Thursday, December 29, 2016

KETIKA TULANG PUNGGUNG KELUARGA TIADA (Sudah Siapkah Kita?)

Karena kenangan termanis itu adalah masa lalu yang sulit. 
Bukan sebaliknya :) 
Jadi ingat kisah masa kecil mama saya. 
Waktu saya kecil, mama selalu rajin menceritakan kisah masa kecilnya sewaktu kami hendak tidur di malam hari. 
Menurut mama saya, kakek saya (bapak dari mama saya) adalah seorang pebisnis yang lumayan berhasil. Punya kapal dagang, punya tanah yang luas dan usaha yang lumayan sukses 
Dan beliau sukses membiayai semua saudara-saudaranya. 
Nenek saya (mama dari mama saya) adalah seorang wanita yang sangat beruntung, punya suami yang mencukupi semua kebutuhannya, punya 4 orang anak cewek yang lucu dan sehat serta 1 anak cowok yang ganteng.

Keseharian nenek saya bagaikan di surga, tangannya lembut karena tidak pernah bekerja sedikitpun, semua pekerjaan rumah tangga ada yang bantuin. 
Demikian pula mengurus anak-anaknya.
Mama saya beserta saudara-saudaranya pun hidup dengan bahagia dan berkecukupan, tidak pernah merasakan sulitnya kehidupan seperti yang lainnya.
Terlebih mama, beliau sangat di manja oleh kakek karena saat kelahirannya kakek mendapat rezeki berlimpah, sehingga kakek menganggap mama adalah anak yang paling membawa berkah.
Sampai pada suatu hari, ketika mama saya berusia kurang lebih 5 tahun dan nenek saya sedang hamil anak ke 6 . Kakek saya jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Bagaikan petir yang menggoncang kehidupan nenek saya beserta anak-anaknya.
Karena beliau tidak bisa bekerja, satu persatu harta peninggalan kakek di jual, dari kapalnya, hingga tanah-tanahnya.
Saudara-saudara yang semasa hidupnya tinggal dan di biayai oleh suaminya semua pada menjauh.
Lalu, seiring waktu, habislah sudah harta peninggalan kakek saya.
Dan mulailah kehidupan nenek bagaikan di neraka.
Anak-anaknya terpaksa harus ikutan bekerja demi sesuap nasi, beruntung anak pertama dari kakek nenek sudah bisa bekerja meskipun hanya tenaga pengabdi saja.
Anak pertamanya lah yang akhirnya membiayai sekolah adik-adiknya.
Meskipun akhirnya hanya 3 orang yang bisa meneruskan pendidikan dengan benar.
Mama saya beruntung, dia masih mau meneruskan sekolah meskipun harus dengan susah payah, berjalan kaki menempuh jarak yang sangat jauh demi sampai ke sekolahnya.
Oleh karena itu, waktu saya kecil mama saya selalu mewanti-wanti kami untuk menjadi wanita yang mandiri secara finansial.
Siapapun jodoh kami, wajib bagi kami untuk mempunyai penghasilan sendiri.
Ah mama..
Terimakasih atas nasehatmu
Alhamdulillah saya bertemu Oriflame dan sekuat mungkin segera menapaki succesplan nya demi masa depan yang lebih baik.
Insha Allah dengan Oriflame saya bakal jadi wanita yang mandiri finansial, tanpa perlu mengorbankan kodrat saya sebagai seorang ibu yang harus menemani anaknya di rumah.
I Love Mama

Selamat hari ibu..
Karena bagi saya, setiap hari adalah hari ibu

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...