Jumat, Februari 08, 2019

Pengalaman Dan Biaya Masuk IGD RS Muhammadiyah Lamongan Karena Kecelakaan


Assalamu'alaikum :)

Setiap pengalaman, bahkan yang receh sekalipun, kadang sangat bermanfaat bagi orang lain.
Thats mean, saya senang berbagi kisah dan pengalaman sendiri, selain saya suka menulis, bisa meninggalkan jejak semacam diari online yang manfaat (insha Allah), juga agar bermanfaat bagi orang lain yang butuh info sejenisnya.

Dan salah satu pengalaman yang bakal saya share adalah, biaya masuk IGD (Instalasi Gawat Darurat) RS Muhammadiyah Lamongan.
Siapa sih yang bercita-cita masuk IGD? terlebih masuk sebagai pasien kecelakaan.
Meskipun saya gak pernah (dan semoga jangan pernah ya Allah), tapi pengalaman minggu lalu saat suami kecelakaan di Lamongan sehingga dirujuk ke IGD Muhammadiyah Lamongan.


Baca : Ketika Suami Kecelakaan
Yang ada di pikiran saya tuh pertama, bagaimana keadaan pak suami? panik, khawatir, namun tak henti berdoa.
Lalu di ujungnya kemudian saya berpikir, BERAPA BIAYANYA? hehehe

Sebenarnya kami pengguna BPJS, tapi karena si papi kecelakaannya jauh dari saya, yang rujuk ke RS adalah teman-teman kantornya, dan oleh mereka didaftarin langsung sebagai pasien umum, bahkan tindakanpun diminta secepatnya, tidak perlu menunggu keluarga, arena awalnya si papi terlihat sangat mengkhawatirkan, pandangannya kosong, ditanya gak nyambung, semacam gak ingat apa-apa.
Kulit di bagian pipi atasnya luka hingga ke bagian bawah mata, kepalanya benjol, badan bagian kanannya terasa sakit banget.

Kontan saja rekan sekantornya yang lebih dulu sampai di puskesmas tempat si papi diantarin orang saat kecelakaan, langsung panik dan segera meminta dirujuk ke RS yang lebih besar, dan dipilihnya RS Muhammadiyah Lamongan, yang menurut teman-teman dari Lamongan, merupakan salah satu RS yang paling bagus pelayanannya.

Dan sesampainya saya di RS tersebut dengan menumpang Grab Car dari Sidoarjo, saya langsung berjibaku mengambil alih tanggung jawab sebagai satu-satunya keluarga dari pasien yang notabene si papi.
Baca : Pengalaman Dan Ongkos Naik GrabCar Dari Sidoarjo Ke Lamongan


Di IGD RS Muhammadiyah Lamongan


Saya diturunkan persis di depan pintu IGD oleh driver grabnya, secepatnya saya turun dan Alhamdulillah, karena tempatnya kecil, dengan mudah saya menemukan rekan kerja si papi hanya dengan mengenali mereka dari seragamnya.

Rekan-rekan kerja papi hanya bisa berdiri atau duduk jongkok di depan pintu IGD menanti kedatangan saya agar bisa menangani si papi.

Mereka tidak diperbolehkan masuk ke dalam IGD karena tiap pasien hanya boleh ditemani 1 keluarga saja.
Dan karena depan IGD tidak ada loby atau semacamnya, jadilah mereka hanya bisa berdiri menanti saya.

Dengan meminta pengertian satpam, saya akhirnya bisa masuk sambil menggendong si bayi dan ditemani salah seorang rekan kerja papi.
Pak satpam hanya bisa pasrah dan mengingatkan kalau pihak RS tidak bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan si bayi, karena semua juga tahu, kalau IGD itu penuh dengan segala macam pasien dengan berbagai penyakit.

Karena bingung, dengan berbekalkan Bismillah, saya masuk juga membawa si bayi.
Ternyata di dalam IGD suasana sangat sibuk dan penuh dengan pasien, ruangannya pun tidak terlalu luas, namun cukup menampung sekitar 10-15 pasien.
Saya mengikuti langkah rekan si papi menuju ranjang si papi, dan ternyata beliau ditempatkan di sudut, dekat dinding.
Alhamdulillah, minimal saya tidak perlu diapit 2 pasien dengan penyakit macam-macam.

Bagian dalam IGD RS Muhammadiyah Lamongan, sumber website rsmlamongan

Air mata gak bisa dibendung melihat keadaan si papi, dia terbaring lemah, semacam sedih karena gak ada yang nemani huhuhu.
Dan dari sorot matanya, beliau bahagiaaa banget melihat kemunculan saya, sekaligus takjub melihat istrinya yang manja ini muncul seorang diri hanya berteman anak bayi dan si kakak saja.

Lalu bagaimana keadaan si papi?

Duh gak tega saya memajang foto keadaan tersebut di sini, bikin saya sedih (lagi) saja.
Yang jelas, luka di pipinya yang semula di puskesmas dibalut, di IGD balutannya dilepas, lalu diolesi sebuah salep yang entah apa namanya.

