Wednesday, August 19, 2015

PASCA PERSELINGKUHAN


Selingkuh Adalah Selingan Indah Keluarga Utuh Atau Runtuh


Ilustrasi by me and husband
Sharing By Rey - SELINGKUH bagi sebagian besar orang merupakan "Selingan Indah Keluarga Utuh atau Runtuh". 

Dan saya rasa, tulisan ini merupakan sebuah renungan dan bahan pertimbangan untuk menjawab pertanyaan, 
"Apakah pasca peselingkuhan salah satu pihak, rumah tangga harus tetap dipertahankan, atau terpaksa dihancurkan sekalian?"



Kita sering berpikir bahwa ketidakjujuran dan ketidaksetiaan dalam perkawinan hanya terjadi pada Rumah Tangga orang lain, tidak mungkin terjadi pada RT kita sendiri. Kesetiaan dalam Perkawinan dalam RT kita berlangsung seumur hidup, terutama bagi penganut agama tertentu.

Janji yang diucapkan dalam Perkawinan harus selalu diingat, dijaga dan merupakan sebuah pegangan untuk menyelesaikan segala masalah dan persoalan yang timbul dalam bahtera RT (dalam keadaan susah dan atau senang, dalam keadaan sakit dan atau sehat hingga kematian memisahkan kita).

Tidak peduli apakah CINTA dalam Perkawinan sudah habis atau masih ada, yang jelas ANAK-ANAK sebagai tanda bukti CINTA yang pernah ada diantara pasangan suami istri (pasutri) tersebut telah menjadi Manusia seutuhnya yang kehidupannya perlu dijaga dengan baik dan sesempurna mungkin oleh pasutri pendiri keluarga baru ini.

Dan sejujurnya, itu juga yang menjadi pegangan saya dalam menjalani dunia pernikahan.
Namun ternyata, INILAH TEORI SEBUAH PERKAWINAN.

Yang ternyata dalam praktek sehari-hari, tidaklah mudah dijalankan karena rasa sakit hati dan kebingungan yang dialami sangat hebat dampaknya baik terhadap pribadi/individu pasutri tersebut maupun terhadap relasi/hubungan yang telah sekian lama dibangun.

Usaha-usaha yang dilakukan seseorang untuk menyelesaikan atau mengakhiri perselingkuhan justru bisa dianggap boomerang bagi pasangannya.


Ketika Perselingkuhan Terjadi


Perselingkuhan adalah suatu perbuatan melampaui “batas” dalam ikatan perkawinan. Dalam sebuah perselingkuhan, ada orang lain yang baik dengan sengaja maupun tidak sengaja diundang atau dibiarkan untuk masuk ke dalam batas-batas ikatan perkawinan, yang hingga kini masih dianggap hanya dapat dijalani oleh dua orang individu saja.

Teori di atas sebenarnya masih ambigu, karena kadang ada pihak yang mengatakan, selingkuh itu jika sudah terlalu jauh, namun jika cuman "say hai" belum selingkuh, hhhh..

Sampai sejauh mana “batas-batas” ikatan perkawinan tersebut harus dijaga, hal ini sangat relatif bagi setiap individu.

Seseorang berpendapat:
kalau hanya sebatas melirik, memberikan signal kepada lawan jenisnya, atau kencan pokoknya tidak dilanjutkan ke tempat tidur, itu masih dimungkinkan

Namun belum tentu pasangannya beranggapan sama seperti itu.

Perbuatan yang disebut diatas merupakan perbuatan yang seharusnya hanya ditujukan kepada pasangannya, jika dibagikan kepada orang lain, maka dianggap sebagai perbuatan “bermain api”.

Semakin seseorang menghormati dan menjaga “batas ikatan perkawinan”, sebenarnya semakin besar nilainya yang perlu dijunjung tinggi dan dibangun dalam ikatan perkawinan ini.

Perselingkuhan sebagai kompensasi untuk mengisi kekurangan, biasanya diawali dengan ketidaksetiaan kepada pasangan sebagai kompensasi untuk mengisi kekurangan atau ketidakpuasan dalam hal misalnya pasangannya kurang bisa diajak untuk berkomunikasi atau bertukar pendapat, kurang menghormati pendapatnya, kurang pandai menganalisa suatu kejadian, kurang pandai memberikan masukan dalam mengatasi sebuah masalah yang dihadapi RT, kurang mendapat perhatian dari pasangannya, kurang menghormati perilaku dan kebiasaan, kurang mendapat penghargaan atas usaha yang telah dilakukan bahkan selalu dicemooh atau dihina sehingga merasa disepelekan karena usahanya tidak pernah dianggap berhasil.

