Tanggal 2 April kemaren saya sebagai volunteer Rumah Asuh Baubau dipertemukan semesta dengan seorang mahasiswi korban rudapaksa atau pemerkosaan oleh seorang lelaki yang baru dia kenal melalui aplikasi kencan online, OMI.
Ini adalah kejadian kesekian (setidaknya yang saya ketahui) yang melibatkan korban, pelaku dan alat komunikasi yang sama.
Rasanya, pemerintah atau pihak berwajib sudah seharusnya lebih intens memberikan edukasi kepada semua perempuan, tentang risiko berat mencari teman melalui aplikasi demikian.
Baca juga: Apa Itu Rumah Asuh Baubau?
Cerita Bertemu Dengan Gadis Korban Pemerkosaan Dari Aplikasi OMI
Ceritanya hari Kamis lalu, saya shift pagi di klinik. Sekitar pukul 8 pagi saya udah tiba di klinik, dan seperti biasa setelah merapikan tas bawaan saya, memastikan meja kerja saya bersih dan rapi, langkah selanjutnya saya cek WA di nomor admin klinik.
Ada beberapa WA yang belum dibalas, rata-rata bertanya tentang jadwal dokter, harga tindakan dan lainnya.
Namun, ada satu WA yang menarik perhatian saya.
Dalam pesan WA tersebut, si empunya pesan bercerita tentang kronologi yang dia alami semalam. Katanya dia baru saja mengalami pemaksaan berhubungan badan dengan seseorang.
Dan dia sangat takut hamil, kesakitan, bahkan semalam vaginanya sempat perih dan berdarah. Karenanya dia bertanya, apakah bisa memeriksakan diri ke klinik tempat saya bekerja.
Sebagai seorang volunteer Rumah Asuh Kota Baubau, alarm saya berdentang, sepertinya empunya chat ini sangat butuh pendampingan kami saat ini.
Maka segera saya balas WA-nya, dan meminta dia datang agar bisa bercerita langsung ke saya. Kebetulan juga hari itu pasien nggak banyak, jadi saya masih bisa punya waktu sejenak untuk mendengarkan kekalutannya.
Mendengar jawaban saya, bukan main senangnya dia. Kami lalu janjian pukul 10, dan sekitar pukul 10.12 dia tiba di klinik dengan diantar oleh ojek online.
Saya lalu mempersilakan dia masuk ke klinik, dan memintanya bercerita tentang kejadian tersebut.
Cerita Mahasiswi Dirudapaksa Lelaki yang Baru Dikenal Dari Aplikasi Kencan Online OMI
"Jadi tadi malam saya ketemuan sama teman yang saya kenal di aplikasi OMI," perempuan muda dengan postur tubuh kecil itu memulai ceritanya, ketika sudah duduk tenang di depan saya.
Wajahnya yang masuk kategori cantik dan polos terlihat murung, dengan mata yang bersinar kuyu. Dia mengenakan baju putih dengan bawahan celana kulot berwarna krem, dan kerudung instan coklat menutup kepalanya.
Dia cenderung pendiam, saya harus intens bertanya untuk mengorek keterangan dengan ceritanya. Ceritanya pun terkesan tidak jelas.
Ceritanya dia (saya sebut aja namanya Mawar), diajak ketemuan seorang lelaki yang mengaku berusia 23 tahun yang sudah dia kenal selama 3 mingguan di aplikasi OMI.
Tujuan awalnya sih cuman iseng cari teman, dan ketika ketemu teman ngobrol tersebut, dia nurut aja saat diajak ketemuan.
Untungnya dia ketemuan di depan gang kos-nya, jadi tuh laki nggak tahu alamat kosnya.
Btw, si Mawar ini bukan penduduk kota Baubau, dia ngekos di sini karena sedang kuliah di salah satu kampus swasta di kota seribu benteng ini.
Si laki itu akhirnya datang menjemputnya dengan menggunakan mobil, sayangnya si Mawar cuman tahu jenis dan warna mobilnya.
Sama si laki, Mawar diajak keliling, sepertinya mereka naik ke Palagimata melewati SMK Negeri 2 Baubau, katanya dia sempat melihat patung naga, berarti dia melewati depan kantor walikota, bahkan di simpang lima.
