Sudah lama ya saya nggak pernah membagikan cerita saat kerja shift di klinik medis. FYI, hingga saat ini, sudah genap setahun saya kerja di tempat yang terbilang baru buat saya yang lulusan teknik Sipil.
Harusnya sih, saya udah resign dari beberapa bulan lalu, sejak saya bekerja di perusahaan kontraktor. Tapi karena kinerja saya masih dibutuhkan, terpaksa deh masih harus menunggu.
Sebenarnya, kerja di klinik medis tuh menyenangkan, setidaknya hingga saat ini ya.
Ada banyak hal-hal baru yang saya temukan, meskipun hal baru tersebut merupakan tantangan yang bisa dibilang luar biasa buat saya.
Salah satunya adalah, tentang luka pada tubuh manusia.
FYI, salah satu hal yang paling saya takutin, eh 2 hal ding, selama kerja di klinik tuh, adalah pasien UGD dengan keluhan luka, atau pasien dengan penyakit menular, misal TB atau semacamnya.
Saya kan semacam takut atau nggak suka liat darah dan juga luka, rasanya langsung lemas dan mual.
Jadi kalau ada pasien luka, saya selalu heboh manggilin perawat atau bidan untuk segera mereka tangani, sebelum pasiennya datang bertanya dengan memperlihatkan lukanya pada saya.
Selama setahunan bekerja, setidaknya ada 2 pasien luka, dari beberapa pasien, yang bikin saya shock.
Baca juga : Diary Shift Siang, Pasien Bayi Meninggal
Pasien dengan Wajah Bermandikan Darah Segar
Kejadian ini terjadi sekitar 1 atau 2 bulan lalu, di suatu sore saya sengaja extend di klinik, meski jam kerja saya sudah selesai di pukul 3 sore.
Melihat saya masih ada di klinik, rekan petugas yang berjaga di jam tersebut akhirnya pamit mau keluar sebentar, dan nitip klinik pada saya.
Tinggallah saya dengan perawat dan memutuskan untuk ngumpul di apotek.
Tidak berselang lama, tiba-tiba datang 2 anak remaja mengendarai motor, mereka terlihat panik, dan ternyata salah satu remaja perempuan itu terluka parah.
Saya shock, karena wajar si remaja nyaris tak terlihat, tertutupi oleh aliran darah segar.
Untungnya perawat yang berjaga sore itu adalah senior, dengan tenang dia melayani pasien tersebut, membersihkan lukanya, dan setelah wajahnya bersih dari darah, akhirnya saya bisa melihat lukanya.
Ternyata lukanya berada di jidat, luka sobek oleh benda tajam yang membuat lubang pada jidatnya. Tapi lukanya nggak gede-gede amat sih, bahkan menurut penglihatan awam saya, lukanya nggak mencerminkan darah yang bikin saya shock liatnya, hehehe.
Oleh perawat, dengan konsultasi dokter, lukanya kemudian dijahit, lalu ditutup dengan kassa dan diberi obat pereda nyeri, dan selesai.
Setelahnya perawatnya bercerita tentang jenis luka. Ternyata luka di bagian kepala memang seringnya menghasilkan darah lebih banyak, karena banyak pembuluh darah yang ada.
Perawat juga bercerita, awal-awal mereka praktik ketika sekolah, mereka pun shock melihat darah yang begitu banyak. Lalu setelah dibersihkan mereka akan dihadapkan oleh luka yang nggak sebesar yang dikira.
Sampai pernah ketika awal-awal praktik, mereka sudah menggunduli setengah kepala pasien, ternyata lukanya kecil buanget, hahaha.
Baca juga : Diary Shift Malam, Pasien Kabur Tanpa Membayar
Pasien Luka Tanpa Darah Tapi Bikin Shock
Nah, berbeda dengan cerita tersebut, kejadian ini justru baru terjadi beberapa hari lalu.
Ceritanya saya jaga dengan perawat laki, terus si perawat ini izin keluar sebentar. Namun tak lama kemudian, saya yang mengisi waktu dengan mengerjakan laporan proyek, tiba-tiba melihat 1 orang wanita dengan 2 lelaki berjalan memasuki lobby klinik.
