Friday, November 05, 2021

Dampak Buruk Momblogger Multitasking dan Cara Mengatasinya

Apa itu multitasking

Sharing By Rey - Menjadi seorang momblogger yang mengasuh anak-anak sendiri dan serius ngeblog dari rumah, memaksa saya untuk bisa multitasking.

Apa itu multitasking?
Yang jelas, sekilas terlihat hebat oleh orang lain, karena bisa mengerjakan banyak hal, hidupnya produktif sekali. Tapi tau nggak sih, kalau multitasking itu punya dampak atau efek buruk yang sudah saya alami dan rasakan sendiri.


Apa Itu Multitasking?


Multitasking adalah sebuah tindakan yang mengubah fokus secara cepat, dari pekerjaan yang satu ke pekerjaan yang lainnya, dan dilakukan secara bergantian.

Dalam bahasa awam seorang momblogger seperti saya, multitasking adalah bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. 

Misal, saya memasak, sambil nyuci di mesin cuci, sambil mandiin si Adik.
Atau nyuapin si Adik makan, sambil support like IG (okeh baiklah, yang ini jangan ditiru ya, saya terpaksa kok lakuinnya, hahaha).

Atau yang lebih ekstrim, masak sambil balas chat di grup (ini ketika saya masih aktif ngurus grup JUST💖) yang seringnya berakhir dengan masakan saya gosong, hahaha.

Atau double ekstrim, menyuruh anak melakukan sesuatu, sambil menulis di blog, dan berakhir dengan kalimat perintah yang gantung, saking fokusnya beda, hahahaha.

dampak buruk multitasking

Semua hal tersebut terpaksa saya lakukan, karena saya belum bisa mengkloning diri, dan terpaksa harus mengerjakan semuanya seorang diri *halah.

I mean, sendirian mengurus anak dan rumah karena LDM an dengan suami, serta nggak ada ART ataupun keluarga buat nitipin anak, itu berarti saya harus bisa multitasking, atau mengerjakan semuanya seorang diri, dan tentu saja bukan hal yang aneh jika saya mengerjakannya dalam istilah disambi-sambi.

Kalau enggak?
Ya kali saya bisa rutin nulis di blog hampir setiap hari, hehehe.

Multitasking seperti ini sebenarnya bukan hal baru buat saya, dulu ketika masih kerja kantoran juga sudah biasa kerja dengan multitasking, saking saya suka penasaran ama kerjaan orang lain, dan berakhir dengan kerjaan tersebut jadi tanggung jawab saya.

Karenanya, sebenarnya saya udah terbiasa kerja multitasking, meski lama-lama juga akhirnya saya merasakan beberapa dampak buruknya.

Sebenarnya, bisa multitasking itu adalah sebuah anugrah, karena tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan yang berbeda dalam satu waktu, apalagi kalau fokusnya beda.

Bahkan menurut para ahli, multitasking itu sebenarnya bisa dikatakan candu, yang mana kondisinya seseorang bisa menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus, di luar kontrol otak manusia.

Seorang penulis buku, Dave Crenshaw, dalam bukunya 'The Myth of Multitasking: How "Doing It All" Gets Nothing Done' mengatakan bahwa sesungguhnya kemampuan multitasking itu terbentuk karena budaya, di mana seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang terbiasa melakukan beberapa hal dalam satu waktu.

Ini benar banget sih, kalau saya melihat kakak saya, yang sering melakukan banyak hal dalam sekali waktu, mama saya bahkan tidak bisa selihai kakak saya yang punya anak 3 tapi bisa punya karir menanjak di kantor, sementara nggak punya ART.

Orang yang punya kemampuan multitasking, sebenarnya bukanlah orang yang punya otak yang hebat.
Karena pada dasarnya, otak manusia tidak bisa multitasking.

Adapun yang dilakukan oleh otak ketika kita melakukan beberapa pekerjaan atau hal sekaligus adalah, dengan mengalihkan konsentrasi secara cepat di antara tugas yang satu dengan yang lain.


