Sunday, May 30, 2021

12 Hari Terakhir Bersama Bapak

12 hari terakhir bersama bapak

Sharing By Rey - Saya semakin menyadari, bahwa setiap manusia itu punya keberuntungan dan rezekinya masing-masing, dan rezeki itu beragam bentuknya.

Dan salah satu keberuntungan saya adalah, masih dipertemukan saya bersama bapak, di 12 hari terakhir hidupnya. Meskipun, 12 hari itu sangat tidak maksimal buat saya, hiks.

Duh nyiapin hati banget dah saya nulis ini, karena jujur ini menyesakan.
Meskipun saya selalu berusaha melihat dari sudut pandang positif, yaitu keberuntungan saya bisa menemani bapak di waktu-waktu terakhir hidupnya.

Oh ya, buat yang belum tahu, bapak saya sudah berpulang tanggal 10 Mei lalu, 3 hari sebelum lebaran.
Yang sukses membuat kami melewati masa lebaran dengan nyesek.

Meskipun hati campur aduk banget, di mana udah berusaha mengikhlaskan kepergian beliau, karena bapak juga udah lelah menahan sakit, sejak Januari 2021.


Bertemu Bapak Kembali Setelah 5 Tahun Berpisah


Saya sampai di rumah ortu di sore hari tepat waktu berbuka puasa, tanggal 28 April lalu.
Rumah ortu memang jauh dari bandara, butuh waktu hampir 2 jam berkendara mobil.

Sesampainya di sana, rumah ortu terlihat lengang dan sepi.
Saudara sepupu yang menjemput saya lalu memanggil mama dan bapak, yang segera disambut mama di pintu samping bagian belakang.

Mama terlihat sehat, meski wajah dan tubuhnya lebih dimakan usia ketimbang 5 tahun lalu saya melihatnya.
Setelah salim, segera saya menanyakan bapak, dan oleh mama saya diantar ke kamar bapak di bagian belakang.

Dan saya terkesiap.
Astagfirullah..
Bapak udah terlihat tua banget.

Seketika hati terpotek rasanya.
Bapak saya adalah seseorang yang selalu semangat, jarang sakit, meskipun gaya hidupnya sejujurnya nggak sehat.

Beliau juga sangat memperhatikan penampilannya.
Karenanya saya shock banget, melihat bapak yang sudah terlihat kayak kakek-kakek hampir ratusan tahun.

Badannya kurus kering, rambutnya menipis dan memutih, tubuhnya lemah banget.
Ya Allah.
Bapak terlihat gembira menyambut saya, meski hanya sebentar, karena kembali dia mengeluh tentang perutnya yang sakit tak tertahan.

Kata mama, bapak nggak bisa makan sejak bulan Januari, semua makanan yang ditawarkannya, sama sekali nggak bisa masuk melalui lehernya.
Bahkan mencium baunya aja, bapak bisa muntah, tapi nggak ada yang keluar dari muntahannya, saking nggak ada lagi isi perutnya.

Saking kasihan melihatnya, kakak saya berinisiatif memasangkan infus saja.
Karenanya, kulitnya jadi terlihat sedikit bercahaya, meski tetap saja lemas.


Penyakit Yang Diderita Bapak


Saya lalu bertanya pada mama, sebenarnya bapak sakit apa?
Kata mama banyak, dan salah satunya bapak menderita TB.

Mama juga berpesan, agar berhati-hati menjaga anak-anak saat di dekat bapak, karena TB itu menular.
Hadeh, seketika saya jadi parno juga, karena si kakak juga pernah mengkonsumsi obat TB karena over diagnosa seorang professor dokter anak *sebel kalau ingat! 

Jadi kejadiannya bermula ketika bulan Januari 2021 bapak mengeluhkan kalau kehilangan indra pengecapannya.
Tapi, karena kebanyakan orang sana nggak percaya dengan Covid-19, akhirnya sama sekali nggak diperiksa apalagi di swab.

