Hari ini bisa dibilang day 2 at new office yang menyenangkan. Karena di kantor ini saya bakal ketemu lagi dengan dunia lama saya, yaitu engineering.
Yup, Alhamdulillah menjelang akhir bulan lalu saya ditawarin untuk bergabung dengan salah satu perusahaan kontraktor yang masih bertetangga dengan klinik medis tempat saya bekerja.
Ini rasanya semacam a litttle dream come true banget sih ya, karena sebelumnya saya memang udah mencari-cari pekerjaan di bidang teknik sipil.
Baca juga :
Cerita Ditawarin Bekerja di Kontraktor
Jadi, klinik medis tempat saya bekerja tuh nyambung dengan rumah tinggal empunya klinik tersebut. Jadi, kadang-kadang beberapa penghuni rumah belakang klinik tuh lewat dari klinik, yang otomatis melewati meja kerja saya.
Suatu hari, leader konstruksi yang masih merupakan penghuni di rumah tersebut lewat dan melihat saya. Ketika dia sampai di rumahnya, dia ngobrol deh yang lain.
Dia nanya, ada staf baru ya di klinik medis tersebut, lantas di mana staf yang biasanya?.
Dari pertanyaan tersebut, berlanjutlah orang-orang empunya rumah tersebut membicarakan saya.
"Oh itu Kak Rey!"
"Eh btw kak Rey itu teknik sipil loh, sebenarnya cocok masuk ke konstruksi!", lanjut mereka.
Awalnya si leader ini nggak percaya, lantas meminta dikirimkan CV saya.
Ketika itu, saya juga nggak ngeh saat seorang atasan meminta saya kirimkan soft copy CV. Nantilah beberapa hari kemudian, atasan saya menelpon memberi tahukan tentang rencana saya diminta bergabung dengan perusahaan konstruksi tersebut.
Sayangnya, setelah itu belum ada kabar, mungkin karena semua orang sibuk menyambut lebaran. Apalagi klinik juga ditutup selama seminggu pas lebaran.
Setelah libur selesai, saya kembali masuk kerja, dan beberapa hari kemudian ketika saya sedang masuk shift pagi, tiba-tiba ada seorang anak muda datang ke klinik mencari saya.
"Kak Rey ya, saya bisa minta waktunya untuk bicara?"
Awalnya deg-degan banget, ada apa nih mau bicarain apa? dan ternyata orang tersebut adalah si leader yang menceritakan tentang perusahaan yang dia pimpin, lantas masalah-masalahnya dan harapannya tentang apa yang bisa saya bantu jika mau bergabung.
"Jadi Kak Rey mau nggak nih?", tanyanya lagi.
"Mau banget dong!", jawab saya excited.
Dan hari itu juga, si leader tersebut langsung menyiapkan komputer dan meja buat saya bekerja di kantornya.
Si Rey gitu loh, ditawarin bekerja di bidang teknik sipil, apalagi perusahan tersebut sama persis dengan perusahaan tempat saya bekerja dulunya di Surabaya. Setidaknya dunia kerjanya udah familier banget dah.
Ditambah dengan inisiatif, inovasi dan semangat kerja saya, insya Allah semua gap year yang pernah saya jalani selama belasan tahun jadi IRT plus plus dan jauh dari dunia teknik sipil, bisa diatasi.
Cerita (Sempat) Drama Ketika Hendak Pindah Kantor
Mungkin temans bertanya-tanya, kok si Rey langsung mengiyakan untuk menerima tawaran kerja tersebut?. Nggak pakai diskusi dan bilang ke atasan di klinik dulu?.
Jawabannya, karena ya yang ngomong ke saya bahwa akan diajak bekerja di perusahaan tersebut ya atasan saya. Di mana atasan saya masih keluarga juga dengan leader perusahaan tersebut.
Jadi kan, harusnya tanpa ngomong lagi, si atasan saya udah ngerti dan udah membolehkan saya move ke perusahaan tersebut.
Setelah ngomong dengan si leader, saya juga langsung ngirim kabar ke atasan bahwa saya udah dipanggil ke perusahaan tersebut. Tapi memang atasan saya nggak menanggapi, malah nanggapin hal lainnya.
Keesokan harinya kan udah akhir bulan, saya telpon deh atasan, menanyakan saya harus ngasih surat resign ke siapa?.
Mendengar hal itu atasan saya semacam panik,
"Ih jangan dulu Kak Rey, kita masih ada kegiatan yang harus dilakukan, dan kak Rey yang kami andalkan!"
Dan begitulah, sayapun galau, hahahaha.
Memang sih, selama 8 bulan bekerja di klinik medis tersebut, saya sering kepo dengan berbagai pekerjaan. Sehingga kerjaan apapun saya ambil alih, dan selalu menyelesaikan dengan baik.
Alhasil para atasan terbiasa menggantungkan urusan pekerjaan non medis ke saya. Dan memang rekan-rekan yang lain masih kurang kesadaran untuk bisa bekerja pakai inisiatif.
Masalahnya adalah, saya takut si leader itu berubah pikiran dan mencari orang lain untuk posisi yang ditawarkan ke saya. Meskipun ketika saya kirim kabar menceritakan hal tersebut, oleh si leader cuman dibalas.
"Siap Kak Rey, aman!"
Alhasil, tanggal 1 April kemaren, yang rencananya saya udah masuk di kantor baru, gagal deh rencananya. Kebetulan saya juga off di klinik, jadinya hari itu saya habiskan di kos saja.