Dampak Buruk Multitasking


Saya mendapatkan beberapa pesan dari stranger, khususnya di facebook.
Beberapa orang tersebut mengatakan bahwa mereka kagum sama saya.

Jadi seorang ibu, mengurus anak-anak seorang diri di rumah, nggak merepotkan siapapun, tapi juga masih bisa bekerja menghasilkan uang, sehingga punya uang sendiri.

Menurut mereka, menjadi seorang Rey itu, impian mereka.
Menurut saya, mereka tertipu, hahahaha.

apa itu multitasking
Salah satu pesan dari seorang teman facebook

Well, ini bukan berkaitan dengan masalah bersyukur atau tidak, tapi tentang bagaimana sesuatu yang tidak mereka ketahui secara jelas, meskipun sejujurnya dibanding ibu lainnya, kayaknya saya termasuk seseorang yang paling sering mengeluh di medsos deh, hahaha.

Tapi ternyata, justru beberapa orang jadi notice saya secara lebih detail, lantaran keluhan saya itu.
Di mana hari ini ngeluh, besok bangkit dan ceria lagi.
Mungkin karena itulah beberapa orang menilai saya seseorang yang hebat, selalu semangat untuk bangkit dari segala masalah.

Padahal, kalau dipikir-pikir, saking terbiasanya multitasking, saya juga bisa multitasking dalam masalah mental, wakakakaka.
Bahaya juga nih, lama-lama saya jadi berkepribadian ganda.
Tapi enggak kok, itu cuman candaan, hahaha.

I mean, memang iya sih, saya tuh jadi lebih gampang switch mood, jadi kalau udah badmood, saya segera cari cara biar mood-nya balik, dan here i am, ceria lagi.

Hebat banget ya?
Tapi jangan lupa.

Keliatan hebat, multitasking sebenarnya juga punya dampak buruk, dan sejujurnya udah sering saya alami beberapa waktu belakangan ini, seperti:


1. Jadi kurang fokus


Astagaaaa, kalau ada sutradara iklan yang mengamati kegiatan saya sehari-hari, kayaknya saya langsung diajak ikutan ngiklan air mineral yang temanya kurang fokus itu loh, hahaha.

Multitasking adalah

Serius deh, akhir-akhir ini banyak hal yang ngeselin tapi juga lucu, yang saya lakukan.
Nyuruh kakak mandi, eh malah keluar kata nyuruh makan.
Mana nyuruhnya dengan nada menggelegar pula, saking udah berkali-kali disuruh, kagak bergerak juga.

Lah ternyata salah perintah dong, dan si kakak udah jawab kalau udah makan, tapi saya nggak dengar karena lagi fokus nulis di blog atau caption IG, hahahaha.
Dan masih banyak hal nggak nyambung karena kurang fokus lainnya, saking fokus saya terbagi-bagi dalam satu waktu.


2. Rentan melakukan kesalahan


Typo dalam menulis?
Duh jangan ditanya lagi.
Dan masih banyak kesalahan lainnya.

That's why saya lebih suka menulis blog di tengah malam buta, di saat semua tertidur.
Tentu saja agar bisa lebih fokus dan minim hal-hal yang nggak nyambung, hahaha.
Itu juga alasannya saya nggak pernah ikutan lomba blog lagi, ya kali bisa menang dengan tulisan yang banyak salahnya, hahaha.

Itu belum termasuk dengan salah kirim pesan, sudah baca pesan orang tapi belum balas, demikian juga dengan email, nyuruh si kakak mandi eh malah suruh makan, daannn lain sebagainya,  


3. Kehilangan banyak momen kehidupan


Saking banyaknya yang harus saya pikirkan serta kerjakan dalam satu waktu, sampai-sampai saya nggak menyadari, kalau pandemi udah mau 2 tahunan dong, astagaaa...

Bahkan menjadi pagi, menjadi siang, menjadi malam, kayaknya kok terjadi dalam sekerjap mata, ckckckck.
Anak-anak udah semakin besar, suami udah semakin tua, eh saya juga ding, hanya saja saya semangat untuk #DelayKeriput *halah, hahaha.


