Pengalaman Dan Ongkos Naik GrabCar Dari Sidoarjo Ke Lamongan

ongkos grab dari sidoarjo ke lamongan

Sharing By Rey - Jadi, minggu lalu adalah minggu yang hectic dan menegangkan buat saya, karena kabar yang sangat mengejutkan, yaitu suami saya kecelakaan naik motor di Lamongan.

Panik banget, antara takut pak suami kenapa-kenapa, plus bingung pengen segera ke tempat suami dirawat, tapi bingung, ke sananya naik apa ya?



Baca : Ketika Suami Kecelakaan

Sungguh menyesal, mengapa selama ini saya begitu manja, semua-semua bergantung pada pak suami, jangankan tahu caranya ke luar kota, bahkan ke pasarpun selalu dilakukan pak suami.

Meskipun sebenarnya salah pak suami juga sih, dia kesal kalau saya ke pasar selalu diboongin tukang penjual, apa-apa yang saya beli mahal, karena mungkin saya gak bisa berbahasa Jawa dan gak bisa nawar hehehe.

Setelah cukup kebingungan, saya dapat ide dari teman-teman blogger Surabaya, untuk coba memesan grab, beberapa teman blogger dari Lamongan mengatakan mereka pernah naik grab dari Surabaya ke Lamongan dan menghabiskan biaya 200ribu.

Dan setelah juga mendapat kabar kalau semua keluarga suami gak ada yang bisa melihat pak suami yang sudah dilarikan di UGD RS Muhammadiyah Lamongan, akhirnya saya pasrah mengerjakan semua sendirian, berangkat ke Lamongan naik taksi online bersama si bayi dan si kakak.

Segera saya membuka aplikasi Grab, deg-degan memesan dengan tujuan RS Muhammadiyah Lamongan dari daerah Taman, Sidoarjo.
Dan ternyata bisa, dengan rate sebesar 260ribu.

Dan Alhamdulillah, kurang dari 2 menit, si driver Grabcar langsung merespon orderan saya, dengan menanyakan alamat lengkap saya.

Gak ingin kecele, saya pastikan lagi kalau saya mau ke Lamongan dan apakah si driver bersedia mengantarkan, serta bolehkan saya mampir sejenak di sekolah anak saya buat jemput si kakak?
Dan ternyata si driver bersedia, Alhamdulillah.

Segera saya menyiapkan segala sesuatunya, secepat kilat, dan 10 menit kemudian si taksi online tiba di depan rumah.

Pak driver langsung turun dan masuk ke dalam pagar, saya sedikit shock, tumben banget gitu turun dan masuk pagar, eh ternyata si pak driver mau berdiskusi, meminta tambahan bayaran, karena katanya biaya tersebut rendah, biasanya 350ribu.
Jadi pak driver minta digenapin 300ribu saja.

Uwow, baiklah.
Karena memang butuh dan terburu-buru, saya mengiyakan saja, meskipun dalam hati agak bertanya-tanya, karena menurut teman-teman malah hanya 200ribu saja.

Di perjalanan menuju sekolah si kakak, pak driver menanyakan kartu e-toll karena bakal lewat tol. Saya ingat punya BCA Flazz, tapi belum ada isinya, dan akhirnya meminta sang driver mampir sejenak di ATM buat isi kartu tersebut dan juga ambil duit cash karena saldo Ovo saya tidak mencukupi untuk bayar Grabcar tersebut.

Setelah selesai dari ATM, kami berjalan lagi menuju sekolah si kakak, tapi anehnya si driver malah tidak berbelok ke arah sekolah si kakak, saya mengingatkan dan ternyata si pak driver mau mampir ke pom bensin dulu dan lagi-lagi saya ternganga ketika mendengar perkataannya.
"iya mbak, saya mau isi bensin dulu, nanti mbak yang bayar ya" katanya.
 "hah, heh, oh iya, oke deh pak" saya sampai tergagap menjawabnya.
"berapa, pak?" tanya saya lagi.
"100 ribu saja, mbak" kata si pak driver.
Waooo, okeh, baiklah!
Saya masih sibuk dengan pemikiran sendiri, antara bingung memikirkan kondisi si papi, dan juga mengingat-ngingat, bukankah BBM taksi online itu udah include di biayanya? Terlebih biayanya juga sudah dinaikan.
"soalnya BBM saya ini jatah dalam kota, mbak. Jadi kalau luar kota ditanggung penumpang" kata pak driver lagi.
Okeh.
Saya memilih diam saja, takut semakin kesal pada diri sendiri yang tidak berdaya antara butuh banget sampai di Lamongan agar bisa melihat keadaan si papi, dan juga akal sehat yang merasa menjerit karena dimanfaatkan secara berlebihan.
Baca : Ketika Rey Dibully Para Driver Taksi Online
Dan akhirnya, setelah isi bensin lalu mampir di sekolah kakak, menjemput kakak, kamipun bertolak ke Lamongan lewat tol Waru.

