Sunday, May 08, 2016

[Cerpen] Istri Muda

Prasetyo Hardiano Binzah, seorang kontraktor dan pengusaha sukses di bidang property yang namanya sudah tak asing lagi di kalangan pembisnis-pembisnis property dikota metropolitan ini.

Dan kali ini mas Pras panggilan akrabnya, lagi-lagi memenangkan tender pembangunan gedung baru di salah satu kampus swasta di kota ini, saat dia datang untuk meninjau pengerjaan proyek itu, disitulah Prasetyo berkenalan dengan mahasiswi dikampus tersebut.

"Namaku Keisya..." Ucap gadis cantik nan sangat sexy ini, sambil mengedipkan matanya dengan menatapnya manja sembari menggigit bibirnya sendiri yang membuat Prasetyo langsung terpikat hati sejak pandangannya pertama kali.

Keisya namanya gadis terpopuler dikampus itu, wajahnya yang sangat cantik, rambutnya yang terurai sebahu, tatapan matanya yang menggoda dan body mulusnya yang mempesona, juga tato abstrak berwarna hitam-merah yang terlukis di pinggulnya yang selalu mengintip dari sela-sela kaos cingkrang yang selalu dipakainya, membuat hampir semua mahasiswa di kampus itu tergoda, bahkan banyak diantara mereka yang tergila-gila padanya, tak terkecuali Prasetyo.

Tapi sayangnya Keisya bukan gadis kelas ecek-ecek, dia seperti artis papan atas yang tak mau dipacari oleh cowok-cowok berkantong cekak, dia lebih memilih om-om pejabat atau pengusaha-pengusaha yang sudah benar-benar sukses. Bahkan seorang sekelas Prasetyo pun belum masuk kriteria levelnya.

Hal inilah yang membuat Prasetyo makin tergila-gila padanya, makin mengejarnya. Padahal biasanya Prasetyo lah yang sering dikejar-kejar gadis disekitarnya. Bagaimapun Prasetyo adalah sosok yang tampan, dengan perawakan tinggi proposional, dengan rambut cepaknya yang terkesan makin bersih, apalagi dengan kekayaannya yang cukup melimpah diusianya yang masih muda, tak heran banyak wanita yang jatuh hati padanya.

Tetapi kali ini mas Pras harus bertekuk lutut pada gadis yang baru saja dikenalnya. Mempersembahkan seluruh hati dan cintanya.

"Keisya, aku sangat mencintaimu... Pliss mengertilah perasaanku ini, aku sangat membutuhkanmu..." Rayu mas Pras sambil berteriak didepan kost Keisya. Tapi Kaisya tetap melangkah cepat meninggalkannya memasuki rumah yang ia sewa didekat kampus itu.

"Keisya...!!!" Teriaknya lagi. 
Akhirnya Keisya berhenti dan kembali melangkah ke arah Prasetyo.

"Hey mas, aku tak percaya apa yang semua mas Pras ucapkan itu... Selama ini banyak kok orang seperti mas Pras ini, tapi ujung-ujungnya ternyata cowok pelit dan kere..." Ucap Keisya tanpa basa basi sambil jemarinya memainkan rambutnya yang terkesan menyeplekan ucapan Prasetyo.

"Jadi apa maksudmu Keisya...???" Tanya Prasetyo terheran.
"Iyaa mereka semua kere, gak bisa memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan hidupku yang gak murah ini... Ingat mas, di dunia ini gak ada yang gratis, semua pakai uang... Dan perlu mas Pras tau, aku lebih suka sama pejabat-pejabat yang royal...
Hhmm... Bagi aku mereka lebih menggoda... Dari pada cowok keren tapi kere..." Jelasnya.
"Lagian aku tau kok, mas Pras sudah berkeluarga juga, sama seperti om-om yang biasa mengajakku berkencan, tapi bedanya mereka berani membayarku mahal..." Imbuhnya.
Mas Pras sedikit tercengangang, terdiam sesaat.