4. Merusak hubungan


Ya gitu deh, saking sibuknya, otaknya digunakan berpikir terus menerus tanpa istrahat, sampai-sampai orang-orang terdekat malah terabaikan.
Bonding dengan pasangan, semakin sulit dilakukan, terlebih sekarang kami LDMan.

Bahkan yang menyedihkan, saya dekat dengan anak-anak, tapi bonding masih kurang, sehingga merusak hubungan saya dengan anak-anak juga, huhuhu.


5. Kinerja jadi melambat


Ya mungkin karena faktor usia juga kali ya, namun tetap penyebab multitasking adalah yang utama, membuat kinerja saya jadi lebih lambat.

Hal ini memang berkaitan dengan masalah kurang fokus itu, jadinya bukannya cepat selesai, malah terbengkalai dan mungkin juga rentan salah, jadinya kudu diulang atau direvisi.


6. Daya ingat menurun


Ini yang paling besar dampak buruk multitasking yang saya rasakan, bahkan sudah saya alami sejak masih kuliah dulu.

Penyebab awalnya mungkin karena saya juga multitasking dalam berpikir, overthinking dan jadinya memikirkan banyak hal dalam satu waktu secara bersamaan.

Jadinya pikun deh, hahaha.
Mulai dari hal-hal sederhana, salah ngomong ke anak-anak.
Salah ngomong ke suami.

Tiba-tiba blank, lupa kosa kata baik saat bicara langsung sama orang lain, maupun sedang menulis blog atau sedang chat.

Sampai ke hal-hal besar, kayak lagi masak terus lupa, jadinya gosong.
Anak mandi, terus ditinggal ngerjain lainnya, jadinya anak kedinginan, untung anak-anak mah masih bisa teriak memanggil maminya, hahaha.

Atau lupa rakaat sholat, astagaaa... ini sering banget, sampai saya maksa si Kakak untuk sholat bareng, atau kalau enggak si Kakak wajib liatin maminya, terus ngitungin rakaat saya, biar saya nggak lupa, hahahaha.
Sungguh ngenes sih ya, huhuhu. 


Cara Mengatasi Dampak Buruk Multitasking


Lalu, apakah hal ini akan terus berlanjut?
Off course tidak lah.
Tentu saja saya bakal mencari solusinya, minimal untuk memperkecil dampak buruk dari multitasking tersebut.

multitasking mom

Karena sampai saat ini, tidak multitasking bukanlah solusi yang tepat, saya cari aja cara lain yang bisa disesuaikan dengan kondisi saya saat ini, agar bisa mengatasi dampak buruk dari multitasking tersebut, seperti:


Terus belajar disiplin manajemen waktu dan prioritas


Udah deh, udah puluhan tahun saya menjalani hidup, dengan berbagai kondisi yang saya jalani, membuat saya menarik kesimpulan utama, bahwa WAKTU adalah kunci kehidupan.

Hidup adalah tentang bagaimana kita memanfaatkan, dan memanajemen waktu dengan lebih baik.
Sayangnya, hal ini justru paling berat dilakukan, terlebih bagi momblogger yang LDM dengan suami kayak saya.

Saya harus pandai dan disiplin dalam menerapkan manajemen waktu sebaik mungkin, agar tidak perlu terlalu memaksa multitasking, jika memang sedang merasa tidak sanggup atau lagi burn out.

Selain itu, menetapkan prioritas juga amat sangat membantu saya dalam disiplin mengikuti manajemen waktu, sehingga jika memang semuanya tak bisa saya lakukan secara bersamaan, ya udah.. saya utamakan yang prioritas aja dulu.


Rajin menulis notes


Multitasking memang wajib banget rajin nulis notes, kalau nggak suka karena tulisannya saingan ama tulisan dokter *eh.
Maksudnya tulisannya nggak indah kayak orang-orang yang rajin nulis notes dengan tulisannya yang kek print-print-an, ya udah nulis seadanya aja.

