Tuesday, October 17, 2017

Cerita Melahirkan Secara Sesar Untuk Kedua Kalinya



Assalamu'alaikum....

kemarin adalah tepat 2 minggu saya post caesar.
Dan mumpung si kecil mungilku bobo, saya ingin melanjutkan tinggalkan jejak cerita kehadiran si mungil kami, si adek Dean :D
Sebelum ingatan segar saya tergerus virus lupa bin pikun hehehe

Sebelumnya, persalinan saya kali ini beda banget dengan yang pertama meskipun sama-sama melalui operasi caesar.
Namun yang pertama dulu, operasinya mendadak atau lebih tepatnya di paksa operasi T____T

Baca : Ketika Kau Benar-Benar Hadir

Kali ini kami (saya dan suami) memilih persalinan melalui sesar terencana.
Sebenarnya sih, Alhamdulillah keadaan kandungan saya sudah baik - baik saja menjelang HPL nya.
Indikasi yang mengharuskan sesar pada awal-awal kehamilan seperti placenta previa dan beragam masalah lainnya Alhamdulillah sudah membaik.

Baca : #ReyStory : Usia Kehamilan 17 - 20 Minggu, PLASENTA PREVIA

Placentanya sudah naik menjauhi jalan lahir, dan lebih kerennya lagi, posisi janin sudah dengan manis menempatkan kepalanya di jalan lahir sejak masuk trisemester ketiga.

Menurut dokter kandungan saya, dr Dharma Banjarnahor, SP.OG, insha Allah saya bisa lahiran normal asal kuat hahaha..
Namun kalau merasa gak kuat mending sesar saja, toh sama saja sakitnya kata si dokter (eta si dokter, kayak udah pernah rasain sakitnya melahirkan saja hahaha)

Awalnya sih saya tertarik ingin merasakan gimana sih rasanya melahirkan normal itu?
Secara, meskipun sudah hamil yang kedua kalinya, saya belum pernah sama sekali merasakan dramanya sakit mules - mules pembukaan.
Bahkan saya sama sekali gak tau pembukaan itu gimana sih? hahahaha..

Sahabat - sahabat dunia maya saya juga menyemangati untuk mencoba lahiran normal, sehingga terpikirlah untuk lahiran normal saja.

Namun sayang di sayang, ada beberapa masalah yang bikin saya membatalkan rencana persalinan normal.
Yang pertama adalah karena Darrell yang sudah masuk SD gak ada yang jagain di rumah, saya jadi kepikiran, gimana kalau saya tiba - tiba mules dan langsung ke RS sedang Darrell masih di sekolah?
Bisa - bisa dia pulang sampai rumah gak ada orang dan dia kayak anak ayam kehilangan induk mencari saya hiks,....

Yang kedua adalah RSnya jauh, mengapa memilih RS jauh tersebut?

Baca : Review Pengalaman Melahirkan Sesar Di RSUD Dr. M. Soewandhie


Yang ketiga adalah karena saya cemen, cengeng dan penakut hahaha..
Secara... si dokter bilang kalau saya harus kuat nahan sakitnya, kalau gak kuat harus segera di sesar, soalnya saya bekas sesar sebelumnya, jadi gak bisa di kasih tindakan bantuan apapun yang ditakutkan malah membuat bekas jahitan sesar terdahulu sobek..
Hadeehhhhh... langsung lemes persendian mendengarnya hiks T______T

Karena banyaknya pertimbangan tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk menjalani sesar terencana saja, dan Alhamdulillah bisa lancar dengan bantuan sang dokter.

Akhirnya, setelah yakin akan hal tersebut, kamipun berdiskusi dengan dokter Dharma tentang waktu pelaksanaan sesar tersebut, kami akhirnya memilih tanggal 2 Oktober 2017, mengingat saat itu kandungan saya sudah pas masuk ke 38 minggu, dan tanggal segitu jatuh di hari Senin yang mana hari Senin adalah jadwal dokter Dharma di kamar persalinan caesar.

