Di akhir tahun 2024, ketika mama menelpon dan meminta kami pulang ke Buton, sebenarnya yang ada di skenario pikiran saya, agar saya dan anak-anak tinggal di Baubau.
Saya bahkan udah survey sekolah, si Kakak rencananya mau saya sekolahin di MTS negeri, sementara si Adik di MIN.
Kan pas banget tuh, karena anak-anak saya emang sebelumnya ya dari sekolah agama, meskipun swasta.
Saya juga udah mulai nanya-nanya kontrakan di Baubau. Alasannya, nggak mungkin banget saya tinggal di kos dengan 2 anak. Karena kos di Baubau tuh, saya tahu persis, betapa kecilnya.
Jarang banget ada kos rumah petak, kayak di kota-kota lainnya.
Tapi, ketika mendengar rencana saya seperti itu, kakak saya heboh, dia ngomong ke suaminya (karena saat itu dia memblokir nomor saya, dan komunikasi saya cuman lewat suaminya), bahwa dia sangat nggak setuju anak-anak saya sekolah di sekolah Islam negeri. Alasannya di situ muridnya nakal-nakal.
Awalnya saya heran, kok bisa-bisanya sekolah agama malah nakal banget, bukannya setidaknya ada tambahan pelajaran agama dan adab yang baik dibanding dengan sekolah umum?.
Tapi ujungnya saya mengalah, nurut aja dengan perkataan mereka. Bahkan permintaan saya untuk memasukan si Kakak ke pesantren pun, batal.
Demikian juga dengan rencana saya tinggal di Baubau, karena saya ingin terus menekuni dunia blogger. Nggak mungkin banget saya tinggal di rumah mama yang di pelosok, lumayan jauh dari kota Baubau.
Nyatanya, mereka mengatur saya untuk langsung tinggal di rumah mama, alasannya saya bakal dimasukin ke perusahaan tambang aspal. Bahkan surat lamaran dan CV (curiculum vitae) saya, sudah diminta sejak saya masih di Surabaya.
Pada akhirnya saya nurut, dan dengan 1001 bujukan, anak-anak, khususnya si Kakak, nurut saja ketika sebelumnya sekolah di kota metropolitan, langsung pindah di pelosok banget.
**********
Singkat cerita, setelah menjual banyak barang saya, dan memberikan barang-barang yang sulit laku, serta meninggalkan banyak barang masih bagus di kontrakan di Surabaya. Pulanglah kami ke Buton.
Dan setelah tiba di Baubau, baru saja turun dari kapal di waktu subuh, siangnya langsung disuruh naik motor bonceng si Kakak ke rumah mama, yang berjarak 70 KM dari kota Baubau.
Nggak heran, tak lama berserang, saya terserang demam batuk pilek hingga hampir sebulan, saking nggak dikasih jeda istrahat.
Anak-anak akhirnya saya daftarin di sekolah yang di pelosok, si Kakak dengan penuh perjuangan menyesuaikan diri. Mencoba cuek ketika dibully dengan panggilan 'Jawa', oleh teman-temannya. Dan saya un menunggu panggilan kerja.
Seminggu berlalu, dua minggu, hingga tak terasa sebulan berlalu. Berganti dua bulan, tiga bulan, nggak ada tanda-tanda saya dipanggil kerja.
Di sisi lain, setelah saya pulang ke Buton, papinya anak-anak malah seolah merayakan benar-benar bebas dari tanggung jawab atas kebutuhan hidup anaknya. Saya pun benar-benar harus kehilangan banyak langganan kerja sama blog, karena bahkan jaringan internet sering lelet, mati lampu mengakibatkan tak ada internet bahkan sampai sehari dua hari.
Sementara itu, mama yang katanya biasanya sehat-sehat saja, tiba-tiba saja tensinya sering naik. Dan setiap kali tensinya naik, dia uring-uringan, hingga suatu malam keceplosan kalau dia bingung karena gaji pensiunnya nggak cukup untuk membiayai makan kami bertiga.
Sebenarnya, tanpa diberi tahu kayak gitu, saya juga sejak awal sungkan banget kalau harus membebani mama tanpa ada pemasukan sama sekali. Itulah mengapa, saya memilih tinggal di Baubau, setidaknya ada koneksi internet tanpa mati-mati.