Peristiwa lainnya adalah misalnya karena disebabkan ketidakpuasan di tempat tidur dan bahkan disebabkan karena kerinduan untuk mendapatkan keturunan tidak dapat dipenuhi oleh pasangannya.

Perselingkuhan merupakan perbuatan egois seorang individu yang hanya mementingkan kebutuhannya sendiri, tanpa memperhitungkan perasaan pasangannya sama sekali; merupakan perbuatan tidak dewasa dan kurangnya tanggung-jawab; perbuatan kurang bisa menahan diri dari dorongan hatinya untuk mendapatkan kenikmatan tertentu (uang, kesenangan, seks, perhatian, kata-kata indah, kebebasan, kebahagiaan dlsb).


Selingkuh Itu Tidak Setia


Namun demikian tidak selalu ketidaksetiaan dianggap sebagai suatu perselingkuhan, contohnya adalah seorang istri yang membiarkan dan bisa menerima kebiasaan suaminya mengunjungi prostitusi, namun sebaliknya ada pula seseorang yang menganggap persahabatan antara pasangannya dengan rekan kerjanya sebagai sebuah ancaman bagi keutuhan teritorial RTnya, padahal pasangannya tetap setia tidak pernah melakukan penyelewengan apapun dengan rekan kerjanya.

Kadang pula perselingkuhan hanya dilakukan dengan satu kali hubungan sex dengan orang lain yang bukan pasangannya atau justru hubungan cinta yang berlangsung dalam kurun waktu yang relatif lama dengan orang lain yang bukan pasangan hidupnya.

Tidak jarang pula terjadi bahwa seseorang yang setia ini tidak mengetahui bahwa pasangannya telah melakukan perselingkuhan, baru belakangan ia ketahui setelah ditemukan fakta-fakta dan pembuktian-pembukti an yang tadinya sama sekali tidak pernah diduganya; pada saat itu, terasa dunianya runtuh.


Selingkuh Dan Dampak Terhadap Pernikahan


Sebuah hubungan dalam ikatan perkawinan merupakan suatu pengorbanan yang sedikit demi sedikit dibangun dan diinvestasikan.

Bukan hanya materi semata-mata yang dibangun (seperti uang tabungan, rumah yang didiami atau mobil, saham yang dimiliki dan segala pristise) tetapi juga segala usaha, kebiasaan, perasaan, pengertian, kepercayaan yang dikorbankan dan dibangun dari nol.

Sudah merupakan kebutuhan dasar pribadi seorang manusia bahwa dirinya menjadi tempat utama bagi pasangannya untuk curhat, untuk membicarakan hal-hal yang sangat penting dan confidential (rahasia dan sangat pribadi), untuk memecahkan segala persoalan secara bersama, untuk menjadi dirinya sendiri secara utuh tanpa ragu-ragu dan malu-malu bahwa akan dicemohkan oleh pasangannya tersebut.

Jadi dalam sebuah hubungan perkawinan yang sehat sangat penting didasari filosofi bahwa seseorang sebagai pribadi/individu memegang peranan penting dan tempat pertama bagi pasangan masing-masing dengan mengesampingkan peran individu lainnya sebagai orang luar dalam kehidupan perkawinan.

Dengan kata lain, hubungan di dalam Perkawinan sangat khusus /ekslusif hanya berlaku untuk keduanya dan tidak ada tempat bagi orang ketiga.

Tentu saja anak-anak merupakan perhatian utama bagi keduanya, namun bukan berarti posisi pasutri diambil alih sepenuhnya demi kepentingan anak-anak ini. Jika tiba-tiba keadaan ini berubah akibat peselingkuhan, terjadilah benturan-benturan dan situasinya menjadi tidak pasti lagi dalam ikatan perkawinan ini.

Mulailah timbul pertanyaaan- pertanyaan seperti
Apakah saya masih punya arti dalam kehidupanmu? , kamu pikir siapa kamu ini, bisa memperlakukan saya semena-mena seperti itu, apa artinya semua yang telah saya korbankan untuk mu?, dan apa saya masih bisa mempercayai kamu?”.