Perjalanan memakan waktu agak panjang, karena kami terjebak macet di Tol Waru - Dupak, selepasnya Alhamdulillah lancar, sampai akhirnya tersendat lagi sampai nyaris 30 menit di daerah terminal Lamongan dekat rel kereta api yang menyerong di tengah jalan.

Dan Alhamdulillah, setelah deg-degan selama kurang lebih 2 jam, akhirnya sampai juga saya di RS Muhammadiyah Lamongan.

Karena masuk parkir, saya juga memberikan uang parkir buat pak Driver.
Dan total yang saya bayar adalah 400ribu di luar parkir dan tol.

Learned lesson dari kejadian tersebut adalah :

  1. Jangan manja, Rey! sesekali bepergianlah sendiri tanpa pak suami, ajak anak-anak biar mereka terbiasa bepergian hanya dengan maminya sehingga sadar gak boleh manja, malah harus bantuin maminya.
  2. Sesekali berpikirlah bepergian ke tempat kerja suami, pikirkan semacam memberi kejutan pak suami, jadi kita kudu mikir sendiri, ke sananya naik apa? gimana dengan anak-anak kalau di ajak?
  3. Sesekali, cek biaya normal dan ketentuan untuk bepergian ke luar kota dengan menggunakan taksi online maupun dengan rental mobil beserta supirnya. Dengan begitu, gak bakal ada drama dimanfaatin, kalaupun dimanfaatin gak bakal terlalu dikeruk.
Over all, saya sudah mengikhlaskan (kalau seandainya memang ketentuannya tidak seperti itu, khususnya BBM ditanggung penumpang, sedang rate udah dinaikan).

Pengalaman ini saya tulis, murni untuk berbagi pengalaman, agar teman-teman yang baca bisa mengambil pelajarannya.

Tiada maksud sama sekali menjelekan pihak Grab, karena biasanya hal tersebut adalah oknum.

Semoga bermanfaat :)

Sidoarjo, 07 Februari 2019

@reyneraea

29 komentar :

  1. Tega ya mb drivernya...memanfaatkan kondisi penumpang yg sedang genting.
    Dkasih bintang 1 ja mb rey...
    Ikut emosiiii bacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sifat dasar banyak orang ya, aji mumpung, semoga saya ikhlas, aamiin :)

      Hapus
  2. Duh oknumnya, memanfaatkan banget ini mbak. Tp dlm kondisi mbak Rey yg panik, wajar banget ya mbak jadi ga ambil pusing lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, semoga berkah deh, diikhlasin saja, semoga si pak driver lebih punya empati lagi :)

      Hapus
  3. Ya ampun qo kesel ya bacanya...tega banget tuh drivernya. Semoga dilapangkan rejeki mba rey 😊

    BalasHapus
  4. Mbak, coba dicek ke Terms & Condition transportasi online tersebut. Kalau memang bensin sudah include dan ternyata dimintai lagi oleh drivernya bisa saja kita laporkan... yang penting save nomor transaksinya (biasanya ada di history)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah baca deh, BBM itu udah include, yang tidak termasuk tuh macam parkir, tol dan pungutan lainnya, dan si driver juga sadar kok, dia semacam cari alasan buat ngisi bensin.
      Tapi insha Allah udah diikhlasin, postingan ini sebenarnya cuman buat pelajaran aja agar kita lebih tau apa yang harus dilakukan saat panik :)

      Hapus
  5. Wahhh tidak ada batasan jarak ya untuk pengantaran seperti itu, kirain jaraknya hanya beberapa km saja gitu wuehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan jauh sih, tapi semua udah tertera di aplikasi, bahkan kena harga tinggipun ybs masih minta tambahan plus BBM pula hehehe