Hal ini sudah saya lakukan sejak bekerja kantoran dulu, saya bahkan punya beberapa buku tulis murahan, yang saya bawa ke mana-mana, dan itu udah kayak harta karun saya banget, saking isinya tulisan aduhai saya, tapi isinya penting banget.

Mulai dari to do list harian saya, sampai hal-hal yang terlihat remeh tapi sangat membantu.
Misal, ketika bos meminta sesuatu, hal itu wajib saya tulis secara detail, kalau enggak? ya lupa, hahaha.

Ketika jadi momblogger, hal ini juga masih saya teruskan, meski nggak seintens pas ngantor sih, apalagi alasannya, kalau bukan malas cari bolpen, ampun deh si Adik mah liat bolpen udah kek liat cokelat, dia ambil terus dibuat mainan, huhuhu.  


Belajar memberi jeda


Nah ini dia, penyebab dampak buruk dari multitasking yang saya rasakan adalah, karena saya terlalu memaksa otak untuk tetep stay, kadang udah ngantuk setengah matipun, tetep diajak melek.

Lama-lama saya mikir, sungguh saya begitu naif ya, orang saya ada di rumah, kalau ngantuk ya udah tidur dulu kali, Rey! hahaha.

Jadinya, sekarang saya tekankan ke anak-anak, bahwa mami nggak mau tidur siang, tapi malam paling lambat pukul 8 udah bobo, dan mereka wajib menyesuaikan hal itu.

Demikian juga, ketika saya multitasking, dan merasa nggak kuat, ya udah stop dulu, minum dulu, menikmati camilan sambil main dengan anak dulu, Alhamdulillah itu work banget buat saya.


Belajar disiplin menikmati waktu libur


Kebiasaan mamak mantan pekerja proyek dan workaholic kayak saya, adalah... udah biasa banget lembur sejak dulu.
Lembur sampai tengah malam, atau kalau nggak mau lembur di kantor atau di proyek, lemburnya di rumah alias bawa pulang kerjaan.

Hari libur ditelponin bos dan nanya volume pekerjaan? duh sering banget.
Dikata otak saya ini chip kali ya, bisa hafal semua itu setiap saat, hahaha.

Hal ini terbawa banget sampai sekarang, saya bahkan nggak bisa lepas dari kerjaan, even pas hari Minggu.

Sekarang, saya mulai belajar mengabaikan penawaran atau job di hari Minggu, biar otaknya bisa istrahat, dan nggak melulu dipaksa multitasking.


Melatih daya ingat dan kinerja otak

 
Hal lain yang sering saya lakukan, adalah menikmati me time dengan kegiatan yang melatih daya ingat dan kinerja otak.

Ini yang paling parah dampaknya sih ya, saya udah kayak pikun gitu, hahaha.
Saking lamanya otak dipaksa switch mikir secara cepat, jadilah otaknya aus, hahaha.
Karenanya harus sering-sering dilatih, biar daya ingat dan kinerjanya tetap meningkat. 

Ada beberapa cara yang sering saya lakukan untuk meningkatkan daya kerja otak, yaitu kurangi konsumsi gula, konsumsi makanan dengan omega tinggi seperti ikan atau semacamnya, rutin berolahraga, istrahat yang cukup dan melatih otak dengan berbagai game online yang khusus.

Biasanya saya mainin beberapa game online yang simple di solitaire.org
Seperti Daily Sudoku yang pas banget buat melatih ingatan kita melalui susunan angka-angka yang menantang.

game daily sudoku di solitaire.org

Atau juga yang lebih simple dan melatih otak dan mata untuk lebih fokus dengan game Daily Word Search

game daily word search di solitaire.org

Dan masih banyak jenis game lainnya, yang sangat membantu melatih daya ingat dan kinerja otak, untuk kembali fokus.

Kesemua game online tersebut sangat simple, mudah di akses tanpa harus install aplikasi ataupun daftar sebuah akun, karena saya mainnya di situs solitaire.org

Bukan hanya simple, tapi juga pilihannya banyak banget, sehingga memberikan saya lebih banyak tantangan untuk melatih otak, melalui berbagai game untuk melatih otak.


