Monday, October 10, 2022

Hari Kesehatan Mental Sedunia dan Cara Mantan Wanita Karir Tetap Waras Jadi Ibu Rumah Tangga

Hari Kesehatan Mental Sedunia

Hari kesehatan mental sedunia diperingati secara serentak hari ini, Senin, 10 Oktober 2022.
Dan hari ini diperingati dengan berbagai cara oleh semua kalangan.

Di Twitter, pagi tadi saya melihat ada tagar 'Video Marshanda', yang dibagikan oleh akun TikTok Indonesia, dan disebarkan oleh para buzer *eh, hahaha.

Oh ya, videonya keren banget sih menurut saya, dan dari video pendek tersebut, udah terpampang nyata sebenarnya, salah satu cara agar tetap waras, bahkan untuk para Temans yang memang menderita penyakit mental kayak Bipolar misalnya.

As we know ya, Bipolar konon nggak bisa sembuh, dan gejalanya itu nggak enak banget pokoknya.
Kebayang nggak sih gimana bertahan hidup dengan kondisi seperti itu?

Ternyata jawabannya adalah, mulailah menyederhanakan pikiran, salah satunya mengubah semua riuh pikuk pikiran menjadi indah, kayak Marshanda yang menggambarkan pikirannya yang kayak garis kacau, ternyata kekacauan itu bsia diubah jadi sesuatu yang indah dan menarik, contohnya bisa jadi corak batik yang super cantik.


Sejarah Hari Kesehatan Mental Sedunia / World Mental Health Day


Hari Kesehatan Mental Sedunia atau World Mental Health Day (WMHD), selalu diperingati setiap tanggal 10 Oktober. 

Dan di tahun 2022 ini, tema dari WMHD adalah "Make Mental Health & Well Being for All a Global Priority".

Hari Kesehatan Mental Sedunia ini awalnya dicetuskan oleh sebuah lembaga kesehatan mental dunia yaitu World Federation of Mental Health (WFMH) di tahun 1992. 

Ketika itu, tujuan mereka hanya untuk mengadvokasi serta mensosialisasikan, menganai kesehatan mental secara menyeluruh dan ditayangkan melalui televisi di seluruh penjuru dunia.

Semua usaha tersebut ternyata berhasil, ada sekitar 27 negara yang memberika laporan feedback setelah melihat tayangan tersebut.

Lalu, pada tahun 1995 hingga seterusnya, sebuah lembaga yang bernama Pan American Health Organization (PAHO), akhirnyamemberikan materi dengan terjemahan ke berbagai bahasa untuk bertujuan agar semakin meningkatkan aware terhadap kesehatan mental.


Masalah Kesehatan Mental Ibu Rumah Tangga


Entah karena semakin banyaknya orang menyadari, betapa kesehatan mental itu penting, atau memang zaman yang semakin membuat dan menuntut kita untuk selalu bergerak cepat.

Agar ibu tetap waras

Tak peduli kondisi kita, tak memberikan kita waktu untuk mencerna kehidupan sendiri.
Jadinya, bisa kita lihat ya, di mana sekarang banyak banget ibu rumah tangga yang mengalami masalah kesehatan mental.

Mulai dari yang sebatas burn out, lalu stres, hingga mendekati atau berada di fase depresi.

Saya sendiripun mengalami hal ini, tapi mungkin memang belum sampai ke tahap depresi parah, setidaknya saya masih bisa berdiri, meski memang sih terseok banget.

Masalah ini, lebih terasa sejak saya menjadi ibu rumah tangga.
Sungguh ya, menjadi ibu rumah tangga itu sangat nggak mudah.
Khususnya buat saya ya.

Sebagai mantan wanita pekerja kantoran atau yang biasa disebut wanita karir di luar rumah.
Tiba-tiba harus terkungkung di rumah saja, mengerjakan hal-hal yang rutinitas itu-itu saja.
Sungguh saya nggak tahan.

Belum ketambahan masalah-masalah yang muncul, misal ekonomi jadi sangat kurang, karena jujur memang dulunya saya kerja untuk sama-sama membiayai ekonomi keluarga, dan terpaksa keluar karena memang harus, bukan semata ketakutan aja, tapi memang harus keluar, karena anak butuh saya.