Terlebih, kami memang udah terbiasa, sejak dulu kalau sakit nggak pernah ke dokter atau RS, kecuali memang urgent banget.
Seringnya, dokter yang datang periksa di rumah, hahahaha.

Karena dulu memang mama kerjanya di Puskesmas, bahkan sekarang mama udah pensiun, kepala puskesmasnya masih saudara kami.
Jadilah semua pengobatan di rumah.

Setelah kejadian itu, bapak sempat beberapa kali kehilangan kesadaran ketika sedang di rumah teman-temannya.
Sayangnya, saking bapak sukanya bercanda, kebanyakan orang menganggap beliau bercanda, hiks.

Nantilah setelah itu, kondisi bapak semakin menurun, mulai nggak bisa makan, batuk berkepanjangan, semua makanan hanya mau dirasakan sekali saja.
Setelah itu, dia nggak mau lagi.

Akhirnya oleh kakak, di bawa ke RS Palagimata BauBau buat periksa.
Bapak di rontgen, dan juga di swab.
Saya juga nggak jelas hasilnya, tapi menurut laporannya, ditemukan virus covid-19 namun udah nggak aktif.

Jadi, ada kemungkinan, bapak awalnya terkena Covid-19 yang sukses mengobrak abrik organ dalam tubuhnya, sehingga menjadi penyebab parahnya semua penyakit yang ada di tubuhnya.

Hasil rontgennya sungguh mencengangkan, paru-parunya rusak parah, bahkan nyaris hilang separuh.
Nggak heran sih ya, bapak adalah seorang perokok aktif parah, dan suka minum minuman keras.

Yup, mungkin ini terbaca aib buat Temans yang baca, tapi insha Allah maksud saya membagikan cerita ini, agar Temans bisa mengambil pelajaran penting, betapa rokok itu amat sangat membunuh, ditambah alkohol, kelar sudah.  

So Temans, jangan pernah kalian berpikir untuk berhenti merokok dan minum alkohol.
Tapi berhentilah sekarang juga!

Selain itu, ditemukan juga bakteri TB, yang terpaksa membuat bapak harus mengkonsumsi obat TB rutin selama 6 bulan ke depan.

Dan siapa sangka?
Obat TB itulah yang membuat bapak semakin menurun kondisinya.

Ketika saya tiba di tanggal 28 April lalu, bapak baru saja mengkonsumsi obat tersebut selama 7 hari lamanya, tapi efeknya sungguh bikin sedih.

Bapak sampai gemetaran dan nyaris pingsan setiap kali habis minum obat tersebut, karena dosisnya memang tinggi banget, dan juga bapak udah nggak bisa makan makanan apapun, bahkan minumpun dikit.

Kakak Darrell juga pernah minum obat tersebut, dan sukses bikin rambutnya rontok dong.
Duh pokoknya sakit hati banget ingatnya, karena si kakak dikasih resep obat itu, tanpa pemeriksaan lengkap kalau si kakak benar terkena TB.

Duuuhhh pengen cabut rambutnya si profesor itu rasanya.
Ups, santai Rey, back to topic!  

2 hari saya di rumah bapak, saya kasian liat mama yang nggak bisa istrahat, harus stay mulu dekat bapak, karena bapak ke mana-mana kudu dibantu pegangin botol infusnya.
Akhirnya saya sarankan ke mama, agar dibuka aja infusnya, dan kita maksa bapak makan apapun yang dia mau, nggak ada pantang sama sekali.

Bapak terlihat gembira, ketika infusnya dibuka.
Ternyata, aslinya bapak nggak suka diinfus, tapi dia nggak berani nolak kakak saya.

Bapak awalnya mau makan sedikit, minta saya bikinin Indomie rebus, di makan meski nggak habis.
Namun, menjelang beberapa hari, balik lagi bapak nggak mau makan lagi.
Apapun yang kami tawarkan, bapak hanya bisa mencicipi secuil, lalu nggak mau lagi.

