Saturday, October 06, 2018

Kelebihan Dan Kekurangan Kumon EFL (English as a Foreign Language)


Assalamu'alaikum :)

Kelebihan Dan Kekurangan Kumon EFL (English as a Foreign Language)


Gak terasa, eh terasa banget ding, ternyata si kakak sudah mengikuti les kumon selama 2 tahun lamanya.
Lebih terasanya sih saat kardus demi kardus yang berisi kertas hasil pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah dari Kumon si kakak menumpuk di sudut ruangan.

Karena saya termasuk jenis emak yang gak suka rumah terlihat penuh dengan barang gak terpakai, entah sudah berapa kardus dari kertas-kertas  tersebut yang saya buang pak sampah.

Iya, si kakak Darrell memang mengikuti les kumon, tapi bukan mata pelajaran MateMatika yang seperti diunggulkan oleh kumon, si kakak malah ikutan mata pelajaran Bahasa Inggris yang biasa disebut dengan EFL (English as a Foreign Language).
Baca : #DiaryDarrell - Setahun Bersama Kumon
Kakak Darrell memulai les kumon EFL dari level paling bawah yaitu 7A, dan hingga 2 tahun ini dia sudah sampai ke level E.
Oh ya, level di kumon itu dimulai dari 7A, 6A, 5A, 4A, 3A, 2A, 1A , B , C , D dan E, jadi selama 2 tahunan kakak Darrell sudah menyelesaikan sebanyak 11 level, wow..

Masih ada beberapa level lagi di atasnya, saya lupa sampai berapa tepatnya.

Dari 11 level tersebut, hitung deh sendiri berapa kertas yang sudah terbuang eh terpakai, setiap level ada 20 titles, 1 title ada 10 lembar, jadi total kertas yang terpakai = 10 lembar x 20 titles x 11 level
= 2,200 lembar.
Itu belum termasuk pengulangan tiap title yang salah sedikit pun harus ngulang 2-3 kali, meski hanya kurang satu titik atau koma.

Kalau di rata-ratakan, kira-kira kertas yang terpakai sekitar 2,200 lembar x 2 = 4,400 lembar, banyak juga ya, lol.

Setelah menghabiskan ribuan lembar kertas, puluhan purnama *tsah, jutaan rupiah SPP bulanan, pastinya yang bakal ditanyain banyak orang, GIMANA HASILNYA? apa si kakak udah cas cis cus bahasa Inggris? atau minimal pelajaran bahasa Inggris di sekolah udah sempurna?

Harusnya sih gitu ya? karena meskipun zaman now, anak SD kelas 1 sudah kenal bahasa Inggris alias sudah harus belajar bahasa Inggris, tapi ternyata pelajarannya masih sederhana banget.

