Saturday, July 31, 2021

Kulineran Rumah Makan di BauBau, Mahalkah?

Rumah Makan di BauBau

Sharing By Rey - Meski hanya sebentar bisa keluar rumah, tapi saya sempat dong kulineran di rumah makan di BauBau.

Meskipun makannya juga nggak asli-asli banget makanan khas BauBau, karena saya dan anak-anak makannya Coto Makassar dan Konro, hahaha.

Ceritanya saya nggak nginap di rumah kakak saya ketika ke BauBau, dan itu berarti saya bebas keluyuran bersama anak-anak.
Kok bisa?
Iya, soalnya kalau saya di rumah kakak, dijamin waktu saya habis buat masak di dapur tanpa henti, nyuapin anak-anak, dan ngurusin anak-anak yang beranteeeemmmm mulu sepanjang waktu.

Ampun deh, anak saya dan anak kakak nggak bisa akur, si adik dan anak bungsunya kakak saya, biarpun usianya udah mau 7 tahun, tapi dia nggak mau kalah dari si adik yang 3 tahun, hiks.

Dan begitulah, ketika bebas dari rumah si kakak, anak-anak juga nggak ketemu saudara sepupunya, maka saya dan anak-anak memutuskan untuk keluyuran bertiga, naik taksi online.

Maka begitulah, setelah kami capek keluyuran bertiga, pas mau pulang makan dan si adik rewel nggak mau pulang, akhirnya saya putuskan untuk mampir makan di luar aja, dan terpilihlah kami makan di RM Bontonompo yang letaknya dekat tempat tinggal kakak saya juga, hahaha.

Untungnya kakak saya lagi kerja, dan tempat tinggalnya di asrama Kodim BauBau letaknya di belakang RM tersebut, jadi nggak keliatan langsung.

Memutuskan mampir di sini, karena saya terpikirkan makan makanan yang mengenyangkan, dan tiba-tiba saja terpikir mau makan daging, karena udah beberapa lama di sana, setiap hari makan ikan laut mulu.
Dan akhirnya semua setuju makan coto, dan saya sendiri memilih Konro, biar porsinya banyak, hahaha.


Makan Coto dan Konro di RM Bontonompo BauBau


Sebenarnya coto dan konro adalah makanan khas Makassar, kalau makanan khas BauBau biasanya lebih ke ikan parende, tapi saya udah sering makan ikan parende di rumah mama.

Ada juga ayam nasu Wolio, di mana, sejak saya juga baru makan di rumah mama, dan beberapa makanan khas lainnya, di mana rasanya sayang aja kalau saya makannya di luar dan bayar.
Karena di rumah mama juga bisa makan itu dan gratis, hahaha.

Karenanya, biarin deh makan coto aja.

Di BauBau sebenarnya ada banyak penjual coto dan konro, namun karena saya familier dengan tempat ini, jadinya saya putuskan makan di rumah makan ini saja.
RM Bontonompo terletak di jalan Jenderal Sudirman Bau-Bau, di depan GPIB Immanuel BauBau.
RM ini udah lama banget berjualan coto dan Konro, dan dari dulu juga saya sering beli coto di sini.

Apakah enak?
Mmmmm.... gimana ya?
Kalau menurut saya ya hampir sama dengan Sop Saudara yang di Perak Surabaya, hehehe.
Ya gitu itu rasanya coto dan konro.
Rasanya kurang asin, makanya kelengkapan di atas mejanya banyak.
Yang pasti ada garam, karena rasa kuahnya masih kurang asin kalau buat saya.

Porsinya juga hampir sama dengan yang di Surabaya, dagingnya lumayan banyak, dan yang pasti empuk, nggak bikin gigi bekerja keras menggigit daging-dagingnya.

Harga coto dan konronya juga standar sih ya, kalau dibandingkan dengan di Surabaya, kayaknya lebih murah di BauBau.
Apalagi kalau liat totalan biayanya.
Jauh lebih murah di BauBau, meskipun kalau dilihat dari list harganya, rasanya nggak beda jauh dari yang di Surabaya.


Makan Bakso dan Mie/Nasi Goreng BauBau


Selain makan coto dan konro, saya juga sempat makan bakso serta nasi dan mie goreng di rumah makan di BauBau.

Hal ini terjadi ketika kami akan segera terbang kembali ke Surabaya.
Anak-anak minta makan bakso, dan oleh teman akrab saya, Mila, saya diajak ke rumah makan yang ada di jalan Sultan Hasanudin Batulo, BauBau.

Kata Mila, bakso di situ enak.
Maka mampirlah kami, dan saya memesan 3 porsi bakso untuk saya, Mila dan si adik.
Serta 1 porsi mie goreng buat si kakak, dan 1 porsi nasi goreng dibungkus buat bekal di bandara nanti.

Dan ternyata, untuk bakso seporsi harganya 17ribuan, hanya terdiri dari 5 bakso dan semangkuk penuh mie dan bihun.
Ternyata rasanya B aja, hahahaha.

Well, nggak biasa-biasa banget sih, hanya saja saya udah terbiasa makan bakso definisi enak versi saya di Surabaya, which is bakso enak itu, buat saya adalah bakso yang kenyal dan dagingnya berasa banget.