Bukan hanya itu, tubuhnya terasa panas banget, membuat bapak nggak mau pakai baju meski malam hari.
Padahal ya, di rumah ortu itu, siang panasnya menggigit, malam dinginnya juga menggigit.

Setiap malam, bapak meringis kesakitan, perutnya melilit, dan lalu meminta saya memijat kakinya setiap malam tiba.


Penyesalan Tak Memanfaatkan 12 Hari Terakhir Dengan Baik


Waktu bapak meninggal di tangan saya secara mendadak, saya tak bisa menangis layaknya saya.
Iya, saya yang panikan, saya yang cengeng, saya yang drama queen.
Harusnya kan saya nangis histeris ya.

Hari terakhir bapak

Tapi enggak dong, saya cuman meneteskan air mata, lalu sibuk nelponin keluarga satu-satu.

Banyak yang bilang saya kuat, dan sejujurnya, saya merasa sepertinya saya memang kuat, karena terbiasa menjalani hidup yang berat.

Tapi itu salah.
Jauh di dalam hati saya, remuk redam.
Sedihnya nggak bisa hilang, bahkan sampai saya menuliskan cerita ini, air mata saya tumpah lagi, meski tanpa suara.

Banyak hal yang berkutat dalam kesedihan saya.
Sedih karena saya tak punya bapak lagi.
Bapak yang meskipun di belakang saya mungkin marah dan bilang saya nggak perlu pulang ke sana lagi, ketika dengar kabar saya akan pulang.

Tapi saya tahu bapak sangat menyayangi saya, menyayangi dengan tindakan dan usaha nyata.
Dengan harapan yang ternyata sia-sia.
Harapan melihat saya bisa jadi orang hebat, karena sejak kecil saya adalah gadis kecilnya yang pintar dengan prestasi nilai-nilai pelajaran yang selalu bikin beliau bangga.

Sayangnya, gadis kecilnya ini tumbuh pintar tapi kekurangan cinta nyata, jadinya ketika ketemu cinta lelaki, langsung kabur memilih cinta itu, padahal cinta bapak aslinya juga tanpa batas, hanya saja tak terlihat, huhuhu.

Sedih berikutnya adalah, karena saya tidak memanfaatkan 12 hari terakhir itu dengan maksimal.
Saya masih sering cuek kepada bapak, bahkan saya pernah nggak mau bangun pagi ketika bapak kesakitan dan minta di pijat kakinya, huhuhu.

Hal itu, semata karena saya masih punya semacam rasa kesal kepada bapak, apalagi pemicunya kalau bukan mama.

Mama selalu ngeluh bapak keterlaluan.
Bapak masih suka marah-marah, nyuruh-nyuruh harus cepat, bahkan mama mengeluh serta cerita, kaau bapak tak pernah sepeduli itu jika mama sakit.
Mama bahkan pernah nggak bisa bangun karena jatuh dari motor, dan bapak malah keluyuran ninggalin mama di rumah.

Ya Allah, karuan aja saya kesal sama bapak, dan juga ikutan cuek terhadap bapak, hiks.

Pelajaran berharga juga buat saya, untuk memilah mana yang bisa dibagi dengan anak, mana yang enggak.
Seharusnya mama nggak mengeluh seperti itu ke saya, terlebih saya jarang ketemu bapak, dan sebenarnya itu juga udah cerita basi, karena sejak dulu mah masalah mama dan bapak itu sama.

Mama tak bisa seperti yang bapak harapkan, menjadikan bapak cuek terhadap mama, tapi manja kalau sakit.

Penyesalan lain adalah, saya sama sekali nggak menganggap serius ketika udah ada tanda bapak bakal pergi, semua itu saking bapak selalu berhasil memanipulasi psikologis mama, untuk bisa mengendalikan mama.

Jadi saya pikir, ketika bapak udah asal ngomong itu, adalah dia bercanda atau sengaja ngerjain kami agar kami heboh gitu.