Jawabannya adalah, GAK JUGA! hahaha.
Selama 2 tahun belajar atau les kumon EFL, begini perkembangan si kakak :
  • Familier dengan kata bahasa Inggris yang pernah dia temui di tugas kumon saja, beberapa kata diluar tugas dia masih blank.
  • Penulisan kata dalam bahasa Inggris yang pernah dia temui di tugas kumonnya sudah sangat bagus.
  • Pronounce kata dalam bahasa Inggris yang pernah dia temui di Kumon, sudah lumayan, meskipun ada beberapa yang aneh, salahnya juga sih si kakak malas dengerin CD saat ngerjakan tugas atau PR kumon, dan maminya udah bener-bener angkat tangan mengingatkan dia untuk dengerin CD, cari aman aja deh, ketimbang naik darah mulu hahaha.
  • Dia tetap gak mau menggunakan bahasa Inggris, padahal maminya suka ngajak ngomong pakai bahasa Inggris (seadanya) di rumah, tapi dia gak mau pakai bahasa Inggrisnya, katanya ini tuh Indonesia, kalau mau pakai bahasa Inggris, sana ke Inggris, lol.
  • Dan maminya shock, waktu ke sekolah terima rapor saat habis ujian akhir tema kemaren, si ustadzahnya ngomong kalau si kakak masih agak kurang di bahasa Inggris, hah??? seriously??. Kata si ustadzah pronounce nya gak tepat, iya sih si kakak gak mau belajar pronounce kata yang belum pernah dia dapatkan di les kumonnya.
  • Rajin ngerjakan PR kumon, meski kadang ngasal, atuh maaahhh, setiap kengasalannya, tersirat uang SPP kumon bakal terbayar makin panjang (emak irit dan pelit emang beda tipis ya).
  • Mungkin karena terbiasa mengerjakan PR, dia masih gak terlalu sulit diminta belajar atau ngerjakan PR sekolahnya (good habbit dari mengerjakan PR kumon selama 2 tahunan).
Secara keseluruhan, sejujurnya saya kurang puas dengan kemajuan si kakak setelah les kumon 2 tahunan ini.
Harapan saya, gak perlu lah jago cas cis cus bahasa Inggris, minimal dia mau sesekali berbahasa Inggris, menimpali maminya kalau ngajak dia ngobrol pakai bahasa Inggris.
Tapi memang, seperti yang saya tangkap sejak awal mendaftar di kumon 2 tahunan lalu, setiap anak yang les kumon gak bikin mereka jadi ahli matematika atau bahasa Inggris, namun insha Allah punya good habbit yang dibentuk dari PR tiap hari itu.

Karena itulah, akhirnya per 2 tahunan dia di Kumon, kami memutuskan untuk si kakak STOP IKUT KUMON EFL.
Namuuunnn, diganti ikut matematika saja.

Hah? kenapa Rey?

Ada beberapa pertimbangan kami untuk melakukan hal tersebut, di antaranya :
  1. Si kakak agak kurang dalam matematika, semenjak naik kelas 2 SD kerasa banget efek kurang dalam perhitungan, jadi kami pikir si kakak lebih butuh bantuan dalam les matematika.
  2. Saya merasa kemajuan si kakak dalam bahasa Inggris selama 2 tahun kurang signifikan, i mean, bahasa Inggris itu yang paling penting adalah bisa mengerti dan berbicara dalam bahasa Inggris, bahkan youtuber Suhay Salim pintar banget berbahasa Inggris padahal dia gak kursus, kuncinya ya mau berbicara dalam bahasa Inggris.
Karena 2 hal tersebutlah, sudah sekitar 1 bulanan lebih si kakak pindah ke Matematika.
Prosesnya mudah kok, cukup datang saja laporin kalau anak kita mau switching program saja, awalnya sih miss yang ngajarin bahasa Inggris merasa sangat 'sayang' karena si kakak udah menjalani 11 level, dan mengusulkan untuk ikut kursus 2 macam saja, bahasa Inggris dan matematika.
Langsung dengan cepat kami menolak (((cepat))), lol.

Secaraaaa.... gimana coba ikut dua mata pelajaran, satu matpel saja lumayan bayarnya, 370 ribu per bulan boookk, belum SPP dan antar jemput sekolah si kakak,kerasa banget ngeheknya bookk hahaha.
Dan YANG PALING PENTING adalah, waktu buat si kakak.
Kasian banget dia makin kurus kering, Senin sampai Jumat jadwalnya padat banget.
Berangkat sekolah pukul 6 pagi, pulang ke rumah pukul 14.30, sampai rumah sholat, lalu tidur sejam.
Nyuruh tidurnya buseeettt sulitnya, giliran sudah tidur, nyuruh bangunnya juga bikin naik darah maminya hahaha.

Dia harus tidur siang paling lama sejam saat akan les yaitu Senin dan Kamis, karena kalau enggak dia sudah berkali-kali ngantuk dan tidur di kelas saat ngerjakan tugas kumon.
Setelah tidur siang dan drama bangunnya, nyuruh mandinya pun drama abiiissss, setelah itu drama lagi nganterin les dan jemput dia langsung di antar lagi ke masjid buat ngaji hingga sholat Isha.

