Rumah Asuh Kota Baubau, Solusi Untuk Bahagiakan Perempuan dan Anak

Rumah Asuh Kota Baubau akhirnya hadir untuk memberikan jawaban atas berbagai permasalahan perempuan dan anak di kota seribu benteng ini. Ras...

Lawan Femisida, Nyawa Perempuan Jangan Sampai Selesai di Meja Kekeluargaan

lawan femisida

Tadi siang saya mengikuti zoom Konsultasi Publik untuk pendokumentasian nasional Femisida yang diadakan oleh Komnas Perempuan.

Saya mendapat undangan melalui email, dan sepertinya kontak email saya tersimpan di Komnas Perempuan, lantaran saya pernah mengikuti zoom Femisida tahun lalu.

Sebenarnya materinya bagus banget tuh, sayangnya saya kurang konsen mengikuti zoom tersebut, karena disambi-sambi dengan pekerjaan lainnya.

Ya nyuci, jemur pakaian, kejar waktu shalat, bersiap ke klinik gegara ada yang harus dikerjakan. Jadinya saya nggak sempat nyimak semuanya. Dan sedihnya nggak bisa ikutan memberikan cerita tentang Femisida di kota Baubau.

Namun ada beberapa cerita atau laporan yang berasal dari peserta, yang bikin saya kagum sekaligus mixed feeling

Saya lupa tadi tuh siapa yang memberikan ceritanya, kalau nggak salah dari daerah Papua atau NTT ya. Di mana si Mbaknya mewakili sebuah lembaga sosial perempuan. Mereka tuh membantu membela hak-hak hukum untuk perempuan PSK atau pekerja sex komersial.

Mereka melayani dan memberikan hak para PSK ini, di mana ketika 'melayani pelanggan'nya dan mendapatkan perlakuan kasar atau mengancam dari pelanggan tersebut.

Ini luar biasa sih ya, meskipun agak sedikit abu-abu tentang pekerjaannya. Namun, namanya juga hak asasi perempuan ya, apapun jalan hidupnya, bukan berarti dia bisa dibunuh dengan mudah.

Baca juga : Katakan Saja Terus Terang Bawa Perempuan Harus Mengutamakan Karir, Ketimbang Anak?


Apa itu Femisida

Femisida adalah pembunuhan terhadap perempuan yang didasari oleh bias gender, biasanya dilakukan oleh pasangan intim, mantan pasangan, atau anggota keluarga. 

Tindakan kekerasan berujung penghilangan nyawa ini bersumber dari diskriminasi struktural, ketimpangan kekuasaan, termasuk upaya penindasan terhadap perempuan.

Maraknya kekerasan hingga pembunuhan terhadap perempuan akhir-akhir ini, dengan seringnya kita mendengar kabar pembunuhan perempuan di mana-mana. Seperti peristiwa ditemukannya wanita dalam koper di Cikarang, mutilasi perempuan di Ciamis, mutilasi perempuan di kos Surabaya, bahkan Desember 2025 lalu, di kota Baubau digemparkan dengan ditemukannya sesosok jenazah perempuan, yang dibunuh secara sadis. Belakangan diketahui, bahwa pelakunya adalah oknum militer.

Dari semua pembunuhan tersebut, ada satu hal yang menyamai konteks pembunuhannya, bahwa pelaku merupakan orang terdekat dari perempuan yang menjadi korban.

Karena itulah, Komnas Perempuan mengajak semua pihak untuk menamai kasus tersebut sebagai FEMISIDA. Bahkan merekomendasikan kepada pemerintah agar membentuk Femisida watch untuk mengenali dan membangun mekanisme pencegahan, penanganan dan pemulihan terhadap keluarga korban. 


Kesadaran Masyarakat untuk Melawan Femisida

Dalam zoom meeting kemarin, sebenarnya saya sangat pengen berbagi cerita tentang peristiwa femisida yang ada di kota Baubau akhir tahun 2025 lalu.

Kala itu, masyarakat kota Baubau dihebohkan dengan penemuan jenazah perempuan yang dibunuh secara sadis. Korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan di bawah jembatan permandian Kogawuna, Kelurahan Lakologou, Baubau, pada Minggu, 21 Desember 2025.

