapnya yang terlalu menguasai semuanya, mendikte semuanya.
Ternyata hal itu menurun ke anak-anak kami.

Astagaaa...
Si adik sama sekali nggak bisa akur dengan anak bungsu kakak saya, berantem melulu.
Sampai akhirnya saya nggak tahan lagi, saya meledaklah.

Eh kakak saya juga ikutan ngomel, mama saya membela kakak saya dengan suksesnya.

Dan begitulah, saya udah nggak sanggup lagi, langsung angkat tas menginap di hotel, nelpon pak suami minta pulang secepatnya.
Dan ternyata, mereka semua setega itu.

Saya dibiarkan pulang sendiri, ke bandara sendiri bersama anak-anak.
Setengah mati saya menahan air mata di bandara, karena mengingat, jika bapak masih ada, dia akan marah besar kalau mama membiarkan saya pulang sendiri tanpa diantar di bandara.

Bahkan ketika bapak sakit dan tahu saya akan datang, bapak sedih karena nggak bisa menjemput saya di bandara, meski di depan mama dia bilang kalau seharusnya saya nggak usah datang lagi.

Dan beginilah, hingga hari ini, saya nggak bisa memperbaiki hubungan dengan mama, apalagi kakak saya.
Saya rutin sms, rutin kirimin uang meski nggak bisa sebanyak pemeberian kakak saya yang memang bekerja di luar rumah.

Tapi, kabar yang ada hanya menambah sakit dan sedihnya hati.

Beberapa hari lalu, saya menghubungi kakak ipar (hanya dia satu-satunya penghubung saya untuk mengetahui kabar mama), yang ada saya mati-matian tertawa menahan air mata, memperlihatkan kepada kakak ipar, kalau saya baik-baik saja.

Tapi hati saya penuh luka menganga, ketika mendengar kabar, kalau mama sudah memperbaiki makam dan membelikan papan nama makam bapak.

Padahal, dari jauh hari saya udah berpesan, kalau mama jangan dulu pasang papan nama bapak, karena saya udah beli di Surabaya, udah ada malah di rumah ini, udah saya kirimkan fotonya melalui kakak ipar saya.

Tapi mama nggak peduli, dia malah pesan di sana, dan langsung dipasang.

Sumpah ya, pengen rasanya mengubah papan nama makam ini menjadi Reyne Raea binti Arsyad Raea, mungkin dengan itu mama akan puas, anaknya beneran tinggal satu, huhuhu.

Demikianlah, kisah Reyne Raea, si anak yatim yang sepertinya udah jadi anak yatim piatu sebatang kara pula.
Can you imagine, bagaimana sedihnya sedih dan sepinya hati ini?

Saya tak punya siapa-siapa lagi.
Sebatang kara di dunia ini.

Suamipun sudah tak seperti dahulu, terlebih sekarang kami LDM dalam jangka waktu lama.
Bagaimana saya nggak baper baca kisah-kisah Vanessa Angel yang pernah berjuang sebatang kara?

Ah Vanessa, setidaknya Allah memberikanmu Bibi yang menyertaimu sampai ke pangkuan-Nya.

Sampai bertemu di curhatan lanjutannya.

Sidoarjo, 04 Desember 2021

16 comments :

  1. Duh, ananda Rey ... Pilu hati ini membaca kisahmu. Curhat ke bunda saja, Nak.

    ReplyDelete
  2. sad story mbak, terbawa alur dari awal sampe akhir

    ReplyDelete
  3. Pilu hati ini membaca tulisan bunda Rey, tenang bunda Rey?? Bunda Rey tak sendiri kok masih banyak orang diluaran sana yang juga pernah menggalami problemik seperti itu. Dan, saya nyakin masih banyak orang yang peduli denganmu bunda ?? Percaya itu . πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    ReplyDelete
  4. Peluk Rey dulu πŸ€—πŸ€—πŸ€—... Aku yakin pasti ada penyebab yg memang kamu sembunyikan Krn tidak mau menyebarkan LBH banyak rahasia kluarga, penyebab yg bikin hubungan kalian seperti ini. Dan setelah baca ini, jadi ngerti banget Rey. Sebagai temen Maya, cuma bisa support, supaya Rey selalu kuat dan jangan pernah merasa sendiri. Curhatlah di medsos, kalo memang bisa bikin kamu lega. Masih banyak kok temen2 di sini yg aku yakin tidak akan menjudge sembarangan πŸ€—

    ReplyDelete
  5. Aku tidak bisa komentar apa-apa selain sabar ya mbak. Cuma bisa mendoakan semoga hubungan mbak dengan mamanya suatu saat bisa baik lagi. Sedih memang kalo dicuekin atau bahkan dianggap sudah tidak ada sama orang tua sendiri.

