Monday, November 21, 2022

Menerima Kondisi dan Bersyukur Melalui Telinga, Cerita Istri Ditinggal Suaminya dan Seorang Ibu yang Keguguran 4 kali

Menerima Kondisi dan Bersyukur Melalui Telinga

Saya lagi malas nulis yang berat-berat, jadi memilih nulis yang curhat-curhat atau cerita-cerita ringan aja.
Kali ini, saya pengen bercerita, tentang bagaimana saya mendapatkan bisikan untuk selalu bersyukur melalui telinga.

Maksudnya apa tuh?
Bersyukur, karena saya mau meluangkan telinga buat orang lain, hal yang paling sulit kita temukan di masa kini bukan, rata-rata orang butuh telinga, jarang ada yang mau menyediakan atau berbagi telinga.

Awalnya saya mau bangga, karena bisa memberikan bantuan telinga kepada orang lain, ujung-ujungnya saya yang berterima kasih pada diri sendiri juga, karena dengan mau menahan ego memaksa hanya didengarkan, ternyata mendengar bikin saya mendapatkan banyak hal-hal yang bikin saya semakin bersyukur.


Cerita Istri yang Ditinggal Mati Suaminya, Meninggal Tiba-Tiba Karena Sakit Jantung


Beberapa hari lalu, seorang ibu datang bertamu ke tempat tinggal kami, dia datang karena ada keperluan, dan kemudian tiba-tiba saja obrolan mengalir membahas suaminya.

Menerima Kondisi dan Bersyukur Melalui Telinga

Suami si ibu baru 2 minggu berpulang ke Rahmatullah, dia ditinggal begitu saja dan tiba-tiba sekali, karena sang suami mengalami serangan jantung.

Kepergian tersebut membuat si ibu begitu terpukul, rasanya sulit menerima keadaan kalau suami tercinta sudah tiada.
Terlebih, kepergiannya sama sekali tak ada tanda-tanda, bahwa mereka akan berpisah.
"Kalau seandainya sebelumnya sakit kan, setidaknya saya udah siap-siap ya Mbak Rey, misal udah lama sakit dan saya liatnya kasian dia tersiksa, rasanya lebih rela melepas kepergiannya." Kata si ibu tersebut.
Yang terjadi, sang suami pergi secara tiba-tiba, namun dia bersyukur, karena semalam sebelumnya, mereka udah saling maaf-maafin, iseng aja gitu tetiba saling minta maaf tanpa sebab.

Keesokan harinya, ketika malam hari, dan mereka bersiap hendak tidur, tiba-tiba suaminya menggigil, keringat dingin dan pucat pasi.
Segera dilarikan ke RS terdekat, dan ternyata bedasarkan rekomendasi dokter, saat itu juga sang suami masuk ICU.

Selama perjalanan ke rumah sakit, hingga di ruang ICU, si bapak masih bisa berkomunikasi, sampai akhirnya meninggal.

Bukan main terpukulnya si ibu, serasa kehilangan semangat hidup, serasa benar separuh nyawanya dibawa oleh sang suami.

Pasalnya, selama ini mereka adalah pasangan yang kompak, ke mana-mana bersama.
Ditambah sang istri nggak punya penghasilan sama sekali, selama ini, semuanya bergantung kepada suaminya, yang menjadi karyawan tetap di sebuah perusahaan di wilayah Ujung Surabaya.

Jadilah, antara si ibu bingung mau ngapain karena terpukul rasa kehilangan, juga bingung memikirkan nasib masa depan anak-anaknya.
Oh ya, suaminya pergi meninggalkan dia dengan 2 orang anak lelaki, satunya udah kuliah semester 7, dan satunya di kelas 5 SD.

Jadilah si ibu hanya mengandalkan uang pesangon kematian suaminya dari perusahaan, beserta 1 rumah yang dikontrakan.
Beruntungnya, si ibu punya 2 rumah, satu yang ditinggalinya, satu lagi dikontrakan.

Dalam kesedihannya yang tak bisa dijelaskan, si ibu merangkak bangun, tegar berdiri demi anak-anaknya, mulai berpikir tentang masa depannya bersama anak-anaknya, meyibukan diri dengan semua itu demi bisa sedikit mengikir rasa sakit kehilangannya.
"Saya itu rasanya, mending suami saya selingkuh, asalkan masih bisa saya liat di dunia ini, daripada kayak gini, nggak bisa lagi saya temui" si Ibu putus asa menggambarkan perasaannya.
Pernyataan tersebut disambut protes oleh adiknya, katanya Mbaknya tersebut mengada-ada, dan nggak tahu kalau sakit ketika dikhianati suami itu jauh lebih sakit bahkan mungkin kita berpendapat, mending suami meninggal aja ketimbang selingkuh.

