Cerita Perjuangan Sia-Sia Mengemis Keluarga untuk Anak-Anak

perjuangan-mengemis-keluarga

Kadang saya mau ngakak aja melihat ujian kehidupan ini, rasanya kok luar biasa banget tantangannya. Lulus yang satu, naik lagi ke ujian selanjutnya, which is semakin berat aja rasanya.

Seperti perjuangan saya yang bisa dibilang 'mengemis' keluarga untuk anak-anak. Biar mereka bisa merasakan seperti yang papinya rasakan, enaknya punya keluarga besar.

Saya pikir juga ini adalah hal yang baik, karena keluarga papinya bolak balik bilang ke saya. Kalau mereka selalu welcome ke saya, menganggap saya udah seperti saudara kandungnya, dan ortunya bilang, kalau sudah menganggap saya sama seperti anak kandungnya.

Tapi jujur, hubungan kami belakangan ini memudar, gara-gara permasalahan tanpa ujung antara saya dan papinya anak-anak.

Gara-gara hal tersebut, keluarga jadi ikut terseret. Bukan hanya keluarga papinya yang memusuhi saya, keluarga saya pun jadi benci sama papinya anak-anak.

Baca juga : Suami Idaman Konon Katanya Yang Sayang Ibunya, Tapi....


Ibu Mertua Sakit Parah dan Meninggal, Membuat Papinya Berubah Jadi Lebih Baik

Sebenarnya keluarga papinya anak-anak bukanlah termasuk cerita mertua dan ipar yang sadis. Saya beruntung tidak mengalami hal tersebut.

Namun bukan berarti mereka bagaikan malaikat juga.

Hal yang sering bikin saya sedih adalah, mereka sangat kompak membela satu sama lainnya, mau siapapun yang salah, pokoknya yang benar ya keluarga mereka.

Gara-gara itu, saya tidak akur dengan semua keluarganya.

Sudah terlalu lama sakit hati dengan papinya anak-anak, termasuk di tahun 2022 lalu, selama setahun dia kerja di Bali, dan dia benar-benar tidak peduli meski saya sakit tidak bisa bergerak, dan hanya berteman anak-anak saja.

Saya nggak tahu, apakah itu hukuman Allah, di akhir tahun kontrak kerjanya di Bali selesai. Dan dia tak dipakai lagi untuk proyek lainnya, lalu jadilah dia pengangguran yang bikin dia lumayan stres.

Belum habis stres mencari pekerjaan, ibunya yang paling dia sayangi jatuh sakit. Ketika saya mendengar cerita bahwa ibunya udah nggak bisa makan, sehingga akhirnya harus menggunakan selang atau sonde, hati saya terketuk.

Saya udah pengalaman pada almarhum bapak, di mana beliau juga nggak bisa makan menjelang akhir usianya. Dan mulai merasa sepertinya usia ibunya nggak akan lama lagi.

Ketika menganggur, dia seenaknya banget, pergi entah ke mana, pulang dua tiga hari kemudian. Suatu malam dia pulang larut banget, lalu setelah mandi dia datang berlutut di kaki saya.

Sambil menangis dia memberi kabar bahwa ibunya jatuh sakit dan nggak bisa makan. Saya yang terkejut, langsung memaafkannya dan mengajaknya menjenguk ibunya keesokan harinya.

Singkat cerita, saya seolah lupa kalau bermasalah dengan semua keluarganya. Bahkan terakhir kali saya ke rumahnya, ibunya berwajah masam banget sampai bikin saya kikuk nggak karuan.   

Di sana, saya nggak diam saja, ikut membantu mengurus ibu yang sudah nggak bisa ngapa-ngapain, terbaring lemas di tempat tidurnya.

Ikut menyeka tubuhnya, ikut ganti popoknya juga. Menjaganya setiap saat sehingga ibu tidak merasa kesepian di kamar.

Mungkin melihat kesungguhan saya, semua jadi makin baik ke saya, termasuk papinya anak-anak. Sayangnya nggak bertahan lama. 