Demikianlah apa itu multitasking dalam kehidupan saya sebagai momblogger, dengan dampak buruk multitasking yang saya alami, serta cara saya mengatasi dampak buruk tersebut.

Semoga bermanfaat

Sidoarjo, 05 November 2021

Sumber:
  • pengalaman pribadi
  • https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2121189/mengapa-seseorang-bisa-bekerja-multitasking-
  • https://www.thebalancecareers.com/multitasking-skills-with-examples-2059692
  • https://www.solitaire.org/
Gambar : https://www.solitaire.org/ dan canva edit by Rey

52 comments :

  1. multitasking, tidak hanya pada momblogger itu engga sehat sebenarnya mbak
    aku kemarin baca twit dari psikiater sebisa mungkin kita mengurangi kemultitaskingan kita meski memang sulit
    to do list dan menyelesaikan pekerjaan sebelum akhir pekan sangatlah tepat
    bagaimanapun kita juga butuh istirahat dan tenang
    dulu aku ngerasain banget pas masih kerja di sekolah jadi multitasking asli stresnya sampe ubun ubun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau buat mamak-mamak sulit banget Mas, apalagi kayak saya :D
      Mau nggak mau kudu disiasati, dan mengerti prioritas, biar bisa ngurangin, kalau hilangkan saat ini masih imposible banget :D

      Kalau untuk pribadi, mungkin masih bisa asal disiplin mengikuti manajemen waktu yang udah disusun.

      tapi kalau melibatkan anak, sungguh luar biasa hahahaha

      Delete
    2. Nah iya bener, buat emak-emak mah sulit ya untuk mengubah multitasking ini. Soalnya memang dalam satu waktu itu ada banyak hal yang harus dilakukan. Yang paling mungkin sih, aku biasanya prioritaskan mana yang urgent. Biasanya sih yang melibatkan anak-anak dulu. Dari makan, mandi, sekolah. Abis itu kerjaan. Setelah itu baru deh urusan rumah kayak beberes dan nyuci2. Walopun tetep, berasa jungkir balik dan hasilnya gak bisa maksimal. Hehehehe

      Delete
  2. Terima kasih sudah mengingatkan saya juga ini. Saya merasa multitasking enggak efektif juga buat saya. Saya bukan tipikal yang bisa menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam 1 waktu. Mendingan saya jeda atau mendahulukan yang mana yang penting. Semoga kita dimampukan dalam mengatur waktu lebih baik, lagi ya, mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, iyaaa... sebenarnya nggak ada yang mampu multitasking sejak lahir, biasanya karena tempaan sikon hehehe.
      Tapi tetep, ibarat sesuatu yang dipakai dengan maksa, otak juga bisa lelah kalau setiap saat dipaksa kerja switch dengan cepat :)

      Delete
  3. selalu salut pada momblogger seperti Mbak Rey

    harus mengurus rumah tangga, anak2 dan suami, tapi bisa ngeblog

    akhirnya kembali ke management waktu ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener Ambu, itu kuncinya, sekali melenceng, stres sendiri deh hehehe

      Delete
  4. Mom multitasking itu dianugrahi yg namanya "The power of emak2 " ..bener ga mba Rey ? karena fisik dan psikis harus sehat dan engga boleh sakit sedikitpun. Saya kagum lho sama mba Rey yg bisa multitasking dan tetep bisa cari cuan dari nulis..semangat ya mbak..









    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, kudu sehat selalu, makanya wajib cari solusi nih, biar dampak buruk multitasking ga merenggut kesehatan fisik dan mental :D

      Delete
  5. Banyak keuntungan memang jadi seseorang yang multitasking, walaupun terlihat bangga namun nyatanya mereka banyak yang stress karena mampu mengerjakan sesuatu hal untuk banyak hal. Namanya manusia ya, pastinya ada jam biologis kapan dia fresh kapan dia kelelahan, ini sesuatu hal yang normal. Nah, kalo saya sendiri kalo udah lelah pastiny butuh refreshing dan salah satunya bermain games. Mau coba nih game klasik solitaire. game kartu klasik yang bikin kangen.

