Sabtu, 3 Oktober kemaren, saya tiba-tiba ikutan workshop tentang HIV/AIDS di Cafe Classic Baubau.
Iya, si Rey yang seorang engineer *tsah, dan blogger serta juga kerja di klinik medis ini, bisa ikutan kegiatan yang diprakarsai Dinas Kesehatan kota Baubau dong.
Rasanya? nggak nyambung, nambahin kerjaan aja, tapi juga happy karena mendapatkan pengalaman dan ilmu baru. Padahal ya si Rey ini hampir setiap hari ketambahan hal baru dalam hidupnya, hahaha.
Hal ini terjadi ketika beberapa hari lalu, ada surat undangan yang masuk ke klinik, salah satu tempat saya bekerja sekarang. Undangan itu sebenarnya ditujukan buat direktur atau penanggung jawab klinik juga manajemen.
Tujuannya agar mereka bisa datang ke workshop Penguatan Implementasi PPCP HIV, AIDS dan IMS dalam mendukung target 95-95-95.
Akan tetapi, direkturnya malah minta saya untuk mewakilinya aja di acara tersebut, karena kebetulan hari itu dia udah punya rencana atau kegiatan tersendiri yang sudah diatur sejak lama.
Dan begitulah awal mula saya akhirnya ikutan workshop tersebut.
Baca juga :
Gedebag Gedebug Persiapan Rey Ikut Workshop PPCP HIV/AIDS di Baubau
Demikianlah, ketika hari Sabtu tiba, waktunya saya untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Sejak malam, segala sesuatu udah saya persiapkan. Mulai dari bela-belain nyuci pakaian di malam hari, karena memang di hari Jumat itu, saya rempong sekali di klinik untuk persiapan pra kredensialing dengan BPJS dan Dinas Kesehatan.
Jadinya Jumat pagi tuh saya nggak sempat nyuci, padahal kalau nggak nyuci sehari aja, itu berarti cucian bakal numpuk dan akhirnya bingung mau dijemur di mana (maklum anak kos, huhuhu).
Akhirnya saya belain nyuci dulu, beberes kos lalu tidur segera sampai lupa pasang alarm buat bangun di HP.
Saya tersadar dibangunin si Kakak, ternyata udah pukul 06.10, dan untungnya si Adik nggak masuk sekolah karena guru-gurunya sedang pelatihan.
Jadi kakak aja yang buru-buru mandi, saya kasih uang aja buat beli sarapan di luar aja, dan juga naik ojek ke sekolah. Setelahnya saya coba tidur sejenak lagi, karena badan masih terasa nggak enakan karena kurang tidur dan kecapekan.
Sebenarnya saya pengen masuk siang langsung ke kantor kontaktor, tempat kerja utama saya. Tapi ternyata ada pasien dari seorang dokter yang udah janjian hari itu.
Teman-teman lainnya selalu berharap pada saya, jadilah terpaksa saya bangun, mandi, dandan dan meluncur ke klinik bersama si Adik.
Saya sebenarnya masih bingung mau titipin si Adik di mana. Rencananya mau titip biarin dia nunggu saya di klinik, karena toh dia juga suka di klinik, bisa nonton YouTube di komputer.
Tapi saya teringat, hari-hari belakangan ini kondisi klinik nggak karuan gegara barang yang sering berpindah tempat. Dan saya nggak mau anak-anak saya dituduh macam-macam, jadilah saya putuskan nitip ke rumah tantenya aja, kakak saya.
Menjelang jam mulai acara, yaitu pukul 12 siang, saya kemudian ke rumah kakak saya. Setelah nitip si Adik, saya ditelpon salah satu rekan klinik untuk pergi bareng.
Karena memang undangan itu berlakku buat 2 orang, direktur dan manajemen, jadinya saya diminta mewakili direktur, dan salah satu teman bidan diminta menemani.
Ternyata teman tersebut belum siap dong, bahkan dia sedang ada di momen kedukaan orang dia kenal. Saya udah panik duluan, lantaran jam sudah menunjukan pukul nyaris pukul 12 siang, dan saya terbiasa datang tepat waktu saat ada kegiatan gitu.
Tapi kata teman bidan tersebut,
"Santai aja Kak Rey, mulainya pukul 2 kok!"
Heh?
Menurutnya, kebanyakan orang di Baubau tuh gitu, saking seringnya orang datang ngaret, jadinya ketika ada undangan kegiatan, sengaja banget jadwalnya dimajukan, agar orang-orang nggak telat datangnya.
Dan akhirnya, setelah beberapa drama kecil, sampai pula kami di tempat workshop tersbut, di sebuah kafe yang berada di jalan Anoa, Baubau.
Ternyata, Workshop Penguatan Implementasi PPCP HIV, AIDS dan IMS itu, Gini!
Kami tiba sekitar pukul 12.30, dan tepat seperti apa kata teman tersebut, tentu saja acaranya belum mulai. Hanya ada beberapa orang yang sepertinya sedang menunggu teman-teman lainnya di depan kafe. Dan kami kemudian melangkah masuk disambut panitia dari dinas kesehatan kota Baubau.
Setelah menyerahkan surat tugas dari klinik, kamipun dipersilakan untuk duduk di kursi paling depan.
Dan bener juga, kami menunggu selama 1,5 jam hingga pukul 2 siang, baru deh acaranya dimulai. Luar biasa sekali kaaannnnn.
Tapi sudahlah.
Acara kemudian dibuka oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan kota Baubau, dr. Frederik Tangke Allo, Sp.B. Pak Kadis menjelaskan betapa pentingnya acara tersebut untuk membangun kemitraan antara berbagai pihak, baik dari pemerintah, swasta maupun komunitas yang ada.
Setelahnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Baubau, Yuslina, SKM., M.Si menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut penting untuk mengatasi penyebaran HIV/AIDS di kota seribu benteng ini.
Seperti yang diketahui, saat ini Indonesia menduduki urutan ke-14 di dunia dengan estimasi ODHIV tertinggi. Bahkan untuk estimasi infeksi baru HIV tertinggi, Indonesia bahkan menjadi urutan ke-11.
Karena itulah, diadakan strategi nasional sebagai penanggulangan HIV dan IMS, melalui:
1. Pencegahan
2. Surveilans
3. Penanganan Kasus
4. Promosi Kesehatan.
Kesemuanya diadakan dengan tujuan mencapai target di tahun 2030, diharapkan ODHIV yang mengetahui statusnya sudah 95%, juga 95% ODHIV yang sudah mendapatkan pengobatan ARV dan 95 % ODHIV on ARV dengan virus HIV yang tersupresi.
Lalu, apa hubungannya dengan PPCP?
District-Based Public Private Community Partnership (PPCP) merupakan platform jejaring layanan kesehatan HIV, AIDS, dan IMS di tingkat kabupaten/kota yang melibatkan seluruh fasyankes (pemerintah, swasta, dan komunitas), serta seluruh pemangku kepentingan terkait secara sistematis dan komprehensif dengan pendekatan kolaboratif untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan HIV yang bermutu, ramah tanpa stigma dan diskriminasi, sesuai kebutuhan, dan berpihak pada pasien.
Platform ini terdiri dari : jejaring internal HIV di fayankes serta jejaring eksternal HIV di kabupaten maupun kota.
Ada 7 strategi dan intervensi yang merupakai kunci keberhasilan PPCP, di antaranya:
1. Pelibatan dinas kesehatan kabupaten maupun kota.
2. Penguatan jejaring fayankes.
3. Kolaborasi dengan komunitas.
4. Peningkatan kualitas layanan.
5. Penguatan lintas sektor dan pembiayaan.
6. Penguatan surveilans & SIHA
7. Keterlibatan komunitas.
Bahasa awamnya sih, kegiatan tersebut melibatkan beberapa elemen demi menekan HIV dan IMS, gitu.
Hubungannya dengan Klinik, apa dong?
Jadi, selama ini kan, khususnya di kota Baubau ya, yang serius banget dalam penanganan ODHIV itu baru sebatas fasilitas pemerintahan, seperti rumah sakit umum daerah maupun puskesmas.
Padahal, hal itu tidak mumpuni.
As we know, seringnya para penderita penyakit kelamin tersebut merasa malu jika harus berobat di fasilitas pemerintah gitu.
Mulai dari malu kalau ketahuan banyak orang, juga nggak nyaman dengan antriannya yang panjang buanget.
Karenanya, kebanyakan orang memilih klinik swasta maupun praktik dokter untuk berobat. Demi memenuhi ke-privacy-an yang lebih terjamin.
Privacy ini, bukan berarti data mereka jadi kesebar jika berobat di faskes pemerintah ya. Tapi situasinya gini. Orang yang berobat di faskes pemerintahan kan banyak ya, bisa jadi ketika mereka sedang antri di sana, eh ketemu tetangga atau orang yang mereka kenal, jadi kan mereka malu.
Begitulah alasan mengapa banyak yang lebih memilih faskes swasta atau perorangan.
Nah, tanpa kerjasama yang solid dengan semua faskes yang ada, jadinya kan data para ODHIV tidak akan ter koneksi di satu sistem.
Karena itulah diadakan pertemuan tersebut, dengan mengundang semua fayankes di kota Baubau, agar semua bisa bersama-sama solid dalam melaporkan data pasien tersebut, melalui SIHA.
Ketika Rey, si Blogger dan Engineer, Ada di Workshop PPCP HIV/AIDS
Seperti yang saya ceritakan di atas, bahwa awalnya saya sama sekali merasa nggak nyambung sama sekali dengan kegiatan tersebut.
Satu-satunya yang familier adalah, karena saya sebagai blogger sudah terbiasa mengikuti event beragam di Surabaya, salah satunya ya event kesehatan juga.
Dan karena itulah, saya jadi terbersitkan menuliskan pengalaman tersebut, sekaligus mengabarkan pada lebih banyak orang, betapa seriusnya pemerintah menangani masalah penularan penyakit kelamin tersebut.
Apalagi, miris banget mendengar keterangan, bahwa di kota Baubau sendiri, mengalami peningkatan data ODHIV, dan yang lebih menyedihkan ya, para ODHIV ini adalah usia sekolah SMA maupun kuliah, dengan penyebab penyimpangan seksual.
Ngeri nggak sih.
Sebagai ibu yang punya 2 anak lelaki, ofkors saya merasa deg-degan banget.
Over all, meski awalnya saya merasa sangat asing, secara gitu ya, yang hadir kebanyakan nakes, para bidan maupun dokter, atau siapapun yang ada hubungannya dengan dunia medis.
Saya sendiri, yang sudahlah nggak kenal siapa-siapa selain teman dari klinik serta Plt. Kadisnya, karena merupakan salah satu dokter spesialis yang bertugas di klinik tempat saya bekerja.
Tapi, setelah mengikuti kegiatan tersebut, saya merasa beruntung bisa hadir, menambah ilmu dan pengetahuan baru. Dan juga merasa bertanggung jawab merekam kegiatan tersebut melalui cerita seperti tulisan ini.
Begitulah.
Semoga kita semua bisa berperan aktif dan positif dalam mencegah dan menghambat perkembangan penyakit kelamin ya. Terutama HIV maupun AIDS.
Jaga diri, jaga keluarga ya Temans.
Ada yang punya cerita tentang ODHIV juga?
Baubau, 07-10-2026
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)