Friday, August 09, 2019

Ketika Emansipasi Wanita dalam Rumah Tangga Jadi Kebablasan


Emansipasi Wanita


emansipasi wanita


Sharing By Rey - #FridayMarriage - Emansipasi wanita, tidak ada begitu saja di bumi pertiwi ini, setidaknya emansipasi wanita di Indonesia lekat dengan sosok pejuangnya yaitu RA Kartini.

Tapi, sependek pengetahuan saya, RA Kartini berjuang untuk kesetaraan wanita dalam bidang pendidikan dan kiprahnya dalam dunia bukan sebatas 'dapur-kasur-sumur' saja, bukan dalam semua bidang, apalagi sampai harus mengambil alih tugas utama seorang suami yaitu sang pencari nafkah.

RA Kartini, berani menantang adat istiadat Jawa zaman dahulu, yang mengungkung para wanita hanya sebagai objek 'dapur-kasur-sumur' saja, tidak ada akses untuk memperoleh pendidikan.

Padahal, wanita, khususnya ibu adalah guru pertama bagi seorang anak, bagaimana seorang anak bisa tumbuh dengan lebih baik, jika ibunya sama sekali tidak punya pendidikan?

Setidaknya, itulah emansipasi yang diinginkan oleh seorang RA Kartini.
Dan kemudian di Indonesia berkembang dengan adanya kongres perempuan nasional pertama kalinya diselenggarakan pada tanggal 22 Desember 1928, yang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia tetep keukeh mengatakan itu adalah hari ibu.


Ya, sama dengan peringatan hari Kartini setiap bulan April, kebanyakan orang memperingati dengan karnaval baju daerah, khususnya baju yang dikenakan RA Kartini.

Padahal sangat bertentangan dengan tujuan RA Kartini demi emansipasi wanita, hari perempuan nasional pun diperingati sebagai hari mama aka ibu yang mana menggambarkan seorang ibu melahirkan anak atau semacamnya.

Padahal, maksud dari peringatan hari perempuan tersebut adalah menyatakan bahwa sejak saat itu, perempuan Indonesia pun bebas beremansipasi bukan sekadar  'dapur-kasur-sumur', tapi mulai bebas berpendidikan bahkan punya semacam perkumpulan bahkan mengadakan kongres segala.


Emansipasi Wanita Yang Kebablasan


Entahlah, siapa yang lebih dahulu membuat emansipasi tersebut jadi kebablasan, sehingga bablas sampai disalah artikan dalam rumah tangga.

Entah mungkin wanita sendiri yang selalu merasa kurang.
Mulai dari, akhirnya wanita di Indonesia juga akhirnya bebas menuntut ilmu, yang sebelumnya di zaman RA Kartini, sama sekali tidak bisa melakukan hal tersebut.

Lalu, akhirnya sudah berpendidikan, merasa sayang ilmunya hanya dipakai untuk anak saja (sedemikian tujuan RA Kartini awalnya, berpendidikan agar bisa menjadi guru pertama yang baik untuk anak), lalu dengan alasan tersebut akhirnya wanita bisa masuk ke dalam ranah pekerjaan yang mungkin sebelumnya hanya dikuasai oleh lelaki.

Dan waktu berlalu, sekarang bahkan banyak banget wanita menjadi atasan dari banyak lelaki.

emansipasi wanita

Sayangnya, kita wanita kadang lupa akan kodrat kita sebagai wanita, yang akhirnya menjadi seorang istri, yang mana dalam Islam, seorang istri itu wajib tunduk pada suaminya, bukan berarti suami patriarki, tapi memang demikianlah Allah mengaturnya, dan ALLAH TAK PERNAH SALAH.

Jadilah, setelah menikah, menjadi istri, tiba-tiba melihat bayi itu sangat lucu, kepengeeenn banget punya bayi juga.
Maka mulailah dari yang awalnya setelah menikah, merasa sayang dengan karir yang sedang dipuncak-puncaknya, maka memutuskan menunda adanya momongan.

Setelahnya, mulai tidak menunda, eh teryata jadinya nggak dikasi-kasih, sehingga harus melakukan promil ini itu (hanya sebagian pasangan sih).