"Ooo,,, jadi itu yang kamu pikirkan... Seperti yang orang-orang tau, uang bagiku tak ada artinya... Bahkan aku jauh lebih royal dari pejabat-pejabat itu, asal kamu mau, aku bisa berikan apa yang kamu ingankan Keisya..." Ucap mas Pras sambil menyentuh dagu Keisya dan mendekatkan wajahnya di wajah Keisya dengan senyum khasnya yang mengisaratkan ia siap memenuhi semua keinginan Keisya.

"Ini baru cowok yang gue cari..." Ucap Keisya dalam hati berbunga-bunga. Dengan mata yang berbinar-binar dan bibir yang makin menggoda.
"Oke dehh kalo begitu, ayuukk kita masuk mas, kita nikmati malam ini penuh kehangatan..." Ucap Keisya penuh manja dengan senyum yang menggoda sambil menarik dasi mas Pras menggiringnya masuk ke kost'an nya.

Malam itu menjadi awal dari cerita cinta terlarang, seorang gadis liar bertemu dengan laki-laki flamboyan. Permainannya yang agresif membuat Prastyo makin membara terbelenggu dalam dekapan eksotisme Keisya.
***

Butuh uang tambahan? KLIK DI SINI

Cerita percintaan itu terus berlanjut. Hingga disuatu hari, setelah mereka selesai bercinta.

"Mas Pras, sebenarnya aku udah gak betah tinggal disini... Aku pingin tinggal ditempat yang lebih nyaman..." Ucap Keisya penuh manja yang masih dalam pelukan Prasetyo setelah selesai memadukan kisah cinta terlarangnya.

"Hmmm... Baiklah, nanti aku cariin apartemen yang mewah sepesial buat kamu yang paling cantik..." Jawab Prasetyo santai sambil menyolek hidung Keisya dengan jari telunjuknya, lalu mendekap erat tubuh mulusnya yang masih tanpa busana.

Prasetyo adalah sosok laki-laki yang flamboyan, walaupun mempunyai hubungan gelap dengan banyak perempuan diluar, tetapi dia tetap bisa menyembunyikannya dari sang istri.

Sebagai sosok pengusaha sukses, segala macam kehidupan malam pernah dia coba, dan baginya kehidupan ini adalah suatu kesenangan dunia yang tiada batas.

Tapi dari itu semua, hanya Keisya lah yang mampu membuat dia bertekuk lutut, semua permintaannya tak mampu dia tolak, perhiasan, apartemen, mobil mewah, kucuran dana setiap minggunya mencapai puluhan juta dan masih banyak lagi, karena baginya, tidak ada yang lebih bisa memberikan kepuasan batinnya selain cinta dari Keisya.
***



Waktu berjalan begitu cepat, satu tahun telah berlalu. Keadaan telah banyak berubah, Prasetyo yang terkenal sangat cerdas sekarang tak ubahnya seperti kerbau yang dicocol hidungnya.
Dia sudah tak sedinamis sebelumnya, langkahnya dikendalikan oleh cinta yang membutakan matanya.

Pandangannya tak lagi tajam kedepan, hanya mampu sebatas paha dan selakangan.
Jarinya tak mampu lagi menunjuk tegas arah bisnisnya, tetapi hanya mampu sebatas merada dada dan puting-puting payudara.

Bibirnya tak mampu lagi berbicara indah saat presentasi didepan kliennya, kini bibirnya hanya bisa untuk melumat bibir-bibir sexy yang merah merona.