Terlebih 2 hari sebelumnya, bapak juga melakukan hal yang sama.
Bapak mengaku kalau sesak nafas.
Saya langsung heboh deh, mau pasangin alat Nebulizer, tapi lupa cara masukin obatnya, bahkan jenis obatnya aja lupa.

Sebelumnya kakak udah ngajarin saya, sayangnya kakak saya ngajarinnya di tengah malam buta.
Waktu itu saya udah tidur, pas tengah malam dibangunin kakak buat ngajarin cara pasang alat nebulizer.

Orang baru bangun diajarin hal-hal demikian, nggak dikasih catatan pula, alhasil seketika menguap lagi ke angkasa.

Saya langsung kabur ke puskesmas mencari bantuan, waktu itu Magrib, saya belum mandi pula.
Hanya pakai daster lengan pendek, nyambar jilbab instan, langsung lari cari orang.
Ternyata puskesmas yang tulisannya 24 jam itu juga nggak ada orangnya.

Untung kepala puskesmasnya ada di rumah dinasnya, kami lalu berboncengan ke rumah petugas lainnya untuk minta tolong pasangin alatnya.

Setelah berhasil mendapatkan yang bisa bantu pasang, saya segera menelpon kakak, ternyata kata kakak nggak boleh langsung dipasangin alat nebulizer, tapi harus diukur dulu vital sign-nya.

Dan ternyata ketika diukur ini itunya, semua normal, bahkan tensinya juga normal.
Dan jadilah bapak nggak dikasih apa-apa, nyatanya beliau nggak sesak, cuman perasaannya aja, atau mungkin juga senang bikin kami heboh dan khawatir dengan beliau, huhuhu.

Hal itu yang membuat saya semakin malas nanggapin serius semua keluhannya, selain sakit perut yang memang menyiksanya, saya sibuk meminta kakak agar mau menyerahkan bapak langsung ke penanganan lebih maksimal, yaitu dirawat di RS.

Tapi kakak menolak, karena selain semua perawatan RS udah sama seperti yang disiapkan selama ini, pun juga sekarang zamannya Covid-19, RS pun sedang direnovasi, ruangannya terbatas.
Jadi bisa dipastikan bapak bakal bercampur dengan pasien lainnya, means bisa jadi bakalan terpapar Covid-19 juga, hadeh.

Meskipun akhirnya kakak udah mau menyerah dan membiarkan bapak dibawa lagi ke RS, namun ternyata semua telah terlambat.

Ya Allah, banyak banget yang saya sesali, yang bikin saya nggak bisa dengan mudah mengikhlaskan kepergian bapak, terutama karena saya nggak sempat minta maaf, hiks.

Karena memang kepergiannya mendadak.
Tak bisa kami tebak.


Pada Akhirnya Belajar Mengikhlaskan


Apapun yang terjadi, sesakit apapun perasaan ini, pada akhirnya saya belajar untuk ikhlas dan bersyukur.

Well, sejujurnya hati saya memaksa saya untuk mengikhlaskan sejak kepergian bapak, itu juga kali ya yang bikin saya nggak nangis histeris ketika bapak pergi.

Karena, sejak di rumah ortu, sejak awal 12 hari terakhir bersama bapak tersebut, dan saya melihat langsung betapa tersiksanya bapak akan rasa sakitnya yang entah kapan berakhir.
Diam-diam saya mengirimkan doa kepada Allah, agar diberikan-Nya yang terbaik untuk Bapak.

Jika memang Bapak masih diberi kesempatan, semoga Allah cepat memberikan keajaiban agar bapak bisa melawan rasa sakitnya dan sembuh serta berhenti total dari kebiasaan buruknya merokok dan minum alkohol.

Oh ya, sejak sakit di bulan Januari, bapak udah nggak merokok lagi, sayang Bapak belum merasakan, betapa enaknya hidup sehat tanpa rokok.

Namun, jika memang nggak ada kesempatan lagi buat bapak, saya minta agar bapak bisa pergi dengan tenang, diberi kesempatan untuk bertobat, dan diberi kemudahan untuk kepulangannya.

