Saturday, February 27, 2021

Keluarga ada di Mana saja

Keluarga ada di Mana saja

Sharing By Rey - Saya sering cerita, bagaimana hubungan saya dengan keluarga saya yang punya hubungan darah, sangatlah kurang intens.

Bukan salah keluarga saya sih, tapi mungkin salah saya yang menjauh dari mereka, meskipun tujuannya agar tak selalu saling menyakiti.

Btw, saya sekarang tinggal 2 bersaudara, saya dan kakak perempuan saya yang sudah menikah, punya anak dan tinggal di kota Bau-Bau Sulawesi Tenggara.
Sebelumnya kami 3 bersaudara, saya punya adik lelaki yang telah meninggal dunia sejak 22 tahun lalu.

Akan tetapi, sejak kakak saya kelas 6 SD, dia tidak lagi bersama kami, karena dia ikut ke rumah tante saya untuk menemani anak-anak tante saya.

Alhasil, kakak saya tumbuh besar dalam kesedihan, kekurangan kasih sayang orang tua.
Hal itu membuat dia selalu tak bisa move on, merasa selalu kurang kasih sayang orang tua.
Padahal udah berkali-kali saya jelaskan, bahwa meski saya hidup dengan mama dan bapak sampai usia 17 tahun, akan tetapi kasih sayang utuh tidak saya dapatkan baik dari mama dan bapak, alias podho wae hahaha.

Hal itu membuat kakak saya sering merasa orang tua pilih kasih, padahal saya melihat dengan jelas, betapa kedua orang tua, khususnya mama, begitu menyayangi kakak saya.
Kalau bapak saya, memang bisa saya rasakan, beliau lebih menyayangi saya, mungkin karena dulu saya pernah jadi anak bungsu selama 6 tahun sebelum adik lahir.

Kasih sayang kedua orang tua ke kakak saya itu luar biasa, menurut saya.
Mereka tidak segan melakukan apa saja demi kakak saya, meski orang tua bukanlah orang berada, tapi selalu berusaha menyanggupi apa yang dibutuhkan kakak.

Karenanya, sewaktu sekolah, kakak saya banyak menjajal sekolah beragam.
Masuk SPK testnya 2 kali, dulu sekolah perawat kesehatan itu diminati banget, karena semua lulusannya langsung diangkat jadi PNS, jadi masuk SPK tuh ada test ketat dan sering harus pakai UUD (you know what i mean) hahaha.

Bukan hanya itu, setelah kakak lulus, ternyata jumlah lulusan perawat udah seabrek, gagal deh bisa auto jadi PNS.
Dan kakak saya mulai mencoba banyak hal.

Test polisi.
Test tentara.
Test PNS berkali-kali
Daan semua itu kagak gratis sodarah.

Kenyataannya orang tua selalu mengusahakan.
Yup, lucky us orang tua itu menjunjung tinggi banget nget tentang pendidikan.
Orang tua nggak peduli mereka pakai baju compang camping, rumah hampir rubuh, demi anak-anaknya bisa berpendidikan.

Sampai sini, temans pasti mengerti kan, betapa sedihnya saya setelah lulus tapi nggak bisa mandiri finansial, hiks.

Tapi bukan itu yang ingin saya bahas di sini.

Intinya, meski kami tinggal dua bersaudara, tapi suasana terasa nggak asyik, karena kakak yang selalu merasa diabaikan dan tak pernah disayangi.

Padahal ya, sebagai anak juga, saya kadang iri sama kakak, karena dia tidak pernah merasakan, bagaimana bingungnya ketika menstruasi pertama kalinya, dan tak ada yang mengajari atau membelikannya pembalut, hehehe.

Iya, mama saya sungguh bukanlah seorang ibu yang bisa diandalkan dalam hal itu, hahaha.
Kakak saya masih beruntung diajarin tante-tante saya.

