Monday, August 08, 2022

Tasyi vs Tasya adalah Jouke vs Rey dalam Sibling Rivarly

Tasyi vs Tasya

Tasyi Athasyia, seorang influencer yang merupakan saudara kembar beauty vlogger Tasya Farasha, lagi trending di google beberapa hari lalu, bahkan sampai sekarang masih menggema trending dan viralnya di berbagai media sosial.

Penyebabnya adalah masalah keluarga yang membuat hubungan kedua saudara kembar itu jadi renggang, dan menjadi bulan-bulanan para netizen.

Luar biasa sih ya pengaruhnya, sampai-sampai ketika saya iseng bukan aplikasi TikTok, lah isinya masalah Tasya Tasyi semua.

Banyak konten dibuat berdasarkan kisah mereka, baik hanya semacam potongan video, sampai konten tentang pembahasan hal-hal yang mirip kisah mereka, seperti masalah Takhbib yang disebutkan suami Tasyi di video Youtube mereka.

Hingga konten yang berisi penghakiman maupun pendiktean gimana seharusnya Tasya, Tasyi dan ibunya berlaku.

Hmmm... jadi pusing pokoknya liatnya, hahaha.
Seketika saya tutup aplikasinya, daripada makin pusing karena iri, orang-orang zaman sekarang itu kok banyak banget energi dan waktunya, sampai sempat-sempatnya mengurus dan mengatur hidup orang yang mungkin jauh lebih teratur dan bahagia dari mereka, hehehe.

Sementara saya, duh buat tidur aja kurang banget waktunya, iri banget nggak tuh? hahaha.

Tapi, mari kita sudahi ghibah dan nyinyiran si Rey, karena sejatinya saya nggak mau terlalu banyak membahas hal-hal itu, saya fokus di sekilas masalah Tasya Tasyi kali ya, dan bagaimana saya merasa soooo related dengan kisah mereka. 


Sekilas Masalah Tasyi dan Tasya


Tasyi Athasyia, dengan nama asli Luly Athasyia baru-baru ini mengunggah sebuah video klarifikasi bersama suaminya, Syech Zaki atau Zaki Alatas Boschr.

Tasyi dan suami

Isi video tersebut menjelaskan alasan mengapa Tasyi nggak bisa datang ke acara ulang tahun putri dari Tasya, Maryam Lily.

Tasya memang baru saja menyelenggarakan acara ulang tahun kedua putrinya, di sebuah hotel berbintang di Jakarta, ada begitu banyak tamu yang hadir, sayangnya dalam acara ulang tahun tersebut sama sekali tidak dihadiri oleh saudara kembar Tasya, Tasyi beserta keluarganya.

Hal ini, tentu saja menimbulkan tanda tanya di hati para netizen, ada apa dengan Tasya dan Tasyi? apakah mereka sedang punya masalah?
Bahkan beberapa pendapat mulai menyimpulkan beberapa fitnah, dan hal itulah yang mendasari alasan utama, Tasyi dan suaminya bikin video klarifikasi.

Saya sempat menonton separuh dari video dengan durasi 1 jam tersebut, yang ternyata isinya kebanyakan semacam ceramah dari suaminya, tentang masalah mereka.

Secara umum, setidaknya saya menyimpulkan bahwa, alasan Tasyi tidak datang ke acara anak Tasya itu adalah, karena dilarang suaminya.
Dan sebagai istri, dia berkewajiban untuk taat ke suaminya.

Dan suaminya sendiri menjelaskan alasan mengapa dia melarang Tasyi datang ke acara tersebut, karena menurutnya di sana ada orang yang telah berkali-kali melakukan takhbib (perbuatan merusak hubungan suami dan istri) buat hubungannya dengan Tasyi, dan karenanya suami Tasyi memutuskan untuk menghindari orang tersebut, meski harus mengorbankan kesempatan menghadiri ultah Ayang (panggilan sayang untuk putri Tasya).

Tapi, siapa sangka? eh sebenarnya saya sendiri udah menyangka sih, hahaha.
Kalau sebenarnya percuma memberikan video klarifikasi, kalau tujuannya untuk membuat netizen paham, nggak akan pernah bisa mah membuat semua netizen paham.

Dan begitulah, ketika video itu tayang, langsung makin viral deh di berbagai media sosial, dan netizen lalu terbagi 2 kubu, baik kubu Tasyi maupun kubu Tasya.