    ReplyDelete
  6. Sebelumnya tuh kalau dengan orang yang multitasking itu keren banget. Ternyata ada dampak buruknya juga ya. Kalau saya justru tipe yang mesti fokus dulu, kalau kerja banyak hal dalam satu waktu gitu justru banyak pekerjaan yang gak beres.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah, iyaaa, resikonya banyak pekerjaan yang ga beres, apalagi saya tuh tipe karakter yang apa ya namanya, seringnya multitasking di tengah-tengah kerjaan lain, misal lagi nyuci beras, baru pertengahan eh ditinggal kerjain yang lain hahahaha

      Delete
  7. saya pun mengakui sepertinya saya termasuk kategori yang bisa multitasking baik itu di rumah dan di kantor. Tuntutan kehidupan sepertinya mba. Di rumah saya ada ibu yang sudha sepuh, jadi mau ga mau harus sigap manakala Ibu butuh. Di kantor, karyawan multitasking menghemat budget gaji kan akhirnya ya gitu deh. Namun saya berusana menikmatinya sambil bersyukur

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh kebayang banget ya Mba, semangat selalu yaaa :)

      Delete
    2. Kadang pengen koprol sih mbak, wkwkwk. SAking burnout nya di kantor. ingin resign cuma masih belum yakin. Namun suasana kerja sudah tidak kondusif lagi. Memang rejeki di tangan Allah ya mba, namun ya itu saya masih ragu utk resign. hiks. Thanks mbak Rey atas tulisannya. Menjadi motivasi utk aku

      Delete
    3. mba Rey keren sih menurutku. Mom blogger itu juga hebat sih. Ngurus anak sambil mengerjakan tulisan dari client. Mungkin kalau anak sudah besar kegiatan yang multi tasking ini bisa kenangan ya mba

      Delete
  8. momblogger sepert mba Rei hebat banget lho. aku ga bisa lakukan hal ini. kadang banyak kerjaan yg harus dilakukan, seringnya milih yg paling utama dilakukan. ternyata mulitasking ga baik juga ya. makasi udah berbagi informasi ini.

    ReplyDelete
  9. Aah ini game favorit aku juga nih si sudoku. Bisa melatih konsentrasi buat mamak-mamak multiasking macam kita. Kalau yg tebak kata, kayaknya aku nggak mau deh, soalnya Bahasa Inggrisku begitulah apa adanya. Wkwkkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang daily word search itu simple kok Mba, suka banget saya, biasanya main sama anak-anak, rebutan cari katanya hahahaa

      Delete
  10. Salut aja sama mommy-mommy yang super sibuk dan always bisa multitasking. Itu bukan perkerjaan mudah, kelihatannya aja sepele tapi sesungguhnya hanya orang orang-orang 'perkasa' aja yang sanggup melakukannya.

    ReplyDelete
  11. kebanyakan orang, duluu banget, banyak yang bangga bisa multitasking. Tapi pada kenyataannya banyak yang stress gara-gara ini. Saya juga sekarang berusaha enggak multitasking, jadi saya berusaha menetapkan jadwal untuk beberapa pekerjaan harian. misalnya pekerjaan apa saja di jam ini dan itu. Agar bisa dikerjakan dengan baik semuanya tanpa strees.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha iya Mba, sekilas terlihat keren, padahal sebenarnya ga baik juga, apalagi buat jangka panjang :D

      Delete
  12. Baca ini jadi ingat jaman anak-anak masih kecil dan LDM sama suami, pagi-pagi masak sambil gendong anak, sementara harus standy juga kalau mesin cuci berhenti menggiling. Nyuapin anak sambil dandan siap-siap ke kantor.

    Emang benar management waktu tuh penting banget. Makanya bagi yang Muslim sampai ada surat dalam Al Quran yang di awali dengan "Demi waktu".