Kasian banget, dari pukul 6 pagi sampai kadang pukul 21.30 (jika ada evaluasi atau ujian) kegiatannya padat. Maminya juga kasian naik darah mulu mengawasi setiap detil waktunya agar gak terbuang percuma, karena dia butuh tidur cukup dan bangun subuh agar gak telat sholat subuh dan ke sekolah, fiuuuhhh..

Nah, setelah 2 tahunan si kakak mengikuti EFL, saya jadi ingin berbagi pengalaman apa sih kekurangan dan kelebihan kumon khususnya EFL BERDASARKAN PENGALAMAN SI KAKAK IKUT LES KUMON?

Kelebihan kumon EFL :
  • Amat sangat berperan dalam mendisiplinkan dan menanamkan good habbit tentang rutinitas disiplin ke anak, TENTUNYA DENGAN BIMBINGAN ORANG TUA, kalau enggak ya bisa-bisa yang ngerjain PRnya malah orang tua hahaha.
  • Karena pola PR yang setiap hari tanpa jeda, bahkan hari libur lebaranpun dikasih PR. hal tersebut membuat anak jadi mencintai belajar. Mereka tidak lagi menganggap belajar adalah hal yang menyebalkan, dan belajar itu ada liburnya. Saya setuju banget dengan hal ini, karena sebenarnya BELAJAR ITU SAMA DENGAN KERJA. Kalau kita menganggap kerja itu menyenangkan, maka seumur hidup kita bagaikan piknik mulu, karena belajar bagaikan piknik.
  • Pengetahuannya tentang bahasa Inggris jadi lebih dini, minimal dia familier dengan beberapa kata, baik penulisan maupun pronounce-nya, yaaaa meskipun dalam hal conversation masih amat sangat jauh dari ekspetasi.
Kekurangan kumon EFL :
  • Tidak recomended jika tujuan kita agar anak bisa dan mau serta lancar ngomong bahasa Inggris. Ini fatal banget sih menurut saya, karena yang namanya bahasa ya buat dipakai untuk bercakap-cakap, bukan cuman sekadar tahu saja. Karena hal tersebut, saya pernah menghubungi miss yang ngajarin dia di kumon, mengeluhkan kalau si kakak kurang banget dalam conversation dan bertanya, kira-kira level berapa hingga mereka ketemu conversation?? dan ajaibnya menurut miss-nya, gak ada conversation langsung, adanya ya conversation biasa saja dalam interaksi ketemu, lalu mendengarkan CD.
  • Dalam les kumon, TIDAK ADA SESI MENGAJARI KAYAK DI KELAS, mereka hanya datang, ambil lembar pekerjaan sekolah, kerjakan, lalu diperiksa oleh guru/miss-nya, jika salah diajarin lalu diminta perbaiki sampai benar, lalu pulang deh. Jadi terbayang kan tidak ada sesi conversation langsung dengan teman-temannya.
Itu saja sih sejauh ini yang saya rasa sangat mengganggu makanya saya putuskan si kakak untuk switch ke matematika, meskipun sebenarnya si kakak gak mau ikut matematika karena dia tau di Kumon, gak boleh mengerjakan tugas matematika pakai alat bantu apapun, even itu pakai jari.

Dan hasilnya, dia kesal banget udah sebulanan ini setiap ngerjakan pekerjaan sekolah harus ngulang berkali-kali sampai 2 jam lebih, karena gak boleh ngitung pakai jari hahaha.

Duh si Rey kok jadi emak yang jahat sih, maksa anak belajar matematika di kumon padahal anak gak suka?
Oh tenang, saya mah udah berkali-kali nawarin agar si kakak berhenti ikut kumon, lumayan kan duitnya, mending ikut les di tempat lain (((yang lebih murah maksudnya, lol))).
Tapi si kakak berkali-kali menolak dengan tegas.
Ya sudah deh, jadinya dia tetap saja ikut les dan kesal kalau akhirnya dia gak bsia ngaji dan sholat di masjid karena waktunya selalu kepakai buat membenarkan tugas kumonnya di tempat les.