Di kubu Tasyi, netizen membela Tasyi dengan mengatakan kalau Tasyi berhak mematuhi perintah suaminya.
Netizen juga kagum banget dengan sosok suami Tasyi yang selalu 'pasang badan' demi membela sang istri, no matter what

Netizen juga menghujat Tasya dan Bu Ala, ibu dari si kembar tersebut, yang selalu menyudutkan Tasyi, bercanda hal-hal yang bikin Tasyi kecewa tapi dipendam, salah satunya bercanda tentang fisik Tasyi yang memang sedang lebih 'berisi' dibanding Tasya.

Tasyi vs Tasya

Di sisi kubu Tasya, para netizen bersatu membela Tasya dan Ibu Ala.
Menurut netizen, suami Tasyi terlalu berlebihan membuat keputusan demikian, karena semacam memutus silaturahmi dari saudara kandung.

Selain itu, netizen juga menyoroti sikap Tasyi yang memang lebih nyablak dan ngegas jika ngobrol sama Tasya. 
Terlihat di beberapa tayangan Youtube kedua kembar tersebut, di mana sering terekam momen mereka selalu beradu argumen, dan memang terlihat Tasyi lebih banyak bicara, sementara Tasya lebih banyak terlihat mengalah.

Dan di sinilah saya mulai merasa related banget sama hubungan kembar ini.
Terlebih ketika suami Tasyi berkata, kalau Tasyi cuman 3 bersaudara, tapi nggak akur, masa kalah sama keluarga Halilintar yang belasan bersaudara tapi selalu kompak.

Si Rey auto nyelutuk,
"Lah, akoh dong cuman 2 bersaudara, tapi udah berasa nggak punya sodara lagi!, hahaha"


Tasyi vs Tasya adalah Jouke vs Rey


Jouke adalah kakak saya, panggilannya Yuke, tapi karena di akte lahirnya ditulis Jouke, jadilah kebanyakan temannya memanggilnya Joke atau Juke, hahaha.

Dia adalah satu-satunya kakak perempuan saya.
Satu-satunya saudara saya.

Kami cuman beda setahun, di mana si Jouke lahir di Januari, eh Juli tahun besoknya, saya udah nongol juga. Jadilah kami kayak kembar, mana kata orang wajah kami juga lumayan mirip, bahkan bisa dibilang lebih mirip kami yang bukan kembar, ketimbang Tasya Tasyi yang memang kembar tapi nggak identik.

Waktu kecil sih kami beda, karena si kakak saya berkulit lebih cerah, sementara saya sawo matang, dan ketika kecil kulit saya kematangan banget terbakar sinar mentari di Buton yang panasnya minta ampun, hahaha.

Selain itu, ketika kecil, kakak saya sudah menjulang, beda sama si Rey yang udahlah kurus, item, pendek pula, hahaha.

Nantilah ketika kami remaja, saya tumbuh pesat (berasa ekonomi ya, tumbuh pesat, wakakakakak), dan jadilah kami hampir mirip, karena tinggi badan kami udah sama.

Namun, biar kata kami hampir mirip, tapi bukan berati watak kami sama.
Beda banget nget nget malah.

Kakak saya, persis kayak Tasyi.
Mungkin karena dia anak pertama kali ya, dan ketika kelas 6 SD dia udah nggak tinggal sama mama, karena diajak tante (kakak mama) untuk tinggal di rumahnya.

Jadinya kakak saya tuh jauh lebih care, keibuan, gerakannya sat set sat set, paling bisa diandalkan, terutama dalam urusan dapur, jauh lebih penurut sama suami, dibanding adiknya ini.
Pokoknya tipe-tipe Tasyi yang care banget deh.

Sementara saya, kayaknya Tasya banget deh.
Lebih suka diam dan mengalah, kurang peka terhadap orang lain (dalam artian tindakan ya), paling payah kalau disuruh urus dapur, dan lebih suka cuek, malas ngurusin urusan orang lain yang nggak ada kaitannya sama saya.

Namun, dalam sisi kurangnya, kakak saya juga mirip si Tasyi.
Suka ngegas, nggak mau kalah, entah karena anak pertama kali ya.
Maunya dia aja yang ngomong, maunya dia aja yang hebat dan merasa hanya dia yang selalu tahu untuk semua hal, haus pujian banget.