Setelah waktu persalinan di tentukan, saya pun bisa mempersiapkan semuanya.
Darrell terpaksa saya izinkan dari sekolahnya karena gak ada yang bisa nemanin dia di rumah, sehingga harus ikut ke RS.
Perlengkapanpun disiapkan, karena kami bertiga harus nginap di RS selama berhari-hari, jadilah kami bagaikan hendak berlibur bawaannya hahaha..

Kami membawa 1 tas sedang berisi perlengkapan bayi, dan 1 koper besar berisi perlengkapan saya, suami dan Darrell selama di RS (berasa akan liburan kan?? mana ada cobaaaaa yang mau ngamar di RS bawa koper besar? hahaha)
Belum lagi di tambah bawaan bantal, guling, 2 boneka Darrell, bed cover, selimut, sendok, gelas, sedotan minum, perlengkapan mandi, tisue segepok, raket nyamuk, dan lain sebagainya (Kasian si suami di liatin satpam sampai bengong saat ngangkutin semua barang tersebut ke kamar rawat inap saya hahahaha)

Tidak lupa saya mempersiapkan dan membawa berkas-berkas penting yang akan di gunakan (saya menggunakan BPJS meskipun di upgrade naik kelas VIP)
Ada beberapa copyan Kartu keluarga, Surat nikah, KTP suami istri, kartu BPJS dan KIS, surat rujukan dari faskes 1, nama bayi dan buku KIA.
Tidak lupa pula membawa file aslinya agar sewaktu-waktu diperlukan langsung ada.
Karena persiapan tersebut, kami tidak kelimpungan ke sana ke mari mengumpulkan data atau mencari tempat fotocopy, Alhamdulillah..

Minggu, 01 Oktober 2017

Kami bangun dinihari seperti biasa, beres-beres rumah, persiapan karena akan di tinggal selama beberapa hari, kami mandi lalu siap berangkat ke RS di pukul 07.30
Kami mampir sejenak di beberapa toko roti, karena perut minta diisi sesuatu.
Awalnya mampir di toko Kampoeng Roti di Sepanjang, namun karena stock roti baru belum datang, kamipun mampir di Larisa jalan Biliton serta Holland di Kertajaya.

Tak lupa mampir sejenak di rumah ibu mertua meminta doa restu beliau, ibu gak bisa jalan karena baru saja menjalani operasi tulang kakinya yang retak karena jatuh.

Setelah itu kami mampir sarapan di McD Kertajaya.

Pukul 09.45 kami sampai di RSUD Soewandie, langsung menuju meja admisi untuk daftar setelah sempat di pelototin satpamnya (hari libur penjagaannya jauh lebih ketat) setelah saya menjelaskan kalau mau daftar di admisi, si satpampun menyilahkan kami masuk sambil tetep nanya meyakinkan
"Mau lahiran sesar ya mbak?"
Mungkin si satpam bingung, kok bisa bumil mau lahiran tapi masih bisa jalan sendiri sambil senyum-senyum pula.. hahaha

Setelah beres urusan pendaftaran, kamipun di antar oleh seorang petugasnya ke ruangan kami yang terletak di lantai 3 ruang Edelweis.

Sesampainya, saya di minta data oleh seorang bidan yang bertugas, setelah lengkap kami di minta menuju lab untuk cek darah seperti permintaan dokter Dharma.
Dengan sedikit bingung saya pun menuju lab yang di maksud (bingung karena bukannya pasien yang rawat inap tuh di datangin ke kamarnya untuk ambil darah? bukannya jalan sendiri ke lab?)
Dan ternyata benar, oleh petugas lab kami di minta tunggu di kamar saja, akan ada petugas yang datang mengambil darah di kamar saya.

Ternyata maksud si bidan agar saya mendatangi lab nya adalah biar hasilnya segera di dapat dan di laporkan ke dokter Dharma, mengingat kalau menunggu petugas lab bakalan lama di prosesnya.

Si bidan akhirnya ngalah dan meminta saya masuk kamar untuk di lakukan beberapa pemeriksaan, salah satunya ambil sampel urin, ambil darah (akhirnya si bidan ngalah dan inisiatif ngambilin sample sendiri hahaha), ukur tekanan darah saya, ukur detak jantung janin dan rekam jantung juga sertaaaaa pemeriksaan dalam.