Dia terkungkung oleh nafsu dunia yang menyesatkan. Kini bisnisnya hancur berantakan, proyek-proyek yang dikerjakannya tak lagi menghasilkan seperti yang diharapkan para kliennya, tender-tender yang biasa dimenangkannya kini harus rela berpindah ke tangan perusahaan-perusahaan pesaingnya. Dan akhirnya kini perusahaannya dinyatakan pailit.
***

"Keisya, akhir bulan ini apartemen yang kita tinggali ini sewanya akan habis, aku tak mampu lagi memperpanjang sewanya... Dan sekarang kamu bebas, aku gak akan cemburu kamu akan bergaul dengan siapa, silahkan om-om mana yang akan kamu dekati, aku janji gak akan melarangmu lagi..." Ucap Prasetyo dengan wajah yang tertunduk tak mampu lagi menatap mata Keisya.

"Kenapa mas, apa mas Pras sudah gak cinta lagi sama aku...???" Tanya Keisya terkejut.

"Gak Keisya, sampai saat ini aku tetap cinta sama kamu, tapi keadaannya sekarang sudah berubah, perusahaanku telah pailit Keisya, aku sudah tak punya apa-apa lagi, jangankan untuk memenuhi kebutuhanmu, untuk keluargaku sendiri aku sudah tak sanggup..." Jawab Prasetyo dengan nada lemah.

"Apa mas...???" Ucap Keisya tak percaya. Semberi meletakkan bokongnya dikasur empuk di apartemen itu, menggigit jarinya dengan lemas. Sementara Prasetyo tetap berdiri lemah di hadapannya.

Sejenak semua terdiam, bibir-bibir mereka seolah kelu membeku, kamar mewah yang biasanya diisi gairah-gairah liar, kini dingin bak di kutup utara.

"Yaa,,, aku sudah tak punya apa-apa, sekarang aku izinkan kamu mencari laki-laki lain yang lebih kaya, yang mampu memenuhi semua keinginanmu..." Ucap Prasetyo sembari melangkah lesu meninggalkan kamar apartemen itu.
***

"Aku minta cerai, ternyata kepercayaanku selama ini mas sia-siakan... Ternyata kamu punya istri lagi diluar sana, aku gak nyangka mas...!!!" Bentak Melly istri Prasetyo setelah mengetahui bahwa suaminya telah nikah sirih dengan Keisya.

Istri yang selama ini tulus menemaninya, istri yang selama ini penurut kini berubah seperti api yang berkobar yang sukar dipadamkan.

"Mell maafin aku Mell... Aku menyesal... Maafin aku Mell..." Prasetyo menangis tersedu-sedu,bersimpuh dihadapan istrinya.

"Wanita mana mas yang sanggup dimadu, diduakan cintanya... Apalagi sekarang bisnismu hancur karena pelacur itu... Apa yang bisa kamu banggakan lagi mas...???" ucapnya lagi.

"Braakk!!!" Mely membanting pintu rumah dengan membawa koper dan barang-barangnya. Wanita yang telah 3 tahun lamanya menjalani mahligai rumah tangga, kini harus pergi meninggalkan dirinya yang telah menghianati cintanya.

Prasyetyo tersungkur dalam kehancurannya, seakan kakinya lemah tak mampu lagi mengejar langkah istrinya yang pergi meninggalkannya...

"Melly,,, jangan tinggalin aku...." teriak Prasetyo lirih yang diiringi air matanya yang tak mampu terbendung lagi.

Penyesalan yang datang diakhir cerita adalah hal yang sering terjadi. Padahal kasih sayang seorang istri yang tulus dalam menemani perjalanan hidup kita adalah sesuatu hal yang sangat berharga, yang seharusnya kita jaga. Namun bagi sebagian laki-laki kadang hal itu tak pernah terlihat, karena mata kita telah tertutup oleh gemerlap dunia, namun saat kegagalan menjegal langkah kita, barulah kita tersadar bahwa kita telah menyia-nyiakan istri yang selalu setia memeluk kita.
***

Yaa, ini adalah akhir dari kisah cinta yang dialami Prasetyo, penyesalan menghantui hari-harinya adalah buah dari apa yang ia lakukan sebelumnya.