Untuk masalah ini seringnya menjadi hal yang membuat semua kebaikannya jadi tertutupi, karena ketika dia udah melancarkan sikap seolah dia yang tahu segala hal, bahkan orang tua maupun nenek-nenekpun tak membuatnya berhenti untuk show off.

Jujur, sikap ini yang sering saya liat di Tasyi, meski hanya sesekali melalui video-video kolab dia dengan Tasya, di mana Tasyi selalu menguasai pembicaraan, selalu motong dan maunya dia aja yang ngomong.

That's remind me pada kakak saya si Jouke tersebut, hahaha.

Berbeda dengan saya, biasanya saya memilih diam aja, tapi nggak dengerin juga, kadang kabur, daripada kesal, hahaha.
Kadang juga mesem-mesem mendengarkan ocehannya, sambil membatin dalam hati, kasian banget sih nih orang, berasa dia aja yang tahu.

Itu juga kekurangan saya, seringnya memendam, tapi suka menertawakan kekonyolan orang lain dalam hati, dan ujung-ujungnya kabur.

Yeahhh, salah satu alasan saya nyaman tinggal di Surabaya, nggak mau pulang ke Buton, karena jujur nggak tahan sih sama sikap kakak saya itu.

Namuuunnn.... ada namun atau tapinya lagi ini.
Se 'arogan' sikap kakak saya yang suka ngegas dan merasa paling tahu dan paling pengen menguasai keadaan itu, kakak saya justru seseorang yang sabar jika sudah di'kerasin'.

Apalagi kalau sama orang tua, kayak mama saya.
Sebanyak omongnya dia, kalau mama udah mulai marah, dia memilih diam.

Amat sangat berbeda dengan saya.
Saya, selalu memilih lebih baik diam, tapi memendam.
Alhasil, ketika udah nggak tahan lagi, saya bisa 'meledak'.

Bahkan mama marah pun, saya nggak peduli, jadilah saya anak yang dinilai durhaka, hanya karena sekali meledak, hahaha.


Masalah Tasyi Tasya dan Jouke Rey, Butuh Seorang Penengah yang Pengertian


Masalah Tasyi Tasya ini, membuat saya mengingat lagi masalah saya dengan kakak saya, yang mana sampai saat ini, sama sekali nggak ada komukasi sama sekali.

Tasyi vs Tasya

Kakak memblokir semua nomor saya, mama yang juga menurut saya kurang bijak, malah memilih menyenangkan hati kakak saya, dengan ikutan tidak mau membuka percakapan dengan saya.

Jadi, sejak bapak meninggal, praktis saya udah kayak anak yatim piatu tanpa keluarga sama sekali.
Bahkan dulu, saya balik ke Jawa setelah bapak meninggal, saya beli tiket sendiri, berangkat ke bandara sendiri bareng anak-anak.

Mama nggak peduli sama sekali, bahkan sekadar peduli ke anak-anak saya pun, enggak!
Sakit banget sih ya.
Tapi begitulah hidup, harus dihadapi.

Lalu saya berpikir, masalah ini memang hanya akan selesai, jika ada seorang penengah yang pengertian.
Selama ini, penengah yang pengertian itu, bapak saya.

Bapak selalu tahu cara menyatukan kami, 3 wanita keras kepala, mama, saya dan kakak.
Meskipun kadang caranya sangat kekanak-kanakan, hahaha.

Misal, kalau saya berselisih sama mama, bapak pasti akan mendatangi saya sambil berbisik-bisik.
"Nak, nanti bapak pura-pura marahin kamu ya, jangan sakit hati ya, bapak begitu biar mamamu senang, dan kalian baikan lagi!"
Lalu, bapak kemudian mendatangi mama, mencoba menanyakan masalah kami, lalu pura-pura marah ke saya.
Sayanya yang memang udah di'kode'in sebelumnya, ya nggak merasa sakit hati, karena tahu bapak cuman bersandiwara.

Demikian juga ketika saya berselisih dengan kakak saya, bapak juga akan melakukan hal yang sama.
Entahlah, mungkin karena bapak melihat saya lebih diam kali ya, sementara mama biarpun diam, aslinya blio ya juga amat sangat keras kepala.