Dan karena kejadian tersebut, saya jadi uring-uringan, stres banget, dan ujungnya memaksa segera pindah ke Baubau.
Begitulah akhirnya, setelah 6 bulan di rumah mama, saya ke Baubau dan ditawarin tinggal di rumah kakak.
Baca juga : Pindah ke Rumah Kakak
Sebenarnya, saya nggak mau tinggal di rumah kakak, pengennya cari kos sendiri. Bahkan saya udah telpon beberapa teman untuk cari kos-kosan di Baubau.
Namun, karena memang saya benar-benar bokek, nggak ada pemasukan selama di rumah mama, akhirnya saya menerima tawaran tinggal di rumah kakak.
Waktu itu saya bingung, sebenarnya saya pengen anak-anak pindah semua ke Baubau, si Adik sih dengan mudah dipindahkan. Dan lagi-lagi saya terpaksa mengikuti aturan kakak, untuk pindahin si Adik di SD dekat tempat tinggalnya.
Padahal saya pengen banget si Adik masuk MIN.
Sementara si Kakak, yang saya pengen pindah juga, biar dia bisa jadi lulusan SMP di kota, kalau perlu di MTS, tapi dilarang kakak saya.
Alasannya, setahun lagi dia mau ujian, mending tetap aja di sekolah tersebut, sekalian temanin neneknya.
Dan begitulah, tinggal saya dan si Adik berdua di Baubau, tinggal di rumah kakak saya yang kosong.
Awalnya sih semua baik-baik saja, meskipun saya terserang anxiety oleh sikap kakak ipar yang memang sudah saya takutkan akan terjadi.
Pada akhirnya saya tak tahan lagi, dan membongkar semuanya, berakhir dengan kekacauan luar biasa. Saya diusir dari rumah kakak, padahal saya membongkar perilaku suaminya yang berkhianat.
Bingung banget mau tinggal di mana, mau balik ke Surabaya, nggak punya duit. Beruntung lagi-lagi Allah kirimkan orang baik membantu saya.
Di tengah-tengah daerah yang banyak keluarga, saya bahkan dibantuin oleh orang lain yang nggak ada hubungan darah sama sekali. Adalah kakak Elin, yang kebetulan punya kamar di rumah mertuanya, kamarnya terpisah, pisah dibilang semacam kos-kosan. Dia meminta saya untuk tinggal aja dulu di kamar tersebut secara cuman-cuma, dan saya hanya perlu membayar listrik saja.
Demikianlah ceritanya, mengapa saya sekarang berdua saja sama si Adik, bekerja di klinik medis di kota Baubau dengan gaji di jauh di bawah UMR, bahkan gajinya pun bolak balik telat dibayarkan, hahaha.
Dan begitulah alasan, mengapa si Kakak tinggal bersama neneknya, lalu menderita setelah rumah neneknya kebakaran. Semua barang yang saya bawa dari Surabaya terbakar, termasuk laptop, surat-surat penting, barang-barang elektronik dan lainnya.
Beruntung, sebagian baju dan surat penting saya dan si Adik, udah saya bawa ke Baubau. Duh, nulis part ini, hati saya kembali ngenes.
Ketika kebakaran, sebenarnya banyak tetangga yang meminta izin, agar si Kakak tinggal di rumah mereka dulu sementara waktu. Biarlah neneknya di Baubau saja.
Tapi nyatanya, neneknya nggak mau meninggalkan rumah yang udah rata dengan tanah tersebut. Bahkan mereka cuman beberapa hari tinggal di rumah tetangga. Berikutnya mereka tinggal di pondok-pondok yang jujur bikin hati saya menangis melihat anak saya tidur di tempat demikian.
Sampai akhirnya rumah neneknya bisa dibangun kembali dengan uang bantuan berbagai pihak. Dan sekarang si Kakak tetap tinggal sama neneknya, namun sudah di luar batas kemampuan saya untuk mengontrol beberapa hal yang dia lakukan.
Mulailah semua drama-drama kelakuan anak remaja yang dibebankan ke saya untuk menjadi ortu sempurna dan mencetak anak saya harus sempurna dan luar biasa.
********
Di sisi lain, jujur, saya tuh nggak tahan berlama-lama hidup di dekat dan mengikuti semua perintah kakak saya. Terlebih setelah masalah saya dengan suaminya terungkap, rasanya kok semua ekspektasinya terhadap saya jadi berlebihan.
