Sore tadi, seperti biasa saya ke pasar Wameo buat beli sayuran dan buah. Di satu titik belokan tiba-tiba kendaraan pada berhenti, macet dan lumayan lama nggak gerak. Beberapa orang mulai membunyikan klakson dengan tak sabar.
Btw, di Baubau nyaris nggak pernah terdengar orang membunyikan klakson. Saking jarangnya, sampai-sampai kalau saya bunyikan klakson, banyak orang pada noleh dan melihat ke saya dengan keheranan, hehehe.
Baca juga : Asyiknya Tinggal Di Kota Baubau
Lama saya perhatikan, ternyata ada mobil yang diam di belokan, terlihat yang menyetir mobil tersebut sedang ngomong sama seseorang, entah tukang parkir atau semacamnya.
Saya juga sempat kesal, kirain mereka ngobrol biasa. I mean, kenapa nggak cari tempat yang agak ke depan dulu gitu loh, lalu parkir dan keluar untuk nanya-nanya sesuatu.
Syukurlah saya bisa nyelip sana sini dan akhirnya berhasil melewati kemacetan tersebut.
Tiba-tiba terdengar beberapa orang ngomong,
"Oh ibu-ibu, pantas!"
Rasanya sedih mendengar kalimat seperti itu, seolah ibu-ibu kebanyakan nggak tahu etika. Sampai si Adik ngomong,
"Kasian mobilnya!"
"Emang kenapa, Dek?", tanya saya penasaran.
"Bannya masuk lubang!"
Barulah saya sadar, ternyata mobil itu nggak iseng berhenti begitu saja di belokan dan mengakibatkan jalanan macet. Tapi memang lagi kesulitan menjalankan mobilnya, karena salah satu ban belakangnya masuk di lubang yang lumayan dalam di jalanan pasar tersebut.
Dan berikutnya saya takjub dengan orang-orang di sekitar itu.
I mean, itu kan pasar ya, banyak orang. Kenapa kok nggak ada satupun yang tergerak membantu ibu itu?. Dorongin mobilnya kek, atau gimana kek.
Padahal itu yang nyetir perempuan loh.
*************
Beberapa hari lalu, ketika saya kerja shift siang dan seharian itu hujan deras mengguyur kota seribu benteng ini.
Saya bawa bekal nasi dan ikan goreng sebenarnya, tapi si Adik nggak mau makan ikan goreng. Dan dia mengeluh lapar, karena nggak makan siang (dia puasa setengah hari doang, btw).
Jadilah saya keluar sore hari menjelang buka puasa, dengan menggunakan jas hujan, dan pelan-pelan takut jatuh.
Si Adik pengen makan nasi goreng, dan kebetulan kemarennya kami liat ada nasi goreng di jalan Erlangga, dekat kantor.
Dengan perlahan-lahan saya memacu motor ke sana, dan ketika di jalanan melewati warung yang jual es pisang ijo yang terkenal enak itu. Saya jadi tertarik, dan mampirlah.
Entah karena saat itu hujan kali ya, jadi meskipun udah mendekati waktu buka puasa, tapi depan warung tersebut masih sepi, padahal biasanya rame banget.
Stock pisang ijonya juga masih banyak, dan saya putuskan untuk beli 2 porsi.
Entah karena hujan mulai perlahan mereda, ketika saya masih berdiri agak di luar, karena takut jas hujan saya bikin warungnya basah, tiba-tiba banyak orang datang dan ikut mengantri.
Saya nggak terlalu memperhatikan orang-orang itu, hanya fokus melihat ke penjualnya, berharap si ibu paham, kalau saya udah antri duluan, hanya saja agak di luar, takut tempatnya basah.
Sementara yang baru datang, beberapa memang pakai jas hujan juga, dan tanpa peduli langsung masuk antri, sampai lantai basah kuyup.
Syukurlah, si ibu paham saya antri duluan, segera dia menyiapkan pesanan saya, setelahnya saya bayar, dan beranjak mau cari nasi goreng.
Akan tetapi, saya baru ngeh kalau ternyata motor saya udah kejepit, nggak bisa keluar dari parkiran, karena sana sini penuh motor, di depan belakang juga ada mobil yang parkir.
Sedikit panik, saya menaiki motor, takut banget saya nanti kepleset karena jalanan licin oleh hujan. Dengan pelan saya memutar motor dengan memaju mundurkan perlahan, tapi sia-sia.
Saya nggak bisa keluar dari parkiran itu, karena memang sempit, dan saya takut kepleset.
Dalam kebingungan saya putuskan diam dulu, menunggu orang-orang yang antri itu buat pulang dan singkirkan motornya. Tapi kok lama banget, nggak ada yang terlihat selesai dengan pesanannya.
Ada 2 orang lelaki dewasa yang melihat saya kebingungan, sayapun melihat mereka dengan pandangan berharap dibantu. Tapi nihil, dalam sekejap kedua orang tersebut melengos, pura-pura sibuk lihat HPnya, dan saya langsung merasa soooo ngenes, hahaha.
Alhasil, saya pasrah menunggu orang-orang untuk ambil motornya, agar saya bisa keluar, dan untungnya nggak lama kemudian mobil yang parkir di depan motor saya beranjak pergi.
*Dari tadi kek, Bapak!.
***********
Sejak awal tinggal di kota Baubau, ada satu hal yang menarik perhatian saya, yaitu ketika di jalan sering melihat orang yang kebingungan dorong motor bahkan mobilnya sendiri.
