Rumah Asuh Kota Baubau, Solusi Untuk Bahagiakan Perempuan dan Anak

Rumah Asuh Kota Baubau akhirnya hadir untuk memberikan jawaban atas berbagai permasalahan perempuan dan anak di kota seribu benteng ini. Ras...

Pertama Kali Ke Tolandona Naik Kapal Kecil dan Drama yang Tak Terlupakan

drama naik kapal kayu ke tolandona

"Rey, lagi di mana? ayo kita ke acaranya Melan! di Tolandona", Oma, nama panggilan perawat senior di klinik tempat saya kerja, menelpon.

"Masih di kos, Oma, saya kan jaga siang ini!", jawab saya sambil memilih jilbab yang akan saya kenakan dan bersiap berangkat.

"Ah ada Pai kok yang jaga, sebentar saja kita ke pestanya, makan, terus pulang!", bujuk Oma.

"Tapi naik apa?", tanya saya lagi.

"Ayo cepat ke klinik, nanti kita naik spit!", jawabnya 

"Ya udah kalau gitu, bentar lagi saya ke sana!", jawab saya sambil mematikan telpon dan bergegas mengenakan jilbab.

Tak lama kemudian, saya dan si Kakak sudah di jalan, sedikit ngebut karena gerimis mulai turun membasahi bumi. Dan hanya sekitar 7 menit, saya sudah berada di klinik.

"Ayo Rey kita pergi, yang lain tidak mau ikut, saya tidak ada temannya!", Oma menyambut saya, ketika motor baru saja berhenti di depan apotek.

"Tapi nggak apa-apa kan, saya bentar lagi jaga soalnya!", sambil melirik Pai, rekan yang berjaga di pagi hari.

"Aman, Kak!", Pai mengacungkan jempolnya dari jauh.

Singkat cerita, tak lama kemudian kami telah berada di dalam taksi online, menuju Dermaga Jembatan Batu.

Si kakak akhirnya saya minta ke rumah tantenya naik motor, dan saya segera menelpon tantenya, mengabari bahwa saya nggak jadi ke rumahnya karena harus ke Tolandona, menemani si Oma.

Baca juga : Cerita Berhasil Menaklukan Tantangan Standar Dua Motor Matic


Drama Speedboat Tak Seperti Perkiraan

Sejujurnya saya nggak ada niat ke acara pernikahan si Melan, bidan yang bertugas di klinik kami. Karena selain saya hari ini harus jaga shift siang, pun juga saya dengar dari mama, katanya Tolandona, daerah tempat nikah si Melan, adanya di pulau seberang.

Untuk ke Tolandona tersebut, kita harus naik kapal menyeberang lautan. Dan suer, kalau ngomongin naik kapal kecil, saya takutnya minta ampun.

Terakhir saya naik kapal yang serem tuh pas tahun 2009, naik kapal cepat Kendari - Baubau. Ketika itu bulan Agustus dan ombak sedang gede-gedenya. Tuh ombak sampai melewati tingginya kapal, dan kala itu saya udah pasrah tenggelam bersama tuh kapal (lebay banget dah).

Rasanya saya trauma banget dengan kapal kecil.

Pernah di tahun 2016, saya mudik bersama si Kakak dan papinya anak-anak. Kala itu kami di pantai Kamali melihat kapal-kapal yang ke Pulau Makasar di seberang pulau Buton. 

Si papi mengajak kami naik kapal ke sana, dan saya tolak mentah-mentah, saya takut karena kapalnya kecil dan nggak ada pelampung atau semacamnya.

Ketika si Oma bilang mau naik spit, dalam pikiran saya, spit yang dia maksud adalah speedboat. Kayak speedboat yang biasa ada di gambar maupun video gitu.

contoh speedboat
Speedboat dalam pikiran saya

Harusnya kan kalau speedboat yang dimaksud tuh punya perlengkapan safety yang memadai ya. Jadi ibaratnya tuh, no need to worry aja buat orang yang nggak bisa berenang kayak saya. 

Memikirkan hal tersebut, bikin saya mengiyakan saja ajakan si Oma. Lagian kapan lagi kan bisa berkunjung ke Tolandona.

Akan tetapi, setelah taksi online yang kami tumpangi memasuki area Dermaga Jembatan Batu dan berhenti tepat di beberapa kapal kecil yang berjejer di pinggir dermaga, perasaan saya mulai kurang nyaman.

"Jadi kita naik kapal yang mana?", tanya saya ke si Oma.

"Bentar, kita tanya dulu ke orang-orang, di mana kapal yang ke Tolandona", jawab si Oma.

Dan ternyata perasaan saya benar, kapal yang ke Tolandona adalah kapal-kapal kecil yang berjejer di pinggir dermaga tersebut. 

kapal ke tolandona
Kapal kecil kayu yang akan kami tumpangi

Rasanya pengen pulang aja, nggak usah jadi ke nikahan si Melan, tapi juga nggak enak melihat si Oma yang tenang-tenang aja.