Keesokan harinya dia pamit mau jaga ibunya, sambil tetap cari lowongan kerja, dan you know? sampai dua hingga tiga hari nggak ada kabar sama sekali dengannya.

Luar biasa kesalnya saya, baru saja kemaren dia nangis-nangis pegang kaki, eh sekarang mulai berulah lagi. Sampai akhirnya dia pulang, dan lagi-lagi minta maaf dengan memegang kaki saya.

Ibunya sakit berbulan-bulan, tak ada peningkatan sama sekali, dan saya juga kebagian tugas mengurusnya seminggu sekali. Nggak usah nanya rasanya, cuaaaapeeeeeekkkkkk banget nget nget!

Tapi karena papinya anak-anak bersikap manis, capeknya jadi cepat hilang, dan stres karena nggak ada duit, papinya nggak kerja, saya juga jadi sulit ngeblog gegara repot urus anak dan ketambahan ada jadwal urus mertua sakit.

Baca juga : Pengalaman dan Tips Merawat Lansia Sakit Di Rumah


Akhirnya Dapat Kerjaan, Buah Keberkahan Keluarga?

Entah karena Allah melihat kesungguhannya berubah jadi lebih menghargai keluarganya, terutama membahagiakan anak-anaknya. Atau juga sebagai hadiah telah berbakti kepada ibunya (dia paling rajin merawat dan menemani ibunya).

Akhirnya setelah sekitar 4 bulan menganggur, dia dapat pekerjaan juga, meskipun tetap di luar kota, bahkan kali ini lebih jauh, di Medan.

Dia tidak serta merta menerima pekerjaan tersebut, tapi juga berdiskusi dengan saya, dan meminta izin saya. Tentu saja saya izinkan, daripada nganggur kan ye.

Lagian saya udah biasa sendiri, yang penting dia tetap mau menjaga komunikasi, jangan kayak ketika kerja di Bali. Ketika itu bahkan pernah sebulan nggak ada komunikasi sama sekali, baik kepada saya, atau anak-anaknya.

Saya berpesan, mari kita lupakan yang lalu, mari buka lembaran baru, bekerjalah dengan hanya mengharap keberkahan dengan niat menafkahi anak-anaknya.

Jadi, jangan sampai lagi kami berantem sampai lost contact berminggu bahkan sampai bulanan. Dengan demikian insya Allah karirnya akan lebih baik, karena pekerjaannya selalu dipenuhi keberkahan, insya Allah.

Dan dia memenuhi dengan baik. Awal-awal dia pergi, saya terserang penyakit aneh. Dan papinya anak-anak heboh banget mencarikan dokter yang bisa visit ke rumah.

Sungguh saya terharu, sehingga saking terharunya, saya bertekad akan membantunya lebih banyak. 

Ketika ibunya meninggal, saya diminta datang ke rumahnya, dan sayapun bisa berbaur dengan lainnya, ikut memandikan ibunya, dan mengantarkannya ke makam.

Setelah itu rela tinggal di rumah mertua, menemani bapaknya yang sebenarnya ini tantangan luar biasa, karena bahkan mereka semua, nggak ada yang betah tinggal berlama-lama dengan bapaknya yang siper ribet, pelit dan seringnya bikin migren.

Selama tinggal di rumah mertua, saya udah wanti-wanti ke papinya anak-anak, agar menjelaskan ke saudaranya, serta bapaknya juga, bahwa kami bukan semata numpang.

Kami justru ingin membantu menemani bapaknya, karena sejak ibunya sakit sampai meninggal, saudara-saudara papinya selalu pusing ngatur jadwal untuk menemani bapaknya yang telah sendiri.

Dengan adanya saya di sana, semua saudaranya jadi bebas. Mereka bisa menunda jika memang benar-benar sedang sibuk, dan tidak bisa datang menemani bapak mereka.