      Hapus
  6. Ikhlaskan, Mbak. semoga Mbak rey dapat ganti yang lebih baik. dan kalau sopirnya memang oknum serta melanggar ketentuan, rezekinya nanti bisa beralih lagi kepada Mbak dalam bentuk lain. Karena tak baik memanfaatkan situasi orang lain, apalagi yang kena musibah, untuk kepentingannya sendiri. Uang segitu sangat besar bagi saya.
    Saya pernah ikut sepupu piknik ke Drajat. sudah sepakat soal ongkos pulang-pergi berapa, dan sopirnya ikut masuk lokasi wisata, diajak makan, dikasih lainnya, malah minta tambahan kala mau pulang dengan alasan capai menunggui. Gimana, ya, ada saja yang merasa sangat kekurangan lantas menaikkan standar kesepakatan.
    Dalam hal ini jika memang tak mengenakkan, bisa lapor atau ikhlaskan. Meski sakit rasanya dizalimi itu. Kisah Mbak bisa jadi pelajaran bagi yang lainnya juga. Pun pihak Grab apakah akan bertindak profesional.
    Mobilnya apa milik grab atau sopir, lalu sistem pembayaran apakah bagi hasil atau komisi? Jika harga demikian sudah termasuk bensin juga, mestinya bisa ditindaklanjuti bahwa itu merupakan pelanggaran.
    Saya doakan semoga suami Mbak lekas pulih, sehat lagi dan tak kurang suatu apa pun. Juga rezeki kalian bertambah.
    Saatnya Mbak rey juga coba berani mandiri. saya juga manja pada suami, bergantung soal uang dan selalu ingin dipijit pada saat tertentu, namun sudah dari lajang saya berani keluyuran sendirian. Sejak kelas 3 SMU. Jadi tak masalah dengan itu.
    Insya allah, aman, kok, Mbak. Kendala bahasa memang nakutin. Namun coba bersikap tegas kala belanja dan lakukan tawar menawar. Atau belajar sedikit bahasa jawa untuk tanya harga atau tawar.
    Seperti saya yang biasa berpikir dalam bahasa Indonesia, kalau ke pasar akan berbahasa sunda agar tak diakalin pedagang dalam segi harga. Namun ada banyak kok pedagang yang ramah dan tak seenaknya soal harga. Coba kalau ke pasar ajak kenalan dulu pada pedagangnya atau tanya apakah harganya bisa dikurangi, apa sudah benar?
    Yah, kalau tetap susah tawar-menawar, cobalah belanja pada pedagang yang terlihat ramah lalu lakukan belanja rutin di sana. Biasanya pedagang gitu akan tetapin harga wajar pada pelanggannya.
    Pokoknya, beranilah, Mbak. Anak-anak juga pasti akan senang jika diajak belanja ke pasar. Bisa jajan pasar atau lihat suasananya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh makasih semangatnya mba, iya nih.
      Saya terlalu bergantung segalanya, sedikit demi sedikit kudu berani keluar sendiri nih :)

      Hapus
  7. Wahh 400ribu,,,mahal banget tuh,,,itu cuma perjalanan berangkat saja? Pake bis atau kereta bisa pulang pergi hhhe

    BalasHapus
  8. Pertama – tama saya ucapkan semoga Mbak Rey sabar dan tabah serta ikhlas untuk menerima ujian ini, karena semua yang terjadi sudah atas seizin Allah SWT.

    Bukan Karena Allah SWT benci dan ingin menghakimi Mbak Rey, namun mungkin dengan cara inilah Mbak Rey bisa belajar Mandiri dan belajar mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.

    Rata- rata setiap hari saya berkunjung ke blog Mbak, namun lagi – lagi artikel tentang baju Busui lah yang Nampak.

    Aneh pikir saya, biasanya Mbak Rey rajin nulis, tapi kok tiba tiba , stop menulis, ada apakah gerangan, sedang sakitkah ? atau sedang happy – happy dengan keluarganya.

    Begitupun juga dengan blog Mbak Rohyati Sofjan, ikut -ikutan ngak update artikel, tapi Mbak Rohyati sudah bilang ia ada problem dengan komputernya, jadi saya ngak rada – rada was –was.

    Baru kemarin hari kamis, saya buka blog Mbak, ternyata Mbak sedang mengalami musibah, yaitu suaminya kecelakaan.

    Andaikan saya tahu fb Mbak atau status Mbak di fb mungkin pada waktu kejadian saya bisa bantu, minimal bantu doa, hihihihi…… Maklum saya di Sumatera Selatan, jadi ngak bisa bantu mengasuh si bayi.

    Atau paling tidak bantu isi pulsa, biar Mbak bisa komunikasi dengan keluarganya.

    Tapi yang saya heran, kok keluarga yang lainnya ngak nongol, padahal masalah yang dihadapi tidak ringan loh, mana anak – anak Mbak belum makan, dan tentunya maminya juga belum makan, Oh.. My God.

    Untunglah ada sahabat yang baik hati yang membantu Mbak disana.
    Memang sich…. Rata rata sahabat di dunia Maya, belum ketemu, namun ada ikatan bhatin yang mempereratnya. Bukankah begitu Mbak.. ?

    Ohy…saya kurang sependapat kalau suaminya tidak mengajarkan hidup mandiri kepada Mbak.
    Sebab selama ini, Mbak secara tidak langsung sudah didik mandiri oleh suami Mbak.
    Tinggal Mbaknya lagi harus lebih banyak belajar dan mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi.