Ditangannya sudah melekat sebuah jarum infus, namun ternyata selang oksigen di hidungnya sudah dilepas.
Lega rasanya, meskipun juga miris, melihat wajahnya kotor, tangan dan kakinya juga.

Pengen gitu saya gantiin perawatnya buat nangani lukanya, bisa kali lukanya dibersihin dikit dari tanah, pasir dan lumpur, sebelum diolesin salep, huhuhu.

Entah mungkin perawatnya buru-buru, atau males, entahlah hehehe.

Saya lalu memeriksa badannya, Alhamdulillah gak ada luka serius, cuman lecet sedikit di beberapa bagian, dan memar biru banget di bagian pinggang.

Oh ya, istrinya yang mengubah dirinya jadi perawat ala-ala ini melakukan semua hal tersebut sambil menggendong bayi.
Gak usah ditanya, bagaimana rempongnya hahaha

Menurut rekan kerjanya, si papi masih menunggu giliran di rontgen, untuk memastikan kalau keadaan dalam tubuhnya, khususnya tulangnya.
Selain itu, si papi juga sedang di observasi, apakah ada keluhan lain, seperti muntah atau berkurangnya kesadaran.
Karena mengingat awalnya dia semacam hilang ingatan.

Btw, saat mendengar kabar bahwa si papi semacam hilang ingatan, saya jadi galau maksimal, langsung membayangkan film-film drama yang mana pasangannya hilang ingatan.
Duh ya, masa iya kudu dilupakan ama pak suami, muahahaha *kebanyakan ingat film drama.

Hanya sekitar 15 menit saya di dalam, seorang keluarga pasien di sebelah papi masuk memberitahukan bahwa si kakak yang menanti di luar, menolak makanan yang dibelikan oleh rekan si papi, segera saya keluar karena ingat kalau anak-anak bahkan saya juga belum makan sama sekali sementara waktu sudah menunjukan pukul 2 lebih.

Setelah di luar, rekan kerja papi pamit, saya sibuk sebentar menyuapi si bayi dengan makanan yang sempat saya bawa dari rumah, sementara si kakak menolak makan nasi, dan hanya memilih makan roti yang saya bawa.

Sekitar 15 menit kemudian, saya minta si kakak untuk menjaga barang-barang di luar, beruntung di di samping pintu IGD ada beberapa kursi yang sebagian digunakan buat tidur keluarga pasien, karena saya harus masuk melihat keadaan si papi.
Dan mulailah lagi saya meminta kebijakan satpam agar bisa masuk membawa bayi di dalam IGD, dengan terpaksa satpam membolehkan masuk, bahkan membantu saya untuk menempatkan si papi di ruangan dekat pintu bagian dalam, agar saya tidak perlu terus-terusan berada di ruangan penuh pasien tersebut.

Lalu masuklah saya, menuju ranjang si papi sebelumnya, namun betapa terkejutnya saya, si papi gak ada di ranjang tersebut, sedikit panik saya bertanya-tanya, si pak satpam menenangkan saya dan mengatakan bahwa pak suami mungkin sudah berada di ruang radiologi untuk di rontgen.


Drama Keliling Di ICU RS Muhammadiyah Lamongan


Ruang radiologi konon ada di samping ruang IGD, namun saat saya intip melalui jendela yang sedikit terbuka, tidak ada siapapun di dalam ruangan tersebut.
Ke mana gerangan si papi?

Seorang perawat lewat, dan sambil memelas saya meminta tolong agar mencarikan si papi, lucky me, si perawat lelaki tersebut baik banget, dia lalu menuju meja petugas IGD untuk menanyakan keberadaan si papi, dan dari para nakes di meja tersebut saya mendapat kabar kalau si papi dibawa ke ruang ICU.

Deg!

Hati mulai berdetak lagi.
ICU?
Bukannya ICU itu semacam ruang buat perawatan intesif?
Memangnya si papi makin parah dalam 15 menit saya tinggalin ke luar untuk mengurus anak-anak?

Dalam kebingungan, datanglah mba Ika, seorang teman blogger yang baik banget mau datang menemani saya menjaga anak-anak.
Segera saya titip si kakak, dan dengan menggendong si bayi, saya menuju ruang ICU yang letaknya di lantai 2.

Bergegas saya menuju ruangan yang ditunjukan para petugas yang ada, namun sesampai di ruangan ICU, semua sepi.
Setelah 10 menit mondar-mandir di depan pintu ICU, seseorang masuk ke ruangan tersebut dan saya ikutan ngekor juga.

Ternyata, di dalam ada beberapa nakes yang bertugas.
Segera saya menanyakan kamar si papi.
Giliran para petugasnya yang kebingungan, karena ruangan ICU sedang sepi, hanya ada 1 pasien baru masuk dan itupun anak kecil.
Salah satu petugas kemudian menelpon ke IGD dan ternyata sodaraaaaa.....