Daann belum sejam saya di kamar, sudah heboh gegara perkara ambil darah serta pemeriksaan dalam oleh sang bidan.
Sumpaaahh, udah 2 kali hamil, tapi baru kali itu saya di periksa dalam, langsung kebayang kalau lahiran normal bakalan berkali-kali di periksa dalam, huwaaaaa... padahal sekali aja, lumayan sakit hiks T_____T


Setelah semua selesai, kamipun bisa leyeh - leyeh di kamar, sampai akhirnya malampun tiba, lalu muncul seorang petugas baru yang mengatakan akan mengambil darah lagi karena ada satu test yang terlupakan.
YA AMPUUUNNNNN.... -___________-

Seperti biasa, sayapun mencak-mencak heboh sendiri, ketakutan sendiri, sampai akhirnya si petugas manggil seniornya yang ternyata juga sama gak bisa nyari pembuluh darah saya, hiks..
Daaann akhirnya sample darah berhasil di dapatkan setelah menusuk di 3 tempat berbeda dan meninggalkan rasa perih yang lumayan hiks...

Setelah itu, Alhamdulillah penderitaan tusuk - menusuk berakhir, si petugasnya melakukan cek tekanan darah di pukul 21.00 dan mengingatkan agar saya harus segera puasa gak boleh makan sejak pukul 22.00 dan gak boleh minum sejak pukul 00.00

Saya pun lalu tertidur (meskipun gak tenang, karena kepikiran jarum suntik pasang infus dan pisau bedah hiks)
Sedang si suami dan Darrell tertidur sambil menggigil (ACnya dingiiiinnn banget plus mengarah langsung ke sofa bed penunggu pasien)
Ada gunanya juga saya menyiapkan bed cover dan selimut di RS :D

It's The Day... Senin, 02 Oktober 2017

Saya terbangun seperti biasa di pukul 04.00, langsung sholat Subuh dan sesuai perintah bidan, sayapun mandi keramas menggunakan sabun khusus dari RS di pagi buta tersebut (untuuuungnya ada air panas di KMnya, bayangin kalau enggak, bisa mati menggigil saya hahahaha)

Setelah mandi dan keramas, saya lalu mengenakan pakaian operasi berwarna biru muda yang aduhai ternyata ukurannya mini banget hehehe..
Setelah itu saya berbaring menanti para petugas dengan manis :D
Sekitar pukul 05.15 seorang petugas datang mengecek tekanan darah saya, Alhamdulillah naik dikit hahaha (stres membayangkan pisau bedah hiks)
Setelah itu the big momen pertama datang.... PASANG INFUS!!!
Jarumnya ampuuunnn gede banget huwaaa.... dan abis di pasang (dipasangnya ternyata gak terlalu sakit hehehe) tampaknya malah makin ngeri dan serem gegara di kasih perekat tembus pandang.
Terlihat jelas deh jarum di dalam kulit saya hiks.. (saya memang lebay wkwkwkw)

Setelah pasang infus, baru deh terasa aura pasiennya, saya langsung down dong, jadi merasa berat ngapa-ngapain, mungkin karena tangan gak bebas seperti tanpa infus.
Sekitar pukul 06.30 seseorang datang menanyakan keadaan saya, berbasa-basi sejenak lalu pergi (enggak tau deh siapa tuh ibu, mungkin semacam humas atau apa gitu di RS).
Pukul 07.00 seorang dokter cantik mendatangi saya dan menanyakan apakah siap di operasi? dengan sedikit linglung saya menjawab siap (bingung soalnya saya hanya mau di operasi oleh dokter Dharma, kenapa malah si dokter itu yang heboh? -______- )

Pukul 08.00 akhirnya sampai juga waktunya, seorang petugas dengan senyum ramah meminta saya untuk bersama dia menuju ruang operasi, sayapun di minta naik kekursi roda dengan pakaian minim tersebut hiks..
Beruntung si petugas paham saya berjilbab, jadinya di berikan penutup selimut di bagian paha