Dan berdasarkan pengalaman saya, ada beberapa masalah yang sering dihadapi oleh ibu rumah tangga mantan wanita karir, yaitu:
  • Masalah ekonomi : terutama jika sebelumnya bekerja untuk membiayai ekonomi kelurga, ini bakalan terasa banget, karena otomatis keuangan berkurang, dan harus pandai-pandai menyikapi agar keuangan dari suami mencukupi, namun jangan khawatir, selama niat kita baik, insha Allah rezeki kita dan anak-anak akan dititipin di suami kok, alias penghasilan suami insha Allah jadi lebih baik, atau mungkin kita dapat rezeki dari yang tidak kita sangka-sangka.
  • Masalah keluarga dan lingkungan : bersiaplah menghadapi sindiran-sindiran yang kurang mengenakan, baik dari keluarga maupun lingkungan. Misal keluarga suami yang mengira istri jadinya memberatkan suami, ngabisin uang suami, jadi beban suami, ampun deh, hahaha. Demikian juga lingkungan, yang mungkin akan memberikan komentar yang seringnya terasa pedas buat kita.
  • Masalah dari dalam diri : ini akan menjadi sebuah masalah serius, terebih jika kita adalah mantan wanita karir yang workaholic. Yang biasanya setiap hari dandan cantik, lalu sibuk mobile ke sana ke mari, meeting sana sini, ketemu klien di kafe A, resto B. Menerima pujian dan bonus dari kantor atas kinerja kita. Lalu tiba-tiba dalam keseharian hanya berdaster, bau ompol, kadang bau muntah, bersahabat dengan pup anak, dari bangun tidur sampai tidur lagi, yang diliat itu-itu saja, yang dikerjakan itu-itu saja, nggak keliatan pulak hasilnya. Percayalah... semua mantan wanita karir workaholic pasti mengalaminya. 


Cara Mantan Wanita Karir Tetap Waras Jadi Ibu Rumah Tangga


Saya telah melewati semua fase di atas.

Sejak memutuskan resign dan menjadi IRT pertama kalinya di tahun 2011 silam (astagaaa udah lama banget yak, hahaha).

Ketika itu nggak terlalu terasa sih stresnya, karena saya akhirnya nggak tinggal di rumah mertua lagi, langsung ikut suami yang ketika itu sedang kerja di proyek jalan tol daerah Jombang.

Dan karena saat itu anak baru satu, suami juga masih peduli banget sama saya, memberikan saya waktu untuk menikmati hari sendiri, masih bisa nonton, setiap weekend diajak jalan-jalan.

Apapun yang saya inginkan dipenuhi, selain keinginan agar kami segera balik ke Surabaya lagi sih, hahaha.

Jadi, masa pertama kali resign, sebenarnya tidak terlalu menyedihkan buat saya.
Ada sih beberapa kali, perasaan sedih dan pengen kembali bekerja, dan bikin saya berkali-kali apply job, lalu interview, lalu kalau diterima, ya ditolak dengan alasan anak nggak bisa ditinggal, *plak! wakakakakakak.

Sampai akhirnya resign kedua, di tahun 2016 silam.
Oh ya, saya kembali bekerja kantoran ketika si Kakak berusia 4 tahun, dan memilih daycare untuk menitipkan di Kakak.

Lalu kembali resign karena si Kakak malah bolak balik ke dokter dan terakhir kena over diagnosa katanya kena penyakit Kawasaki, dan berujung dikasih obat TB tanpa pemeriksaan sama sekali.

Nggak lama saya resign, lah kok malah hamil lagi, dan kena hyperemesis sampai bulan ke-7.
Sejak itulah kayaknya saya mulai merasa resign kerja adalah sebuah hal yang nggak banget buat saya.

Karena punya 2 anak, seolah waktu saya bener-bener habis buat urus anak doang, ditambah ekonomi makin sulit, suami yang makin tidak bisa diajak tetap berada di jalur yang kami sepakati sebelumnya.

Dan begitulah, mental saya mulai terasa terganggu sejak itu.