Saya memperhatikan kedua kakak beradik itu dengan senyuman tipis, mencoba memahami kondisi mereka, sambil mengingat-ngingat kalau perkataan 'mending suami selingkuh itu' pernah dikemukakan oleh BCL atau Bunga Citra Lestari. 

Namun, otak saya malah sibuk memikirkan hal lain, di mana sesungguhnya, nggak ada pasangan yang tak pernah menyakiti atau membuat pasangannya sedih, khususnya istrinya di dunia ini.

Entah suami membuat sedih istri dengan hidup susah terus-terusan, membuat sedih dengan berselingkuh, membuat sedih dengan kasar baik sikap maupun fisik, hingga kalaupun suaminya terbilang sempurna, seringnya akan cepat membuat istri sedih karena ditinggal berpulang cepat.


Cerita Ibu Hamil 6 Kali, Tapi Anaknya Cuman 2 Orang


Sabtu lalu, si Adik ada acara pawai hari pahlawan di sekolahnya, sayangnya sejak subuh hujan turun membasahi bumi.

Menerima Kondisi dan Bersyukur Melalui Telinga

Hujan yang saya pikir bakalan reda ketika pagi hari, ternyata tidak.
Hingga menjelang saya harus mengantarkan adik sekolah, di pukul 07.30, hujan masih setia membasahi bumi.
Terpaksa deh saya anterin si Adik dengan memakai jas hujan yang berlapis, saking takut si Adik sakit.

Karena hujan, acara pawainya gagal, digantikan dengan anak-anak disuruh kumpul dalam kelas, lalu menonton pertunjukan badut.

Karenanya, mama-mamanya yang mengantar, hanya bisa menunggu di luar ruangan, dan daripada ngantuk, saya terlibatlah ngobrol-ngobrol dengan beberapa ibu di sana.

Karena saya memilih gemesin sesosok bayi gembul digendongan ibunya, jadinya ibunya merespon dengan bercerita banyak hal, sampai ke hal-hal bahwa anaknya 2, tapi dia udah pernah hamil 6 kali.

Wow ya.

Ceritanya, si ibu hamil pertama kali dan janinnya keguguran.
Setelah itu dia kuret, dan memilih kembali bekerja, daripada sedih mikirin kehamilan yang gagal.

Setahun kemudian, si ibu hamil lagi, tapi lagi-lagi janinnya tidak bisa bertahan, sehingga harus keguguran meski usia janin udah besar.

Setelah itu, si ibu bersama suami, memutuskan program hamil dengan inseminasi, dan ternyata berhasil dan lahirlah satu bayi tampan, yang sekarang bersekolah sekelas dengan si Adik Dayyan.

Setahun kemudian, si ibu kembali hamil, dan Alhamdulillah kandungannya bertahan sampai akhirnya lahir, sayangnya si bayi terlahir prematur, dengan berat badan yang di bawah rata-rata.
Sebulan di NICU, akhirnya sang bayi cantik tidak bisa bertahan lagi.

Nggak lama kemudian, si ibu hamil kembali, namun sama dengan yang lalu-lalu, kembali si janin tak bisa bertahan, si ibu kembali merasakan keguguran.

Dan setelah itu, si ibu lagi-lagi kembali hamil, kali ini Alhamdulillah janinnya bertahan, sampai akhirnya melahirkan, dan lahirlah si bayi tampan nan tambun dalam gendongan si ibu tersebut.

Satu hal yang saya kagumi, meski ceritanya terdengar menyedihkan, nyatanya si ibu bercerita dengan semangat tanpa ada tanda-tanda sedikitpun dia bersedih.

Padahal kisahnya tersebut, bikin saya ngilu dan sedih dengarnya, jauh lebih sedih dari mendengarkan kisah ibu yang bersedih ditinggal oleh suaminya selamanya.


Menerima Kondisi dan Bersyukur Melalui Telinga  


Pertama-tama, saya ingin say thank you kepada diri sendiri, yang selalu mau berusaha menahan ego, untuk lebih mengalah dan mendengarkan, ketika berada di kondisi percakapan dengan orang-orang baru.

Menerima Kondisi dan Bersyukur Melalui Telinga

Dan dari hal itulah saya mendapatkan banyak banget pelajaran berharga, yang membantu saya untuk belajar menerima kondisi lalu kemudian bersyukur.

Dari si ibu yang suaminya meninggal, saya jadi menyadari, kalau begitulah hidup ini.
Saya harus bisa menerima kalau dalam kehidupan ini, yang namanya suami bikin sitri sedih itu adalah sebuah hal yang terjadi kepada siapa saja.