Itulah yang sedikit menguatkan saya ketika bapak pergi, karena saya yakin itu yang terbaik buat bapak.
Bapak insha Allah udah nggak merasa sakit lagi, nggak tersiksa lagi, tinggal bagaimana kami mati-matian membantu Bapak agar lebih mudah jalannya melalui doa dari sini.

Selain itu, saya bersyukur banget, masih diberi kesempatan bertemu bapak dalam keadaan masih bisa bicara, masih bisa melihat wajahnya tersenyum dan berbicara.

Allah sungguh Maha Baik, Dia mengabulkan doa tak putus saya setiap harinya.

Iya, nasib tinggal berjauhan dengan orang tua seperti saya, hanya bisa tak henti berdoa kepada-Nya, meminta waktu agar masih bisa dipertemukan dalam keadaan sehat dan sadar.

Itulah mengapa, betapa beruntungnya saya, meski selama ini nggak pernah bisa pulang merawat orang tua, tapi justru bapak meninggal di dekat saya, di tangan saya.
Terimakasih ya Allah, huhuhu.

Ah bapak..
Maafkan lah gadis kecilmu yang sudah menua juga ini.
Gadis kebanggaan dan harapanmu dulu.
Yang ternyata menghancurkan harapanmu, untuk melihatku menjadi orang hebat yang membanggakanmu.

Maafkan anakmu ini, jarang bisa merawatmu dan membuatmu bahagia ketika masih hidup.
Maafkan anakmu ini, yang tidak maksimal menggunakan 12 hari terakhir bersamamu waktu itu.   

Janji saya, Bapak.
Jika memang di dunia ini anakmu ini gagal membahagiakan dan mengangkat derajatmu.
Semoga anakmu ini masih bisa membahagiakanmu dengan membantumu kembali dengan tenang kepada sang Pencipta.

Semoga Allah terangi kuburmu.
Semoga Allah ampuni semua kesalahanmu.
Aamiin.

Bapak..
Maafkan anakmu ya.
Semoga kita bisa berjumpa kembali, jika saatnya tiba nanti.
Aamiin

Sidoarjo, 30 Mei 2021

13 comments :

  1. Semoga Bapak mendapatkan teman terbaik disisi Allah mbk. Dan doaku sampai saat ini juga ingin ketika ortu akan berpulang sebisa mungkin aku ada disisi mereka. YaaAllah sedih dan belum bisa membayangkan bagaimana jika aku ditinggalkan πŸ’”

    ReplyDelete
  2. Ikut berduka cita Mbak Rey. Meskipun jarang bertemu beruntungnya Mbak Rey bisa menemani hari-hari terakhir Bapak. Bapak sudah tenang di sana. Mbak harus kuat...

    ReplyDelete
  3. Alfatihah ya buat alm bapaknya..

    *tetiba jadi inegt kedua orang tua sya yg juga sudah tiada.. hiks #nahansedih

    ReplyDelete
  4. pelukkk mba reyyy
    turut berduka cita mbak, semoga amal ibadah Bapak mba Rey diterima Allah swt
    keinget sama almarhum bapakku yang saat itu aku juga ga bisa nangis yang histeris. Ikhlas

    ReplyDelete
  5. Alfatihah buat Bapaknya mba Rey 😭 Alhamdulillah masih bisa bertemu di saat terakhir, bahkan perginya pun masih dekat dengan mba Rey. Semoga Allah kabulkan doa mba Rey agar dilapangkan kuburnya Bapak. Bapak insyallah sudah nggak sakit lagi. Blio bahagia udah ketemu sama anaknya yang jauh. Dan semoga mba Rey tegar ya mba :(
    Dari tulisan ini aku menyadari bahwa berharganya bisa ketemu orangtua setiap saat, hanya Gresik Surabaya itu sungguh sangat dekat. Tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada.