Lalu, setelah berhasil, hamillah sang wanita tersebut, mulailah dia merasakan, betapa hamil itu tidak melulu seindah iklan di TV, ada saatnya dia kudu mengerem kehebatannya dalam dunia kerja.
Kudu istrahat, dan akhirnya, karirnya tersendat serta kinerjanya dinilai menurun.

Bukan hanya itu, drama sesungguhnya terjadi setelah sang wanita resmi menjadi seorang ibu, yang mana sekarang dia sudah tidak bisa sebebas saat masih sendiri, ada seorang bayi mungil yang memerlukan perlindungannya selama 24 jam.

Dan sungguh tidak bisa terjadi, jika seorang wanita masih harus bekerja selayaknya belum menjadi seorang ibu.


Meskipun, tidak semua wanita jadi terganggu karirnya sejak menjadi seorang ibu, namun setidaknya saya rasa 90% pastilah merasakan dramanya yang berkepanjangan.

Di sisi lain...

Tidak dipungkiri, semasa bekerja, hampir semua istri berperan juga dalam keuangan rumah tangga, saya rasa hanya ada segelintir, bahkan bisa dihitung dengan mudah, jika ada seorang wanita yang BEKERJA HANYA UNTUK BERSENANG-SENANG.

Gajinya dipakai sendiri, sementara biaya rumah tangga bahkan biaya untuk support keluarga sendiri berasal dari suami, salah satunya si Nia Ramadhani kali yak, lol.

Terlebih lagi, jika memang gaji dari istri dipergunakan untuk kebutuhan yang wajib, seperti kebutuhan sandang, pangan dan papan.
Maka dramanya bakalan lebih 'menggigit', lol.


Emansipasi Wanita Yang Dimanfaatkan Pria


Dan yang paling menyedihkan itu adalah, ternyata emansipasi wanita zaman now, membuat banyak pria menjadikannya sebagai lahan aji mumpung.
Aji mumpung bersantai-santai, karena ada yang bantu.

Memang sih, tidak semua pria seperti itu, masih banyak juga yang malah malu dengan emansipasi wanita dari istrinya yang malah kebablasan menanggung biaya rumah tangga.

Karenanya, banyak pria yang berstatus seorang suami, malah melarang istrinya bekerja di luar rumah, terlebih jika mereka sudah mempunyai anak.

Well, meskipun ada yang melarang karena memang sadar diri, itu tugas seorang suami.
Tapi ada juga yang melarang atas dasar patriarki yang sebenarnya.
Tidak mau istrinya terlihat lebih dominan terutama dalam hal keuangan, atau cemburu jika istrinya bekerja dekat lelaki lainnya di luar sana.

Lalu, setelah memaksa istrinya di rumah saja, juga memaksa istrinya hidup seadanya, bahkan nggak ada makanan pun, kalau perlu puasa dulu, lololol.

Duh, yang laki jangan protes dulu!
Banyak kok terjadi dewasa ini, lihat saja di medsos, banyak yang curhat masalah itu, baik secara terang-terangan, maupun melalui fiksi yang disamarkan jadi non fiksi, lololol.

Tapi ternyata, itu belum seberapa loh!
Ada juga yang lebih parah!

Di mana lagi kalau bukan dalam curhatan para lelaki yang masuk ke akun instagram @cerminlelaki.
Para instagramer sejati pasti tahu nih akun, yang selalu menerima curhatan para lelaki untuk menceritakan masalah pribadinya dan dibagikan untuk di komentari banyak orang.

Dari banyak cerita yang masuk, seringnya saya melihat cerita lelaki yang sudah bertukar peran dengan wanita.
Kalau dulu tuh wanita identik dengan perempuan matre, sekarang priapun ikutan matre!


Ada dong, seorang lelaki yang curhat ingin membatalkan pernikahannya, karena ternyata istri tidak sekaya yang diharapkan.

Ada pula yang ingin cerai, karena setelah punya anak, istri memutuskan resign dan fokus mengurus anak dan rumah saja, sang suami shock menanggung semua kebutuhan rumah tangga, dan berpendapat :
"Rumah tangga kan kita bangun bersama, termasuk keuangan kita usahakan bersama"
Ingin rasanya mencabut anunya, lalu diganti ama anunya perempuan, biar tau rasanya melahirkan itu kayak gimana.
Terus ingin juga memompa payudaranya, biar bisa nyusuin bayi, biar tahu betapa GAK ENAKNYA menyusui itu.

emansipasi wanita
believe me, butuh perjuangan dan air mata hingga bisa menyusui dengan
senyum manis kayak gini

Astagfirullah!