Saya lupa tepatnya, tapi kalau gak salah ruang operasinya berada di lantai 3, sesampai di ruangan tersebut si papi dan Darrell udah gak boleh masuk, sayapun berpamitan lalu masuk bersama si mbak petugas tersebut.
Ternyata di dalam masih ada ruang tunggu operasi, ada beberapa ranjang yang berisi pasien - pasien yang menunggu waktu operasinya.
Bukan hanya operasi caesar, namun operasi lainnya pun harus menunggu di situ.
Saya masuk berjalan kaki dengan mengenakan baju mini tersebut, agak minder karena semua pasien bajunya gede-gede, saya sendiri yang terlihat berbaju mini hiks..
Udah lingkar perutnya nyaris gak ketutup, plus bagian bawahnya berada jauh di atas lutut.
Sedang yang lain mengenakan pakaian yang terlihat longgar.
Entah ukuran baju saya yang mini, atau emang saya yang oversize hiks...
Sayapun di serahterima kan ke petugas ruang tunggu tersebut, data - data saya di periksa, bahkan bukti detak jantung janinpun di periksa ulang (keren deh SOPnya)

Setelah selesai, si mbak petugas itu pamit ke saya dan berjanji akan menjemput saya setelah operasi selesai.

Selama menunggu, petugas di ruang tunggu tersebut memeriksa data saya dan memastikan saya akan menggunakan KB IUD gak?
Itu ketiga kalinya saya di tawarin pasang IUD di RS, pertama oleh bidan di ruang rawat inap saya, kedua oleh ibu-ibu yang nanya-nanya di pagi hari tadi, yang ketiga oleh petugas tersebut.
Saya pun dengan tegas menolak, bukannya apa-apa, tapi saya paling malas memasukan benda asing di dalam tubuh, terlebih harus kontrol atau lepasnya pakai cara yang memalukan buat saya hiks...
(I hate ngangkang di depan orang lain wkwkwkwk)

Kurang lebih 30 menit menunggu saya pun di minta naik lagi ke kursi roda untuk menuju ruang operasinya di antar oleh petugas cowok.

Saya melewati ruang-ruang operasi yang senyap dan terasa dingin dengan sedikit takut.
Meskipun takut, saya masih bisa menikmati pemandangan kerennya, keren karena ruangannya tertata rapi dan insha Allah steril abis...
Ruang operasi caesar berada di ujung lorong, setelah sampai di sebuah pintu, si petugas menekan sebuah tombol di bagian bawah dengan menggunakan kakinya.
Pintupun terbuka daaaannnnn... saya di sambut oleh pemandangan yang serem bin sedikit menakutkan plus memalukan hehehe..

Gimana enggak, ruangannya sih bersih, bagus, dan masih baru.
Alat -  alat canggih tersebar di beberapa tempat, namun ranjang operasinya gak nyaman banget (emang mau tidur Rey? kok nyari yang nyaman wkwkwk) dan yang paling memalukan adalaaahhh... petugasnya cowok semua dooongggggg.. hanya ada 1 orang cewek.

Saya pun di minta duduk di ranjang operasi, masih ketakutan tiba-tiba seorang petugas cowok meminta saya berbaring karena akan di pasang kateter, saya protes dong, maluuuuu kalau cowok yang masang, terlebih saya belum di bius, malunya masih 10000% wakakakak..
Kalau udah gak sadar sih terserah EGP wkwkwkwk

Ternyata petugasnya bergerak cepat, terlebih kemudian dokter Dharma sudah datang dan tersenyum melihat saya, saya gak tau lagi entah senyum atau gimana, yang jelas saya sangat ketakutan melihat seorang petugas memegang sebuah alat berbentuk pinset yang terjepit kapas.
Sepertinya saya bakal segera di suntik anestesi, daaann saya pun gak tahan, lalu meluk tangan si petugas cewek (gak tau deh entah itu dokter atau siapa)

Bahkan saat kapas yang penuh alkohol mengenai punggung bagian bawah, saya sudah langsung kaget banget.
Sampai akhirnya suntikannya di mulai (aslinya gak sakit kok, seriussss wkwkwkw) yang sakit itu adalah efek kayak kesetrum yang menyerang kaki kanan saya terlebih dahulu.
Sumpaaahhhh... sampai detik ini saya masih trauma akan perasaan itu... gak enak banget!!!!
Terlebih lagi suhu dalam ruangannya dingin banget, dan saya tidak menemukan seseorang yang mau memegang tangan saya untuk mentransfer rasa hangat ke saya hiks..

