Kemarin saya ke dokter spesialis mata di klinik yang ada di Baubau, dan berakhir dengan parno luar biasa, berasa nanya ke google tentang masalah mata anak.
"Ini harus segera dibawa ke Makassar, anaknya kena mata malas atau amblyopia, jangan ditunda-tunda lagi, anak bisa tidak bisa melihat!"
Berasa vibes-nya ketika sakit kita nanya google, hasilnya kan selalu bikin super parno ya. Persis dah itu.
Jujur saya bingung deh sama kebanyakan dokter-dokter zaman sekarang, eh nggak ding, sejak dulu, bahkan di zaman sekarang, masih ada.
Seriously, selama bertahun-tahun sekolah kedokteran, masa sih nggak ada pembahasan tentang bagaimana berkomunikasi dengan pasien dengan baik?. Penasaran saiah!.
Dan sejujurnya, itulah alasan, mengapa saya nggak suka ke dokter. Setiap sakit, saya mengandalkan obat-obat generik yang biasa saya konsumsi sejak kecil.
Kebetulan, mama saya adalah seorang nakes, yang dulu tuh sering nyimpan obat puskesmas di rumah. Sengaja, karena pasien banyak yang datang berobat, justru di luar jam kerja, dan mama melayani saja.
Karena banyak obat di rumah, jadinya setiap kami sakit, mama sering menyuruh kami ambil obat sendiri, dan karena itulah saya jadi tahu, kalau batuk ya minum obat ini. Kalau demam minum obat itu, kalau sakit kepala minum yang ini.
Dan obat-obat generik tersebut, Alhamdulillah masih ampuh menyembuhkan ketika saya dan anak-anak sakit hingga kini.
Namun ada kalanya, ketika musim penyakit seperti batuk lagi gencar-gencarnya, kadang obat generik udah nggak mempan, dan ketika itulah terpaksa saya butuh dokter.
Akan tetapi, karena memang males ke dokter, maka jalan satu-satunya ya lewat aplikasi Alodokter. Alhamdulillahnya, baik saya maupun anak-anak selalu cocok-cocok aja pakai obat dari resep dokter umum di Alodokter.
Bahkan saya bisa request antibiotik yang biasa aja buat anak.
Intinya, saya memang agak males ketemu dokter secara langsung, karena nggak punya dokter langganan yang cocok dan menyenangkan. Satu-satunya dokter yang cocok buat saya adalah dokter kandungan, dr.Dharma Banjarnahor, Sp.OG.
Baca juga : Dari dr. Amang Surya P, Sp.OG ke dr. Dharma Banjarnahor, Sp.OG
Dan begitulah, dalam hidup saya setidaknya hanya dokter kandungan saja yang rajin saya kunjungi. Alasannya karena memang itu perlu, dan nggak bisa diakalin dengan berobat sendiri atau online, hahaha.
Itupun, tak mudah menemukan dokter kandungan yang cocok, saya harus melewati beberapa kali kesel sama dokter-dokter kandungan yang kata-katanya bikin panik.
"Nanti kontrol lagi ya, takutnya hamil di luar kandungan!"
"Segera kontrol lagi ya, takutnya hamil anggur!"
Si Rey yang memang mudah panik, menanti hamil selama berbulan-bulan, toleransi rasa sakitnya sangat kecil, membayangkan hamil nggak sehat, itu bakalan melewati dikuret.
Auto mau pingsan rasanya.
Tapi di sisi lain, gegara konsultasi ke dokter spesialis dikasih kata-kata yang menyeramkan, jadinya saya terbiasa memikirkan jalan lain berupa second opinian.
Bukannya langsung percaya gitu saja atas diagnosa dokter, tapi biasanya dicocokin dulu dengan diagnosa dokter lainnya.
Termasuk dengan mencari sharing pengalaman orang lain yang pernah mengalami penyakit yang sama. Entah dari blog maupun medsos.
Dengan demikian, saya bisa mendapatkan insight lainnya, sebelum pasrah dengan pengobatan yang diberikan.
Kalau Temans, gimana?
Baubau, 04-03-2026
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)