Saya selalu pengen berkata kasar di komen akun tersebut, tapi urung, karena mikir BUAT APA COBA? hahaha.

Duh, semoga saya diberi kekuatan dan kesehatan selalu oleh Allah, agar bisa mendidik anak-anak saya yang kebetulan keduanya adalah laki-laki, untuk menjadi the real mean sesuai kodrat Allah, aamiin.


Emansipasi Wanita Bagi Rey


Sengaja sub judulnya ditulis 'bagi Rey', bukan 'bagi saya'.
Ye kan, biar nama Rey - nya Reyne Raea bisa terindex Google, mengalahkan si Rey nya star wars.
Soalnya setiap kali saya googling nama 'Rey' , yang muncul si Rey star wars, lol.

Eh sekarang malah ketambahan si Rey Utami pula, gara-gara ikan asin, dududududu..


Okeh, fokus, Rey!

Emansipasi wanita?
Waahh Rey banget itu mah!

Saya adalah wanita yang sangat menjunjung tinggi emansipasi wanita, karena saya adalah wanita yang nggak suka dikekang.

Apalagi semenjak saya terdampar di dunia teknik seperti teknik Sipil.
Sejak STM mengerjakan pekerjaan lelaki.
Gali lubang buat bikin pondasi, nyampurin spesi alias campuran semen dan pasir secara manual, dan sebagainya.

Sewaktu kerjapun, saya tidak sungkan naik pick up dengan para pekerja yang aroma tubuhnya, ya gituuuu daahh, lol.
Saya wanita, saya beremansipasi, yang bisa melakukan pekerjaan pria juga.

Namun, saya bersyukur, saya masih diberi sedikit kecerdasan oleh Allah, untuk menyadari bahwasanya saya adalah seorang wanita, yang kodratnya ya di bawah pria seharusnya.

Mungkin itulah yang membuat saya berani memilih jadi ibu rumah tangga, meski sesungguhnya saya tidak mau karena berbagai hal.

Saat saya bekerja, sebelum punya anak, gaji saya juga dipergunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Dan nggak usah ditanya, bagaimana keadaan keuangan kami saat saya berhenti bekerja.

Ya lumayan goyang lah.

Terutama di saya yang harus berjuang membiasakan diri hidup seadanya, bukan berarti saya sebelumnya hidup boros banget sih.

Namun sejak saya berhenti bekerja, saya harus bisa bersabar untuk sesuatu yang saya inginkan untuk kebutuhan pribadi, karena sebelumnya dengan gaji saya sendiri, saya bisa dengan mudahnya membeli kebutuhan tersebut.

Suami?
Sejujurnya saya tidak tahu apa isi hatinya, dulunya sih tersirat di matanya kalau beliau semacam tidak setuju saya berhenti kerja, mungkin karena memang dulu gajinya sama sekali belum memadai.

Namun beliau nggak pernah sama sekali mengatakannya.

Dan saya, akhirnya memilih untuk tetap produktif dari rumah, melakukan apa yang masih bisa saya lakukan demi mendapatkan uang, meskipun sejujurnya, dengan kondisi sekarang, hal itu sungguh imposible!

Tapi saya ingin beremansipasi, setidaknya bisa sedikit meringankan beban suami, dengan menanggung semua kebutuhan pribadi saya.

Dan begitulah, Alhamdulillah, meski dapat duitnya saya tempuh dengan mengorbankan waktu tidur, say babay terhadap tontonan TV, apalagi ngedrakor?

Setidaknya, saya masih bisa membeli skinker, mekap, jajanin anak, bayarin jalan-jalan meski suami lagi bokek parah, dengan menggunakan uang yang saya peroleh, bukan membebani suami semuanya.

Meskipun, tetap saja ada ucapan sumbang yang terdengar,
"Rey itu ya boros banget! Sudah tahu suaminya ngos-ngosan cari uang, sekolah anaknya mahal pula, tiap saat belanja online terus, skinker dllnya macam-macam, betul-betul istri yang nggak tahu malu"
Hmm.. saya mah cuek saja, namun tetap sampaikan ke pak suami,
"pi, ini saya beli dari uang honor nulis ya"
Atau jika ada paket datang,
 "Pi, ini endorse an ya, bukan mami beli"
Atau juga,
"jalan-jalan yuk pi, mami udah booking hotel loh, kebetulan fee job mami udah keluar"
Dan semacamnya.

