Rumah Asuh Kota Baubau, Solusi Untuk Bahagiakan Perempuan dan Anak

Rumah Asuh Kota Baubau akhirnya hadir untuk memberikan jawaban atas berbagai permasalahan perempuan dan anak di kota seribu benteng ini. Ras...

Gaji Imut Kerjaan Seabrek, Tapi Gaji Belum Habis Sudah Gajian Lagi

gaji belum habis sudah gajian lagi

Saya pernah loh, bekerja dengan gaji yang terbilang kecil, tapi kerjaan saya udah berasa wakil direktur. Semua dikerjakan. Ya job desc sendiri di bagian teknik, mulai dari survey lokasi, gambar, hitung, ngawasin pelaksanaan, opname pekerjaan, dan semuanya.

Bahkan merangkap juga jadi HRD, keuangan dan lainnya. Semua bermula karena saya selalu kepo dengan pekerjaan orang, saya bantuin biar lancar, dan ujungnya jadi tugas saya, hahaha.

Meski kerjaan saya seabrek, ibaratnya semua hal saya ikutan, tapi gaji saya ya normal, nggak ada tambahan sama sekali, sama aja kayak lainnya. 

Nggak ada tambahan lembur, meskipun bahkan di hari libur saya ke proyek buat ngawasin pelaksanaan. Satu-satunya privilege saya hanyalah, nggak pernah kena marah, bebas izin jika memang butuh banget dan lebih mudah berkomunikasi dengan bos.

Saat itu, saya bekerja di sebuah perusahaan kontraktor kecil, yang menerima jasa pembangunan rumah mewah. Dan dengan gaji yang masih di bawah UMR, saya tinggalkan si Kakak yang kala itu masih berusia 4 tahun, di sebuah daycare di Sidoarjo.

Kala itu, papinya anak-anak juga masih bekerja di sebuah proyek pembangunan jalan tol Surabaya Mojokerto, gajinya juga standar lah.

Jangan pikir, kami-kami yang kerja di kontraktor itu gajinya besar ya, kagak kok. Meskipun ada juga yang gajinya besar, misal yang kerja di kontraktor BUMN atau sejenisnya. Tapi kalau kontraktor swasta biasa mah, gajinya juga standar.

Fyi, saat itu saya kembali bekerja setelah 4 tahunan menjadi IRT, jadi bisa dibilang kerjanya kayak dari awal lagi. Apalagi pengalaman saya sebelumnya adalah bekerja di kontraktor jalan dan jembatan. Jadinya kurang nyambung ya sebenarnya.

Ditambah usia saya udah masuk 30an, jadinya ketika diterima bekerja dengan gaji di bawah UMR saat itu, saya nurut saja.

Terlebih tujuan saya bekerja saat itu, untuk membantu papinya anak-anak keluar dari masalah keuangan yang lumayan pelik.

Akan tetapi, meski gaji di bawah UMR, nggak ada tambahan bonus ini itu dari bos, harus menggunakan uang saya dan papinya anak-anak untuk melunasi masalah finansial kami pulak. Ajaibnya, saya bisa merasakan fenomena, gaji belum habis, eh udah gajian lagi.

Bukan cuman itu, dengan gaji di bawah UMR itu, saya juga harus membayar biaya daycare si Kakak. Biaya dokter anak karena si Kakak sakit-sakitan mulu. Nyatanya masalah keuangan kami Alhamdulillah kelar dalam setahun saya bekerja.

Ajaib dan luar biasa sih menurut saya.

That's why, saya sangat percaya kalimat,

"Rezeki mengikuti usaha kita, kalau kita kerja digaji dengan sangat imut, sementara job kita luar biasa banyak, Allah yang akan cukupin kekurangan dari gaji imut yang dibayarkan ke kita!"

Dan Alhamdulillah, meski saya kerja keras dan mengambil banyak tanggung jawab, saya nggak sampai sakit tipes, seperti kata kebanyakan gen Z sekarang.

Baca juga : 3 Hal Penting Yang Harus Diketahui Gen Z

*********


Sejujurnya, saya kangen masa-masa seperti itu, masa ketika gaji belum habis eh udah gajian lagi. Bukan hanya karena gaji saya besar banget, tapi karena Allah mencukupi semua kebutuhan saya dari berbagai arah.

Karenanya, bahkan saat ini saya bekerja di klinik medis, saya mulai menjalankan kebiasaan yang lalu. Yang selalu pengen sat set dalam bekerja, yang selalu ingin membantu pekerjaan siapapun, agar cepat selesai. Meskipun risikonya dituduh cari muka, huhuhu.

Namun kali ini memang sedikit lebih berat, karena saya bekerja di perusahaan yang rekannya kebanyakan perempuan. 

Berdasarkan pengalaman saya, bekerja dengan rekan lelaki tuh sedikit dramanya, ketimbang bekerja dengan rekan perempuan.

Dulu, teman-teman memaklumi jika saya disayang bos, karena mereka pikir ya itu wajar, karena saya karyawan cewek yang cepat tanggap di divisi manapun.

Tapi di sini, di sekitar rekan kerja perempuan, di tengah anggapan dan perilaku banyak orang, yang memang sengaja bertujuan 'agar dikenal atasan'. Apalagi klinik tempat saya bekerja memang dimiliki oleh orang yang paling berpengaruh di kota Baubau. 

Jadi wajar sih segala tindak tanduk pekerja yang terbiasa sat set dan tanggap akan semua bagian, berasa memiliki perusahaan tersebut juga, dikatakan sebagai tindak 'cari muka pada ketua yayasan tersebut.

Baca juga : Ketika Semangat Kerja Tak Satu Frekwensi Dengan Budaya Kantor


Padahal, cara kerja demikian ya sudah menjadi ciri khas dan kebiasaan saya, di manapun saya bekerja. 

Dan iyes, saat ini pun saya bekerja dengan gaji yang sangat imut, tapi kinerja saya tak pernah benar-benar imut. Ditambah karena sepinya pemasukan perusahaan, berdampak pada gaji kami yang molor melulu.

Akan tetapi, bisa dibilang saya dan anak-anak masih bisa makan dan tidur di tempat yang beratap, nggak kehujanan dan kedinginan di jalanan.

Alhamdulillah, Allah masih bayar gaji saya melalui rezekinya dari berbagai arah. Meskipun belum lagi merasakan hal menyenangkan kayak dulu, di mana gaji kecil kerjaan seabrek, tapi gaji belum habis eh sudah gajian lagi.

Semoga aja bisa merasakan hal tersebut lagi ya.   


Baubau, 12-03-2026

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)