Sampai akhirnya kedua kaki saya gak bisa di gerakin saya masih merengek jangan di mulai dulu operasinya, masih takut mikirin perut di belah, terlebih saat saya merasa perut saya di obok - obok (saya pikir perut saya udah di belah, eh ternyata belom hahaha)
Salah seorang petugas di bagian kepala saya sepertinya kasihan melihat saya, dan menawarkan apakah saya mau tidur saja, dengan mantap saya mengiyakan, mendingan tidur deh daripada ketakutan sendiri gak karuan hiks..

Eh ternyata gak di bolehin dong ama dokternya, gak tau kenapa kok gak boleh, jadilah saya hanya bisa menggigil dan menangis diam ketakutan sambil mendengarkan celotehan para petugasnya.

Saya mendengar mereka sepertinya melakukan rekaman atas operasi tersebut, masing - masing petugas menyebutkan namanya, nama saya, waktu mulai operasi dan di mulai dengan membaca doa terlebih dahulu.
Beberapa alat dipasangkan ke tubuh saya, ada yang diletakkan di dada, ada yang di tangan (atau lengan ya? lupa wkwkwk)

Selanjutnya saya sudah gak bisa fokus mendengar lagi, ruangannya terlalu berisik atau mungkin perasaan saya yang berisik ketakutan hahaha
Ada suara musik dari radio, ada suara semacam hembusan spray yang gak tau entah itu alat atau apa..
Agak lama sampai akhirnya saya mendengar seseorang berkata..
"Ketubannya hijau ya dok?"
"Gak mau nangis"

Makin gak karuan saya takut plus panik, dalam hati gak henti istigfar, memohon agar si kecilku baik-baik saja (sampai lupa berdoa untuk diri sendiri)

Alhamdulillah selang beberapa waktu terdengarlah suara tangis bayi yang sedikit tercekat.
Dan selang beberapa lama, seorang petugas wanita menggendong si kecil saya dan memperlihatkan pada saya
"Ini bu anaknya, laki"

Saya hanya mengangguk, air mata bahagia lalu tumpah, terlebih saat pipi si kecil di tempelkan ke pipi saya, Subhanallaaahhhh.. rasanya seperti surgaaaa... hangaatt dan itu yang saya butuhkan..

Setelah menikmati kehangatan pipi si kecil di pipi saya, segalanya lalu tidak terekam lagi, saya tertidur dong hehehe..
Sepertinya saya di beri obat penenang or something like that.

Saya terbangun dengan mata berat meneliti keadaan di sekitar saya.
Ada seorang petugas wanita yang samar - samar terlihat tidak jauh dari saya, sepertinya saya berada di ruang pemulihan.
Perasaan saya, hangaaatt dan saya sukaaaa banget wkwkwkw.. (sumpaaahh jadi trauma ama cuaca dingin gegara ruangan operasi tersebut)
Saya tanya ke petugasnya saya di mana, si petugas menjawab tapi saya gak tau dia jawab apa hahahaha...

Kira-kira 20 menit antara sadar dan tidak sadar berada di ruangan tersebut sejak saya bangun, tiba-tiba saya merasa tempat tidur saya ber gerak di dorong seorang petugas.
Saya gak bisa melihat wajahnya saking ngantuknya hahaha..

Samar-samar saya mendengar, petugas yang akan mendorong tempat tidur saya mengecek data saya dari ruang operasi, kira-kira 15 menit kemudian saya pun di dorong menuju kamar inap saya.

Di depan lift, kami lama menunggu antrian, yang ternyata sudah pukul 11.30 siang yang mana bertepatan dengan jam besuk dan dipastikan pengunjung membeludak.
Pengunjung dan pasien menggunakan lift yang sama, sehingga jadilah pasien harus antri lama demi bisa masuk ke lift.