Lalu bagaimana dengan perkembangan Darrell setelah mengikuti les kumon matematika selama sebulan ini?
Belum ada perubahan yang signifikan sih, orang di sekolahnya sudah masuk ke perkalian, sedang di kumon baru masuk ke penjumlahan, itupun kagak boleh pakai jari atau alat bantu apapun, alhasil si kakak masih sibuk menikmati sebalnya tapi gak mau berhenti juga dari kumon hahaha.

Lalu bagaimana dengan pelajaran bahasa Inggris si kakak?
Well, kami sih berencana memasukan si kakak di tempat les lainnya, yang pasti lesnya harus mengutamakan CONVERSATION! penting tuh!.
Ada beberapa tempat yang sudah saya survey, namun masih terkendala waktu dan jarak tempat les dari rumah.

Jadi, bagaimana dengan ibu/mama/bunda/mami?
Ada yang anaknya masih setia ikut les di kumon? atau barusan ingin berniat memasukan anaknya di kumon?
Share di komen yuk.

Semoga bermanfaat.

Sidoarjo, 06 Oktober 2018

Wassalam

Reyne Raea


30 comments:

  1. Hihi, dulu ponakan pernah ikut kumon. Pulang sekolah bawa tugas segepok..kasihan juga lihatnya. Kalau anak sy belum sy ikutkan les, masih di rumah aja belajarnya dan itu pun kebanyakan main sih hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasian juga sih kalau anak banyak PR, untungnya di sekolah anak saya jarang ada PR, jadi dia cuman ngerjain PR kumon aja tiap hari, udah gitu gak banyak kok :)

      Delete
  2. Yang paling penting tu emang praktiknya ya mbak.

    ReplyDelete
  3. Cerita menarik.menurut mpo , anaknya juga harus latihan dan praktis sama mamanya. Apalagi mama jago bahasa english

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mpo, cuman anaknya paling males di minta latihan ama emaknya :')

      Delete
  4. segala sesuatu emang ada plus minusnya ya Mbak.. kita aja yg harus pinter2 milih yg sesuai kebutuhan..trimakasih sharing pengalamannya Mbak :)

    ReplyDelete
  5. Metode pengajaran bahasa Inggris sepertinya memang berbeda-beda Dulu saya bertahun-tahun ikut kursus bahasa Inggris. Tetapi, di temppat kursus yang saya ikutin itu memang sepertinya lebih menekankan ke grammar. Makanya sampai sekarang saya kurang luwes kalau harus bicara menggunakan bahasa Inggris.

    Berbeda dengan adik-adik saya yang kursus di tempat lain. Yang lebih menekankan conversation. Mereka jadi berani ngbrol dengan bahasa Inggris. Makanya ketika anak-anak saya kursus pun saya daftarkan di tempat yang sama dengan om dna tantenya dulu kursus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Conversation emang penting banget mba kalau menurut saya, meskipun grammar juga ga kalah penting :)

      Delete
  6. Sana anakku hmpr mau 2 th les b.inggris akhirnya brhenti mba sama bnget pngalamnnya.. mungkin krn cape kali ya jadi agak males gitu. Jd gk les sklah aja skrng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau anak saya meski kadang males, tapi tetep semangat berangkat les.
      Saya ganti ke math gegara dia lebih butuh matematika :)

      Delete
  7. mantap artikelnya. sebuah review.
    Jadi ngerti, nambah wawasan dan sangat bermanfaat.