Ditengah kehancurannya, dia harus kehilangan istri dan juga harus rela melepas istri sirihnya Keisya. Wanita yang mampu membangkitkan gairah cintanya nampun juga yang telah menghancurkan pundi-pundi kehidupannya.

"Aku tak bisa menyalahkan istriku yang pergi meninggalkan aku, karena aku telah menghianatinya dengan kebodohanku... 

Aku juga tak bisa menyalahkan Keisya, karena bagaimanapun juga diantara kami tak ada ikatan cinta yang tulus, Keisya mau denganku hanya karena uangku, saat aku tak memiliki apa-apa lagi sudah sepantasnya dia juga pergi..." Ucap hati Prasetyo.

Pergolakan batinnya kian menjadi-jadi, penyesalan dan kesedihan mampu membuat Prasetyo makin terpuruk kedalam lembah kehancuran yang makin dalam.

Sudah hampir seminggu Prasetyo tak keluar rumah, dia hanya mengurung diri dikamarnya, bahkan dia sering melupakan rasa lapar yang menggerus perutnya. Hari-harinya diisi dengan lamunan-lamunan semu, sesekali merintih memanggil istrinya.

"Melly... Maafkan aku..." Ucap bibirnya lirih penuh lara.

Yaa, nama Melly lah yang sering iya panggil dalam lamunannya, merebahkan tubuhnya diatas kasur dengan memeluk guling yang mengingatkan ia pada sang istri tercinta. Di tempat tidur itulah dia biasa menghabiskan hari-harinya dulu bersama istrinya setelah pulang bekerja, canda tawa yang dulu dirasakan kini sirna entah kemana.

"Melly,,, kamu dimana sayang, aku merindukanmu disini... Aku butuh kamu disaat-saat seperti ini... Melly, pliisss temui aku lagii..." Ucap bibir Prasetyo seperti orang gila, berbicara sendiri bersama kesendiriannya.

Prasetyo masih tetap berharap Melly kembali dalam pelukannya, selalu memanggil namanya disela-sela lamunannya. Walau semua itu terasa sia-sia.
***

Bosan Bokek Melulu? KLIK DI SINI

Setelah sekian lama hanya terebah ditempat tidur, Prasetyo mulai bangkit dari kasur empuknya, mencoba berdiri dengan tubuh yang lemah dan makin rapuh, karena sudah sekian lama dia tak pernah menghirup udara diluar rumah.

Bergegas bangun dari tempat tidur, Kakinya mulai memijak lantai kamar yang berdebu tak seperti dulu yang selalu bersih, teringat mbok Rasmi yang selalu setia membersihkan disetiap jengkal sudut rumahnya. Tapi mbok Rasmi sudah tak disini teringat saat dia berbincang untuk terakhir kalinya.

"Mbok,,, mulai sekarang mbok boleh mencari pekerjaan lain, mbok boleh ninggalin aku sendiri disini..." Ucapnya penuh keputus-asaan.

"Tapi Den, mbok masih betah disini menemani Aden..." Jawab mbok Rasmi. 

"Aku sudah tak punya apa-apa lagi mbok, mbok harus mencari orang lain yang bisa memberikan penghasilan pada mbok Rasmi, karena aku tau keluarga mbok di kampung masih membutuhkan kiriman dari mbok Rasmi..." 
Ucap Prasetyo menjelaskan.

Hari itu adalah hari terakhir mbak Rasmi tinggal di rumah ini, membuat kesendirian Prasetyo makin terasa sendiri. Membuat debu-debu bersuka cita datang berbondong-bondong memenuhi semua sudut ruangan di rumah ini.

Prasetyo mulai berjalan meninggalkan tempat tidurnya membuka pintu kamar mandi dengan pelannya, mendekatlah dia di depan cermin yang tertempel di dinding. 