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa mamak-mamak emang terbaik ya multitaskingnya.
      Wajib disiplin terhadapwaktu :)

      Delete
  13. Oalah, solitaire dot org tu ternyata banyak gamenya ya Mbak. Ta pikir awalnya cuma berbagai macam game yang terkait sama kartu. Hahaha... Btw, terkait muktitasking dan penurunan kemampuan otak, iya sih kuakuin. Itu terjadi apalagi kalau pas aku lelah. Tapi... jujur susah Mbak ngilangin kebiasaan ini. Soalnya aku tu kalau fokus sama satu hal saja, suka ngantuk. 🤭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak banget Mba, dan rata-rata tuh simple banget, pas banget buat melatih otak tanpa ribet daftar ini itu :D

      Wah iya nih, kantuk itu beneran tantangan hahaha

      Delete
  14. Otak perempuan itu kompleks banget, saya sendiri suka melakukan hal multitasking. Karena rasanya kalau ga gitu, waktu terasa ga cukup untuk melakukan hal tersebut satu persatu. Itu juga mungkin yg memicu mood switch dan pelupa ya.. duh, harus memperbaiki management waktu, nih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah kaannn, kalau kerjain satu-satu ga selesai semua dong ya :(

      Delete
  15. Manajemen waktu adalah koentji utk semua emak² d muka bumi.

    Tapi, emang sedapat mungkin kurang²i multi tasking nya ya

    Agak suliitt, tapi konon otak kita tuh bingung kalo kita multitasking muluuuu😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget Mba, kerasa banget dampaknya, saya jadi pikun hahahaha

      Delete
  16. Ternyata dibalik label 'orang multitasking keren' ada banyak dampak buruknya, ya, Mbak. Kalau bisa dibilang jadi kaya 'kurang menikmati hidup' gitu nggak, sih? Otak kerja terus dan kurang istirahat.

    Padahal istirahat penting banget supaya kita tetap 'waras', ya, Mbak. Tapi gimana lagi dong sebagai emak-emak yang ngurus anak dan ngeblog tanpa ada ART agak sulit sih kalau nggak melakukan beberapa kerjaan sekaligus. Malah ntar nggak kelar-kelar kerjaan. Wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betoolll Mba, even kita patuh ama waktu ya, jadinya merasa kayak robot, semuanya diatur, hahaha.
      Tapi that's life, mau ga mau kita kudu pinter-pinter mencari celah agar tetep waras :D

      Delete
  17. Ternyata bener ya multitasking itu ga selalu bagus, ada juga dampak buruknya. Terutama mamak mamak yg nggak pakai ART kaya aku begini. Makasih tipsnya lho mba

    ReplyDelete
  18. karena saking ritmenya sama seperti hari, tapi gak menjamin kita jadi expert dan belajar biar multitasking nya bener ya mba hihi.. jadi penting banget nyusun prioritas dan buat notes apa aja yang mau dikerjain. Mbak keren bisa ngatasin semuanya dengan semangat dalam sehari bisa ceria lagi. Karena ibu itu butuh semangat terus yang dipupuk ya mba dan menjalani dengan bahagia ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mba, sulit bagi seseorang yang multitasking menjadi expert, karena ga bisa fokus pada satu hal

      Delete
  19. Aku rasa multitask ini bakat yaa..
    Dasarnya kak Rey memang tercipta lihai melakukan banyak hal sehingga bisa melakukan multitask dalam beraktivitas.
    Dan otak perempuan yang lebih cepat tanggap, terutama kalau ada kaitannya dengan urusan keluarga, anak, suami.

    Barakallahu fiik, kak Rey..
    Istirahat sejenak dengan bermain yang mengasah kemampuan otak ini bisa seru banget.

    ReplyDelete
  20. Pertama saya ucapkan terimakasih pada para ibu yang selalu bekerja keras mendidik anak-anak mereka dehingga menjadi pribadi unggul untuk membangun negeri ini . n_n
    Kedua salut banget rela untuk bermultitasking.
    tapi Kak Rey, walaupun kita buat to do list klo isnya harus dilakukan dalam waktu bersamaan jadinya sama juga ya heheheh. Tapi setuju juga sih klo itu buat meminimalisir resiko untuk mengerjakan sesuatu dengan cara bersamaan.
    BTW mengurangi gula kayaknya sulit sesulit menghilangkan malas untuk berolah raga.