Biarlah orang lain, baik keluarga saya maupun keluarga suami menganggap saya boros.
WHATEVERRRR!!!

Asal suami saya tahu, bahwa itu uang saya, yang saya peroleh dengan beneran jungkir balik!
Ye kan, bayangin aja ngurusin 2 anak yang belum pada mandiri, seorang diri!
Nggak ada keluarga, tetangga atau ART yang bantuin.

Paksu kerja di luar kota pula.
Kalau sakit kayak sekarang, saya rasanya harus merayap melawan migren sambil gendongin bayi yang juga lagi sakit, sambil nyiapin sarapan si kakak.

Alhamdulillah cuman saya dan si bayi yang sakit, si kakak masih sehat.

Ye kan..
Tidak mudah temans!

So..
Saya berhak menikmati hasil emansipasi wanita ala Rey ini kan ye...
Kalau temans gimana?
Share yuk!

Semoga ada manfaatnya :)

Sidoarjo, 9 Aug 2019

Pic : unsplash

24 comments:

  1. wanita bagaimanapun kodratnya pasti selalu berada di bawah laki laki.. meskipun wanita bekerja jg dgn alasan emansipasi ya tetap laki-laki yg menjadi kepalanya :D
    ini nice mba, pencerahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul... kodrat di bawah lelaki maksudnya kepala tetap suami, dan yang bertanggung jawab tetap suami :)

      Delete
  2. Ehem ehem... serius lagi.

    I disagree dengan pernyataan bahwa wanita kodratnya di "bawah" pria. Apakah agama Islam mengajarkan bahwa wanita berada di bawah pria? Saya rasa sih tidak.

    Bagi saya sih wanita dan pria pada dasarnya memang sederajat dan sama kedudukannya. Keduanya adalah manusia dengan segala keterbatasan dan kelebihannya. Tidak ada yang derajatnya di bawah atau di atas.

    Yang berbeda adalah "peran" dalam kehidupan. Keduanya bisa menjalankan peran yang sama dan dalam hal ini banyak peran pria yang bisa dilakukan wanita dan peran wanita yang bisa dilakukan pria, contohnya memasak, membersihkan rumah, mengurus anak.

    Yang tidak bisa dilakukan pria adalah melahirkan karena secara fisik memang kodratnya berbeda. Menyusui secara langsung dari badan sendiri tidak bisa, tetapi "menyusui" anak dan mengasuh bisa dilakukan pria.

    Saya rasa itulah yang diperjuangkan oleh RA Kartini, yaitu persamaan hak dan kesempatan dalam menjalani hidup sesuai yang dikehendakinya. Itu juga yang diusahakan beliau agar posisi wanita tidak dipandang sebagai "bawahan" dari kaum pria. Tidak juga dipandang sebagai "dagangan" orangtua untuk mendapatkan "pria" kaya.

    Wanita dan pria adalah sederajat.

    Pola pandang bahwa wanita harus selalu di rumah adalah bentuk budaya yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Tidak akan sama setiap jamannya.

    Dulu, pria merupakan tulang punggung keluarga dalam hal mencari nafkah. Wanita di rumah saja menjadi tulang punggung dalam mengurus rumah dan anak.

    Sayangnya, jaman berubah. Kebutuhan hidup mendesak dimana penghasilan keluarga sulit ditopang hanya dengan gaji dari suami. Ditambah dengan konsep emansipasi, maka wanita pun mulai keluar dan ikut berjuang.

    Salah? Ya tidak. Sebagai anggota keluarga, baik pria dan wanita sama-sama memiliki hak dan kewajiban berjuang demi kesejahteraan keluarganya. Berpikiran bahwa hanya karena merasa itu tugas laki-laki, wanita hanya cukup menunggu di saat keluarganya "kelaparan" dan hidup susah adalah sebuah bentuk "kelalaian tersendiri".

    Keluarga harus sejahtera, baik yang didukung penghasilan pria, atau wanita, atau keduanya.