Demikian juga kakak saya.
Alhasil, saya selalu yang dijadikan tameng buat dimarahin, meskipun cuman bersandiwara, hahaha.

Nah, setelah bapak meninggal, nggak ada lagi sosok kayak bapak, sosok yang memang dihormati oleh mama dan kakak.

Kakak ipar (suami kakak), pernah mencoba menjadi penengah buat kami, dan caranya mirip.
Awalnya dia mendekati saya dulu, memberi tahu kalau dia akan pura-pura menasihati saya di depan mama dan kakak, dan minta agar saya nggak sakit hati karena dia cuman bersandiwara.

Tapi ternyata gagal, karena dia bukanlah sosok yang di'takuti' mama saya.
Dulu, mama mau nggak mau ikut kata Bapak, karena beliau 'takut' sama bapak.

Jadilah kacau balau, dan hingga kini nggak ada penengah.
Biarpun tidak sekali dua kali saya coba membuka percakapan, menelpon, kirim SMS, tapi nggak ada respon.

Saya pikir, masalah Tasyi Tasya pun demikian, mereka butuh penengah yang pengertian, bukan yang adil ya, tapi pengertian.
Karena percayalah, masalah wanita itu, nggak bisa dihadapi dengan kata adil, karena wanita selalu mengedepankan hati, bukan logika.


Penutup


Masalah Tasyi Tasya memang jadi viral, karena mereka adalah influencer, namun se influencer-nya mereka akan lebih bijak bagi kita untuk tidak membentuk kubu-kubu dan saling menjatuhkan para kembar tersebut.

sibling rivarly

Karena percaya deh, masalah sibling itu, seringnya tak bisa diselesaikan pakai teori, tapi pakai hati.
Dan hentikanlah menghujat salah satu dari keduanya, malu ah, kita kan netizen cerdas, masa iya melakukan hal-hal norak barbar kayak gitu.

Kalau saya, lebih suka mengambil pelajaran dan mungkin mencoba meniru cara-cara mereka menyelesaikan masalah, karena sayapun sama, punya masalah dengan satu-satunya kakak saya.

Sedih sih ya, kami tuh aslinya tinggal bertiga, perempuan semua pula.
Mama, kakak dan saya.
Tapi nggak kompak bahkan nggak ada komunikasi sama sekali, dan nggak ada yang mau membuka komunikasi sama sekali, huhuhu.

Begitulah, semoga saya bisa menjalin komunikasi lagi dengan kakak dan mama.
Demikian juga dengan Tasyi Tasya, semoga bisa akur kembali, karena mereka udah ber-4 aja, semua wanita, sejak dulu.

Note: tulisan ini diambil dari POV saya, mungkin akan berbeda kalau dari POV kakak saya, dan itu normal sih ya, karena setiap manusia punya pola pikir masing-masing, termasuk sibling                                                                                                                                                    

Sidoarjo, 08 Agustus 2022

Sumber: pengalaman pribadi dan beberapa sumber di medsos
Gambar: canva dan beberapa sumber di google

1 comment :

  1. Kalo ga baca ini, aku mungkin ga pernah tau kalo Tasya ada kembaran dan sedang berantem 😂😂. Maklum ga ngikutin akun mereka 😁. Tapi aku tau siapa Tasya, cuma baru ngeh aja kalo sdg ribut.

    Bener sih Yaa, masalah begini mah memang hrs ada penengah yg bijak. Dan aku juga males nyampurin hak2 yg sensitif seperti ini, apalagi ikutan komen berkubu Ama netizen 🤣. Maluuuu sih.

    Duh sedih juga kalo kalian bertiga ga akur ya Rey 😑. Semoga aja nanti ada jalan keluarnya.

    Jujur aku dulu Ama adik no 2 pernah ribut besar pas SMP. Bayangiiiiin, SMP aja sampe perang dingin. Aku mah orangnya pemaaf, tapi si adek ga. Jadilah masalah itu lamaaaa baru selesai sampe awal aku masuk SMU. Kami diem samasekali. Tapi bersyukur ada mama dan ada temen si adek yg mau membantu. Dan lamq2 si adek yg menyapa duluan. Sampe skr Alhamdulillah hub kami ttp akrab, apalagi sama2 di JKT. Cuma dia aja sodara yg bisa aku hubungin kalo ada apa2 kan.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top