    Percayalah semuanya ada hikmahnya, salah satunya bisa menjadi bahan tulisan di blog ini.

    Mohon Maaf Mbak Rey…. celotehan saya puanjanngggg,,,,dan menyebalkan.

    Semoga suaminya segera pulih dan sehat kembali, ohy jangan lupa di urut siapa tahu ada urat yang terkilir, tapi ini sekedar saran sich tidak wajib dituruti.

    Ohy…semoga bayi, si kakak, dan tak ketinggalan si Maminya selalu sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahh makasih banyak kang.
      Iyaaa... beneran panik hectic bin segalanya deh.

      wkwkwkw, udah komunikasi ama keluarganya kok, tapi sibuk semua.
      Terpaksa deh datang bertiga aja ama bayi dan si sulung hehehe

      Iya sih, saya masih kurang mandiri nih, sampai ada kejadian kayak gini bingung banget jadinya.
      Namun Alhamdulillah, Allah selalu bersama saya, selalu mengirimkan kemudahan-kemudahan di berbagai perjalanan saya.
      Emang cobaan selalu sepaket dengan kemudahan ya kang.

      Alhamdulillah pak suami udah baikan, gak sempat diurut sih, cuman tempel koyo hahaha

      Hapus
  9. aku baru denger loh mbak rey ada abang grab yang minta dibayarin juga bensinnya. kesel banget deh saya dengernya, kok bisa-bisanya ya berbuat seperti itu. sabar ya mbak rey.. buat pelajaran dan semoga digantikan dengan yang lebih baik.

    sehat selalu mbak rey sekeluarga..

    BalasHapus
  10. Semua pasti ada hikmahnya, Kak Rey. Seperti kata Kakak Rohyati, ikhlaskan saja, mungkin si driver lebih butuh uangnya, dari posisi kita kata orang Ende: buang soal saja. Yang penting Kak Rey dan anak-anak sudah tiba di RS dengan selamat dan bisa menemani PakSu yang tertimpa musibah (kecelakaan).

    Kakak Rey sudah sangat mandiri kok, menurut saya, dari pos-pos yang saya baca. Ditinggal Pak Su kerja di tempat jauh, mengurus anak-anak sendiri tanpa asisten, apanya yang kurang mandiri hahaha kalau saya, sudah nyerah kali ya.

    Salutnya adalah, Kakak Rey masih bisa berbagi kisah dengan kami, berbagi pengalaman dan inspirasi. Itu top markotp! Aku padamu Kakak Reyyyyyy 🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kak Tuteh, Alhamdulillah.
      Ini sebagai sharing aja, mudah-mudahan bermanfaat bagi lainnya :)

      Hapus
  11. Kalo baca dari tulisannya kota Sidoarjo sama Lamongan itu deket yah mba? Sebenarnya dulu saya pernah tinggal di Sidoarjo mba. Dulu saya sekolah di SDN Sidokumpul. Cuma 2 tahun aja sih. Selebihnya pindah di kota lain. Sidoarjo cuma sebentar.

    Oh ya, btw aku mau ngucapin yang sabar yah mba. Semuanya pasti ada hikmahnya. :)

    BalasHapus
  12. aku tipe kayak kamu mba. apa2 selalu tergantung suami. kalk pergi2 ga prnh mau sendiri, pasti hrs ditemenin -_-. tp baca ini jd kepikiran juga, memang ga bisa kita selalu tergantung yaa.. sesekali hrs coba mandiri.

    kalo ttg biaya grab nya, ya sudaaahlah yaa.. kitanya lg panik, biasa ga terlalu bisa mikir yg lain2 lagi. udh jelas kepikiran suami dan bagaiman bisa sampe sana secepat mungkin. moga2 aja pak driver yg ambil kesempatan ga mengalami hal yg sama..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, sama mba, mau ke mana-mana sendiri tuh rasanya keki aja hahah
      Kayak ada yang kurang, minimal harus ada temennya deh :D

      Hapus
  13. kak... saya jadi zengkoool baca si tukang grabnya yang menafaatkan keadaan. Kalau saya palingan iya-iyain saja terus habis itu ratingnya kasih bintang 1 sambil kasih uneg2. hahahaha

    Semoga sehat terus sekeluarga ya kak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw iyaaa, tapi biarin deh, semoga gak keulang lagi si driver kayak gitu :D

      Hapus
    2. iya kak, positif thinking mungkin dia juga lagi butuh duit.

      Hapus
  14. Hari ini gak sengaja Nemu postingan ini, waktu ketemu kok gak cerita ya mbk...

    Taunya kami cuma naik grab, kirain udah aman. Ternyata masih dipelorotin juga sama drivernya. Padahal kalau naik Bis patas paling cuma habis 100ribu, uda turun di depan RSML

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)