Satu hal yang gemesin dari si Mawar, polosnya nggak kira-kira. Sudahlah dia baru ketemu dengan laki tersebut, naik mobil malam-malam, di bawah keliling-keliling, dan si Mawar ini ternyata sepertinya anak rumahan. Dia nggak tahu daerah-daerah di kota Baubau, dia bahkan nggak tahu ke daerah mana dia di bawah, astagfirullah gemes sekaligus geram banget.
Ketika tiba di tempat yang sepi dan gelap, tiba-tiba lelaki itu menghentikan mobilnya, lantas si Mawar disuruh tiduran di kursi mobil, dan si bejad itupun melakukan aksinya.
Menurut pengakuannya si Mawar awalnya melawan, tapi kalah kuat dengan tenaga si lelaki. Memang sih, tubuh si Mawar ini kecil, meskipun tingginya sekitar 160 cm. Sementara si lelaki bejad itu, berperawakan gendut, dengan wajah yang lebih tua dari usia 23 tahun seperti pengakuannya.
Dan begitulah, pada akhirnya si Mawar hanya bisa pasrah, selain nggak imbang tenaga, dia juga takut kalau dicelakai oleh lelaki tersebut. Karena memang lokasi mereka sepi dan gelap.
Setelahnya lelaki itu mengantar Mawar pulang ke kos.
Sesampainya di kos, Mawar jadi stres dan overthinking menyesali semuanya, takut hamil, takut ortunya tahu, takut juga kalau lelaki tersebut mencarinya lagi.
Sampai akhirnya dia curhat di ChatGPT dan menemukan kontak klinik tempat saya bekerja. Demikianlah ketika dia chat, eh kok berjodoh dengan saya yang memang jadi volunteer menangani masalah-masalah perempuan.
Jujur selama mendengarkan ceritanya, saya geram teramat sangat, pengen rasanya menjebloskan lelaki bejad tersebut ke penjara sambil sebelumnya menendang 'burung'nya, astagfirullah.
Pengen juga memaksa si Mawar untuk bisa melaporkan kasus tersebut ke kantor polisi dengan segera, karena kejadiannya baru semalam, harusnya sih masih banyak hal yang bisa didapatkan dari visum.
Sayangnya, sebagai volunteer Rumah Asuh, kami punya komitmen untuk lebih memberikan PFA atau Psychological First Aid atau pertolongan pertama psikologis klien. Jadi yang penting tuh kondisi psikologisnya klien bisa lebih tenang dulu.
Apalagi, masalahnya adalah si Mawar takut melapor ke polisi, takut nantinya ortunya tahu. Jadi yang dia inginkan hanyalah bagaimana caranya agar jangan sampai dia hamil.
Itu saja.
Astagfirullah, jujur sedih banget mendengarnya.
Baca juga: Pelecehan Seksual, Diintip Saat Mandi?
Lagi, Mahasiswi Di Baubau Dirudapaksa Lelaki yang Baru Dikenal Dari Aplikasi Kencan Online OMI
Btw, sebenarnya masalah pemerkosaan yang dialami mahasiswi dengan pelaku lelaki yang dikenal melalui aplikasi OMI ini, bukanlah yang pertama. Beberapa waktu lalu saya pernah membaca berita yang serupa.
Usia korban juga mirip, 19 tahun, dengan pelaku berusia 25 tahunan.
Lokasinya juga sama, di tempat sepi dan gelap di daerah bandara sana.
Itulah mengapa, jujur saya kepikiran banget dengan masalah si Mawar ini, pengen banget mengajak dia untuk segera dilaporkan. Karena hal ini bisa jadi akan terjadi lagi pada perempuan muda lainnya.
Kalau dilihat-lihat, korbannya mirip-mirip, para perempuan polos nan lugu yang mudah dimanipulasi dan dibohongi dengan anggapan 'dia lelaki baik'.
Karenanya, sepertinya akan menjadi tugas kita semua, juga pemerintah untuk lebih sering melakukan edukasi kepada semua remaja untuk berhati-hati dalam mencari teman baru melalui aplikasi kencan online, seperti OMI.
Dan juga menjadi masukan buat kami dan juga pemerintah, untuk bisa mengadakan kegiatan-kegiatan yang lebih positif buat banyak remaja, agar mereka punya kesibukan, dan nggak perlu harus cari teman di aplikasi seperti OMI.
Semoga ke depannya, perempuan-perempuan di Indonesia, khususnya di Baubau, bisa lebih terlindungi dari kasus-kasus kekerasan, terutama kekerasan seksual.
Baubau, 05-04-2026
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)