Tapi, saya paham sih kakak saya nggak bisa juga disalahkan, jika dia merasa selalu kurang, karena saya sendiri nggak pernah tahu seperti apa rasanya tumbuh besar bersama orang lain.

Namun, yang jadi masalah, karena sikap kakak saya tersebut, membuat keadaan terasa selalu nggak asyik, dan saya jadi merasa nggak nyaman.

Saya sedih ketika dituduh lebih disayang mama dan bapak.
Saya juga sedih liat mama dan bapak yang serba salah menghadapi kakak saya.
Terlebih, ketika akhirnya kakak saya menikah dengan lelaki yang dulunya mengejar saya.

Klop sudah, saya memutuskan untuk mengalah, dan menjauh dari keluarga.


Hidup Sebatang Kara di Daerah Orang


Sebenarnya, saya tidak benar-benar sendirian di Surabaya.
Bahkan alasan pertama saya datang ke Surabaya di tahun 2000 silam adalah, hanya untuk jalan-jalan.
Biar nggak mubazir, saya sekalian ikut bimbingan belajar di Surabaya, demi mempersiapkan mengikuti UMPTN.

Ada adik bungsu dari mama saya yang menjadi tentara AL di Surabaya, juga ada kakek saya (saudara tiri ayah mama saya) di Krian, Sidoarjo.

Tapi entahlah karena memang sejak kecil saya terbiasa ngendon di rumah melulu, bahkan bapak melarang saya even main ke rumah saudara sekalipun.
Jadinya saya tidak terbiasa tahan dengan drama-drama yang terjadi di keluarga besar.

Btw, hampir sama dengan nasib saya, om saya juga sejujurnya tidak disetujui menikah dengan orang asli Jawa.
Namun om saya nekat menikah, dan hasilnya istrinya selalu kurang bisa diterima oleh keluarga besar di Sulawesi.

Karenanya, sejak saya ada di rumah om, adaaaaa aja drama yang bikin saya makin pusing.
Alhamdulillah, sejak kuliah saya dibolehkan untuk ngekos, dan perlahan tapi pasti, saya jadi malas ke rumah om.

Sampai akhirnya dari yang awalnya seminggu sekali ke sana, lalu jadi 2 minggu sekali, sebulan sekali, sampai akhirnya sekarang udah 7 tahun nggak ketemu om saya, hahahaha.
Padahal ya, rumahnya hanya selemparan kolor, kolornya raksasa tapi sih, wakakakak.
Rumah om saya dulu ada di ujung Surabaya, sementara saya sekarang ada di ujung lain Surabaya.

Banyak yang bilang, silaturahmi itu membuka pintu rezeki.
Tapi yang saya rasakan, silaturahmi ke rumah om saya itu, membukan pintu kekacauan keluarga, hahaha.

Tante saya selalu curhat tentang kesedihan hatinya yang kurang dianggap oleh keluarga om, yang sebalnya setelah curhat ke saya, eh dia curhat ke keponakannya di sana dengan POV yang berbeda.

Alhasil, kacau balau.
Saya yang sejujurnya, kagak peduli masalah orang, jadi ikutan terseret.
Dan akhirnya saya mengikuti saran mama, untuk nggak usah terlibat lagi, itu jauh lebih menenangkan, ketimbang silaturahmi tapi kacau.

Dan begitulah, saya akhirnya menjadi sebatang kara tanpa keluarga yang ada hubungan darah, di rimba Surabaya dan sekitarnya ini.

Menjadi sebatang kara tanpa keluarga dekat itu ada enaknya, meskipun juga banyak nggak enaknya.
Salah satunya, jadi nggak ada yang bisa belain kita saat punya masalah.
Dan yang paling menyedihkan, seringnya tidak dianggap oleh pasangan ataupun keluarganya, meskipun tidak semuanya seperti itu.