    Thank you for sharing

    ReplyDelete
  8. Kalo diliat iklannya keren ya, level org2 kayah gitu kesannya. Tapi klo aku sendiri untuk anak diusahakan les sama mamanya aja, krn ga kenapa2 sih cuma kasian sama energinya yg tervorsir. Tapi tiap ortu pasti punya pertimbangan sendiri dan pasti inginkan yg terbaik untuk anaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya cuman mengikuti kemauan positif anak mba, lagian emaknya gak pintar jadi guru 😂

      Delete
  9. Ohh kok ga conversation ya Mom? Apa ada tipe belajar bahasa inggris yang lain ya Mom, kalau kayak Mom ceritakan di atas, sepertinya lebih untuk tambahan dari mapel Bahasa Inggris di sekolah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kumon lebih unggul dalam metode mom, jadi mengajarkan anak untuk mencintai belajar :)

      Delete
  10. Si sulung ikut Kumon Math dan Reading saat TK di Amerika. Pulang Jakarta..lanjut Matematika dan EFL sampai sekarang kelas 8.
    Adiknya mengikuti ..
    Memang EFL bikin anak kuat di writing tapi di conversation kurang. Aku siasati ini dengan mereka sering ngobrol sama Bapaknya dalam Bahasa Inggris, nyetelin lagi film berbahasa Inggris tanpa sub title..dll. Alhasil di UN yang notabene selalu tulisan bukan lisan dia hasilnya optimal.
    Kalau Math..metode Kumon unggul karena anak dibiasakan tanpa alat jadi kapan saja dan dimana saja otaknya yang bekerja tanpa perlu alat bantu. Dan kalau belum paham bakalan diulang sampai dia paham. Karena nantinya jika kesulitannya lebih tinggi karena dasarnya sudah menguasai dia akan "jalan" sendiri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren mbaak, saya belom sanggup ikutkan keduanya, stres emaknya ngurusin jadwalnya.

      Nanti deh kalau adiknya agak gedean dikit, biar tenaga emak bisa fokus :')

      Delete
  11. Yaaaah ternyata english kumon begicu, kurang dlm percakapan yak. Tapi emang unggul di matematika ya mba. Btw, kak Darrel gak nangis jejeritan di pindah ke Math? Hihi.

    Semoga betah dan makin berkembang di Math Kumon ya Kak. Dan mencintai belajar. Itu yang penting :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwk. . Si Darrell ikut aja mama Lui, yang penting tetap bisa berangkat kumon :)

      Delete
  12. Wah aku baru tau Kumon ada lembaga bahasa nya juga mbaa. Btw ada tipsnn trick ngajarin english d rmh mba? Kalo dibiasakan pakai kosakata bhs inggris mba setuju ga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut tips2 yang saya baca, boleh saja pakai bahasa Inggris tapiii.. Gak boleh sepotong, harus sekalimat.

      Misal "adek, kamu mau makan banana? "

      Gak boleh kayak gitu, mending langsung,
      "Adek, do you want banana? "
      Lalu diulang lagi
      "Adek, kamu mau makan pisang? "

      Delete
  13. Beberapa temanku juga cerita kalau mereka nggak puas di kumon, baik english maupun mathnya. Rata2 karena cuma mengerjakan soal gitu, interaksinya kurang. Tapi mungkin ada anak yg cocok dg metode seperti itu yaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, emang kumon lebih menekankan kemandirian, jadi anak2 lebih mandiri dalam mengerjakan soal :)

      Delete
  14. Anakku les kumon matematika di Kumon, mba. Dan sejauh ini masih betah dan teknik pembelajarannya pun aku suka. Jadi aku sih rekom anak untuk kumon. Apalagi kan kalau makin lama tugas matematika makin susaah. Hehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak saya baru sebulan di kumon math, agak kesal dia, soalnya gak boleh ngitung pakai jari hahaha

      Delete
  15. kumon itu nama tempat kursus atau istilah ?
    hahaha kudet banget saya
    anak saya baru kelas 1..hasil UTS kemarin alhamdulillah bagus
    cuma harus bisa baca yg lancar
    rencana mau diles kan supaya bisa lancar bacanya

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...