Sejenak dia mulai termenung didepan cermin itu, menatap wajahnya yang tak sebersih dulu, wajahnya mulai tumbuh rambut-rambut halus disekitar bibir dan pipi bawahnya. Yaa,,, Kumis, bewok, jambangnya mulai tumbuh tak beraturan. Dia teringat dulu yang selalu rajin mencukur kumis dan jenggotnya di kamar mandi hotel. 

Dia melihat wajahnya persis seperti dalam iklan pisau pencukur rambut di televisi. Setelah keluar dari kamar mandi, kehadirannya pasti disambut gadis cantik yang sudah siap diatas kasur dengan seprey putih dengan tubuh bugil nan molek yang hanya tertutup selimut putih khas hotel berbintang. Yang akan mengantarkannya dalam kepuasan birahi yang memuncak.

Tapi kini, setelah keluar dari kamar mandi hanya bantal guling yang bisu yang selalu setia menunggunya diatas kasur itu.

Prasetyo melanjutkan langkahnya, membuka pintu kamar pelan tak bertenaga, menuju dapurnya yang kotor tak terurus lagi, dia mulai memanaskan air dan menyeduh kopi sendiri. 

Teringat dahulu saat-saat berada dipuncak kesuksesan, saat pelayan cafe kelas atas membuatkan kopi spesial untuk dia dan rekan-rekan bisnisnya, diiringi musik jaz yang sayu-sayu yang mengiringi perbincangan membicarakan proyek-proyek besar dengan omset milyaran.

Tapi kini dia harus menyeduh secangkir kopi sendiri, membawanya ke teras depan rumahnya dengan tangannya sendiri.

Di teras depan rumahnya Prasetyo duduk menyandarkan tubuhnya di kursi sandar yang terbuat dari rotan di depan rumahnya. Teringat dahulu saat dia duduk disofa empuk di ruang karaoke dengan ditemani pemandu lagu yang tubuhnya syarat terbuka penuh nafsu yang menggoda hasratnya yang mencumbu. Bahkan sering lantunan lagunya terlupakan karena berdurunya lumatan bibir gadis-gadis pemandu lagu yang tanpa jeda melumat bibirnya penuh nafsu.

Tapi kali ini dia hanya sendiri di kursi rotan dengan bersandar dan menerawang pada masa-masa itu. Yang membuat dia merasa sendiri makin sendiri.

Hanya secangkir kopi dan sebatang rokok yang menemaninya saat ini.
Setelah sebatang rokok menempel di bibirnya, dipantiknya korek api untuk menyalakan rokok kesukaannya. Teringat dulu saat dia tak pernah menyalakan rokoknya sendiri, karena pasti ada gadis-gadis clubing yang selalu menyalakan korek api untuknya, dan lalu mengajaknya bergoyang turun melantai dihiasi sinar gemerlap di kegelapan, diiringi suara musik disko yang dimainkan oleh DJ kenamaan, bahkan tak jarang DJ memutarkan lagu khusus untuknya karena bagi sebagian orang yang ada di sana, nama Prasetyo Hardiano Binzah sudah tak asing lagi bagi mereka. 

Uang jutaan rupiah sudah biasa dihabiskan dalam semalam, baginya kesenangan adalah segalanya.

Yaa,,, lagi-lagi dia dihadapkan kenyataan yang pahit, sekarang tak ada lagi lampu gemerlapan yang menyilaukan itu, yang ada sekarang hanya secercah sinar matahari yang menembus dari sela-sela dedaunan dari pohon rimbun yang tumbuh didepan rumahnya.

Jangankan gadis-gadis cantik, teman-temannya dulu yang selalu mengajaknya berpesta pun kini entah kemana, handpone yang dulu sering berdering kini berubah membisu tanpa suara bagai sebatang batu bata yang siap tersusun menjadi dinding-dinding penjara yang siap mengurungnya, tak ada yang menghubunginya, tak ada yang memperdulikannya.

"Kini aku bukan siapa-siapa lagi, tak ada yang mau menemaniku apalagi peduli, aku bagai seonggok tubuh mati yang bernyawa... 