    Pemikiran semua harus dari laki-laki dan wanita di rumah saja akan segera menjadi pemikiran usang akibat tekanan zaman. Zaman sekarang menuntut keluarga, pasutri sebagai sebuah tim yang bahu membahu berjuang demi keluarganya.

    Target dan perjuangan dilakukan bersama. Kompromi harus ditemukan antara keduanya demi keluarga dan anak-anak.

    Terus terang, terus mengusung pemikiran pria mencari nafkah dan wanita di rumah bukanlah sebuah pemikiran bijak kalau tanpa melihat kondisi dan situasi di lapangan. Kalau memang mampu, ya tidak masalah, tetapi kalau suami tidak bekerja, dan wanita hanya bisa marah-marah dan memaksa bahwa penghasilan harus suami yang cari, disana yang namanya pangkal kebodohan.

    Terlepas dari kenyataan bahwa ada pria yang menjadi benalu, tetapi wanita adalah bagian penting dalam sebuah keluarga. Ia bukan hanya sebagai mesin penghasil anak dan robot pengurus rumah.

    Wanita adalah partner seorang laki-laki. Teman, kawan, sahabat, tempat bertukar pikiran, teman berjuang.

    Bukankah karena itu sepasang pria dan wanita menikah. Demi mencari teman seperjalanan dalam kehidupan.

    Sebuah posisi yang menjelaskan sendiri mengapa "saya" meski bukan wanita, tidak bisa memandang kaum perempuan sebagai berada di "bawah" laki-laki.

    (Berusaha seperti apapun dengan menggunakan kata Rey tidak akan membuat posisimu berada di peringkat atas SERP Google. Itu karena ketenaran Rey Star Wars sudah ke seluruh dunia...:-D :-D akan sulit bersaing secara frontal dengan memaksakan kata Rey .. Yang bisa dilakukan adalah terus memperjuangkan blog ini menjadi seterkenal Rey Star Wars)

    Hahahahahaha.. makanya cari nama jangan yang mirip tokoh terkenal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di salip nih gue, kirain dapat no Two. :)

      Delete
    2. Kang Nata pan selalu nomor satu.. masa sekarang berebut nomor dua sih

      Delete
    3. Sulit Pak nangkring di No.One.,,Kudu Koment di Pagi - Pagi BUTA. hahaha..... :)

      Delete
    4. Duh si bapak, nyarissss aja ngalahin panjang postingan saya hahahaha.

      Sebenarnya, postingan saya ini dalam hal pernikahan pak, maksud saya kodrat di bawah pria itu adalah, istri seharusnya sehebat apapun, tetap berada di belakang imam, yang mana imam tetap memegang tanggung jawab terbesar dalam rumah tangga.

      Saya amat sangat mendukung seorang istri bekerja, membantu suami meningkatkan taraf hidup keluarga.

      Yang menjadi masalah adalah, kadang semua itu jadi kebablasan.
      Di mana, seorang suami masih menganggap dirinya seorang pemimpin, harus dilayani, harus dipatuhi, jadinya udahlah dibantuin cari duit, eh pulang di rumah, santai-santai wae nggak mau bantu-bantu kerjaan rumah.

      Bersyukurlah kami para wanita yang punya suami cekatan dalam membantu kerjaan rumah.

      Tapi di luar sana, masih banyak wanita yang kesal bukan kepalang, karena kewalahan bekerja cari uang, tapi kudu mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri pula, urus anak pun seorang diri.

      Karenanya, banyak wanita yang merasa nggak sanggup mengerjakan semuanya, dan memilih jadi IRT.
      Saat itulah suaminya marah, karena menanggap keuangan keluarga terganggu kalau istri tidak bekerja.

      Saya nggak mau bahas dalam Islam secara mendalam sih, cuman memang sedikit saya suka dengar ceramah, sebenarnya wanita tidak dibatasi dalam bekerja, tapi sebisa mungkin kerjanya bukan di luar.

      Dan juga, jika pekerjaannya sudah membuat tugas utamanya sebagai istri terbengkalai, sebaiknya perlu dikaji ulang.

      Nah, pemahaman-pemahaman yang di ambil separuh-separuh gitu, yang jadinya nggak adil bagi seorang istri.