Setelah berhasil masuk ke lift, kami pun turun ke lantai 2, di dorong melalui lorong - lorong lalu kedua petugas yang mendorong saya tersebut nyaris kewalahan saat melewati tanjakan naik ke lantai 2, luka bekas sesar saya terasa nyeri karena lantainya kurang halus.

Sesampainya di ruangan, ternyata sudah ada bapak mertua dan kakak ipar saya, mbak Wulan.
Bapak mertua dan si papi serta Darrell lalu di minta keluar sebentar, karena saya akan di bersihkan oleh petugasnya.
Kerennya, petugasnya lumayan total dalam melayani, badan saya di seka bahkan darah di jalan lahir di bersihkan, serta urin yang menumpuk di kantong di buangnya ke kloset.

Underpad saya pun di pastikan bersih dan saya nyaman, setelah itu di cek lagi tekanan darah lalu saya di tinggalkan bersama keluarga.

Ajaibnya, saya yang sudah sejak kemaren was-was akan nyeri luar biasa pasca sesar seperti pengalaman pertama kali sesar.
Ternyata tidak merasakan nyeri hebat lagi.
Saat berada di kamar inap, saya bahkan sudah bisa menggerakan kaki ke kiri atau ke kanan, sambil sesekali belajar menggerakan badan yang pegal.

Bahkan saya bisa ngerumpi bareng mbak Wulan, saat si papi harus pulang mengubur placenta di rumah.

Nantilah saat malam tiba, nyeri di luka sedikit terasa, namun tidak sesakit saat sesar pertama, yang paling terasa adalah lapar dan haus, dan saya masih di larang makan minum sampai pagi esok harinya hiks..

Malamnya, saya lumayan drama lagi, berkali - kali memanggil bidan, bukan untuk mengeluh sakit seperti sesar pertama kali dulu, tapi karena saya merasa darah yang keluar kadang deras.
Setelah di cek bidan ternyata itu normal, sayanya aja yang ketakutan nanti pendarahan.
(Sumpaaahhhh... efek sering baca-baca dan liat video persalinan di facebook nih, saya jadi parno sendiri pas lahiran hiks)

Oh ya, malamnya datanglah lagi petugas yang akan mengambil sample darah untuk di periksa di lab, Alhamdulillah kali ini yang ambil petugas lab langsung daaannn quest what? cara kerjanya asyik bangeeettt...
Si petugas bisa dong mengambil darah dari nadi bekas di tusuk kemaren nya.
Dan kerennya semuanya di lakukan dengan cepat plus nyaris gak berasa...
Emang ya, jam terbang pekerjaan itu menentukan :D

Selasa, 03 Oktober 2017

Saya melewati malam dengan agak terganggu oleh hawa dingin dari AC, sumpah saya benci banget cuaca dingin sejak dari kamar operasi tersebut, semacam trauma berasa balik ke ruang operasi tersebut.
Seandainya saya harus melakukan sesar lagi, sepertinya saya harus request satu orang petugas cewek buat di peluk saat operasi biar gak trauma kayak gini hiks..

Saya terbangun pukul 04.00 pas adzan Subuh berkumandang, hal pertama yang saya inginkan adalah MINUM!!
Saya hauuusss banget, sedang semalam saya hanya berani minum 1 teguk saja.

Pukul 06.00 seorang petugas datang memandikan saya secara seka, darah saya di bersihkan, lalu underpad saya di buang dan di ganti dengan pembalut yang di tumpuk berlapis pada CD.
Awalnya saya terheran-heran, kok sudah harus pakai CD? apa lukanya gak sakit?
Eh ternyata benar gak sakit, dan malah saya merasa lebih nyaman ketimbang memakai underpad.
Dengan memakai CD, saya bebas balikan badan ke kiri maupun ke kanan tanpa di ganggu oleh rasa risih kena darah dari underpad.
Hanya saja selang kateter masih sedikit mengganggu.


Lucky me, paginya saya udah bisa makan meski hanya boleh bubur halus dan lauk daging cincang.
Saya langsung makan dengan rakusnya hahaha, sampai-sampai gak sadar eh dokter Dharma datang melakukan visite.
Luka saya di periksa, Alhamdulillah membaik, perut juga di periksa, kata dokter perutnya jerit - jerit minta di isi hahaha, ya iyalaaahhhh.... secaraaaa lama gak pernah puasa, tiba - tiba di suruh puasa 30 jam.