    ReplyDelete
  6. Kisah yang mengaharu biru. Saya malah lebih menyesal karena tak dapat merawat ibu tersbab saya tinggal di rantau orang. Pas beliau meninggal, saya pulang pada hari ke 5 kepergiannya. Karena saya sedang mengikuti manasyik haji di kota Jambi. jarak 600 -an km dan 2 kali naik mobil baru sampai ke kampung halaman. Tak ada pesawat. Semoga ananda Rey tetap tabah menjalaninya ya. salamat malam.

    ReplyDelete
  7. Al Fatihah buat bapaknya kak Rey,

    Bapakku juga dah berpulang ketika aku jauh di rantau juga dulu...

    Hanya doa2 yang bisa kita panjatkan,semoga itu meringankan beban beliau di alam sana.semoga diampuni dosa beliau ya kak Rey,aamiin

    ReplyDelete
  8. Membaca cerita ini, saya jadi ingat ayah dimana ayah saya juga baru saja meninggal dunia hanya dalam kurun waktu seminggu. Namun sebelum ayah saya pergi ke Rahmatullah saya masih diberi kesempatan tuhan untuk nyuapin ayah. Semoga amal ibadah ayah saya diterima tuhan, diampuni dosanya , dan masuk surga . Amin

    ReplyDelete
  9. Rey, sediiih banget bacanya :(. Kebayang kalo sampe di rumah, setelah sekian lama ga ketemu ortu, dan melihat beliau makin tua dan lemah :(.

    Tapi syukurlah kamu bisa pulang kmrn itu yaaa. Dan msh bisa ketemu bapak. Ikut berdukacita ya Rey. Semoga bapak diampuni semua kesalahan, dan keluarga bisa ikhlas melepas bapak.

    ReplyDelete
  10. Kak Rey, turut berdukacita atas kepergian bapak :( sedih banget baca cerita Kak Rey :(
    Semoga Kakak dan keluarga diberi penghiburan. Semoga amal ibadah Alm. diterima di Sisi-Nya ya Kak πŸ™πŸ»
    *Peluk untuk Kak Rey*

    ReplyDelete
  11. Mba Rey sayang, turut berduka cita atas berpulangnya bapak. Semoga bapak diberikan tempat yang terbaik di sisiNya. Amin.

    Sungguh membuat haru cerita di atas. Harapanku, mba Rey selalu sehat n kuat beserta anak2 dlm menghadapi peristiwa ini.

    Nggak ada yang abadi di dunia ini. Dunia ini hanyalah tempat tinggal sementara. Kelak, kitapun akan menyusul mereka.

    Aku juga udah gak punya siapa2. Mama, papa udah meninggal.

    Big hug to mba Rey πŸ’•

    ReplyDelete
  12. Turut berduka cita Rey. Semoga beliau diampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya.

    Tidak ada yang perlu disesali karena itu adlaah bagian dari kehidupan manusia. Yang dilahirkan pada saatnya akan pergi dan kembali ke Penciptanya.

    Ambil waktu untuk bersedih, tetapi kemudian ingat bahwa LIFE MUST GO ON. Banyak yang harus dilakukan.

    Kenangan beliau akan selamanya ada di hati kamu Rey. Itu yang saya rasakan.

    Meskipun demikian, saya tidak akan henti menyarankan kepada Rey, karena masih ada ibu, luangkan waktu, meski sedikit untuk selalu berkabar ria dengannya. Hal itu untuk menghindari rasa menyesal di kemudian hari. Habiskan waktu lebih banyak lagi dengan beliau yang masih ada, meski hanya lewat vidcall dll. jangan sampai ketika tiba saatnya berpisah, rasa menyesal hadir di dalam hati dan membuat kita sulit iklas.

    Take care Rey

    ReplyDelete
  13. Mba Rey, turut berduka cita. Semoga mba dan keluarga tetap kuat dan tabah dengan semua ini. Bersyukur mba masih bisa bertemu bapak dan ada di saat-saat terakhirnya. Sabar yaa mba..

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top