      Di rumah, seorang suami memposisikan dirinya sebagai imam yang kudu dilayani, sementara dalam berumah tangga, menganggap mencari nafkah keluarga adalah tanggung jawab bersama.

      hadeeehhhh...


      Dan saya setuju banget istri adalah partner, meski ada batasan-batasannya :D

      Btw lagi, ih kali aja pak, besok-besok Rey dari reyneraea jadi viral, ngalahin Rey Utami maupun Rey Star Wars, wakakakakakakaka

      Delete
  3. Ada Dua Point penting yang saya tangkap ditulisan hebyat kali ini .

    1. Kalimat Boros.

    Sebenarnya pengertian boros ini menurut saya adalah ketika membeli barang, jasa dll, lalu setelah dibeli menjadi tidak berguna, lalu terbuang sia - sia.

    Lalu perlu diteliti kembali......

    Apakah, pemborosan seperti yang saya artikan diatas, atau malahan ngak mau atau ngak mampu belikan istrinya sesuatu dengan dalih BOROS.#Yuk kita para lelaki RENUNGAN SUCI dulu yah, hihihi....

    2. Kata " Keblabasan " yang Mbak tulis, ditempat saya sering disebut " KEBABLASAN " loh Mbak, coba cek apa perbedaanya..? :)

    # pasti bakal sibut edit Ulang nih yeee, hahahah...*Peace*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Koreksi.. tulisan Nggak yang benar ukan Ngak... tidak ada dalam kamusnya....#Kabur

      Delete
    2. Hahahahh.... " senjata Makan Tuan nih ". :)

      Termasuk kata ' Ukan " saya baru tahu nih. Mudah - mudahan ada di Kamus Bahasa Indonesia. :)

      Delete
    3. Wakakakakaka, langsung edit, dan udaaahh hahahahahahaaha
      SETUJUUUUU...!!!

      Sayangnya, banyak yang menganggap boros itu adalah saat kita membeli sesuatu yang orang itu belum bisa beli, hahahahaha

      Ya begitulaaahh..
      Padahal tiap orang tuh beda-beda ya.

      Delete
    4. UNTUNG URL postingnya ngak ada kata Keblabasan, kalau di edit ulang Url-nya, bakal Eror Mbak. :)

      Delete
  4. Emansipasi kadang jadi standar ganda mba.
    Giliran masuk mobil atau antri sesuatu suka bilang ladies first deh ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahahaha, apa-apa teriak emansipasi, giliran di kendaraan umum nggak dapat tempat duduk, lalu melirik sinis ke lelaki yang duduk wkwkwkw

      Delete
  5. Istri harus tunduk pada suami dan suami harus mengasihi istrinya. Jadi tidak ada yang paling dominan karena relasi pernikahan adalah saling melengkapi satu sama lain, sehingga menjadi pasangan yang seimbang.

    ReplyDelete
  6. Suka sama post ini mba Rey, hehehe~

    Saya juga setuju karena pada dasarnya suami adalah imam istri jadi sudah sepatutnya istri mengikuti apa kata suami~ tapi gara-gara akun cerminlelaki itu juga mba saya jadi suka stres baca cerita-cerita para suami yang kadang nggak tau malu hahahah apalagi yang minta cerai karena suaminya resign. Hadu haduuu..

    Saya juga sependapat dengan komennya mas Anton yang puanjang bangets sampai sepanjang post aslinya hahaha, tapi memang sudah seharusnya suami istri itu berpartner dalam hidup~ mungkin kalau suami butuh istri untuk support secara keuangan it's okay tapi kadang istri sudah support dengan ikut kerja banting tulang di luar rumah, eh di rumah si suami justru nggak ikut bantu mengurus anak-anak, itu yang kadang membuat kesal kalau dibaca cerita-ceritanya :D

    Hehehe, akhir kata apapun tujuannya sebenarnya emansipasi wanita itu baik asal dilakukan pada koridornya, dan nggak KEBABLASAN hihihi <3

    ReplyDelete
  7. apapun emansipasi tidak boleh sampai mengorbankan fitrah wanita

    ReplyDelete
  8. Miris ketika emansipasi wanita jadi kebabalasan atau ketika dimanfaatkan pria. Dua-duanya nggak bener dan bikin saya syebel....
    Saya sih pengennya suatu saat nanti bisa kayak mbk rey hi..hi...😁
    Dan nggak peduli juga dengan kata orang yang sok maha benar