Namun, begitulah Tuhan memberikan sebuah tantangan, pasti lengkap dengan jalan keluarnya.
Semakin lama berputar di arus pikiran yang menyiksa, sampai saya hampir gila.
Malah membuat saya lebih familier dengan para psikolog.

Saya jadi beberapa kali curhat dengan psikolog, baik berbayar maupun enggak, dan dari curhat itulah, saya mulai memilah-milah permasalahan yang saya hadapi, dan mulai menyusun sendiri bagaimana agar saya bisa menjalani hidup dengan lebih tenang dan semangat.

Dan menurut saya, begini cara agar mantan wanita karir workaholic yang menjadi IRT, tetap waras dalam menjalani kehidupannya sebagai IRT atau ibu.


Anak adalah achievement


Ini sangat bertentangan dengan para pakar parenting ya, tapi ini work banget sih buat saya.
Dan tidak berarti yang negatif kok, karena ini tuh lebih ke anak sebagai obyek, yang nggak perlu bertanggung jawab kepada usaha saya.

Agar ibu tetap waras

Ini tentang bagaimana saya menjadikan kehidupan baru saya as a mom sekaligus housekeeper, eh salah housewife, wakakakaka. 
Tetap berjalan seru, layaknya kehidupan saya ketika masih kerja kantoran.

Cara satu-satunya ya, dengan membuat target kayak kerja kantoran, dan yang paling memungkinkan dibikinin target ya anak.

Jadi, kalau misalnya di kantor kita biasanya punya target jualan misalnya, atau target lainnya yang intinya target untuk memajukan perusahaan.

Maka saya anggap kalau perusahaan saya sekarang ya anak.
Perusahaan harus berkembang.
Ya sama dengan anak yang harus berkembang.

Goalnya banyak pula, anak harus sholeh, sopan, disiplin dan lainnya.
Jujur ini bahkan lebih menarik dari kerjaan kantor sebenarnya, karena tantangannya jauh lebih besar.
Tapi kalau goal tercapai itu...

Percayalah, bahkan dapat bonus 1 milyar kayaknya masih belum bisa mengalahkan perasaan bahagia tanpa ujung ketika goal anak sholeh tercapai, masha Allah.

Jadi gitu, anak adalah achievement atau pencapaian buat saya adalah, bagaimana saya membuat anak jadi lebih baik dan berkembang, layaknya perusahaan.

Jadi, bagaimana kita bisa stres bahkan depresi ketika menjadi ibu rumah tangga? sementara goal di rumah tangga itu sebenarnya banyak dan mendapatkannya juga jauh lebih menantang.
Dan hal-hal menantang itu, selalu menjadi hal yang disukai para workaholic.

Meskipun, ada minusnya juga untuk poin ini, yaitu kalau kita nggak fokus, kayak kerjaan kantoran yang memang bisa lebih fokus, maka hanya akan menghadirkan penyebab stres lainnya, misal capek dan burn out, gegara harus mencapai goal ke anak, tapi juga ternyata butuh cari uang *uhuk, itu kan kamoh Rey! hahahaha.


Atur jadwal seperti pekerja kantoran


Salah satu yang bikin ibu rumah tangga depresi itu, menurut pengalaman saya adalah KURANG PANDAINYA MANAJEMEN WAKTU!
Udah deh, fix banget ituh!

Karena di rumah aja kan, ngga ada bosnya, nggak ada goal mendesak, kecuali kita paksa diri sendiri bikin goal.
Jadinya tantangan itu buanyak, yang kesemuanya merusak dan menghabiskan waktu kita dengan sia-sia.

Karenanya, akan lebih baik, kalau kita tetap memperlakukan disiplin waktu layaknya masih kerja kantoran.

Jadi, meski di rumah saja, tetaplah bangun dan tidur sesuai waktu ketika kerja kantoran, dan ikutin waktu seperti sedang kerja kantoran.

Manfaatnya double malah.
Selain kita jadi nggak bosen lagi, pun juga bikin semua kerjaan rumah, bisa diselesaikan dengan baik, dan waktu kita untuk diri sendiri juga ada.
 

Atur kebiasaan seperti pekerja kantoran


Tetap mandi di pagi hari seperti ketika masih kerja kantoran.
Tetap dandan, meskipun mungkin lebih minimalis ya, cukup skincare, sunscreen yang paling penting di siang hari, serta bibir diolesi lipen.