Ada 2 hal yang bikin saya selalu kesal dan mengganggu ketenangan banget selepas menerima teleponnya. Yaitu, perintahnya untuk selalu memastikan kalau anak-anak saya harus sempurna. Padahal anak-anaknya sendiri, jauh dari sempurna.
Jujur, hal ini bikin saya kesal sekesal-kesalnya, sampai-sampai kadang harus berdoa dengan doa terlindungi dari sikap dzalim orang, saking sikap dia terasa dzalim banget buat saya.
Selain, perintahnya untuk saya segera menikah.
Anak Saya Harus Sempurna? Contohin Dong!
"Rey, bilangin Darrell agar mandi yang bersih, rajin ganti bajunya, mama sampai sakit kepala karena bau badannya!", katanya untuk kesekian kalinya.
"Iya, nanti saya bilangin!", jawab saya sambil menarik nafas.
"Kamu harus rajin-rajin jenguk dia, bersihkan kamarnya, cucikan bajunya!", perintahnya lagi.
"Iya!", jawab saya.
"Kapan libur?, kalau libur ke rumah mama dong!", katanya lagi.
"Iya!", jawab saya malas-malasan.
Apakah pertanyaan berisiknya sampai di situ?. Tentu tidak. Dia akan terus mendesak jawaban saya, mengapa saya tidak pernah lagi ke rumah mama, seharusnya rajin kunjungi mama, sekalian urus si Kakak di sana.
Yang ujungnya saya nggak tahan dengan semua pertanyaannya, akhirnya saya jawabin juga, dan ujungnya makin kesal, karena harus menahan diri sendiri.
"Sudah sering saya kasih tahu, tapi memang anak-anak saya hanya dengar kata-kataku!", jawab saya.
"Ya, kamu memang harus selalu ingatkan, itu tugasmu, saya juga gitu sama anak-anakku!", katanya.
Dan masih banyak lagi, yang intinya annoying buanget di telinga saya, karena memang nggak guna. Solusinya cuman satu, anak-anak saya ya tinggal sama saya, tanpa orang lain, niscaya mereka lebih mudah dengerin saya.
Yang bikin kesal tuh, dia selalu memaksa saya bekerja mati-matian sehingga menjadi orang sempurna. Dia nggak pernah melihat kemampuannya, lantas dibandingkan dengan kemampuan saya.
Maksudnya, meski membandingkan diri kita dengan orang lain itu nggak bijak, tapi dalam kasus ini saya bahkan rela dibandingkan dengan dia, karena saya tahu, dia bahkan tidak lebih bisa mengurus anaknya ketimbang saya.
Saya berani jamin, bahkan anaknya tidak akan betah tinggal sama neneknya, seperti si kakak yang tinggal di rumah neneknya dengan sabar, nggak pernah keluyuran. Dia hanya akan ke sekolah, lalu pulang di rumah neneknya, keluar lagi kalau ke masjid buat shalat, atau ada kegiatan di sekolahnya.
Si Kakak bahkan yang ke pasar membeli ini itu yang disuruh neneknya. Padahal dia anak lelaki remaja, tapi nggak malu ke pasar membeli ikan dan sayur, sesuai perintah neneknya.
Anak remaja dong.
Si kakak nggak pernah keluyuran, pulang sekolah hanya di rumah neneknya, keluar lagi kalau ke masjid
Intinya, sebenarnya si Kakak tuh, dengan semua kekurangannya, tapi masih lebih mending dibandingkan anak-anak remaja lelaki lain yang jauh lebih bandel.
Kalau mau dia sempurna, ya dididik dong dengan baik, kan dekat si Kakak.
Tapi nyatanya kan, mama saya memang nggak telaten mengurus anak. Bahkan kakak saya juga. Semua kelakuan kenakalan remaja anaknya, ketidak patuhan anaknya, dilempar ke suaminya.
Dia tau beres.
Sementara saya kan enggak. Semuanya saya tangani sendiri. Dan lucunya, dia mewajibkan anak saya harus sempurna, padahal saya hanya sendiri mengurus anak-anak saya.
Ah sudahlah.
Baubau, 10-03-2026

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)