Saya sering banget merasa ngenes, ketika lebaran di Surabaya, dan ikutan keluarga besar suami berkunjung ke rumah keluarga jauh maupun keluarga besan.
Yang menyedihkan, dulu tuh bahkan kami berkunjung ke rumah pacarnya adik ipar (iyaaaa, masih pacaran, hahaha).

Sementara, tak ada satupun yang bahkan bertanya, apakah mereka boleh berkunjung ke rumah om saya, setidaknya satu-satunya keluarga dekat saya di sini.
Meskipun belum tentu juga saya mengiyakan, namun hanya basa basi ditanya gitu aja udah senang banget rasanya.

Memang sih, kata orang, setelah menikah, keluarga suami adalah keluarga kita juga.
Tapi entah mengapa, saya merasa nggak dianggap aja, hahaha.

Oh bukan, saya tidak menjelekan atau mengatakan keluarga suami keterlaluan, karena saya rasa mereka punya alasan tersendiri untuk itu, akan tetapi saya memang merasa sungguh tak dianggap, hahaha.

Saat baikan ama suami aja, saya udah merasa nggak dianggap, apalagi kalau bermasalah dengan suami, udah deh, rasanya saya tuh manusia yang dipungut di pinggiran tambang emas, wakakakakaka.

I mean, saya merasa kayak yatim piatu tak berdaya, hiks.

Terlebih sekarang, setelah berkali-kali saya harus melewati masa sedih, sakit dan kesulitan berkali-kali.
Yang paling melekat di hati adalah, ketika saya bedrest karena hyperemesis saat hamil si adik.
Selama 7 bulan terbaring tak berdaya, si kakak sama sekali nggak bisa saya urus.

Dan selama itu, tak ada satupun keluarga yang datang mengunjungi.
Bahkan, tak perlulah dikunjungi jika memberatkan, di zaman semua serba online kayak gini, sebenarnya lebih mudah kan menunjukan perhatian dengan mengirimkan sesuatu, makanan kek atau apa.

Kedua, ketika papinya anak-anak kecelakaan di Lamongan.
Waktu itu si adik masih bayi, si kakak masih sekolah dan hari itu sedang demam pula.
Lalu tiba-tiba mendapat berita kalau papinya masuk RS karena kecelakaan, mana katanya nggak sadarkan diri.

Saya bingung sebingung-bingungnya.
Ada bayi kecil, tapi harus mengurus di UGD rumah sakit, which is bisa jadi gudangnya kuman dan penyakit.
Dan yang paling penting, saya nggak tahu gimana caranya bisa keluar kota, hiks.

Tapi, setelah memberitahukan pada keluarga besar, ternyata tak ada satupun yang bisa mengusahakan untuk datang mengurusin atau setidaknya membantu.

Lalu terakhir, ketika saya sakit beberapa waktu lalu.
Itu tuh kondisi saya sama sekali nggak bisa gerak, ada 2 anak yang harus diurus, papinya nggak bisa pulang bantu urusin.
Dan satupun nggak ada yang nongol bantuannya.

Iya, saya sadar betul, mendapatkan bantuan itu bukanlah sebuah pemaksaan.
Dan mereka juga nggak bisa disalahkan, karena saya yakin mereka punya alasan untuk itu.
Tapi balik lagi, kalau melihat dari POV saya, i feel sooooo Ke to the Ce to the Wa *halah! hahahaha.


Tapi ternyata Keluarga ada di Mana saja


Namun, ternyata..
Sesungguhnya tak ada orang yang benar-benar sendirian di dunia ini, tak ada orang yang tak punya keluarga di dunia ini, karena keluarga ada di mana-mana.

Seperti saat saya sendirian saat bedrest hamil dulu, memang tak ada keluarga dengan ikatan darah datang menjenguk atau peduli.
Tapi ada juga kok teman yang datang menjenguk dan membantu saya merapikan rumah atau sekadar menghibur saya.

keluarga ada di mana saja

Padahal ya, kalau saya pikir-pikir, sahabat saya itu nggak punya alasan kuat harus berbuat seperti itu.
Karena sejujurnya saya ini bukan orang yang baik banget kepada sahabat saya sampai harus mendapatkan perhatian itu.