    ReplyDelete
  21. Huhu iya banget, multitasking ini sekilas kayak yang hebat, padahal malah jadi gak sempurna semua kerjaannya. Aku tuh begitu. Dan iya juga, konsentrasi sering terpecah. Btw, aku suka deh main solitaire. Tapi belom pernah main di solitaire.org. Cobain ah nanti.

    ReplyDelete
  22. wah asik juga ya main game untuk melatih otak, hihi.. bisa main sama anak juga nih kya nya xD aku mau cobain word search dulu ahh :)) eh iya, aku kalo multitasking malah keteteran, lebih suka fokus satu dulu sampe beres baru deh kerjain yang lain. mungkin fokusnya aku rada kurang, haha :D

    ReplyDelete
  23. Sebagai orang yang multi tasking salah satu yang bisa sangat bantu biar semuanya selesai dengan baik adalah time management dan penguasaan. Biasanya memang rentan melakukan kesalahan. Nah, hiburan aku yang multitasking gini main games sederhana. Solitaire boleh juga nih Mba.

    ReplyDelete
  24. Suka salut sama Mommy yang harus urus anak, urus rumah, tapi juga tetap bisa ngeblog rutin. Kemarin pulang kampung dan kebagian jatah seminggu saja jaga ponakan-ponakan, wah rasanya luar biasa. Time management penting banget ya ini, juga mengelola dan atur me time biar gak burnout karena multitasking tanpa henti.

    ReplyDelete
  25. Aku kayaknya kalo disuruh multitasking nyerah deh, kadang jagain anak saja udah kewalahan apalagi sambil mengerjakan pekerjaan lain.

    Biarpun begitu ternyata cukup banyak dampak buruknya bagi orang yang multitasking ya, kurang fokus, daya ingat bisa menurun, hubungan bisa rusak dan lainnya.

    Tapi tetap salut buat mbak Rey yang bisa multitasking, bisa ngeblog sambil merawat anak, sambil belajar dan nyari duit, belum lagi kalo ada kejahatan, mbak Rey harus ganti kostum dulu jadi wonder woman.🤣

    ReplyDelete
  26. Yang paling saya rasakan pribadi sih nomer 6 Mba Rey. Saya makin lemot, makin gak nyambung, dan suka tulalit. Hehehe. Katanya ini efek lahiran sesar juga, karena katanya ada lebih dari 150 sambungan urat yang terputus saat sesar, dan itu ngaruh ke daya ingat ibu. Huhuhu.

    ReplyDelete
  27. Dari jaman sekolah aku termasuk orang yg multitasking mba, paling ga bisa ngerjain sesuatu lambat, semuanya harus cpt jadi kerjaian secara bersamaan.

    Nah, pas udah lulus kuliah, fungsi otak malah menurun kali ya, aku udah ga seexpret dulu kalau multitasking, gampang lupa, ga bisa fokus dll, udah payah bgt pokoknya sejak saat itu, hadeh.

    ReplyDelete
  28. ibu-ibu memang hebat multitasking..kalau ga multitask tahun bila bisa selesai kerja rumah?
    salken dari Malaysia

    ReplyDelete
  29. aku kadang multitasking, kadang engga
    memang konsentrasi terbagi menjadi dua hal, jadi bener-bener diperlukan fokus yang besar juga
    biasanya buat urusan kantor, ngerjain dua hal, karena mungkin hal yang satu terkendala sama koneksi internet yang lemott, jadinya aku tinggl ngerjakan yang lain

    ReplyDelete
  30. cerita ibu-ibu sekali ya, drama multitasking haha. Seru sih diliatnya, pak suami kadang sampe ngingetin "Udahan yok, dari pagi loh kamu gak berenti."

    Kebayang ya kalau LDM gimana itu, anyway semangat yok buat kita buibu ;)

    ReplyDelete
  31. stay safe and stay happy ya Bun :D

    ReplyDelete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Back to Top