    ReplyDelete
  9. yang pengguna instagram sejati pasti tau akun @cerminlelaki, yahhh sayangs ekali saya ga tau berarti saya bukan pengguna sejati instagram dong mbak, lol

    kalau saya sendiri karena bukan perempuan jadi ga tau mau bilang apa mbak, cuma ketika saya menikah nanti saya akan membebaskan istri saya untuk bekerja atau pun tidak.

    sementara untuk pekerjaan rumah dan ngurus anak, ya bareng-bareng. Pengen juga gitu istri belum bangun tiba-tiba cucian udah dicuci, apa istri ga sumringah, saya juga bahagia.

    begitu juga untuk ngurus anak. karena sosok ayah mengambil peran yang seimbang dengan peran seorang ayah.

    mungkin dimasa depan, cuma 1 hal yang ga boleh istri saya, yaitu ngangkat galon air sendiri, hahaha

    ReplyDelete
  10. wahhhh mbak rey kereeen...jempol deh

    alhamdulillah suamiku juga santai.mau kerja boleh, gak juga gpp. jd part timer kayak skrg tampaknya sii lebih disukainya hahaha

    btw aku setuju banget kalo tugas suami yang utama memang nyari sesuap nasi buat di rumah ya kan? hmmm.. kalo dibalik gmn ya. ada sih cth temen...alhamdulillah mereka kom[ak dan akur aja sepertinya

    ReplyDelete
  11. ngeselin juga ya kalo ada suami kesel gara2 istrinya resign. ngandelin istri banget dong.

    ya, emang bener sih rumah tangga dibangun bersama, tapi kalo memang kondisi nya gak memungkinkan untuk kerja ya gak masalah dong suami cari uang sendiri. kan udah jadi kewajibannya.

    coba doi disuruh bantu2 urusan rumah tangga + ngurus anak juga, pasti ga shanggup deh.

    ngeselin sih laki kayak gitu. etapi jangan dicabut anu nya juga mbaa, kasiaan.. mehehehehe..

    ReplyDelete
  12. Jadi Mbak Rey ada saingannya nih, Rey starwars sama Rey utami. Hehe ...


    Emansipasi wanita itu, ya, saling kerja sama menurutku. Menutupi yang jadi kekurangan pasangan. Soal keuangan tanggungan suami, Karena wajibnya suami ngasih nafkah untuk istri. Istri juga memang ada yang milih bekerja ada yang full time mom. Sama keduanya juga butuh perjuangan untuk melewatinya.

    Memang iya kadang ada lelaki yang ingin disokong juga oleh perempuannya, cek lagi kenapa? Ternyata ada Pola pengasuhan yang melekat ditanamkan oleh keluarganya. Syukur kalau istrinya ridha kalau enggak ya jangan maksa istri kerja, dong. Orang di rumah aja banyak yang dikerjakan istri apalagi punya anak babby or balita dan tanpa art.

    Ini agak rumit juga sih kalau dikupas tuntas. Segini aja deh, tanggapannya.

    ReplyDelete
  13. Justru banyak era sekarang istri kerja suami malah dirumah..😄😄

    Tapi intinya sehabat2nya wanita berkarier. Bila sudah bersuami apapun itu yaa harus bisa patuh pada Suami. Bila dikantor sang istri seorang manager, Tetapi bila sudah dirumah yaa tetap IRT yang harus bisa ngurus anak dan suami..😄😄


    Beda dengan saya Istri kerja, Saya kerja. Anak2 kadang ikut istri kadang titip dimertua. Tetapi bersyukur jarang ada perdebatan masalah itu...Cuma nggak enaknya Rumah selalu sepi kalau pagi sampai sore karena selalu ditinggal..😄

    ReplyDelete
  14. Dilema jadi wanita. Antara memperjuangkan emansipasi wanita malah dimanfaatin laki laki. Duh duhh.

    Tapi gak enak juga kalau jadi wanita yang bergantung, gk punya uang sendiri dan nunggu dijatah.

    Lah wong nunggu gajian saja rasanya gk enak apalagi jatah.

    Emang paling enak punya pundi pundi uang sendiri biar bisa belanja belanja sesuka hati dan sepuasnya

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown, auto klik spam :)