Jadinya semua ketakutan saya kekepin sendiri, melawannya dengan penyemangat si Oma yang terlihat (sepertinya udah biasa sehingga) tenang meski kami akan naik kapal kayu kecil tersebut.

Setelah menunggu sekitar 30 menitan, akhirnya orang kapal memanggil penumpang untuk naik. Segera kami mendekati kapal mungil tersebut, dan drama yang sesungguhnya pun mulai terjadi.

Btw, saya kan emang nggak niat ke acara Melan karena hari itu saya jaga sore. Manalah mungkin saya ninggalin klinik kan ye. Jadinya saya ngantor ya seperti biasanya, pakai blazer dan sepatu dengan sol yang tinggi.

Dan naik ke kapal, tuh kapalnya goyang kanan kiri, saya sampai ngakak berlinangan air mata saking takutnya, hahaha.

Sampai-sampai ada 2 orang yang megangin saya biar saya nggak nyemplung ke laut. Meski udah dipegangin dengan maksimal, tetep aja masih serem dan saya teriak-teriak sendiri, sampai akhirnya saya berhasil masuk ke kapal kecil tersebut, dan menyadari kalau jam tangan si bapak yang pegangin saya, sampai putus dan kebawa saya, hahaha.

kapal kayu ke tolandona
Kondisi dalam kapal kayu kecil

Meski udah di dalam kapal kayu kecil atau bisa disebut perahu itu, dramanya belum selesai. Karena kapal tersebut diberi atap yang sangat pendek, alhasil saya harus berjongkok untuk bisa masuk ke dalam kapal untuk duduk.

Berasa jalan jongkok buat sungkeman dong, hahaha.

Setelah berjuang jalan jongkok beberapa lama, akhirnya tiba juga kami di tempat duduk kami di bagian belakang, dan langsung duduk diam.

Kirain drama udah berlalu kan, nyatanya belom juga.

Kapalnya belum berangkat, karena masih menaikan banyak barang, ini yang bikin deg-degan banget.

Tuh kapal kan terbuat dari kayu dan berukuran kecil, mana kayunya terlihat udah tua pulak. Nah, penumpangnya tuh banyak dan full. Ada kali sekitar 30-40an orang atau mungkin lebih.

Tapi yang bikin serem itu, udahlah penumpangnya banyak, tuh kapal ternyata juga memuat barang-barang banyak banget, bahkan memuat sepeda motor. Ada kali 4-5 motor yang dimuat.

Mana ketika barang dinaikan, tuh kapal miring kiri kanan, dan sukses bikin saya bahkan si Oma ketakutan, hahaha.

Ada sekitar 30 menit lebih proses menaikan barang-barang, sampai akhirnya kapal pun perlahan mulai berlayar meninggalkan dermaga.

Saya tak henti-hentinya berdoa, berzikir, mengucapkan shalawat. Asli takut banget karena kapal masih miring kiri kanan, padahal air laut nyaris masuk ke dalam kapal.

Untungnya lautnya lumayan tenang, nggak ada ombak yang kencang, bahkan kesannya sangat tenang, karena laut yang kami lewati tuh bukan lautan lepas, tapi dikelilingi oleh pulau-pulau.

Meski demikian, rasa was-was kapalnya bakal patah atau kebelah, saking banyaknya barang yang dimuat, itupun barang diletakan di bagian depan dan belakang kapal. Kebayang deh kalau kapal dihantam ombak, keknya beneran patah di tengah deh, hiks.

Baca juga : Plus Minus Punya Tempat Mudik


Akhirnya Tiba di Tolandona

Semakin kapal mendekati pulau Tolandona, lautan semakin tenang, bahkan terlihat bagai permadani biru yang rata. Nyaris nggak ada ombak bahkan riak air, kecuali saat ada kapal melintasi di lautan tersebut.

Kapal juga semakin stabil, udah nggak ada miring kanan kiri yang berarti. Saya pun bisa lebih tenang melihat-lihat pemandangan. 

Sayang banget sih, laut biru secantik itu dirusak oleh banyaknya sampah yang bertebaran di atas air. Kebanyakan tuh sampah botol plastik, sayang banget loh kesadaran masyarakat tuh masih sangat rendah dalam menjaga kebersihan laut yang cantik itu.

Setelah 45 menit berlayar, kapal pun melambat dan merapat di dermaga Tolandona.

Drama selesai?.

Oh, tentu belum!.

Kapalnya kan dipenuhi barang depan belakang, tentunya barangnya dulu yang diturunkan, barulah penumpang bisa turun. Dan proses penurunan barang tersebut bikin saya dan si Oma jejeritan karena kapal miring banget, hahaha.

Orang-orang sampai ngakak melihat kami heboh sendiri, padahal mereka santai aja, bahkan ada yang masih tiduran atau main HP. Meanwhile kami sibuk miring-miring seolah berusaha menstabilkan kemiringan kapal, hehehe.