    Menurut ku tidak apa-apa curhat di sosmed jika itu membuat hati lega, aku yakin mbak bisa memilih mana yang pantas dibagikan dan mana yang tidak.

    Tetap semangat mbak, banyak teman yang peduli kok. Jadi jangan merasa sendiri.

    ReplyDelete
  6. Mbak Rey, peluk dulu sini peluk. Jarang2 aku mau baca cerita yg panjangnya segini, tp kali ini aku bca detil banget.

    Mbak Rey nggak sendiri kok, ada teman2 dunia maya yang setidaknya bisa kasih support, aku jadi paham bgt kenapa mbak Rey blak2an cerita tentang keluarga di sosmed, peluk lagi mbak.

    Kalau aku ada di posisi mbak Rey, belum tentu loh aku bisa sekuat mbak Rey, jgn2 aku udah mengakhiri hidup dari dulu hahahha.

    ReplyDelete
  7. Peluk erat mba Rey...
    Aku terbawa sedih baca ceritamu mba..
    Aku yakin, mba Rey kuat. Buktinya sampai saat ini mba bisa bertahan lewati badai meski berat...
    Masih ada temen2 yg baik yg sll mau dengar curhatan mba. Terlebih, kekuatan besar yg Tuhan selalu kasih untuk mba dpt bertahan dan hadapi semua itu.

    Ayo semangat mba, masih ada 2 jagoanπŸ₯°
    Mereka ada utk mba, n mba ada utk mereka.

    Big hugπŸ’•

    ReplyDelete
  8. *hugs mba Rey*

    It's okay banget share stories di blog mba, especially jika itu salah satu jalan yang membuat mba Rey bisa rilis beban di pundak. At least, sama seperti kata mba Fanny, ada banyak teman blog yang nggak akan judge mba Rey sembarangan πŸ’•

    Saya doakan semoga mba Rey bisa diberi kekuatan untuk menjalani hidup yang terkadang berat, dan semoga Tuhan berikan jalan atas setiap permasalahan yang mba Rey punya ~

    Much love, mba 🧑

    ReplyDelete
  9. Kak Rey, I'm sorry to hear this 😭 kirim peluk untuk Kakak!! Kakak strong banget karena bisa melalui semuanya sampai titik ini 😭 Kak Rey hebat! Yang sabar dan yang tabah ya Kak 😭 semoga cepat dibukakan pintu silahturahmi yang baik antara Kakak dan Mama πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»

    ReplyDelete
  10. Tadinya cuma mau numpang lewat...Eeh lihat judul aneh saya sempat terpaku berjam-jam sambil membaca.😳😳 Ooh! Kirain nyonya Rey ingin jadi artis seperti Vanesa, Ternyata Curhatan toh!! Eehh ini beneran 100% Curhatankan.😁

    Begini kalau menurut saya nyonya, Mungkin apa yang kamu alami terhadap ibumu, Kakak atau keluargalah. Ada satu hal atau keinginan yang bersebrangan baik dirimu dan ibumu, Karena perbedaan itu jauh meskipun sama2 baik yaa tetap selalu tak pernah ada jalan keluarnya. Masing2 akhirnya hanya bisa memendamnya dalam hati.

    Sang orang tuamu, Punya dogma sendiri terhadap semua anak2nya. Siapa sangka sebagian anak ada yang tidak suka dengan hal tersebut. Karena itulah bagi orang tua suatu bantahan yang tidak mengenakkan. Meski sejujurnya sang anak tidak demikian. Seolah semua ada kesan tarik-menarik, Saling rindu, Dan kadang benci terhadap orang tua kita sendiri.