Perselingkuhan mempunyai dampak psikologis yang sangat negatif dan sangat menyakitkan yang pernah dirasakan seorang individu dewasa. Mempunyai peringkat kedua setelah kesedihan akibat meninggalnya seorang anak.

Dampak psikologis ini akibat hilangnya harga diri, rasa hormat, rasa aman, kenyamanan dan kepercayaan yang telah bertahun-tahun dibangun serta rasa dilecehkan oleh pasangannya yang bersekongkol dengan orang ketiga.

Tentu saja Perselingkuhan dirasakan bebeda-beda oleh setiap individu perorangan sebagai pasangan yang setia atau bukan pelaku perselingkuhan.

Seseorang memandang bahwa perselingkuhan merupakan hal yang bisa dimaafkan, namun bagi sebagian orang merupakan perbuatan yang tidak mungkin dimaafkan, karena sesuatu miliknya yang berharga telah dicuri oleh orang ketiga dan tidak pernah bisa dikembalikan lagi.

Hubungan yang retak tidak mungkin menjadi utuh kembali. Bagi sebagian orang, perselingkuhan dianggap sebagai sebuah pesan kepada pasangannya bahwa pasangan masing-masing harus memperbaiki hubungan yang ada.

Signal-signal/ tanda-tanda biasa yang disampaikan oleh para pasangan masing-masing ini selalu dikesampingkan karena itu dengan membuktikan bahwa dirinya masih menarik untuk orang lain selain pasangannya akan membuka mata / membangunkan pasangannya bahwa yang mereka miliki perlu benar-benar dipelihara/dijaga dan bukan untuk disepelekan.

Namun perlu ditegaskan bahwa Cinta dalam ikatan perkawinan bukan suatu upah atau imbalan bagi seseorang yang telah melakukan perbuatan sesuai kehendak pasangannya. Justru Cinta harus ditanam dan dipupuk sejak awal apabila pasutri menginginkan bahwa kelak nanti cinta ini berkembang dan memberikan hasil /panen yang dapat dituai.


Sikap Pasca Perselingkuhan


Suatu hal yang penting adalah pasutri tersebut harus mengambil sikap atau menentukan jalan mana yang harus dipilih. Apakah ikatan perkawinan ini masih dapat dilanjutkan atau tidak?. Apakah masing-masing pasutri bersedia memberikan kesempatan kepada pasangannya untuk mempertahankan ke- UTUH-an keluarga atau rela Keluarganya menjadi RUNTUH?. Jika keUTUH-an keluarga yang dipilih, perlu dibuat komitmen diantara pasangan, tentu pembuatan komitmen ini bisa dibantu dengan cara konsultasi keluarga.


Bertahan Untuk Keutuhan Rumah Tangga


Memperbaiki keadaan bukan suatu hal yang mudah dijalani, terutama memperbaiki kepercayaan merupakan perbuatan yang memerlukan waktu panjang. Luka yang ada akibat perselingkuhan tidaklah mudah sembuh.

Pemikiran bahwa ketidak jujuran dan ketidak setiaan merupakan akhir dari sebuah relasi/ikatan perkawinan selalu menghantui dalam perjalan waktu untuk menuju perbaikan relasi. Komunikasi diantara pasutri tidak lagi berjalan lancar.

Untuk mengembalikan ke situasi sebelum terjadinya perselingkuhan perlu dilakukan langkah-langkah /tahapan sebagai berikut:

Bagi pelaku perselingkuhan pertama-tama harus bersedia dalam tahapan pertama untuk: – mengakui kesalahannya, – meminta maaf kepada pasangannya dan – memaafkan dirinya sendiri. Jika hal ini belum bisa dilakukan, niscaya hubungannya dengan pasangannya tidak mungkin pulih kembali.

Tahapan kedua: – mampu memilih jalan untuk menghentikan perbuatan sebelumnya dan mengakhiri hubungannya dengan orang ketiga tersebut.

Bagi Pasangan bukan pelaku Perselingkuhan (Pasangan Setia) bersedia malakukan hal-hal sebagai berikut: – memaafkan pasangannya dan bersedia melupakan kejadian perselingkuhan tersebut, – bersedia melangkah bersama pasangannya kembali, – menghapus pikiran benci dan selalu menyalahkan pasangannya apalagi orang ketiga.


Sumber : Di sadur dari Kompas

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, spam, link hidup dan unknown, auto klik spam :)