Bahkan pernah saya liat, ada ibu-ibu yang kebingungan menuntun motornya, dan banyak orang di sekitarnya, cuek terhadapnya.
Lalu saya teringat bagaimana saya survive di kota besar seperti Surabaya, terutama setelah papinya anak-anak udah nggak peduli sama saya.
Fyi, saya tuh memang manjanya kebangetan, karena memang nggak punya fisik kuat juga sih. Selama puluhan tahun di Surabaya, saya bergantung banget sama papinya anak-anak jika menyangkut masalah pakai fisik.
Waktu belum punya motor, ke mana-mana dianter oleh si kakak pacar. Setelah punya motor, saya bergantung banget sama pasangan.
Jika ke mana-mana dan ban motor saya kempis (di Surabaya tuh sering banget loh motor pecah ban karena paku). Kalau biasanya orang normal kan langsung dituntun motornya, cari tambal ban.
Nah saya enggak, hanya duduk di pinggir jalan, nelpon papinya anak-anak sambil nangis. Lalu dalam sekejap papinya datang dan menjadi pahlawan buat saya.
Makanya, ketika pertama kali papinya nekat kerja di luar kota, saya sedih minta ampun, takut gimana cara bertahan di kota itu seorang diri.
Nyatanya, saya bisa sodara!.
Bukan karena tiba-tiba jadi mandiri semuanya bisa dilakukan sendiri. Enggak.
Saya bertahan, karena di Surabaya itu ya, masya Allah sekali kepedulian orang-orang, khususnya yang saya rasakan.
Sebelum punya motor, saya pernah dikasih pinjam motor teman kos saya buat anter jemput dia, jadi saya bisa pakai motornya buat ngelamar kerjaan.
Suatu hari ketika hujan, tiba-tiba rantai motornya yang memang udah terasa bermasalah beberapa hari belakangan, tiba-tiba langsung putus.
Betapa kalutnya saya.
Waktu itu saya bokek maksimal, jadi punya HP tapi nggak ada pulsanya. Nggak bisa nelpon si pacar, nggak punya uang juga buat benerin ke bengkel.
Dan ketika saya hampir nangis di pinggir jalan, tiba-tiba seorang bapak-bapak mendekat, lalu bantuin benerin rantai motor tersebut. Dan Alhamdulillah bisa dibenerin, dan ketika sejak awal saya menolak karena nggak punya uang, tapi si Bapak bilang nggak usah bayar. Beneran, si bapak nggak minta bayaran, malah berpesan agar saya hati-hati.
Setelah menikah dan punya anak, lalu papinya anak-anak bekerja di luar kota, begitulah saya bisa bertahan hidup di belantara metropolitan tersebut.
Pernah suatu ketika, motor saya yang lama sering dipakai papinya anak-anak, akhirnya rusak. Tiba-tiba saja mesinnya kayak nggak ada tenaga buat maju.
Pas banget saat itu saya sedang mendaki di sebuah jembatan penyeberangan tol di daerah Waru Surabaya. Sambil bonceng si Kakak di belakang, dan si Adik di depan.
Karuan saja saya ketakutan minta ampun, takut motornya mundur dan kami jatuh. Tapi belum juga kejadian, tiba-tiba saja saya merasa motor saya kayak ada tenaga buat maju. Dan tebak apa yang terjadi?.
Ada begitu banyak orang yang berhenti dari kendaraannya, lalu semuanya secepatnya membantu saya untuk jangan sampai mundur dan jatuh di situ.
Setelah mencapai jalan yang rata, mereka memastikan kalau saya baik-baik saja, baru deh mereka bubar karena jalanan macet.
Namun, nggak semua bubar, ada beberapa orang yang stay, dan menawarkan bantuan. Mereka adalah anak-anak remaja lelaki, ada 3 motor dan mereka menawarkan agar membantu saya kembali ke rumah dengan motor tersebut mereka bawa dengan cara didorong pakai kaki.
Karena saya kesulitan bawanya, akhirnya mereka minta agar saya dibonceng salah satu dari mereka, dan lainnya bawain motor saya sampai di rumah.
Sesampainya di rumah, anak-anak tersebut langsung pamit pulang, bahkan ditawarin minum pun nggak mau. Masya Allah.
Kali lain, saya pernah juga bonceng anak-anak lalu ban motor kempis karena injak paku. Dengan susah payah saya dorong, karena memang fisik saya nggak kuat, selalu saja ada bapak-bapak atau orang-orang yang kadang berhenti dari motornya, cuman untuk bantuin dorong atau tuntunin motor saya.
Masya Allah.
Di parkiran, saya selalu benar-benar dibantu bagai ratu oleh tukang parkir, mereka yang parkirin, mereka juga yang keluarin motor saya. Apalagi kalau motor udah diparkir standar tengah, saya kan nggak bisa nuruninnya, hahaha.
***********
What i'm trying to say adalah, sesungguhnya sedih melihat kenyataan hilangnya kepedulian orang-orang di kota Baubau. Padahal saya tahu persis bagaimana kompaknya orang-orang Buton itu.
Entah karena memang karena di sini orangnya dikit, jadi yang terlihat atau yang ketemu saya tuh cuman orang-orang yang kurang kepeduliannya, sementara di Surabaya kan kota besar ya, banyak manusianya, jadi peluang ketemu orang baik tuh, sering.
Atau memang tingkat kepedulian orang-orang yang sangat minim bahkan hilang?.
Entahlah.
How about you, Temans di Baubau?
Baubau, 01-03-2026
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)