Setelah kemaren saya menuliskan 10 hal asyik tinggal di Baubau, sekarang saya pengen nulis kebalikannya. Yaitu hal apa saja sih yang nggak asyik saat tinggal di kota seribu benteng ini, setidaknya menurut saya ya.
Namun sebelumnya, karena menurut saya tulisan kali ini bisa jadi memantik ketersinggungan (tsah, bahasa apa ini!) orang lain. Karenanya, boleh dibaca dulu tulisan terdahulu saya ya.
Baca juga : 10 Hal Asyik Tinggal Di Kota Baubau
Intinya, tulisan ini merupakan POV saya selaku personal atau pribadi, tidak menggambarkan keadaan secara umum.
1. Susah Sinyal Internet
Pertama kali pulang ke Buton, saya kan tinggal di rumah mama dulu di Buton, masya Allah sekali susahnya sinyal, karena di desa.
Akhirnya saya putuskan tinggal di kota Baubau saja, dalam pikiran saya kan ini kota ya, pastinya sinyal lebih baik dan bersahabat.
Kenyataannya, sudah di Baubau pun tetap aja sinyal internet susah. Bukan nggak ada ya, ada banget, tapi lemot. Kalau dipake tethering buat kerja di laptop, astagfirullah bikin emosi banget.
Jangankan buat tethering ya, buat buka canva di HP aja lemotnyaaa masya Allah.
Jujur ini bikin saya selalu kesal dan uring-uringan mulu, mau pasang wifi di kos, selain nggak enak sama empunya kos, juga belum yakin saya bisa bayar bulanannya.
Alhasil udah bisa ditebak, saya jadi malas menulis blog, malas bikin konten juga, makin tertinggal deh saya dalam branding sebagai blogger, hiks.
Karenanya juga jadi jarang bisa blog walking, orang buka blog aja susah, hiks.
2. Nggak Singkron Dengan Skill Saya
Ini nggak asyik kedua banget buat saya, karena skill saya semacam nggak singkron sama sekali dengan market daerah ini.
Sebagai blogger misalnya, jangankan bisa mendapatkan job blogger atau event blogger di sini. Bahkan orang-orang sama sekali nggak tahu, apa itu blogger, huhuhu.
Orang-orang bahkan masih jarang yang bersahabat dengan google, bahkan google maps aja jarang di-update, hiks.
Lalu, ngomongin tentang background pendidikan dan pengalaman kerja saya. Saya sih lulusan teknik sipil, dan punya pengalaman bekerja di kontraktor dan di proyek.
Tapi saya terbiasa kerja di proyek yang lumayan gede nilainya, jadinya ada bagian-bagian tertentu yang saya pegang. Misal, saya lebih sering ngerjain RAB, RAP hingga pengendalian proyek.
Nah, di sini kebanyakan proyeknya kecil-kecil, jadi orang-orang tuh nanganin semuanya, dan istilah yang mereka gunakan saja berbeda.
Dan kalaupun saya bisa menyesuaikan, status saya sebagai pra jendes ini bikin serba salah untuk bisa ikut serta di proyek-proyek pembangunan yang ada.
Ini semacam 'i can't be fit in this place' *halah!.
3. Pusing Dengan Penilaian Orang
Nggak asyik berikutnya adalah, saya harus menyesuaikan diri dengan 'menjadi omongan orang', lalu jadi pusing dengan penilaian orang.
Ini baru (lagi) sih buat saya, setelah 25 tahun hidup tanpa repot memikirkan penilaian orang terhadap saya. Ye kan, di kota besar tuh orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing, jadi kadang mereka tidak peduli dengan urusan orang lain.
Well, menurut saya di Baubau juga aslinya orang-orang juga sibuk, tapi karena kotanya lebih kecil, jadi di sela-sela kesibukan orang ketemu dan ngobrol. Ada kalanya mungkin tak sengaja malah ngomongin orang, jadi serius dan tersebar deh.
Begitu juga dengan saya.
Saya yang lebih suka mempublikasikan apa saja kegiatan saya, dengan siapa saja saya bertemu, jika ada fotonya. Maksud saya sederhana sih, karena kan mostly teman saya laki, jadi saya post aja untuk memberitahukan, bahwa saya berteman dengan si ini, daripada terdengar selentingan si Rey jalan sama si ini si itu kan secara diam-diam.
Tapi sepertinya maksud saya itu jadi bomerang negatif buat saya. Berbagai spekulasi berkembang, karena beberapa teman saya menurut orang-orang, mempunyai rekam jejak kurang baik.
Jadinya seolah saya tuh memang sejak sebelumnya nggak baik, makanya berteman dengan orang yang punya rekam jejak kurang baik.