SI PAPI MASIH ADA DI RUANG IGD!!!
Dia hanya dipindahkan tempatnya aja.
Duuhhh yaaaa, kaki saya keram lari sana sini mencari si papi.
Pun hati nyaris patah lagi, takut si papi tambah parah.
Bergegas saya kembali ke IGD dan bahagia banget menemukan si papi ternyata masih ada di ranjangnya, dan dia sudah bisa bangun dan duduk di ranjang.
Alhamdulillaaaahhhhhh..

Demi amannya si bayi dari beragam penyakit, saya menitipkannya pada mba Ika, lalu saya mulai mondar-mandir menanyakan pada dokter yang bertugas bagaimana nasib si papi yang sejak pukul 12 hingga pukul 4 sore, belum juga ditindaki dengan rontgen.

Beruntung dokter yang jaga, seorang dokter wanita yang cantik nan ramah, dengan sabarnya dia melayani setiap kali saya bertanya kapan si papi ditindaki.

Sampai akhirnya, sekitar pukul 5 sore, barulah si papi dibawa ke ruang radiologi, dan ternyata ruangnya agak jauh dari IGD, saya jadi ikutan mendorong ranjangnya karena perawat yang mendorong gak kuat.

Sampai di depan ruang rontgen, kami harus menunggu lagi hingga sekitar 30 menit, sampai akhirnya si papi di rontgen lalu setelahnya dikembalikan lagi di IGD.
Dokter jaga langsung memeriksa hasil rontgen dan memanggil saya untuk menjelaskan kondisi si papi.

Alhamdulillah, dokter mengatakan bahwa si papi baik-baik saja, tidak ada indikasi tulang yang bermasalah, semua tulang dan organ vitalnya insha Allah baik-baik saja, mengenai kepalanya yang benjol, menurut dokter itu hanya benjol biasa, karena setelah di observasi selama berjam-jam, tidak ada komplikasi dan efek yang terjadi, seperti muntah atau penurunan kesadaran.
Jadi tidak perlu adanya city scan.

Dan karenanya, si papi boleh pulang dan menjalani rawat jalan saja.
Alhamdulillah.
Gak berhenti-hentinya saya bersyukur, legaaaa rasanya.
Alhamdulillah Allah masih melindungi pak suami.
Alhamdulillah ya Allah.

Berikutnya saya menunggu sebentar, lalu datanglah seseorang membawa sebuah resep dan meminta saya menebusnya di apotik  atau disebut depo obat yang ada.
Setelah bertanya di meja petugas jaga, ternyata apotiknya gak jauh dari meja tersebut.
Sampai di apotik tersebut, saya malah diberikan kertas lagi dan diminta langsung nebus dan bayar semuanya di ruang kasir dan apotik yang berada di gedung utama RS.
Saya sempat bertanya apa saja yang harus saya bayar, oleh mbak yang jaga apotik saya diminta langsung ke kasir untuk tahu hal-hal yang kudu saya bayar.


Biaya Masuk IGD RS Muhammadiyah Lamongan, Yang Mengejutkan


Segera saya mencari ruangan yang dimaksud, lega rasanya melihat ruangannya terlihat sepi, minimal saya gak perlu antri lagi.
Pintu ruangan saya buka daaannn...
Busyeeetttt... antriannya uwow, hahahaha

Lembar antrian, cuman ada 5 orang di depan saya, tapi lumayan lama nunggunya

Setelah bertanya di sebuah petugas kasir dan shock karena dijutekin, masha Allah, juteknya itu oarah banget, kayaknya si mbaknya lagi PMS atau lagi gak dikasih jatah kali hahahaha.

Sekitar 45 menit menanti nomor antrian saya, tibalah saatnya menghadap si kasir, dan saya bertemu lagi dengan mbak-mbak yang jutek tersebut, saya menyerahkan nomor antrian beserta slip yang saya peroleh dari loket resep sebelahnya, diambil oleh si mbaknya yang sepertinya bernama Sri Latifah.
Hanya dengan sorot mata juteknya saya tahu kalau saya diminta menunggu lagi, dan setelah kurang lebih 10 menit menunggu,
"Tn. Ade Kurniawan" si mbak kasir memanggil nama si papi.
Saya segera mendekat, dan bersiap membuka dompet untuk membayar,
"Satu juta tiga puluh empat ribu tiga ratus lima puluh rupiah" kata si kasir sambil bersiap menyerahkan nota pembayaran.
Saya ternganga.
Hah? sampai sejuta??
Beruntung saya segera menguasai keadaan kaget akan biayanya, hahaha
Ya maklum deh, seumur-umur Alhamdulillah selalu dilindungi Allah sehingga gak pernah berurusan dengan biaya IGD.
Shock berat mengetahui biayanya sampai segitu.
Padahal waktu di apotik sebelumnya saya intip biaya resepnya murmer, palingan ratusan ribu saja.

