Diary Shift Pagi Ala Rey, Cerita Pasien Kekurangan Biaya

Hari ini saya masuk shift pagi, dan sampai di kantor pukul 08.10. Sedikit telat karena sibuk mengerjakan banyak hal dan menunggu si Adik bangun untuk mandi.

Baru saja sampai, datang pasien yang butuh dibuatkan SKBS atau Surat Keterangan Berbadan Sehat. Semua bisa saya handle tanpa drama. Tak lama kemudian, datang beberapa pasien berikutnya, dan hampir semuanya butuh dibuatkan surat keterangan sakit.

Baca juga : Bikin Surat Keterangan Berbadan Sehat Harga Terjangkau Di Sini


Seperti biasa, saya menjelaskan tentang prosedur pelayanan kesehatan di klinik, termasuk kalau belum menerima pasien BPJS. Dan rata-rata berakhir dengan pertanyaan,

"Kalau buat surat keterangan sakit, kira-kira berapa ya, Kak?"

Dan setelah dijelaskan, kebanyakan sih mundur, karena memang butuh bayar dokter, perawat dan lainnya, hehehe. Termasuk satu orang pasien laki yang kalau saya taksir usianya baru 20an.

Setelah saya infokan estimasi biaya yang dibutuhkan, dia pamit keluar sebentar. Namun tak berselang lama, dia kembali datang, dan mengatakan ingin dibuatkan surat keterangan sakit.

Selanjutnya seperti biasa saya urus pendaftarannya, lalu menghubungi perawat dan dokter.

Kalau dari tanda-tanda vitalnya, pasien ini sebenarnya cuman sakit biasa, batuk, dan sedikit demam. Tapi mungkin dia butuh surat itu untuk keterangan di tempatnya bekerja.

Tensinya normal, suhunya juga terbilaang normal, demikian juga dengan pernafasan dan lainnya. Namun memang dia terlihat batuk-batuk mulu ketika menunggu dokter.

"Kak, kalau saya nanti tidak usah ambil obatnya, apa boleh?", tanyanya.

"Kalau memang penyakitnya tidak parah, bisa kok ditolak, atau minta dokter resepkan obat generik biar lebih terjangkau", jawab saya.

Tak lama kemudian, dokter pun memanggilnya di ruang periksa. Namun belum juga lama dia di dalam, dokter keluar mencari saya,

"Kak, pasiennya mau minta tolong diambilin foto pas saya periksa tuh, kayaknya buat tempat kerjanya", kata dokter Yeni.

Baik banget si dokter, biasanya kan dokter tuh nyuruh pasiennya nyari kami, eh di sini dokternya yang keluar nyari kami, pasiennya nunggu di ruang dokter, hahaha.

Tapi ternyata dokternya keluar karena ada ibunya yang nungguin dia di depan klinik, dan udah ribet mau shalat. Jadilah saya anterin ibunya shalat dulu, setelah itu saya masuk ke ruangan dokter buat fotoin pasien ketika sedang diperiksa dokter.

Kepakai banget kan ilmu akoh menjadi blogger, bisa layanin pasien sekaligus dokumentasi, hahaha.

Hanya beberapa  menit pasien di dalam ruangan dokter, tak lama kemudian dia keluar. Dokter meresepkan 2  macam obat, perawatnya  memproses ke apotek dan tak lama kemudian saya mendapatkan rincian obat, untuk disatukan dengan rincian biaya lainnya.

Segera saya cetak invoice-nya dan memberikan pada pasien.

Ketika saya menyerahkan invoice tersebut, sambil menyebutkan nominal tagihannya, si pasien terlihat kebingungan. Dia merogoh saku celananya di kiri dan kanan.

Saya masih belum ngeh, sampai dia berkata,

"Kak, kalau obatnya saya taruh di sini dulu, biar saya ambilkan kekurangannya, bisa kah?", katanya sambil menyerahkan beberapa lembar uang yang terlihat kumal.

Saya meminta izin menerima uangnya, menghitungnya, dan ternyata kurang 4000 perak.

"Kurang 4000 ya?, tidak apa-apa kok, bawa saja obatnya!", jawab saya sambil tersenyum.

Terlihat wajah pasien memucat, sepertinya dia tidak nyaman atau semacamnya.

"Tidak apa-apa kok, bawa aja obatnya!", saya mengulangi perkataan tadi.

Pasiennya akhirnya berdiri, dengan sedikit membungkuk dia mengucapkan terima kasih, lalu menghilang di balik pintu klinik.

Saya tak lagi memperhatikan kepergian pasien tersebut, karena sibuk merapikan uang yang diterima, mencatat dan menyusun beberapa file kerjaan.

Baca juga : Diary Shift Siang Ala Rey, Pasien Bayi Meninggal

******


Sejujurnya saya nggak terlalu mempermasalahkan kekurangan biaya pasien tersebut, karena selain memang nominalnya terbilang kecil, dan masih bisa saya bantu nombokin banget kan ye. Pun juga saya lihat di total uang cash ada kelebihan uang dengan nominal yang sama dengan kekurangan uang pasien terssebut, 4000 perak.

Jadi saya berpikir, sepertinya memang ittu rezeki si pasien, jadi ya kurang segitu, nggak masalah.

Akan tetapi, baru saja saya tenggelam dalam pekerjaan yang harus dilakukan. Tiba-tiba pintu klinik terbuka, si pasien tersebut muncul lagi.    

"Permisi Kak, mau bayar kekurangan uang tadi!", katanya sambil menyerahkan 1 lembar uang 2000 dan 2 lembar uang 1000an.

"Ya ampun, sebenarnya tidak perlu kok!", kata saya.

"Tidak apa-apa, Kak!", jawabnya.

Saya lalu menerima uang tersebut dan berterima kasih, dibalas dengan terima kasih yang sama oleh pasien tersebut, lalu kemudian dia pamit dan menghilang di balik pintu.

******


Dalam hidup ini kadang memang lucu ya, ada orang yang mampu, tapi suka banget dapat atau minta gratisan. Tapi ada juga yang hidupnya pas-pasan, tapi malu jika harus diberi selalu.

How about you, Temans?

 

Baubau, 07-03-2026

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)