Yaa,,, seonggok tubuh mati yang masih bernyawa..." Ucapnya dalam hati.

"Aku benar-benar rapuh saat ini, aku merasa tak pernah seputus-asa ini..." Ucapnya lagi.
Disela-sela kegalauannya, disela-sela keputusasaannya di teringat satu hal, pada Dia yang tak pernah meninggalkannya walau dirinya selalu meninggalkannya... 

Pada Dia yang tak pernah melupakannya walau dirinya sering melupakannya... 
Yaa,,, Dia adalah sang pencipta alam semesta, Tuhan yang selalu memberi anugerah pada setiap hambanya. Tuhan yang maha Pengasih lagi maha Penyayang...

Seketika hatinya terenyuh, dia tak mampu membendung air mata penyesalannya lagi, lalu sekuat tenaga ia segera bangkit dari tempat duduk, bergegas pergi mendekat keran air yang ada di belakang rumahnya, dibasuhnya muka lengan dan bagian-bagian tubuhnya seperti yang disyaratkan dalam berwudhu, air yang membasahi kulitnya sangat terasa menyegarkan, menyejukkan dan memadamkan dari bara api yang selama ini membakar jiwanya. Diambilnya sarung dan sajadah yang entah kapan terakhir kali dipakainya.

Dalam sujudnya dia meletakkan seluruh hiruk-pikuk beban hidupnya, dalam tangan yang menengadah dan memanjatkan do'a-do'a seakan semangatnya terisi kembali seperti handpone yang tercolok dengan charger untuk mengisi batre yang telah lama habis.

Batinnya kembali tenang, udara segar yang mengalir melewati celah-celah fentilasi yang begitu kecilpun seakan terasa mampu menyegarkan paru-parunya.
Tubuhnya yang masih terbungkus sarung dan baju koko, tak terasa terebah dan terlelap diatas sajadah halusnya.

Dalam lelap tidurnya karena terlepas beban hidup yang membelenggu selama ini, tiba-tiba handpone-nya berbinyi "tluutt,,,Tluutt..." Dua kali dentingan handpone-nya mampu membuatnya terjaga dari tidur pulasnya.

Setelah diambilnya handpone itu, ternyata ada satu sms yang meminta untuk segera dibaca...
"Mas aku ada didepan rumah, tolong buka pintunya..." Sms dari wanita yang selama ini dikenalnya membuat Prasetyo langsung bergegas bangkit dari tidurnya, melangkah dengan semangat menuju pintu didepan rumah.

Mungkin inilah jawaban dari do'a yang ia panjatkan, seorang wanita yang dirindukannya kembali, yang akan mengobati kerinduan hatinya, menjadi penawar sakitnya.

Setelah dibukanya pintu itu, dihadapannya telah berdiri sosok wanita pujaan hatinya dulu, wanita yang menemaninya selama ini.

Seketika bibirnya tersenyum bahagia setelah melihat wanita itu berdiri tepat didepannya. Tak lama wanita itu langsung memeluk tubuh Prasetyo yang mulai kurus dan lemah.

"Maafin aku mas Pras, aku janji gak akan ninggalin kamu lagi..." Ucap wanita itu sambil mendekap erat tubuh Prasetyo.

Bibir Prasetyo tak mampu berucap apa-apa lagi, air matanya meleleh tak terasa, membanjiri kering batinnya yang tersiksa, dia hanya mampu memeluk erat tubuh pujaan hatinya.

Setelah berapa lama, wanita itu melepaskan pelukannya, dan memandangi wajah Prasetyo yang mulai lusuh penuh rambut-rambut halus yang memenuhi sebagian wajahnya.

"Kamu tetap ganteng mas, meski bewokan seperti itu..." Ucap wanita itu sambil tersenyum yang makin merekah, yang membuat hati Prasetyo makin berbunga-bunga.