Dan sewaktu saya kebingungan saat papinya anak-anak kecelakaan tersebut, ada saja bantuan dari teman-teman blogger di Lamongan yang datang membantu menggendong si adik hingga berjam-jam lamanya, sehingga saya bisa dengan leluasa mondar mandir mengurus papinya tanpa khawatir si adik tertular penyakit di sana.

Atau yang paling bikin saya merasa takjub, ketika beberapa waktu lalu saya sakit nggak bisa gerak dan ngenes karena bahkan papinya anak-anak nggak peduli dengan saya.
Nggak mau usahain pulang buat liatin anak-anak, nggak juga mengusahakan bawa saya ke dokter, bahkan kalaupun tidak punya duit, dia bahkan tak mau sama sekali sekadar memijat atau menghibur saya.

Udahlah sakit sarafnya nggak tertahankan, ketambahan ngenes di hati pula, klop sudah, hahahaha.

Tapiiii...
Astagaaaa... saya harus mematikan medsos, saking pusing liat notif hape yang nggak putus-putus.

Iyaaa, ada banyak banget nget nget yang begitu peduli dengan saya, masha Allaaaahh.
Ada yang kasih semangat, kasih doa, kasih saran, sibuk cariin nomor petugas kesehatan terdekat, ada yang nanya rekening, ada yang langsung transfer duit nggak pake ngomong-ngomong, ada yang kirim bahan makanan, kirim makanan, kirim obat, vitamin, minyak gosok, daaann banyak lagi.

Pokoknya, selama saya sakit kemaren, rekening saya yang awalnya melompong jadi berisi sehingga mau berobat atau makan, bukanlah hal yang saya khawatirkan lagi.
Kulkas saya penuh bahan makanan, meja makan selalu terisi lauk setiap harinya.

Dan yang paling bikin nangis terharu adalah, saya dikeluarkan dari sebuah grup yaitu grup #1M1C, hanya karena mereka mau bikin campaign untuk mengumpulkan duit demi membantu saya.
Lalu seorang sahabat blogger, yang sebenarnya belum pernah ketemu sama sekali, datang membawa banyak sembako dan duit juga buat saya.

Ya Allaaahh, saya hanya bisa nangis terharu, malu sama Allah karena manja banget, cuman ngeluh dan nangis aja bisanya hiks.

Padahal meski orang tua saya jauh, keluarga dekat terlalu sibuk untuk peduli, tapi ternyata saya punya banyaaaaakkkkkk banget keluarga yang bahkan saya nggak kenal dekatpun, yang peduli dengan saya.

Bukan hanya teman-teman blogger, teman lama, teman kampung halaman, bahkan sahabat karib saya yang telah bertahun-tahun lost kontak.

Tiba-tiba saja menghubungi saya, langsung sibuk membantu saya dengan segala hal, kirimin duit, cariin tukang pijat dll, lalu sengaja stand by setiap saat menanyakan kabar saya, agar saya tak merasa sendiri dan galau lagi.

Ya Allaaaah, bahkan seumur-umuran ya, ketika saya tinggal dekat orang tua, rasanya belum pernah saya merasakan sedemikian banyaknya orang yang menganggap saya penting, yang bingung ketika saya tak berdaya.

Sampai-sampai saya langsung meraih handphone dan mengirimkan pesan SMS ke mama saya, dan mengatakan bahwa saya sakit, nggak bisa gerak, tapi mama nggak perlu khawatir, karena ada banyaaaaakkk banget 'keluarga' yang begitu peduli pada saya, dan saya sadar semua itu karena doa beliau, huhuhu.