    Intinya begini saja nyonya, dirimu sebagai anak yang bisa dikatakan sekarang sudah jadi orang tua juga. Apapun yang terjadi pada dirimu tetap Doakan saja untuk orang tua kita yang terbaik... Meski pada kenyataannya yang kita dapatkan dari ortu kita tak sesuai dengan yang kita harapkan...Sabar dan ikhlaskan semuanya...Karena dengan begitu Insyaallah kitapun akan didoakan dengan anak2 kita nantinya. Karena kebaikan serta keikhlassan dan doa bisa menolong kita, Meski kita sebatang kara atau jauh dari orang tua. Terbukti apa yang kamu alami dikota Surabaya masih bisa membuat dirimu bernafas segar meski selalu ada beban yang selalu mengganjal dihati.

    Dan perlu diingat juga setiap orang punya masalah dalam kehidupannya, Meski berbeda-beda setidaknya hal itu bisa meyakinkan bukan hanya dirimu saja yang bermasalah.. Yaa sebagai contoh berita2 yang sedang viral sekarang ini.

    Dan saya percaya dirimu pasti tahu dan mampu menghadapi semuanya...Jadi apapun ganjalan kita terhadap ortu atau saudara lainnya jangan sampai putus atau bersumpah tak ingin mengakuinya. Saya pribadi pun pernah mengalami seperti yang dirimu alami...Meski penanganan laki2 dan perempuan berbeda namun ujungnya tetap sama yaitu mencari kedamaian hati serta kebahagian dengan keluarga.πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sungkem pak ustadz satria atas sarannya.πŸ˜€πŸ™

      Delete
  11. Mba Reyyyy πŸ€—πŸ€—πŸ€—

    Semoga mba tetap kuat untuk menghadapi semuanya yaa Mba. Gapapa banget kalau cerita di blog ini, toh meringankan perasaan mba agar tidak terlalu menumpuk. Semoga segera menemukan titik terang dan Mba bisa merasakan lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  12. kirim peluk buat mba rey
    i feel you mbak
    tetep mendoakan untuk almarhum bapak dan ibu. Dan aku yakin sama seperti temen temen yang lain, mba rey strong woman. Bisa bisaa
    dan perlahan aku harap suasana segera membaik ya mba

    ReplyDelete
  13. Memang menyedihkan rasanya bila orang tua tidak memahami kebutuhan psikis anaknya ya. Apalagi bila curahan kasih sayang yang berbeda-beda. Kalau saya baca sebetulnya ibunya mbak Rey sudah "ditegur" oleh yang di Atas, sayang maknanya tidak dipahami beliau hingga semuanya sudah terlambat. Mungkin nggak ibu mbak juga sebetulnya memendam depresi juga karena selama ini merasa harus merawat anak-anaknya sendirian tanpa dukungan suami, sehingga yang ada kelelahan jiwa dan menolak direpoti anak-anak saat menua?

    Sekedar share saja yang mbak Rey alami sebetulnya dialami hampir semua anak-anak muda di negara Barat, dimana saat usia sudah cukup, mereka harus mandiri dan kalau bisa harus mencari uang sendiri. Bedanya tujuan ortu mereka adalah mendidik bukan semacam punishment. Sehingga anak punya kebanggaan serta rasa PD yang tinggi saat "berhasil". Hal semacam itu membuat mbak Rey menjadi wanita yang kuat dan mandiri sejak dini. Semoga mbak bisa merasa lebih nyaman saat mendengar di luar sana banyak yang mengalami proses serupa. Mungkin termasuk Vanessa Angel, di akhir hayatnya VA sendiri sudah sempat berdamai dengan keluarganya. Menjadi manusia yang lebih baik.

    Soal orang tua, ya bagaimana susah diubah, semoga bisa selalu melihat ke depan, menjaga amanah terutama anak-anak serta memutuskan trauma masa lalu. Karena pola asuh orang tua akan menurun ke anaknya tanpa disadari (itu penyebab kenapa tiba-tiba seorang anak mirip kakek atau nenek atau ayah ibu) yang demikian harus diputuskan jika tidak menginginkan kesalahan yang berulang dan diwariskan.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top