Biaya Obat

Saya tidak segera membayar, meminta izin untuk mengecek biayanya.
Dan shock, lampirannya gak banyak.
Hanya ada 1 lembar totalan dan lembar resep obat.
Dengan biaya :
  • Karcis dan jasa periksa : Rp. 60,000
  • Biaya obat : Rp. 151,300 (btw obatnya ada 3 macam, salep Bioplacenton yang mujarab banget buat luka lecet si papi , obat analgesik yang ada Diazepam nya dan sukses bikin papi istrahat dengan pulas, dan vitamin. Termasuk juga obat-obatan yang dipakai si papi saat dirawat di IGD seperti cairan infus, spuit, obat pereda nyeri dan sebagainya)
  • Jasa Medis : Rp. 61,000 (entahlah, apa beda jasa periksa dengan jasa medis, hehe)
  • Laborat : Rp. 391,600 (ini yang bikin saya bingung, paling gede plus ada pecahannya pula, tapi gak ada yang bisa jelasin biaya ini buat apa? saya tanya di apotik awal katanya tanya langsung ke kasir, saya tanya kasir, katanya itu udah otomatis, iya... otomatis dari biaya apa?, si papi gak periksa darah, cuman rontgen, itupun ada item tersendirinya).
  • Radiologi : Rp. 242,000  (kalau ini mah jelas, si papi di rontgen).
  • Tindakan : Rp. 128,438 (mungkin biaya pasang dan lepas infus, pasang alat pantau denyut nadi yang terhubung ke monitor kagak tau apa namanya haha dan oles salep)
Total keseluruhan adalah Rp, 1,034,338

Demi menjaga mood agar gak down dan mengakibatkan berantem ama mbak kasir yang sudah pengen nelan saya karena masih sibuk ngecek lampiran biaya, sedang yang lain langsung bayar hahaha, saya akhirnya mengalah, biarin deh, nyooohhhh nyooohhhh ...ambil tuh ATM dan keruk isinya, muahahaha.

Total Biaya

Bayanginnnn!!!!
Untung aja ATM saya ada isinya.
Coba kalau yang gak punya duit segitu, bisa-bisa si pasien gak bisa keluar dari RS.

Btw, sejak antri di kasir saya memang mendengar rata-rata keluarga pasien membayar biaya paling rendah 1 juta, bahkan ada yang di atas 1 juta.

Kalau kayak gini, kebayang deh betapa pentingnya BPJS, meskipun kata orang pelayanannya beda.
Tapi saya rasa, kami juga pasien umum dilayani lumayan lama dan terkesan asal-asalan.

Secara garis besar, ada banyak hal yang bisa saya share dari pengalaman tersebut :
  • Kalau masuk IGD sebagai pasien umum untuk kasus kecelakaan ringan, sediakan biaya minimal 1 juta rupiah.
  • Jangan segan menanyakan lampiran biaya, kita punya hak untuk tahu, biaya total tersebut untuk apa saja.
  • Tindakan petugas kesehatan di IGD RS Muhammadiyah Lamongan saya beri nilai 3/5. Nakesnya ramah sih di saya, terutama dokternya, dr. Atika Amalia F, masha Allah betapa ramah dan sabarnya si mbak dokter cantik tersebut, tapi tindakannya gak oke banget. Ngolesin salep pada luka tanpa dibersihkan sama sekali, cabut infus kasar banget, itu yang terlihat di saya, sebelum saya datang entah gimana tindakan mereka, dan untung juga yang di infus si papi yang lebih tahan sakit, coba kalau saya yang diinfus, dijamin saya udah jerit-jerit gak karuan hahaha.
  • Meskipun pasien umum, nyatanya kami harus menunggu selama 5 jam sampai akhirnya dibawa ke ruang radiologi untuk rontgen, selama menunggu itu, sama sekali gak ada kejelasan dari pihak nakes, sehingga saya bolak balik nanya ke meja petugas, untungnya sih gak ada yang sewot dengan saya yang udah kayak setrika bolak balik mulu hahaha.
  • Sebisa mungkin jangan tinggalkan pasien di IGD sendirian, kasian aja dia makin dicuekin deh dan lama ditindakin lagi, plus juga ada kemungkinan bakalan 'hilang' kayak saya yang akhirnya keliling ICU nyari pak suami hahaha.
  • Jangan bawa bayi masuk IGD, serem aja pasien yang masuk bermacam-macam penyakitnya, bahkan nakesnya saja pakai masker selalu, kasian aja kalau bayi kenapa-kenapa karena imunnya masih kurang.
  • Jaga mood, capek menunggu jangan sampai bikin kita emosian, percaya deh, tetap sabar dan senyum menanti tindakan dari nakes itu jauh lebih baik ketimbang kita emosian.
  • Jika punya BPJS, sedia selalu kartunya di dompet, agar nantinya bisa digunakan dan gak shock kayak saya pas bayar tagihannya hahaha.
  • Di IGD RS Muhammadiyah Lamongan, pasien langsung ditindaki tanpa diharuskan membayar biaya terlebih dahulu, setidaknya itu yang terjadi pada kami kemaren.
Apapun itu, bersyukur banget sudah berhasil melewatinya tanpa drama emosi, salut pada diri saya sendiri, mengingat saya tuh aslinya gak sabaran dan emosian hahaha.
Tapi selama di IGD kemaren, saya bisa tampil dengan bijak, sedikit sabar dan tetap senyum meski dijutekin mbak kasir hahaha.

Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT sehingga gak perlu berurusan dengan IGD, semoga Allah selalu memberikan kita kesehatan lahir dan batin, aamiin.

Semoga bermanfaat :)

Sidoarjo, 08 Februari 2019

Wassalam

Reyne Raea

FB : Reyne Raea
IG : @reyneraea
Twitter : @reyneraea

******

81 komentar:

  1. mba rey semoga suami cepet sembuh ya mba, setau saya kalo RSnya nerima pasien BPJS
    biasanya memang antrinya banyak banget soalnya antrian BPJS dan umum dijadikan 1, kecuali kalo RS ada layanan khusus VIP biasanya cepet dan harganya juga 2x lipat sih hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih mba.
      Iya juga sih, soalnya kayaknya RS tsb menerima layanan BPJS :)

      Hapus
  2. Selalu ada drama di RS yaaa mbak~
    Bener-bener menguras emosi hihi harus sabar pokoknya hih
    Semangat mbaaakk~

    BalasHapus
  3. Cepat sembuh ya mba suaminya. Kemarin juga barusan kakekku masuk IGD mba. Tapi aturannya ngga ketat gitu sih. Di IGD masih bisa sampe 3 orang masuk. Ngga tau juga aturan pastinya kayak gimana hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mba, iya mungkin karena IGD di sini kecil dan emang bayi ga boleh masuk IGD sih, banyak penyakit soalnya hehehe

      Hapus
  4. Smg cpt sembuh ya suami mb rey...

    Trus pulangnya ksdarjo naik pa mb rey?
    Smg sj kita sehat slalu tak sampai masuk IGD ih amit2

    Kpn hr sy jg dr IGD RSM jg tp dkota sy
    Hadeh yg jaga dokter2 muda gt n ky asal2an bnget
    Sy pny bpjs tp dsuruh pke umum
    Dsana cm dtnya2 doank cz sy yg skit tangan krn hbs jatuh
    Pas ambil resep n byr mb syok jg
    Hbisy 90rb
    30rb biaya rawat
    50rb beli kartu
    Obatnya cm dpt paracetamol 3500an
    Ngunu antri luama
    Jd sebel ma dr faskes sy yg buru2 ja ngrujuk kRS
    Pdhl gpp
    Bodohnya sy kok manut ja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih mbaaa..

      Pulangnya malam dianter temen-temen kantornya mba, kebetulan juga proyeknya sekitar sejam dari RS.

      aamiinn, bener mbaaa..
      Semoga dijauhkan dari IGD dan RS kecuali jenguk dan melahirkan hehehe.

      Bener mba, saya kan emang Alhamdulillah jarang banget ke RS, jadi pas bayar, masha Allaaahhh shock wkwkwkwk

      Duh kenapa udah dapat rujukan kok malah disuruh pakai umum ya?

      Hapus
  5. kadang sebenernya bukan masalah uangnya ya mba rey, tapi lebih ke pelayanannya. ngerti sih RS sibuk tapi kan sebagai pasien pengen juga yang penjelasan tindakan jelas, tindakan juga dilakukan dengan hati-hati dan keliatan pake 'rasa' gitu.

    tapi sejuta hitungannya murah sih untuk IGD RS swasta :( disini bisa lebih mahal lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa mba, harusnya orang2 pada ngerti lingkup kerjanya dan pakai hatilah.
      Waaooo sejuta murah ? wwkwkwk
      Kalau menurut saya sih gak masalah harganya asal jelas, saya agak bingung lampiran di atas yang harga laborat buat apa? dan gak dapat jawabannya pas nanya di RS huhu

      Hapus
  6. So sad to know that dear, speed recovery to you hubby.
    Harusnya RS Swasta pelayanannya lebih baik lho mbak, karna mreka kan harus mengutamakan servis & fasilitas juga. Kalau nyabut infus kasar, luka nggak dibersihin itu mah ngawur banget, pelayanannya jelek banget menurut aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, makasih say :)

      Iyaaa bener, gak tau kenapa kok ya mereka bekerja kayak lagi PMS hahaha

      Hapus
  7. Semoga pak suami cepat sembuh ya mbaaak. Dan semoga gak ada lagi kejadian yang bikin menguras emosi. Terima kasih sudah berbagi pengalaman.

    BalasHapus
  8. Mbak... saya heran tapi salut deh... suami masuk RS, tapi di tulisan masih nyebutin kata galau, berlinang air mata, tapi ada juga "hahaha" nya... ketawa, tapi ketawa yang menyamarkan kesedihan dan kekhawatiran...