Untuk nasi goreng maupun mie gorengpun sama, rasanya ya standar.
Atau mungkin karena porsinya yang luar biasa kali ya? alias banyak, hahaha.


Kulineran Rumah Makan di BauBau, Mahalkah?


Lalu pertanyaan penting di benak banyak orang adalah, kulineran makanan khas BauBau, pada rumah makan di BauBau, apakah lebih mahal dari tempat lain?

Makanan khas BauBau

Menurut saya sih enggak.
Karena, perbedaannya terletak di minuman dan makanan pelengkap ketika makan di rumah makan.

Jika di tempat lain, misal di Jawa, rata-rata kita makan di rumah makan, wajib banget beli minuman, atau setidaknya punya air minum yang dibawa dari luar.
Sementara di rumah makan BauBau, hampir semuanya menyediakan air minum gratis buat pengunjung.

Jadi, kalau kita mau makan bakso misalnya, kita hanya perlu punya uang seharga makanan.
Kalaupun nggak bawa air minum, dan nggak mau beli minuman yang dijual di tempat tersebut, maka kita bisa minum air putih yang disediakan rumah makan tersebut.

Tentunya airnya kebanyakan sih air mineral isi ulang ya, atau bisa jadi air masak, jangan berharap airnya Aqua asli, hahaha.

Bukan hanya dapat air putih gratis, bahkan pelengkap makananpun kadang gratis.
Misal, mau makan coto atau konro, tentu kan akan lebih enak kalau makannya pakai ketupat.
Nah ternyata, ketupat dan buras yang disediakan di meja makan itu, adalah gratis.

Kita bebas makan semua ketupat dan buras yang tersaji, tanpa dikenakan tambahan harga.
Ini sama sekali nggak bisa kita temukan di Surabaya.
Di mana, kalau makan ya ketupat dan buras wajib beli atau bayar lagi.

Nggak heran, kalau total harga makan di rumah makan di Surabaya misalnya, jauh lebih mahal ketimbang kita makan di rumah makan BauBau.
Karena yang dibayar cuman makanan inti.

Namun, disediakannya pelengkap dan air minum gratis bukan berarti kita terlena.
Justru karena itu kali ya, harga minuman yang harus dibeli di sana lebih mahal.
Misal es teh kalau di Surabaya bisa dapatin 5 ribu per gelas, di Buton bisa 10 ribu dong, hahaha.

Demikianlah, kulineran di tempat-tempat yang jarang kita temui itu memang membuat kita merasakan hal yang berbeda dari tempat yang biasa kita datangi.

Yang pasti, biar nggak tertipu harga atau malah malu-maluin nggak cukup duitnya, mending nanya harga dulu deh, biar aman, hahaha.

Kalau kulineran di tempat Temans, gimana?
Share yuk.

Sidoarjo, 31 Juli 2021


Sumber: pengalaman pribadi
Gambar: dokumen pribadi dan Canva

4 comments :

  1. Memang klo didaerah, restony disediain minum gratis ya. Di padang juga gt mba, suka dikasi air putih atau teh tawar gratis, jd kita ga perlu pesen minum. Hehehe..
    Jd jatohnya makan di baubau lbh murah ya Mba rey, dibanding di Surabaya. Walau klo soal rasa, terngtng dpt restonya yg cocok atau ga..

    ReplyDelete
  2. Kayak di Aceh, ATO Sibolga, air putih disediain gratis biasanya. Ga tau ya kalo sekarang, aku udh lama ga mudik soalnya hahahaha. Tapi kadang ni Rey, aku pernah nyobain air putihnya di rumah makan yg nyediain air gratis, tapi rasa airnya kayak ada bau2 besi gituuuu hahahahhaa. Aduuuuh, aku ga doyan. Makanya kalo ketemu rumah makan yg memang nyediain air putih gratis, aku jarang mau minum Krn udh kebayang aja si air beraroma besi itu :D. Jadi pasti aku oesen Aqua botol.krn mau pesen teh pun, pasti yg mereka pakai air aroma besi 😂. Memang ga semua yaaa, tapi ada yg rasa air nya ga plain.

    ReplyDelete
  3. karena aku bukan orang Buton, yang jelas aku penasaran sama kuliner disana
    aku mau ke kampung halamannya mba Rey. Ngerasain masa mudanya mbak Rey disana hehehe
    apalagi kalau dateng ke kota yang baru, yang asing, bawaannya pasti semangat, pasti ingin tau ini itu, nyobain ini itu

    ReplyDelete
  4. Waktu pulang kampung emang enakan jalan jalan sekalian kulineran, apalagi kalo tempatnya jauh seperti di Baubau itu, belum tentu setahun sekali pulang ya mbak.

    Coto dan konro makanan khas Makassar ya, apakah Coto Makassar itu sama dengan soto yang banyak dijual di Jawa seperti soto Lamongan misalnya?

    Memang selera orang berbeda-beda ya, kata Mila temannya mbak Rey baksonya enak, eh pas beli ternyata biasa saja. Mungkin karena di Surabaya sudah biasa makan yang enak.😆

    Ini aku jadi ingat kue pancong. Waktu kecil itu jajan kue pancong kayaknya sudah masuk surga saking enaknya, eh kemarin ada yang jual kue pancong terus beli, rasanya biasa saja, mungkin karena sudah biasa jajan kue lain.😂

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top