Sampai akhirnya semua barang selesai diturunkan, penumpangpun akhirnya dipersilakan turun dari kapal kecil kayu yang terlihat tua tersebut.

Karena tak mau mengulang drama kapal goyang, akhirnya saya dan si Oma memutuskan melepas sepatu sehingga proses turun kapal nggak sedrama awal naiknya.

Ucapan Alhamdulillah tak henti-hentinya meluncur di mulut kami, ketika kami akhirnya menapak lagi di darat. Berikutnya kami ngacir ke acara si Melan setelah membayar sewa kapal seharga Rp. 20ribuan per orang.

Waktu sudah menunjukan pukul 15.15 WITA, kami takut si Melan udah nggak ada di pelaminannya. Untungnya lokasi acara berada tepat di dermaga Tolandona tersebut, kami hanya perlu berjalan kaki sebentar lalu masuk ke dalam tenda, dan bersyukur si Melan masih ada di pelaminan.

nikahan bidan melan di tolandona
Foto bareng pengantin

nikahan bidan melan di tolandona
Selfie bareng pengantin

Setelah memasukan amplop dan mengucapkan selamat serta foto-foto, kamipun segera mencari makanan. Dan iyes, makanan untuk tamu sudah nyaris ludes dong. Hanya tersisa nasi dan sup ayam dikit. Untung si Oma cuek aja dan mengajak saya mengambil lauk di tempat yang sepertinya khusus buat keluarga.

Setelahnya kami makan, istrahat sejenak lalu pamit sama si Melan, karena kami akan segera pulang.

Baca juga : Cerita Kondangan Di Wasamba, Berakhir Di Kebun Jeruk Lasembangi


Nyaris Nggak Bisa Pulang Ke Baubau

Setelah keluar dari tenda, si Oma bertanya ke orang-orang di sana, apakah ada kapal yang ke Baubau.

"Sudah tidak ada, terakhir jam 3 tadi!", jawab mereka, disambut dengan muka pucat pasi kami, hahaha.

Yang benar aja, kami nggak bisa pulang ke Baubau, terus tidur di mana?, terus gimana kalau ada pasien?, saya kan harus jaga sore hari.

"Tau gitu bisa ikutan yang naik mobil tadi!", sambung mereka.

Ternyata untuk ke Tolandona, kita bisa menaiki kapal atau lewat darat, tapi lewat darat pakai mobil pun tetap melewati penyeberangan laut.

Dalam keputus asaan, kami tetap melenggang ke dermaga. Tak lupa saya meminta si Oma mengambil foto saya di tulisan Dermaga Tolandona, ye kaaann, foto-foto is a must, hahaha.

dermaga tolandona
Foto dulu, rugi kan kalau nggak foto setelah menempuh perjalanan menegangkan, hehehe

Setelah foto-foto, tiba-tiba seseorang menyapa kami, menanyakan, apakah kami akan balik ke Baubau?. Dan ternyata ada kapal yang akan ke Baubau sore itu, tujuannya mengantar beberapa tabung Elpiji untuk diisi di Baubau.

Syukurlah.

Singkat cerita, beberapa saat kemudian, kamipun bersyukur sudah berada di dalam kapal yang lebih kokoh dan tenang berlayar di lautan menuju Baubau.

kapal dari tolandona ke baubau
Kapalnya sepi

kapal dari tolandona ke baubau
Bisa liat-liat pemandangan dengan tenang

Kapalnya terbuat dari besi, dan hanya memuat kami ber-4 penumpang dan 1 bapak-bapak yang menjalankan kapal tersebut.

kapal dari tolandona ke baubau
Sudah bisa senyum, meski wajah berantakan, hahaha

Lega rasanya berada di kapal yang lebih kokoh, dan minim guncangan, kami menikmati perjalanan sambil ngakak menceritakan bagaimana ekpektasi dan realita yang saya alami hari itu.

Sekitar 40 menitan, kamipun merapat di dermaga Jembatan Batu Baubau, meskipun ada sedikit adegan horor, ketika baling-baling kapal menggilas sampah-sampah yang ada di lautan, bikin kapalnya bergetar.

Setelah itu, dengan mudah kami turun, kapal lebih tenang nggak terlalu goyang. Lalu kami membayar sewa kami seharga sama, 20ribuan perorang.

Berikutnya si Oma mengajak naik bentor dengan tarif 20ribuan dari Jembatan Batu ke Klinik Utama Farus Medika.

Sempat pula kami ngakak ketakutan, karena si bapak tukang becak motornya ngebut banget di jalanan berlubang.

Syukurlah kami tiba dengan selamat di klinik, dan ngakak nggak berhenti menceritakan pengalaman kami hari itu, hahahaha.

Demikianlah cerita pertama kali ke Tolandona, sebuah desa yang berada di Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, di hari pertama saya masuk kerja setelah libur lebaran. Hari Rabu, 25 Maret 2026 lalu. 

Ada yang juga pernah naik kapal kecil kayu demikian?.


Baubau, 30-03-2026 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)