Bukan hanya itu, mereka tak perlu khawatir bapaknya sakit, karena ada saya yang mengurus makannya dengan cermat. Bapak bisa sarapan tepat waktu, makan siang dimasakin ART yang datang di siang saja, dan malamnya saya akan menyiapkan makan malam buat bapak.

Saya? jujur antara kesal, capek dan kasian. Karena di sisi lain saya ingin menunjukan, bahwa saya juga bisa diharapkan, dan ingin banget dianggap keluarga.

Bukan hanya itu, saya juga ramah sama semua kakak ipar, setiap kali mereka datang, saya dengan setia menyumbang telinga untuk mendengarkan semua ocehan mereka.

Meski capek, dan waktu saya habis serta kesulitan mencari waktu buat ngeblog, tapi saya berusaha untuk tetap bahagia melakukan hal tersebut.

Besar harapan saya, agar nantinya mbak-mbak ipar akan menganggap saya sebagai saudara mereka, akan membantu ketika saya butuh bantuan.

Baca juga : Saat Kecewa Pada Suami, Begini Cara Istri Menghibur Dirinya


Ternyata Perjuangan Saya Sia-Sia

 Nyatanya? perjuangan saya sia-sia dong.

Masalah besar yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, muncul sejak awal saya datang menemani eyangnya anak-anak. 

Hanya saja, ketika itu saya belum terlalu yakin akan perasaan saya. 

Masalahnya jadi terlihat jelas setelah sekitar sebulanan saya tinggal di sana, dan kebetulan papinya anak-anak pulang dari Medan.

Langsung saya ceritakan bagaimana kegundahan hati, bagaimana takutnya saya jika harus tetap tinggal di sana hanya bersama anak-anak.

Tapi apa yang terjadi, dia diam saja, bahkan terkesan tidak percaya.  Ketika saya berkeras agar dia mau peduli, dia hanya mengatakan kalau bingung harus ngapain.

Dia juga mengeluh, belum bisa membawa kami keluar, karena nggak punya duit.

Meski kesal banget, pada akhirnya saya coba mengerti dan mencoba menahan rasa trauma, meski sejujurnya itu berat banget.

Semua rasa mengalah tersebut sejujurnya hanyalah menumpuk, dan menjadi sebuah bom waktu yang bersiap sewaktu-waktu meledak. Lalu datanglah waktu itu, bomnya meledak, dan parahnya lagi, tak ada yang mau meluangkan waktu untuk mendinginkan bom itu.

Si papinya anak-anak, kembali lagi seperti dulu, diam dan tak mau berkomunikasi. Kakaknya yang sudah saya harapkan akan membantu, juga nggak bisa berbuat apa-apa, lebih tepatnya (dalam pov saya) lebih membela adiknya.

Luar biasa hancurnya saya.

Hancur karena masalah yang saya dapatkan dari awal ke rumahnya. Ketambahan hancur karena seolah papinya nggak percaya semua yang saya alami tersebut. Masih ditambah lagi saya akhirnya dengan penuh hati-hati menceritakan kepada kakak-kakaknya, dan mereka pun seolah nggak percaya, serta nggak menganggap itu penting.

Wao, saya udah trauma ketakutan selama sebulanan lebih, dan mereka menganggap semua itu bukan masalah penting? waooo....

Baca juga : 1001 Masalah Mertua Menantu Tentang Batasan Mahram


Ternyata Memang Saya Tak Boleh Melawan Gravitasi Karakter Orang

Waktu saya dengan insya Allah ikhlas membantu merawat ibunya dengan sepenuh hati dulunya, saya diketawain oleh beberapa teman.

Mereka berkata, saya sok baik, saya terlalu polos, saya terlalu bodoh. Menurut mereka, kalau keluarga suami sudah mengecewakan, tertutup sudah pintu beramah-tamah.

Tapi saya enggak dong, melihat ibunya sakit tak berdaya, jujur saya sedih banget. Rasanya hilang semua kecewa di hati saya terhadap ibu mertua maupun anak dan keluarganya.