Jasadnya ditemukan tanpa busana, ada luka robek di bagian leher, luka akibat benda tumpul di kepala, hingga seluruh tubuh mengalami luka bakar. Bahkan jenazah sempat digigit oleh hewan liar, sebelum akhirnya ditemukan masyarakat yang melintas di sekitar tersebut. 

Belakangan diketahui, korban tersebut merupakan seorang perempuan muda berusia 23 tahun. Dan pelaku ternyata adalah dua orang oknum TNI yang baru saja tiba di batalyon yang ada di kota Baubau.

Adapun salah satu pelaku merupakan kekasih korban, dan satunya adalah rekan pelaku. Sedangkan motif pembunuhan adalah karena masalah asmara.

Ketika itu, bukan main hebohnya reaksi masyarakat kota Baubau, dan mendapatkan perhatian dari pihak TNI AD yang secara langsung menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban, dan berjanji akan mengusut kasus ini secara transparan dan profesional. 

Sayangnya, hingga kini keterbukaan update akan kasus ini tak lagi ada gaungnya.

Lucunya, di saat seperti ini, saya sering mendengar desas desus kebiasaan masyarakat yang menyelesaikan beberapa masalah apapun itu secara kekeluargaan.

Meskipun saya belum mendapatkan testimoni langsung sih ya, tapi menyedihkan nggak sih, kalau ada kasus Femisida dan berakhir dengan kekeluargaan, sehingga pelaku tak perlu dihukum seadil-adilnya?.

Saya harap, hal seperti ini tak terjadi pada kasus pembunuhan perempuan tersebut, maupun Femisida lainnya di Baubau, maupun di daerah manapun itu.

Karena, bagaimana bisa Femisida dihilangkan, jika pelaku tak mendapatkan hukuman yang setimpal, seolah nyawa perempuan bisa dibeli dengan uang atau kekeluargaan.

Hal ini harus dipahami oleh semua masyarakat, agar perempuan di kota Baubau bisa hidup dengan aman dan tenang, tanpa khawatir dengan Femisida.

Baca juga : Perempuan di Baubau dan Panggilannya


Kesimpulan dan Penutup

Kasus-kasus pembunuhan perempuan yang terjadi belakangan ini seharusnya membuat kita semua sadar, bahwa Femisida bukan sekadar istilah baru yang muncul dalam diskusi akademis atau forum aktivis perempuan. Femisida adalah kenyataan pahit yang terjadi di sekitar kita, bahkan bisa terjadi di kota kecil seperti Baubau.

Yang membuatnya semakin menyedihkan, pelaku seringkali justru orang yang paling dekat dengan korban. Pasangan, mantan pasangan, atau orang yang pernah dipercaya. Ketika kekerasan terhadap perempuan berujung pada hilangnya nyawa, itu bukan lagi sekadar konflik pribadi, melainkan persoalan serius tentang ketimpangan kekuasaan dan cara masyarakat memandang perempuan.

Karena itu, penting bagi kita untuk berani menamai kejahatan ini sebagai femisida. Bukan untuk sekadar memberi label, tetapi agar masyarakat memahami bahwa pembunuhan terhadap perempuan yang dilatarbelakangi relasi kuasa dan kekerasan berbasis gender adalah masalah yang harus dilawan bersama.

Dan yang tidak kalah penting, kasus seperti ini tidak boleh berakhir begitu saja di meja “kekeluargaan”. Nyawa seseorang tidak bisa ditebus dengan kesepakatan diam-diam atau penyelesaian yang mengabaikan keadilan.

Semoga semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa melawan femisida bukan hanya tugas lembaga atau pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita bersama. Agar perempuan, di mana pun mereka berada, bisa hidup dengan rasa aman tanpa takut kehilangan nyawanya hanya karena menjadi perempuan.

How About you, Temans?.


Baubau, 14-03-2026


Sumber referensi:

  • https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-tentang-fenomena-femisida diakses 14-03-2026

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)