Sampai-sampai, beberapa orang beranggapan kalau saya tuh udah terbiasa hidup bebas di Surabaya. Iya sih, bebas, bebas banget malah.
Bebas beropini, bebas memilih jalan hidup, bebas menulis, bebas kaaann? hahaha.
4. Kos-Kosan Tidak Sesuai Dengan Pemasukan
Ini menyedihkan sih, saya baru sadar kalau di Baubau itu kos-kosan mahal buanget menurut saya. Maksudnya, kota kecil dengan UMR yang nggak sampai 3 juta, itupun sulit mendapatkan pekerjaan dengan gaji UMR, hehe.
Akan tetapi, kos-kosan yang worth it dan layak buat saya tuh, harganya sekitar 1 jutaan ke atas. Ada beberapa yang harga 500ribu, tapi menyedihkan tempatnya. Apalagi yang 300ribuan.
Bahkan yang harga 700an juga seringnya belum memenuhi syarat kebersihannya, hiks. Ada juga yang lumayan harganya terjangkau, tapi jauh dari pusat kota, kebanyakan ada di pegunungan pulak, sementara saya takut naik motor mendaki yang terjal banget.
5. Tidak Ada Elpiji Murah
Butuh waktu setahunan kali baru saya bisa menerima hal ini, ketika terpaksa memasak pakai kompor minyak tanah karena gas elpiji tuh muahaaaal.
Waktu di Surabaya, saya pernah pakai Bluegaz, dan sering ngeluh karena mahal. Pas nyampe di sini, shock banget ternyata Bluegaz mah masih lebih murah, hahaha.
Nggak ada dong elpiji tabung hijau, elpiji subsidi nggak ada, di sini yang disubsidi tuh minyak tanah, itupun rebutan belinya, saya seringnya beli yang bukan subsidi, huhuhu.
6. Beli BBM Selalu Antri
Karena Pom bensin di kota Baubau sangat terbatas, cuman ada 3 aja di dalam kota, sementara kendaraan semakin banyak di kota ini. Alhasil setiap kali mau beli BBM, masya Allah sekali antrinya.
Saking nggak kuat mengantri, saya terpaksa selalu membeli pertamax. Dan kabar sedihnya, sepertinya nggak ada perbedaan ya menggunakan petralite dan pertamax, selain harganya yang lebih mahal, hiks.
7. Susah Belanja Online
Nggak asyik lainnya adalah, saya harus beradaptasi dengan 'drama belanja online'. You know lah ketika di Surabaya saya udah terbiasa belanja online. Semua kebutuhan mudah didapatkan.
Butuh barang khusus, langsung buka Shopee, klak klik, lalu nunggu, sehari juga nyampe untuk dalam kota, dengan ongkir gratis.
Lah di sini, sudahlah ongkir mahal buanget, atau kalaupun ada diskon ongkir, ya harga barangnya dinaikin. Diskon apaan itu?, ckckckck.
Sudahlah ongkirnya mahal, nyampenya lama banget pulak, kadang saya harus menunggu sampai 2 mingguan, bahkan pernah juga 3 mingguan.
Baca juga : Tinggal di Sidoarjo atau Surabaya, Mana yang Asyik?
8. Capek Nyari Barang Ke Banyak Tempat
Duh, saya merindukan swalayan atau supermarket yang lengkap, dan harganya terjangkau. Di sini nggak ada.
Paling banter ya swalayan yang medium, tentu saja nggak semua barang yang kita cari ada di situ. Dan bikin saya harus keliling kota untuk mencari beberapa barang.
Barang ini beli di Selatan, barang satunya beli di Utara, lainnya di Timur, pokoknya rempong dan melelahkan.
9. Nggak Ada Tempat WFC Nyaman dan Murah
Sebagai mamak blogger, saya merindukan bisa WFC sambil nunggu si Adik pulang sekolah. Off course ada cafe di Baubau, lumayan banyak pulak. Tapi saya kan merindukan tempat yang nyaman tapi menunya terjangkau kayak McD, hehehe.
10. Nggak Cocok Buat Introvert
Mungkin karena di sini saya banyak teman kali ya, ditambah omongan orang yang terdengar nyaring di kuping, meski udah usaha tutup kuping. Jadinya kalau menurut saya, kota Baubau tuh nggak cocok buat orang introvert kayak saya.
Meski demikian, masih bisa ditolerir sih ya, dengan cara cuek aja.
Demikianlah 10 hal nggak asyik tinggal di Baubau, yang sebenarnya masih banyak yang lain sih, terutama untuk anak-anak. Tapi nanti aja kita bahas lagi.
Baubau, 28-01-2026


Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)