Merekapun saling menatap begitu dalam dan lama, melepas kerinduan ini yang sekian lama terpisah.
"Keisya,,, akhirnya aku bisa memelukmu lagi hari ini... Aku sangat merindukanmu Keisya..." Bibir Pras berucap lirih. Yang diikuti anggukan Keisya yang mengisyaratkan ia mengerti apa yang dialami Prasetyo saat ini.

"Karena itulah mas aku datang kesini, aku tau kini kamu dalam keterpurukan, sementara istrimu pergi meninggalkanmu, jadi aku ingin menemanimu dan tak akan membiarkanmu dalam kesendirian mas..." Ucap Keisa sambil memeluk tubuhnya lagi.

"Ta'tapi aku sudah tak punya apa-apa lagi Kei..." Ucap Pras sambil ternbata-bata.

"Iya mas aku tau, tapi aku sekarang sadar, bahwa aku lebih membutuhkan cintamu dari pada hartamu... 
Aku sadar bahwa hanya mas Pras lah yang mampu membuat hatiku bahagia, yang bisa membuatku benar-benar merasa nyaman... 
Aku tak peduli lagi atas kemewahan dunia, hidup bersamamu lah yang mampu membuatku bahagia mas..." Ucap Keisa penuh cinta.

"Seperti yang mas Pras selalu ucakan padaku, Bahwa hidup itu harus tetap optimist, harus tetap semangat apapun keadaannya...
Seperti yang mas Pras sering ucapkan, Jika aku menemukan mas Pras dalam keputus-asaan berarti itu bukan mas Pras... 
Dan aku ingin orang yang ada dihadapanku ini adalah mas Pras, Prasetyo Hardiano Binzah...
Dengan embel-embel nama Binzah dibelakang nama lengkapmu, yang menandakan bahwa kamu adalah terlahir dari generasi Binzah yang terkenal ulet dan pantang menyerah itu... 
Seperti yang mas Pras bilang, mas Pras adalah penemerus dari klan Binzah yang kuat, kamu harus seperti ayahmu atau kakek-kakekmu dulu... 
Kuat, pemberani dan ulet... 
Dan kamu adalah mas Prasku yang dulu, yang penuh gairah hidup... 
Dan lagi umur mas Pras baru 33 tahun, itu artinya jalan kita masih panjang mas, kita pasti bisa melalui ini semua..." Ucap Keisa memberi semangat sembari meletakkan kedua tangannya di pipi Prasetyo. 

Mengelus-elus kumis, jambang dan bewoknya yang mulai tumbuh dipipi bagian bawahnya.
Dan bagi Prasetyo, sentuhan itulah yang mampu menenangkan hatinya.

"Kalo mas gak percaya, aku rela kok hidup sederhana, aku akan jual mobil pemberianmu, mungkin kita bisa jual rumah ini dan membeli rumah yang mungil yang sederhana untuk merajut lagi kehidupan kita mas... 
Aku ingin menjadi istrimu yang sah, aku ingin melahirkan anak dari benihmu mas, benih dari klan Binzah, yang kelak akan menjadi generasi-generasi pengusaha yang hebat dinegeri ini..." Imbuh Keisya meyakinkan Prasetyo.

Seketika Prasetyo memeluk tubuh Keisya dengan erat.
***

Akhirnya mereka memulai lagi awal dari cerita yang sesungguhnya, cerita dari ketulusan cinta, bukan cinta karena harta. Dalam dunia ini, semua bisa saja terjadi, semua bisa saja berubah. Dan manusia-manusia yang mau berubahlah mereka yang mampu memenangkan pergulatan hidup ini, yang mampu menemukan kebahagiaan yang sejati...

Semoga cerita ini mampu memberi inspirasi bagi kita semua...


================SEKIAN===============


Dari https://ahmadpajalibinzah.blogspot.co.id/2015/08/cerpen-istri-muda.html?showComment=1462694387300#c2098129005022073672

No comments:

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...