Dan kalau perlu, sesekali tetap memakai pakaian yang lebih formal.
Misal untuk mengantar jemput anak di sekolah, gunakan pakaian formal.
Receh sih, tapi buat saya bisa naikin mood banget, apalagi kalau pakai pakaian formal yang dulunya dipakai ngantor, rasanya tuh senang dan happy.


Beri waktu untuk diri sendiri


Meski 24 jam harus mengurus anak, jangan lupakan ambil waktu untuk diri sendiri.
Nggak perlu keluar rumah kok, jika memang tidak memungkinkan kayak saya.

Tapi bisa dengan punya ruang kerja sendiri, lalu ada waktu di mana kita meminta anak-anak untuk membiarkan maminya bekerja dengan fokus, makan dengan nikmat, atau sekadar nonton film atau baca buku dengan fokus.

Kalau tidak memungkinkan, aturlah waktunya di malam hari.
Setelah anak-anak tidur, ambil waktu minimal 30 menitan untuk melakukan apa yang kita suka, entah menulis, membaca, nonton film (film apa Rey yang 30 menit doang? wakkakakaka).


Lakukan hobi


Jangan pernah tinggalkan hobi, ini penting banget loh sebagai ibu rumah tangga, yang sangat berperan menge-charge mood baik. 

Hobi ini bisa kita lakukan di me time kita, atau bisa juga melibatkan anak-anak, jika memang menurut kita hal itu tidak mengurangi kebahagiaan yang kita dapatkan melakukan hobi tersebut. 


Istrahat yang cukup


Last but not least, TIDURLAH YANG CUKUP!
Ini faktor yang amat sangat penting buat tetap waras.

Sehebat apapun mental kita, tapi kalau lagi ngantuk dan kurang tidur, apalagi ketambahan lapar.
Udah deh, mama singa aja auto insecure sama kita, wakakkaka.

Jadi, tidurlah yang cukup, dan makanlah dengan kenyang.


Penutup


Di hari kesehatan mental sedunia ini bikin saya teringat akan lagu Tulus yang judulnya 'Diri'
"Luka...luka hilanglah luka..
Biar tentram yang berkuasa...
Kau terlalu berharga untuk luka...
Katakan pada dirimu..
Semua baik-baik saja"
Saya tujukan ke diri sendiri, sebagai ibu rumah tangga yang memang mulai merasa mentalnya down sejak menjadi ibu rumah tangga.

Hari Kesehatan Mental Sedunia dan Cara Waras Mantan Wanita Karir Jadi Ibu Rumah Tangga

Dan juga untuk para ibu rumah tangga, yang merasa mentalnya bermasalah oleh tekanan jadi ibu rumah tangga, khususnya bagi mantan wanita karir workaholic

Terbiasa sibuk dan produktif dalam kacamata yang hebat di mata semua orang kebanyakan.
Tiba-tiba terbelenggu kerjaan rumah tanpa ujung.
Anak-anak yang berantem jejeritan, rewel dan kadang bikin jantungan.

Melihat ke kaca, "duhai ke manakah diri kita yang selalu tampil cantik dan terawat dulu?"
Tak perlu bertanya lama Sis, tapi segeralah berdandan.

Dia masih ada kok, masih ada di sini, di hati kita.
Hanya saja dia belum tahu harus ngapain, masih butuh banyak waktu mencerna semua hal yang berubah drastis itu.

Maka, bangkitlah keluarkan dia dari dalam dirimu.
Panggillah dia, sosok wanita cantik, cerdas, hebat dan mengagumkan.

Di rumah saja bersama anak-anak, bukan akhir segalanya.
Bahkan bisa jadi sebuah tantangan yang lebih menarik untuk ditaklukan.

Mari cintai diri, dengan tetap waras meskipun sekarang kita jadi ibu rumah tangga.
Maka jadilah ibu rumah tangga yang workaholic.