    Semua Suami Mbak cepat sembuh ya,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, iyaaaa... aselihnya menghibur diri sendiri hahaha

      Hapus
  9. Mba, suaminya kecelakaan apa? semoga cepet sembuh yaa..
    Saking paniknya ya mba, nyari2 si papi sampai diruang ICU padahal cuma dipindah disebelahnya. gak kebayang paniknya kayak apa..

    lumayan juga ya mba biaya nya sampai 1 juta, untung ada duit di atm.
    sehat selalu mba rey sekeluarga ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin mba, makasih.

      Banget mba..
      Sampai saya ketawa sambil nangis pas ketemunya di sebelahnya waakaka

      Hapus
  10. Syukurlah pak suami boleh rawat di rumah ya mba, semoga segera pulih.
    Duh, kalo sudah ngomongin RS tuh kebayang deg-deg annya. Jadi inget dulu nungguin anak di IGD 3 kali, 2 kalinya kemudian harus opname. Inget juga lari2 cari ATM deket situ, karena selang infus anakku baru dicabut kalo biaya sudah dibayar hiks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, makasih.
      Bener banget mba, deg2an banget dan hectic bin panik wkwkw

      Hapus
  11. Waduh mba iya itu biaya laboratorium mahal banget. Sabar ya. Doaku juga agar keluarga sehat2 ya mba. Kebayang paniknya pas dengar kabar ini ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba, padahal gak ada sama sekali penjelasan, buat apa tuh laborat

      Hapus
  12. Tapi bersyukurnya pak suami hanya luka sedikit dan masih bisa ditangani dan pulang berkumpul bersama keluarga...

    BalasHapus
  13. Iya mbak, biaya RS memang sangat tinggi sekarang. Semoga kita sehat2 selalu ya mbak. Sedihnya dua kali sih, lihat keluarga sakit dan lihat tabungan kempis.

    BalasHapus
  14. Huhuhu turut berduka yaaa, say. Semoga papi segera sembuh dan bisa beraktivitas lagi. Dan semoga gak masuk-masuk IGD lagi, amiiin

    BalasHapus
  15. Saya bisa bayangkan gimana rempongnya kondisimu saat itu, say. Syukurlah papi lukanya gak serius yaa. Cepat sembuh yaa, papi ��

    BalasHapus
  16. Salut sama kakak yang masih bisa bercanda dan mengambil hikmah di balik badai yang sedang menerpa.

    Bahkan, kakak tergerak untuk menganggit artikel berfaedah ini.

    Semoga suami kakak lekas senbuh ya

    BalasHapus
  17. Beberapa tahun silam aku pernah masuk rumah sakit dan harus dirawat. Itu pengalaman pertama aku dirawat di rumah sakit seumur hidup dan bener ya dokter dan tim medis yang tenang bikin kita tenang juga. By the way, aku salut dirimu masih bisa becanda pas cerita di atas itu. Kalau aku udah kayak orang bengong aja kalau ada di posisimu, mbak. DUuuh kok aku jadi melow sih pas nulis komen ini huhuhu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga gak pernah masuk RS untuk di rawat ya mba, semoga sehat selalu aamiin.
      Hehehe bercerita untuk menghibur diri mba hehe

      Hapus
  18. Semoga suami cepat pulih ya mba. Perjuangan seorang istri dan sebagai ibu memang luar biasa. Kalau untuk RS aku biasanya nelpon teman yg sekiranya kerja disana lebih memudahkan. Memang kadang biaya RS itu ajaib apalagi pasien umum tapi biasanya penanganan lebih baik daripada pasien BPJS, jadi curhat saya mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, makanya banyak orang yang melakukan hal tsb, sayang saya ga punya teman di RS tersebut.
      Kalau ada mungkin bisa dimintain tolong biar segera ditindakin

      Hapus
  19. Iya mbak, kalau punya kartu BPJS mending dimanfaatin tapi ya itu dia antrinya lumayan lama apalagi klu kondisinya seperti mbak paparkan. Datang bareng 2 anak, mana yang satunya masih bayi. Untung saja ada teman blogger yang datang menemani.

    Ya, kita atau keluarga masuk RS memang nggak enak banget tp ternyata bisa jadi pengalaman berharga juga ya mbak yang sewaktuwaktu bisa dikenang. Apalagi kenangannya diabadikan di blog ini. Btw semoga suaminya segera pulih



    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya mba, ini berbagi sekaligus meninggalkan jejak :)

      Hapus
  20. Semoga suami segera sehat kembali. Salut utk mbak yg tegar dan sanggup 'pontang-panting' urus semuanya sendiri...