Demikianlah..
Sesungguhnya tidak ada orang yang benar-benar sendiri di dunia ini.
Selalu ada keluarga, di manapun kita berada.
Yang perlu kita lakukan adalah yakin kepada Tuhan, dan tentunya selalu rajin menabung kebaikan, karena semua itu akan balik kepada kita, di saat kita butuhkan nanti, insha Allah.

Demikianlah, curhatan yang panjang kali lebar ini.
Semoga bisa diambil hikmah dan hal positifnya.
Semoga bisa disikapi dengan bijak, bahwa sesungguhnya tak ada niat membuat orang terlihat buruk.
Karena tidak ada orang yang berniat melakukan hal buruk, semua itu selalu ada alasannya.
Kecuali, memang sengaja merugikan orang lain.

Yang saya tuliskan ini, hanya sebagai pengingat diri untuk selalu semangat.
Dan juga mengirimkan pesan kepada siapapun yang sedang merasa sendiri di dunia ini.
Bertahanlah.
Sesungguhnya keluarga ada di mana saja.

Demikianlah...

Sidoarjo, 27 Februari 2021

Love

Sumber : pengalaman pribadi
Gambar : Canva dan dokpri

14 comments :

  1. Aku juga kayaknya sama orang2 yg punya hubungan darah dengan kayaknya emang kurang intens komunikasi. Padahal jarak kami tak begitu jauh. Kalo mau ke rumah saudara2 bapak, tinggal naik motor 15-20 menit aja sampe..
    Tapi yaa gitu, nampaknya krn aku emang dibesarkan jadi anak rumahan sejak kecil. Jd sampe skrng males mau keluar rumah dan sosialisasi sama orang. Hahaha. (jangan ditiru saudara saudara!)

    Kemudian, UUD. apakah ujung ujungnya duit? πŸ˜…
    Bener sih, mau masuk ke lembaga seperti itu. Adalah bukn rahasia umum. Walopun jg tetap ada kok yg masuk scr murni (mungkin ga banyak)
    Dah, cukup deh mbak. Ntar ada pulisi cyber. Hiiihiji

    ReplyDelete
  2. Yes! Kak Rey, you are not alone, we are here with you, Kak ❤️
    Seandainya suatu hari nanti Kakak merasa kesepian, ingatlah teman-teman di sini yang banyak dan sayang sama Kakak juga anak-anak Kakak πŸ€—. Kak Rey, semangat!

    ReplyDelete
  3. setujuuu, keluarga ada dimana saja dan aku merasakan hal itu juga
    bahkan kadang dengan mereka yang bukan keluarga sendiri, terasa deket layaknya keluarga besar sendiri

    ReplyDelete
  4. Hhmm Mba Rey... I dont know what to say.. baca tulisan mba kali ini saya nggk punya kata2 terbaik.. tapi semisal saya diposisi Mba mngkin pikiran saya berkecamuk kemana2 karena terus2an overthinking..

    Tapi setuju banget,,, keluarga itu ada dimana2.. sangat beruntung punya teman2 dan orang sekitar yg peduli sama kita.. sehat selalu yah mba.. πŸ˜‡

    ReplyDelete
  5. Alhamdulillah mbak Rey semakin pulih, semoga sudah sehat seperti sedia kala.

    Membaca kisah mbak Rey jadinya aku bersyukur karena keluarga ku rukun, sama kakak dan adik kandung saya juga akur, tiap hari juga ketemu, makanya aku sama ponakan juga dekat.