Semangat untuk kita semua.
Love

Sidoarjo, 10 Oktober 2022

Sumber:
  • https://www.detik.com/jabar/berita/d-6339106/hari-kesehatan-mental-sedunia-2022-sejarah-dan-twibbon diakses 10 oktober 2022
  • Pengalaman pribadi 
Gambar: canva dan dokumen pribadi

3 comments :

  1. Reeeey, ini mah relateeee banget Ama aku 😄. Pernah ngerasain resign dan akhirnya jadi IRT. Tapi memang alasan aku resign Krn udh ga 1 visi Ama perusahaan sih. Dan buatku prinsip itu penting. Di saat tiap pagi berangkat kantor dengan hati gloomy, muka cemberut, dan mikirnya LGS jelek semua, yg terparah pulang kantor aku ttp emosi dan suka lampiasin ke anak2. aku LGS sadar kondisi kayak gitu udh ga sehat. Makanya setelah mikir lamaaaa, putusin utk resign ajalah, biar aku ga gila terpaksa ngikutin hal yg ga cocok Ama hati.

    Eh ndilalah malah pandemj 🤣. Ya sudah jadi ga tertarik utk cari kerja lagi.ampe skr.

    Tapi beberapa cara yg kamu tulis, itu memang ampuh banget utk ngilangin rasa jenuh dan stress di rumah. Cth nya yg bikin target.

    Tapi aku lebih memilih targt yg memang aku sukai, dalam hal ini financial. Krn dari dulu kerjaanku menyangkut itu kali Yaa, jadi ga pengen jauh dari dunia keuangan.

    Aku minta ke suami sebagai pengatur utama keuangan kami. Trutama dalam hal investasi. Setiap akhir THN aku ada target utk menaiikan asset kami sekian Rp. Return dari profit saham hrs nambah sekian... LM harus naik jadi sekian gram, pokoknya segala macam yg menyangkut keuangan. Dan kdg ada momen di mana kondisi lagi memburuk, seperti skr ini IHSG lagi lesu, P2P lending lagi banyak gagal bayar, dan disitu aku malah tertantang gimana caranya bisa kluar dengan membawa profit yg walo kecil, tp ttp profit, bukan malah loss. Ada rasa kepuasan sendiri kalo berhasil melalui itu semua.

    Target lain kayak anak2, jujurnya aku memang bukan wanita keibuan sih 😅. Jadi itu lebih aku serahin ke babysitter, aku hanya cek dan support aja.

    Ngelakuin hobi juga penting. Krn aku suka traveling udah pasti target yg aku capai juga menyangkut itu. Trus target membaca buku dalam setahun. Semua itu membantu bikin aku selalu waras 😁.

    Hasilnya, ga ada penyesalan walo sudah ga kerja. Krn aku ngerasain kondisi justru semakin bagus saat aku sudah resign. Ga ada lagi hal2 yg bikin terpaksa ngedumel karena harus melakukan kerjaan yg ga sesuai.

    Beberapa kali ngeliat IG temen kantor lama, yg melakukan outing lah, atau family gath, di mana dulu aku selalu happy ikutan. Tapi ternyata melihat itu semua, udh ga bikin iri sih. Berarti aku udh bener2 ngelupain masa2 manis di kantor dulu 😂

    ReplyDelete
  2. Halo Mba, relate banget, saya juga mantan corporate employee hampir 8 tahun bekerja, saat harus switch menjadi fulltime IRT karena suatu kondisi rasanya memang berat ya, karena yang harus ditaklukkan ya diri sendiri ini yang masih belum bisa menerima perubahan kondisi yang luar biasa berbeda. betul dan setuju dengan tips mba harus memperlalukan pekerjaan domestik seperti saat masih kerja dulu, yap itu juga yang saya lakukan, caranya sama hanya obyeknya saja yang sekarang berbeda. thanks untuk sharing nya Mba, i feel not alone anymore.
    btw saya juga orang sidoarjo loh, hehe.

    ReplyDelete
  3. Relate se relate relatenya mbaaa Reyyyyyy. Aku yang dulu terbiasa wara wiri kemana aja bebas, harus terkungkung di rumah dan bersama bayi 24/7 ya ampuun. Awalnya stress banget. Tapi ya iseperti yang mba Rey tulis, sederhanakan pikiran dan jadikan anak sebagai achievment dan targetn(in good way) hahahah. Sama satu lagi, jangan lupa me time.

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)

Back to Top