    BalasHapus
  21. Kakak Rey masih bisa bikin saya tertawa meskipun membaca sejak awal sudah kerasa capek, kesal sama si mbak kasir jutek, hahah. Jadi memang harus siap selalu Kartu BPJS biar tidak syok ya, Kak. Btw satu jutaan dengan semua pelayanan termasuk radiologi, laboratorium, obat, dan tindakan, lumayan Kak. Yang penting Pak Su mendapat perawatan/pengobatan dan bisa rawat jalan. Semangat selalu Kak Rey!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe iya mba, sebenarnya ga masalah sih asal lampirannya ga ngasal, yang biaya laborat tuh yang tanda tanya :)

      Hapus
  22. Innalillah. Semoga segera pulih. Kalau udah bicara soal pengalaman di layanan umum (kesehatan) memang bawaannya emosi terus, Mbak. Kalo udah begini tuh saya cuma bisa ngempet sambil berdoa semoga Allah beri saya kesempatan nyicip tinggal di LN sebentar atau lama dan merasakan layanan publik yang baik di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, apalagi kan IGD tuh namanya gawat darurat, kita para keluarga pasien juga deg2an menanti ditindaki huhuhu.
      Semoga layanan terbaik bisa juga diadakan di negeri kita ini ya

      Hapus
  23. Sedih bacanya, sih. Soalnya drama banget. Meski Mbak Rey pakai acara melucu, setidaknya untuk mengendorkan ketegangan.
    Saya selalu merasa suram banget dengan suasana RS dan berharap semoga saya dan keluarga tak harus berurusan dengan RS lagi. Adadrama yang menyertainya, dan memang berat.
    Dokternya harus nonton drakor kayak The Doctor dan yang sejenisnya agar wawasan lebih terbuka tentang bagaimana merawat pasien dengan baik dan sabar.
    Soal biaya, semoga saja Mbak dan suami beroleh ganti yang lebih baik lagi. Yang terpenting adalah semoga suami lekas sehat dan bisa kembali beraktivitas. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, tapi Alhamdulillah sudah terlewati :)

      RS jadi tempat yang gak asyik ya, apalagi di ICU ada keranda, makin terasa suramnya.

      Hapus
  24. Astagfirullah Kak, Papi nya kecelakaan? Sekarang sudah baikan toh? Saya jadi penasaran jg itu biaya Laborat nya, hohohoh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa.. Alhamdulillah sudah baikan say, banget nih, hanya asal kasih harga rasanya huhuhu

      Hapus
  25. Mengurus yang sakit memang kitanya juga dituntut tetap waras. Harus berusaha tenang ketikat dihadapkan dengan biaya yang bisa mengagetkan. Dan berbagai situasi kondisi lainnya. Semoga suami Mbak Rey lekas sembuh, ya

    BalasHapus
  26. aku pun pernah masuk ke IGD, teh.
    waktu itu cuman masuk bentar trus disuntik 1x gegara maag kambuh
    dan bayar berapa coba? 800rb
    *ngakak sih kalau diingat2 sekarang, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. oooooomayyyyyygooooooottt..
      800rebo buat sakit maag wakakakkaka

      Hapus
  27. Aamiin..Semogaa sehat semuanyaa yaa..

    Hmm, aku mbayangin ketika ngeliat struk pembayaran pastinya syok Mamak2 hahahha. Ku pernah juga kaya geto untung saldo ada isinya paaas, wkwkwkkwk..

    Ah, semoga ga ada urusan sama RS lagi yaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.
      Bangeeett, kirain kan cuman luka lecet plus radiologi, palingan ratusan ribu.
      Lah ternyataaaa... uwoowww hahaha

      Hapus
  28. Ya Allah~
    Semoga lekas sehat yaa, kak...
    Dijauhkan dari bala kesulitan seperti ini lagi.

    Sungguh bikin kaget melihat tagihannya.
    HUhuuu~

    BalasHapus
  29. Mbak Rey, aku ikut deg-degan bacanya apalagi bagian ICU yang ternyata petugasnya salah kasih info. Alamaaaaak.... udah panik duluan mana bawa bayi kesana-kemari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, padahal letaknya dari IGD gak dekat, kram tangan dan kaki rasanya huhu

      Hapus
  30. RS selalu banyak drama ya mba, terutama di Indonesiaku tercinta. Entah kenapa kalau petuhas bagian layanan antri mengantrinselalu jutek ya. Kadang saya suka tegur lho mba.. kita kan ngg ada yg mau masuk RS dan tugasnya dia adalah membantu.. semoga lekas sembuh yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. benerrr mbaaa, duh padahal kita bayar ya mba, huhu

      Hapus
  31. Semoga suami dan mbak rey selalu sehat ya berikutnya, kami juga....
    Saya baru tahu lo Mbak kalau di IGD itu harus rujukan. Soalnya pengalaman kami, antar kawan kantor yang keadaan darurat ke RS Premier Bintaro, itu walaupun RS tersebut (dulu) tidak menerima BPJS untuk pasien reguler, tapi IGDnya bisa. Dan tanpa rujukan juga....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suami saya dirujuk karena awal kecelakaannya dibawa ke puskesmas terdekat mba, trus dari sana karena keliatan mengkhawatirkan, makanya dirujuk ke RS lebih besar, tapi tetep pakai pasien umum sih.
      Kalau BPJS masuk IGD sepertinya bisa tanpa rujukan kok mba, asal siapin kartunya aja hehe

      Hapus
  32. Semoga mba dan sekeluarga sehat selalu ya,, miris banget liat biaya rs yang gede gitu.