    Alhamdulillah biarpun sama saudara mbak Rey kurang dekat tapi masih banyak "saudara" yang selalu ada ya mbak, yang selalu siap membantu. Aku juga berdoa semoga mbak Rey rukun kembali dengan suami, amiin.πŸ™‚

    ReplyDelete
  6. Mbaa Reeeyyy demi apa aku berkaca2 baca postingan ini 😒😒 duh mama ica emang gampang melow klo udah kaya gini. Apalagi itu yg sampe ada yg bantuin gendongin adik waktu papinya masuk UGD. Terharuuu 😒 Emak2 klo sakit yg paling bingung memang nasib anak2 ya. Apalagi aku sempet baca si adik jg ikut sakit. Semoga semua segera kembali seperti semula, sehat n ceria lg ya Mba Rey..
    Mba Rey yg kuat dan semangat terus yaaa. Banyak temen2 yg mungkin kita blm pernh ketemu tp insya Allah akan berusaha menbantu n terus menyemangati πŸ’–πŸ’–

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak Thessa numpang lapak komennya ya. Aku juga lha kok berkaca-kaca mbaca ini. Sehat terus ya mbak Rey. Btw aku baca kok postingan mbak Rey yang waktu papinya anak2 masuk RS dan ada bantuan dari teman yang membantu menggendong anak bungsunya mbak Rey selama di RS. Semangat terus ya mbak Rey :)

      Delete
  7. kak reyyyyyyyyyyy πŸ₯Ί kok ngena yaaa πŸ₯Ί
    jujur farah sering merasa 'alone', takut menikah, dsb

    tapi setelah baca ini jadi gimana ya πŸ₯Ί, farah seharusnya yakin Allah itu baik, farah harus selalu berbuat baik dan optimis,

    karena jujur farah orangnya skeptis banget tentang 'kasih sayang' πŸ₯Ί

    makasih kak rey sudah menuliskan ini πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, mb Rey saat lagi ada masalah tiba2 dapat "keluarga" yang sangat peduli. Smg makin sehat ya mb

    ReplyDelete
  9. Halo mbak Rey,
    Semangat ya. Ada susah, ada seneng. Meski ada menjauh, tapi ada yang mendekat.

    ReplyDelete
  10. Kalau banyak orang yg baik sama mbak Rey, itu artinya mbak Rey juga baik kpd banyak orang. Cuma mungkin mbak Rey tidak menyadari sudah pernah baik kepada orang.

    Semangat ya mbak.

    ReplyDelete
  11. Bener kata mas agung. Selama ini, aku yakiiiin, karena kebaikan2 kamu di semasa lalu, itu semua terbayar di saat kamu bener2 butuh Rey :).

    Dan juga pastinya Krn dia dari ibu :).

    Seneeeeng baca ini. Seperti jadi pengingat, utk selaku berbuat baik dengan siapa aja, mau kita kenal baik kek, ato hanya sekedar di dunia Maya. Kebaikan kecil, yg mungkin kita ga sadari, tp bisa jd penolong di kemudian hari.

    Keluarga itu ga hrs berhubungan darah memang. Terkadang yg malah bener2 asing, jauh LBH baik dan perhatian. Tetep optimis, selalu berbaik sangka kepada Allah, Krn aku yakin kok Dia ga bakalan ninggalin kita begitu aja. Selalu ada bantuan yg Dia beri melalui tangan orang2 lain :)

    ReplyDelete
  12. Mbaaak... ikut seneng baca kebaikan orang-orang yang mengalir untuk mbak. Semoga sehat selalu yaa... aku juga jadi pengen pakai korset yang mbak Rey bilang. kayaknya habis ini aku mau nyari. Mbak Rey pakai yang jenisnya apa?

    Kebaikan kadang nggak harus kita sadari. Lewat cerita Mbak Rey yang dibagikan di dunia maya, siapa yang tahu ada banyak orang yang merasa nggak sendiri, merasa ditemani, merasa dikuatkan. Itu bentuk kebaikan yang juga menyebar tanpa kita sadari, dan seperti kata Mas Agung serta Mbak Fanny, kembali lagi ke mbak Rey, bersama dengan doa Ibu....

    Tetap semangat ya Mbak, Allah nggak tidur, InsyaAllah akan ada banyak bahagia untuk Mbak Rey dan anak-anak di depan. Amiiin!

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top