Thursday, November 24, 2016

#KisahRey - Sulitnya Mendapatkan Pekerjaan, Bahkan Jilbabpun Jadi Penghalang

Gegara lihat postingan di blog seseorang yang mungkin sengaja di tulis demi rating kunjungan pembaca di blognya atau juga mungkin demi menebar kebencian saja.

Di postingan tersebut ada gambar, kalau sebuah perusahaan melarang karyawannya mengenakan pakaian muslim atau berjilbab.

Mulailah muncul komen-komen beragam, ada yang kesal, ada pula yang seolah ketakutan bakal di depak dari perusahaan tempatnya bekerja.

Kesemuanya tiba-tiba mengingatkan akan perjalanan hidup saya di tahun 2005-2006 lalu.

Saat itu saya baru saja mendapatkan titel sarjana Tehnik Sipil dengan IPK yang sangat lumayan, bahkan kurang 0,07 masuk Cumlaude (uhuk, bangga dong)

Sayangnya, belum juga puas mencoba masukan lamaran kerja ke sana ke mari, oleh mama saya dipaksa pulang ke Buton agar saya bisa mengikuti test PNS dan menjadi seorang PNS seperti harapan mereka.

Karena sudah sebulan saya menyebarkan lamaran kerja, namun belum ada kabar baik, saya akhirnya menyerah dan pulang ke Buton.

Sampai di sana, saya lalu mengikuti nasehat dan arahan tante dan om saya yaitu magang menjadi pengajar di salah satu universitas swasta di BauBau (Unidayan atau Universitas Dayanu Ikhsanudin).
Alhamdulillah, karena memang nilai saya lumayan, plus saya termasuk lulusan dari Jawa meskipun swasta, saya langsung di terima oleh rektornya (lupa namanya) sebagai asisten dosen untuk mata kuliah TPP (Tehnik Pengendalian Proyek).



Sambil menanti waktu masuk mahasiswa (waktu itu sedang liburan panjang), saya pun juga ikutan melamar untuk magang ngajar di STM BauBau, dan prosesnya tidak sulit mengingat saya termasuk alumni di sekolah tersebut.

Sayangnya, mungkin karena saya menag sejak awal kurang sreg pulang ke Buton, jadinya hanya sebulan saja, saya lalu protes dan meminta agar di izinin balik ke Surabaya.
Dengan sangat berat hati, keluarga akhirnya mengizinkan.

Kembali ke Surabaya, suasana semakin sulit.
Karena barang-barang saya sudah di berikan kepada teman-teman kos terdahulu.
Beruntung ada sedikit barang yang saya titipkan di rumah pacar saya.

Saya akhirnya mencari kos baru di tengah kota Surabaya, dan saya berkejaran dengan waktu agar saya cepat mendapatkan pekerjaan karena mama saya menghukum saya dengan tidak mengirimkan saya biaya sepeserpun untuk bertahan hidup.

Butuh tambahan penghasilan? KLIK DI SINI

Sedih rasanya.
Hari demi hari saya rajin menyebarkan lamaran kerja ke sana ke mari.
Hari Sabtu adalah hari yang paling saya tunggu karena di hari tersebut banyak lowongan pekerjaan yang ada di koran Jawa Pos.
Sayangnya, hari berganti minggu, bahkan berganti bulan. Belum ada satupun perusahaan yang mau menerima saya.
Yang memanggil untuk interview dan test sih banyak.
Tapi tidak ada satupun yang mau memanggil ulang agar di terima bekerja.

Sampai-sampai saya nekat mengirimkan lamaran pekerjaan ke proyek-proyek yang sama sekali tidak membutuhkan karyawan tambahan.
Hasilnya malah satpamnya yang baca surat lamaran saya lalu menelpon untuk menggoda saya, hiks.

Pernah juga suatu waktu saya mendapatkan telepon yang menyuruh saya datang test di daerah Rungkut, ternyata kami di rekrut untuk menjadi sales door to door menawarkan alas gas elpiji.
Sedih dan muak rasanya, apalagi saat keliling itu kami sempat di kejar anjing. Ampun deh, segitu banget demi beberapa lembar rupiah hiks

Hingga suatu hari saya mendapatkan panggilan interview di daerah dekat Jembatan Merah Surabaya.
Saya langsung interview dengan bossnya yang seorang keturunan Chinese.
Sang boss tertarik dengan CV saya, namun keberatan jika saya mengenakan jilbab.

Sebagai informasi, saya mulai mengenakan jilbab di tahun 2005 awal, dan selama itu saya benar-benar teguh tidak mau melepas jilbab tersebut.
Jadi, saat di hadapkan dengan kenyataan bahwa saya sangat butuh uang namun pekerjaannya harus saya dapatkan dengan melepas jilbab saya, saya menolak.

Entahlah apa yang ada di benak saya waktu itu, padahal gajinya lumayan banget untuk ukuran tahun itu, namun entah mengapa permintaan tersebut bagaikan melecehkan kemampuan saya.

Saya bertanya apa alasannya saya tidak boleh mengenakan jilbab? menurut sang boss, karyawan yang mengenakan jilbab kesannya lebih tidak bersahabat, dan dia tidak ingin karyawan lainnya ikut-ikutan berjilbab sehingga merubah image perusahaannya.

Okeh enough!

Saya menolak dan langsung pamit pulang!

Sepanjang perjalanan pulang saya menangis, bukan karena menyesal telah menolak tawaran tersebut, tapi lebih ke sedih dan hampir putus asa dengan sulitnya keadaan saya.

Beruntung saya masih punya keteguhan hati, dan akhirnya Allah menjawab penantian saya, dengan akhirnya setelah genap setahun menganggur saya pun di terima bekerja di sebuah perusahaan kecil dengan gaji yang sangat minimalis :D

Well, Allah masih menguji saya, tapi setidaknya saya masih teguh dengan jilbab saya dan saya masih berada di jalan yang tidak tersesat.
Alhamdulillah.

Oh ya, sebagai info juga, selama penantian saya setahun menanti pekerjaan.
Saya sering di anjurkan oleh teman bahkan keluarga untuk melepas jilbab.
Mereka semua beranggapan kalau jilbab lah penyebab saya sulit mendapatkan pekerjaan.
Bahkan sampai teman-teman saya yang lulusnya belakangan namun tidak berjilbab sudah mendapatkan pekerjaan semua.

Alhamdulillah ya Allah, masih diberikan keteguhan hati.

Karena Jilbab adalah identitas saya sebagai muslimah dan sebagai kepatuhan saya kepada perintah Allah.

TPJ 24 Nov 2016

Reyne Raea

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...