    BalasHapus
  33. Semoga suami udah pulih seperti sedia kala yaaa..
    Emang ya, BPJS bakalan lumayan membantu saat butuh tindakan seperti ini. Tapi ya gimana lagi, mungkin teman2 si papi pikir butuh segera penanganannya, ga kepikiran mau pake BPJS atau enggak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, Alhamdulillah semua sudah terlewati :)

      Hapus
  34. Ya Allah mbak, moga suaminya lekas pulih ya. Saat kecelakaan gtu emang gk mikir BPJS atau gak yang penting selamat dulu ya mbak.
    Semoga kita semua gak ada lagi yang masuk IGD aamiin.Emang IGD bawaannya serem.
    Moga tulisan ini bermanfaat juga busat keluarga pasirn lain yang mengalami kebingungan saat terpaksa masuk IGD.

    BalasHapus
  35. Ya Allah semoga diangkat segera penyakitnya ya Mba, untuk suaminya aamiin
    besar juga ya biaya perawatannya, padahal ada beberapa yang nggak jelas gitu. Semoga diganti Allah dengan rejeki yang lebih baik aamin.

    BalasHapus
  36. Akupun sebenernya oranya ngga sabaran.. apalagi kalo liat pelayanan publik pemerintah kerjanya santai huhu.. pengennya marah-marah emosi jiwa.. tapi memang kalo di RS tuh kita harus ekstra sabar.. supaya semuanya berjalan dengan lancar.. kalo kitanya ngga sabar sakitnya bisa panjang deh.. sehat selalu ya mba

    BalasHapus
  37. Wah mba mahal bener yaa.. tapi kalo keadaan darurat ya mau gimana lagi. Btw semoga lekas pulih ya mba buat suaminya.. sehat2 selamat sekeluarga aamiin

    BalasHapus
  38. wah, alhamdulillah pak suami bisa langsung pulang. dan dramanya itu lho bikin saya juga deg2an.

    Biaya segitu kayanya lumrah deh mba. di Jakarta kalau gada uang jaminan 2-3 juta ga bakal dilayani. biaya lab buat ngelamar PNS aja aku sampe 500rb lho. banyak chek up yg dijalani.

    Semoga pak suami pulih kembali ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba,
      Masha Allaaahh, mahal juga ya mba

      Hapus
  39. duuuuh mba rey,ikutn berasa paniknya gmn itu. pas dgr suami dipindahin ke ICu yg ternyata salah. aku udh nangis2 kali mikir yg jeleknya :(

    bicara ttg biayanya, akupun udh maklum biaya rs skr ga murah. aku sendiri dari kantor dicover sekeluarga ama asuransi. suami dr kantornya jg ada. bpjs pun ada walo kita milih ga prnh pake. tp ttp itu hrs ada, seandainya nanti ga kerja lg kan yaaaa...

    tp aku udh kepikiran, semoga sih pas pensiun msh sehat. tp utk jaga2 aku udh mau bikin asuransi lain diluar kantor dan bpjs. supaya bisa salaing cover lah.. krn biar gmn bpjs ga bisa mengcover semua. smntara kalo andelin tabungan, kayaknya aku susah selagi borosku blm bisa dikontrol wkwkwkwk..

    udah sehat pak suami mba? cepet pulih yaaa. Akupun kdg suka kuatir kalo suamiku berangkat kerja. dia jg naik motor kalo ke kantor. di jkt naik mobil mah ga bakal sampe kemana2 hihihi.. tapi ya itu, srg kuatir jdnya kalo dia kenapa2 :( . kita udh nyupir bener aja, kdg2 ttp musibah krn org lain yg ugal2an :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mba, minimal ada dana darurat, jadi bisa digunakan dulu :D
      Alhamdulillah udah pulih, tinggal memarnya.
      Banyakin berdoa aja mba, suami saya tuh selalu lupa berdoa kalau berangkat.
      Sampai-sampai anak saya protes, papi makanya jangan lupa berdoa, jadinya digodain setan di jalan hehehe

      Hapus
  40. Semoga suami cepat pulih kembali ya, Mbak Rey. Aku bacanya sampai ikutan spot jantung. Bisa bayangin apa yang Mbak Rey rasakan, karena aku pun pernah mengalami hal yang sama, saat kami kecelakaan dan suami paling parah kondisinya, dan saat suami sakit parah 2017 lalu. Duh, semoga kita selalu sehat dan dilindungi Tuhan ya. Trus kalau bisa emang manfaatin aja BPJS, Mbak, karena dari pengalaman, cukup membantu kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin, makasih mba, bener banget.
      Hampir pingsan rasanya, Alhamdulillah Allah masih ngasih kesempatan untuk kami masih bersama lagi

      Hapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown akan langsung dihapus :)