Akan tetapi, dapat masukan dari mama dan kakak saya, bahwa akan lebih baik kalau sementara ini masuk di dua kantor, atau kalau bisa masuk aja di kantor kontraktor, nanti kalau benar-benar dibutuhkan di klinik, baru deh balik ke klinik lagi.
Ketika saya kirim pesan ke atasan, lagi-lagi dikasih jawaban yang mengambang.
"Wait ya Kak Rey!", katanya.
Akhirnya saya putuskan untuk menghubungi si leader, menanyakan apakah bisa untuk sementara saya masuk di kantornya, hanya saat ketika saya nggak masuk di klinik.
Lagian akhir-akhir ini klinik sepi, dan saya nggak punya kerjaan yang berarti. Jadi akan lebih baik kalau langsung masuk mempelajari apa-apa yang harus dikerjakan di kantor kontraktor.
Seperti biasa, si leader menjawab,
"Boleh Kak Rey, aman!"
Amaaaaannn aja mulu jawabannya, hahaha.
Dan begitulah, akhirnya di tanggal 2 April kemaren, saya pun perdana masuk kantor kontraktor, di pukul 2 siang, karena paginya saya masih masuk shift di klinik.
My Timeline at 40, Akhirnya Kembali Ke Dunia Teknik
Untungnya, kantor kontraktor tersebut berdekatan dengan klinik medis tempat saya bekerja. Berada tepat di belakang klinik, yang sebenarnya saya bisa lewat pintu belakang klinik. Tapi karena sungkan harus ngelewatin rumah empunya klinik, akhirnya saya putuskan untuk naik motor lewat jalan memutar.
Kantor kontraktor tersebut lebih kecil dari klinik (ya iya lah, masa iya sebesar kantor pelayanan masyarakat), hahaha. Saya disambut oleh si leader dan diperkenalkan oleh tim lainnya.
Setelahnya saya dibawa ke meja kerja saya.
Ruangannya jauh lebih kecil dari klinik (ya iya lah, hahaha), ada 3 orang di dalamnya. Saya dan 1 cewek serta 1 cowok.
Dan mulailah saya mempelajari komputer saya, yang syukurlah udah diinstal dengan autocad dan Civil 3D.
Sayangnya, belum ada data pekerjaan yang bisa saya pelajari, sedang menunggu orang lapangan memberikannya pada saya.
Dan sampai hari ke-2 saya bekerja, data tersebut belum juga saya dapatkan.
Tulisan ini bahkan saya tulis di kantor baru, saking bosannya saya mempelajari proyek kembali melalui browsing di google.
Meski demikian, tak masalah lah, setidaknya saya udah bersiap kembali ke dunia teknik, meskipun belum bisa sepenuhnya melepaskan kerjaan di klinik medis.
But i am happy!.
Saya jadi berpikir, betapa terberkahinya saya dengan berbagai kesempatan mengejar karir di usia yang sebenarnya udah sulit untuk back to working again.
Setidaknya untuk di Indonesia ya.
Wanita usia 40an tahun.
Ada gap year dalam dunia kerja yang dibutuhkan (teknik), karena selama belasan tahun jadi IRT.
Masih ada anak kecil yang ngekorin ke mana-mana.
Masih ada kewajiban antar jemput anak ke sekolah.
Keknya dengan kondisi tersebut, sangat jarang buanget ada perusahaan yang mau ngasih kesempatan bekerja kembali, apalagi di dunia teknik sipil.
Masih ingat sejak awal tahun lalu saya stres menunggu kabar kapankah diterima bisa diterima bekerja di perusahaan tambang aspal. Nyatanya bulanan telah berlalu, nggak ada panggilan sama sekali.
Lalu kakak mengusahakan agar saya bisa masuk database di kantor pemerintahan, dititipin ke teman kantornya, untuk bisa masuk bekerja di kantor mana saja.
Ingat juga, bagaimana kakak saya sesekali ngomel karena kebanyakan mengeluh tentang usia saya yang sudah nggak muda lagi. Udah 40an dong.
Sampai akhirnya, teman kakak saya berhasil membujuk owner sebuah kantor dan akhirnya saya diterima bekerja.
Saya excited banget bekerja, meski apa yang didapatkan belum mencukupi kehidupan sehari-hari. Tapi setidaknya saya sudah bisa menunjukan kinerja saya yang memang jarang bisa dilakukan oleh kebanyakan orang.
Sempat juga dikatakan cari muka dan semacamnya, tapi saya nggak peduli.
Baca juga: Si Rey Cari Muka? Buat Apa?
Pada akhirnya, semua kinerja dan kemampuan saya akhirnya bisa memperlihatkan kepada banyak orang, bahwa usia dan status menjadi ibu yang diekorin anak ke mana-mana, nggak selalu jadi masalah.
Karena toh banyak juga yang masih muda, nggak diekorin anak, nggak dikit-dikit habis waktunya cuman buat antar jemput anak sehingga nggak produktif. Nyatanya nggak bisa menunjukan kinerja dan kemampuan terbaiknya.
Lalu saya teringat, bukankah ini adalah semacam sebuah keajaiban?.
Sejujurnya saya udah nggak pernah bermimpi bisa balik ke dunia kerja lagi, alasannya ya karena usia saya.
Tapi ternyata, saya bisa.
Mungkinkah memang timeline karir di luar rumah saya memang berada di usia saya yang 40an ini kali ya.
Setelah usia 20an sibuk mencari jati diri dalam berbagai masa peralihan status.
Lalu di usia 30an sibuk menikmati kehidupan sebagai IRT plus plus.
Dan usia 40an sibuk berkarir di luar rumah?
Apapun itu, semoga Allah berkahi ya.
Baubau, 04-03-2026
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)