Si perempuan tersebut langsung berjalan menuju saya dengan tangan kanan memeluk tangan kirinya. Dan ketika udah di dekat saya, dia menyodorkan tangannya.
"Kak, ini bisa ditangani segera?"
Si Rey?
Hampir pingsan!.
Tampak tangannya terdapat luka yan menganga lebar, nggak terlallu banyak darah sih, tapi lukanya terbuka lebar.
Saya lantas membuang muka, nggak mau liat sambil meminta maaf.
"Maaf ya Kak, saya bukan nakes, nggak kuat liat luka, bentar saya panggilkan nakes dan dokter".
Dengan menahan mual dan rasa nggak nyaman, saya meraih ponsel untuk menghubungi perawat dan dokter. Untungnya perawatnya segera datang setelah saya teriakin segera datang karena takut liat luka, hahaha.
Sementara dokter yang sedang di luar, meminta untuk dikirimin foto lukanya dulu.
Waduh.
Saya nggak berani liat lukanya, gimana caranya saya foto?
Akhirnya diambil alih oleh perawat, difoto dan dikirimkan ke dokter.
"Memangnya luka di mana?" Tanya perawatnya.
"Kena silet!", jawab si pasien.
Semakin lemeslah si Rey mendengarkan hal itu.
Singkat cerita, setelah pasiennya pulang, kondisi saya juga tak membaik, tetep lemas, jantung berdegup kencang, semacam terkena panic attack.
Iseng saya cek tensi saya, dan ternyata naik drastis.
Luar biasa deh si Rey ini.
Dari pengalaman tersebut, saya jadi paham, ternyata saya bukan hanya nggak kuat liat darah, tapi saya juga nggak kuat liat luka yang lebar.
Dan wajar juga ya saya ditakdirkan sekolah di teknik, beda sendiri dari kebanyakan keluarga yang mostly orang kesehatan.
Karena itu tadi, saya takut darah dan luka, hahaha.
Kalau Temans, ada yang sama?.
Baubau, 03-08-2026


Sempat mengalami seperti mbak Rey, mudah panik ketika lihat luka dan darah. Tapi, sejak punya 2 anak, saya coba atasi perlahan. Sekarang sdh punya cucu, rasa paniknya kalau mendengar kata 'operasi', karena yg terbayang kombinasi darah + luka sayatan. Aaakkk...
BalasHapusPasti berat yah. Otomatis sih memang kalau melihat darah berceceran seperti itu, ada rasa panik dalam diri manusia. Bukan cuma dikau sih Rey, saya juga pasti ada rasa begitu.
BalasHapusCuma lama kelamaan, kalau dihadapi juga akan terbiasa. Rasa panik itu akan bisa ditekan dengan sendirinya.
Tapi bener juga sih ada cara lainnya, yaitu dengan cari pekerjaan yang punya resiko kecil melihat darah berceceran seperti itu.
Btw, beberapa kali main ke sini dan baca sebagai silent reader, saya merasa dikau berada dalam kondisi yang lebih baik. Lebih tenang. Lebih mandiri. Gejolaknya terasa lebih landai dan dikau tidak lagi banyak misuh-misuh.
Good job sis. Sepertinya akhirnya dikau menemukan jalan "terbaik" untuk dirimu sendiri dan saya senang membacanya. Semoga jalan ke depan semakin terang dan cerah buatmu dan anak anakmua.
See you later ya kawan
Sisi positifnya kerja di klinik adalah bisa belajar tentang kesehatan, P3K, dll. Semoga setelah kejadian2 yang diceritakan di sini Rey jadi lebih berani akan darah dll. Good luck
BalasHapusWah, jarang baca blog lagi. Akhirnya saya baca tulisan Mba Rey. Welcome to the club menjadi orang yang bekerja di luar rumah.
BalasHapusTeknik sipil kerja di klinik, gpp. Kadang memang gak sejalan dg jurusan.
Btw, bukan Mba Rey aja sih, kalau saya lihat darah yg begitu saya juga lemes. Kalau ada laka lantas di jalan. Saya gak jadi leat jalan itu. Puter balik, karena saya mau lihat darah.