Tidak ada suami di dunia ini, yang nggak pernah bikin istrinya sedih.
Semua suami melakukan hal itu.

Contohnya, suami BCL yang menjadi suami terbaik di antara paling baik di dunia ini versi BCL, pada akhirnya sukses bikin BCL menangis sedih selama berbulan-bulan, ketika akhirnya Ashraf pergi untuk selamanya.

Bahkan bisa dibilang, semua suami akan memberikan rasa trauma kepada istrinya, jika istri memaknai hubungan suami istri sebagai hal untuk memilikinya sepenuhnya.

Di sisi lain, tentang ibu yang hamil 6 kali, anaknya cuman 2 tersebut, saya belajar (lagi dan lagi) bahwa setiap orang punya tantangannya masing-masing, dan Tuhan udah pilihkan tantangan masing-masing sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Kalau membayangkan, saya ada di posisi si ibu tersebut, sepertinya saya bakalan trauma kelas berat, dengan kehilangan janin secara berulang tersebut, ditambah kudu membersihkan rahim berkali-kali, bayangin aja udah ngilu banget.

Perlahan kemudian rasa hangat penuh syukur mengaliri seluruh tubuh, di mana perasaan jadi lebih tenang, lebih tentram, lebih bisa berserah dan menerima kondisi saat ini, yang kadang bikin saya super burn out
 
Kelelahan mengasuh anak-anak sendirian, kehidupan yang kadang berat karena lelah mengerjakan semuanya, harapan-harapan orang lain, khususnya orang tua kepada diri saya.
Semua itu membebani banget.

Kadang saya ingin marah kepada Allah.
Ya Allah, kenapa saya kok hidupnya susah mulu?
Kenapa si Anu kok hidupnya enak?
Uangnya banyak, punya ini itu, punya wajah cantik, punya kekayaan.

Duh malu rasanya ya Allah, setelah menyadari kalau sebenarnya setiap orang punya tantangan masing-masing.
Namun di sisi lain, demikianlah saya mulai belajar menerima, fokus ke diri sendiri, fokus mencintai apa yang ada di depan saya, yang harus saya kerjakan.
Dan dengan demikian, hidup jadi terasa jauh lebih ringan.  


Penutup


Menjadi pendengar itu, sesungguhnya terdapat banyak keuntungan yang kita dapatkan, salah satunya kita jadi bisa belajar dari kisah orang, untuk menerima dan akhirnya bersyukur dengan apapun yang kita alami di dunia ini.

Seperti belajar untuk menerima kondisi lalu mensyukurinya, melalui telinga alias mendengarkan cerita orang dengan seksama.

Sidoarjo, 21 November 2022

4 comments :

  1. Setuju Rey, terkadang ga ada salahnya kok jadi pendengar aja. Ga usah ikutan berusaha cerita siapa yg paling sedih, paling hebat atau paling-paling yg lain. Dengan mendengarkan, benefitnya toh 2.

    Kita bisa lebih bersyukur dengan hidup kita sendiri , dan setidaknya memberi rasa nyaman dan puas ke orang yang bercerita, Krn mungkin dengan mengeluarkan uneg2nya dia bisa sedikit lega.

    Di cerita ibu yg kedua, rasanya aku juga ga bakal kuat sih kalo hamil lagi dan lagi hanya utk ngalamin keguguran kesekian kali 😔. Salut utk si ibu. Tapi rasanya itu Krn Tuhan tahu si ibu memang orang kuat, makanya dikasih cobaan yg Dia tahu masih di tahap bisa ditanggung.

    Aku sendiri tipe listener dari dulu. Suami juga ngakuin, pas pacaran, lebih banyak aku dengerin dan dia cerita drpd sebaliknya 😂. Mungkin Krn ga suka ngomong juga sih hahahaha. Makanya zaman sekolah, di antara aku dan sahabat2 yg saling Deket, yg jadi bahu tempat curhat ya aku 🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iya, kebanyakan orang merespon cerita itu, dengan ikutan membandingkan hahaha.
      Padahal, ternyata banyak juga manfaat kita mendengarkan cerita orang lain untuk diri sendiri :D

      Delete
  2. sekarang itu susah banget cari pendengar yang baik mbak
    yang mudah adalah mencari pembanding
    kasian banget yang ditinggal suaminya meninggal mendadak
    apalagi masih ada tanggungan
    di zaman serba mahal gini kudu bener-bener bisa bangkit
    peran orang terdekat memang penting

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, beruntung ada adik-adiknya yang bisa dimintain tolong

      Delete

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)

Back to Top