Teman-teman bilang, saya akan menyesal, karena apapun yang dilakukan, nggak akan bikin mereka merasa berhutang budi.

Eh ternyata iya sih, hahaha.

Demikian juga, ketika saya bercerita akan tinggal di rumah mertua buat menemani dan mengurus bapak mertua, beberapa teman dekat malah melarang keras.

Katanya, itu bukan kewajiban seorang menantu perempuan, merawat ayah mertuanya. Apalagi dengan sifat ayah mertua yang udahlah ribet, pelit, dan suka seenaknya.

Dan setelah mengetahui kejadian yang bikin shock, lalu saya pergi, nyatanya nggak ada sama sekali yang merasa kehilangan, atau meminta maaf jika saya nggak nyaman bahkan tertekan hidup di situ.

Lagi-lagi, para sahabat saya mengatakan sebuah kebenaran, di mana ternyata saya nggak boleh melaan gravitasi karakter orang kebanyakan. Di mana kebanyakan orang cuman peduli saat butuh aja.

Walaupun sejujurnya, setelah segala kegundahan lewat, saya akhirnya menyadari, bahwa Allah tak pernah cuman kasih badai, selalu ada pelangi yang indah.

Dan pelangi itu adalah, banyaknya sahabat-sahabat saya yang peduli banget sama saya.

Terima kasih Temans, Terima kasih ya Allah.


Sidoarjo, 18 Agustus 2023

9 komentar :

  1. Hai, Terima Kasih artikelnya bagus sekali. BTW Salam sesama blogger saya pingin berteman dan follow blog sampean :)

    BalasHapus
  2. Memang ya, kalau sudah karakter, kayaknya sih sulit banget untuk diubah. Kalaupun berubah, maka di satu titik akan kembali lagi ke awal, seperti yoyo.

    hubungan aku dan keluarga ayahku juga mirip-mirip. Dulu pas keluargaku jatuh, hampir ga ada yang membantu dari keluarga ayah. Malah keluargaku difitnah, diomongin yang enggak-enggak. Saking keselnya, dulu aku sampe ngomong sama ayahku "Udahlah Yah, mulai hari ini, kita nganggep saudaranya kalo pas kondangan aja". Bertahun tahun setelahnya, hubungan kami renggang, terasa jaraknya meski sebenarnya jarak rumah tak terlalu jauh.

    Hubungan kami sempat membaik ketika COVID-19, dimana ga ada satupun yang bisa bantu, kecuali saudara dari ayahku. Tapi sampai sekarang, buatku semuanya ga bisa kembali seperti titik awal. Tetap ada batas yang memisahkan, dan kita akan bertemu seperlunya saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bahkan yang masih dibilang keluarga kandung juga ya :(

      Kayak saya, benar-benar butuh dukungan, bukan duit padahal, tapi nggak menemukannya :(

      Hapus
  3. Mbak kalau cerita pengalaman pribadi begini nggak khawatir dibaca orang-orang yang bersangkutan ya? Just curious.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah, namanya juga tulisan terbuka untuk umum, semua bebas membacanya :)

      Justru seperti inilah cara saya mengungkapkan isi hati, karena nggak ada yang mau peduli dengan kondisi saya bagi orang-orang yang saya butuhkan :)

      Hapus
  4. Rey, aku speechless jujurnya. Udah ga tau mau tulis apa, karena takut salah juga 😔. Seandainya kita Deket lokasinya yaaa, aku mau banget ketemu dan pinjemin bahu buat kamu curhat sepuasnya secara langsung 🤗🤗. Ga ada sih orang yg aku kenal, yg sekuat kamu.

    Utk Skr, aku cuma bisa doain dulu, semoga badai musibah ini mereda, dan kamu bener2 dilindungi dari niat orang yg ga senonoh 😔🤗.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tengkiuuu Mbaaaa, doakan semoga saya lulus ujian dan menikmati indahnya pelangi :)

      Hapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)