Agak lama dokter memberi kami kesempatan untuk bertanya-tanya, lalu setelah selesai, dokter meminta bidan agar segera melepas infus plus kateter dan saya bisa belajar bangun, jalan lalu boleh mandi.
Hahhhh? mandiii???

Nyaris gak percaya mendengarnya, masa iya baru 24 jam pasca operasi sesar udah boleh mandi???
Kata dokter gak masalah, karena perekatnya juga insha Allah kuat dan anti air.

Lalu dokter meneruskan lagi, besok sudah bisa pulang..
Hahhh? enak bener yaakkk wkwkwkwk...

Benar saja, setelah makan si bidan lalu membuka selang kateter saya, di lanjutkan dengan membuka infus.
Daannn ajaib, setelah semua selang lepas, tiba-tiba saya merasa sembuh dong.
Saya jadi menangkap maksud dokter menyarankan segera membuka selang-selang tersebut, karena memang kadang alat bantu seperti itu membuat pasien jadi down.

Menjelang agak siang, bidan bertanya apakah bayinya mau di rawat bareng?
Saya dengan semangat mengiyakan dong...
Sudah gak sabaran ingin melihat bayi lucu tersebut.

Namun bidan mengingatkan, jika bayi di rawat bareng, maka petugas bayi akan lepas tangan, jadi semua harus saya yang urus selain memandikannya.
Saya oke saja, dan itu yang membuat saya memaksakan diri harus bisa duduk dan jalan.
Ajaib...
Dengan bantuan remote tempat tidur pasien, saya pelan-pelan belajar duduk, dan Alhamdulillah bisa, di lanjutkan dengan perlahan - lahan belajar berdiri, meski harus terbungkuk - bungkuk, Alhamdulillah lancaarr...

Sekitar pukul 12.00 bayipun di antar ke kamar saya, Alhamdulillah saya langsung bisa jalan dengan baik (meski masih harus nahan sakit, ya iyalaaahh... perutnya luka abis di belah gitu loohhh wkwkwkwk)

Sejak saat itu saya akhirnya bersama bayi mungil yang lucu tersebut terus, memaksakan si bayi agar terus menyusu pada saya karena sampai hari itu sedikitpun belum ada ASI yang keluar hiks..
Beruntung si dokter perhatian dan memberikan resep vitamin pelancar ASI.

Saat sore si bayi tertidur, saya langsung mencoba mandi dan Alhamdulillah semua lancar, gak ada masalah pusing dan mual di KM (bidan mewanti-wanti agar perlahan-lahan mandi karena biasanya ibu habis melahirkan banyak yang pusing di KM.


Sehabis mandi, Alhamdulillah perasaan jadi lebih baik.
Saya bisa terus menyusui si bayi sampai akhirnya malam hari, seorang sahabat saya datang mengunjungi saya, Nila. Alhamdulillah saya sudah bisa bercengkrama dengan baik.

Malam ketiga di RS saya lewati dengan gak nyaman, udara kamar yang terlalu dingin efek AC, si adek bayi yang nangis kejer entah karena lapar dan capek menyusu tanpa hasil yang jelas dan bete ama tempat tidurnya yang sama sekali gak nyaman karena di pakai berdua ama si adek.

Rabu, 04 Oktober 2017

Akhirnyaaaa... waktu pulangpun tiba, sejak pagi saya sudah mandi dan bersiap menyambut dokter yang visite, eh ternyata di tunggu-tunggu sampai siang dokternya gak datang dong.
Agak bete juga menunggu.
Si papi akhirnya bolak balik menanyakan pada petugas yang berjaga bagaimana nasib kami?
Kapan bisa pulang?
Ternyata pihak admisi gak bisa menerbitkan tagihan kalau belum ada tanda tangan dokter yang mengizinkan pulang.
Sampai siang hari akhirnya dokter Dharma mengirim dokter jaga untuk memeriksa kondisi saya dan akhirnya menandatangani berkas persetujuan kepulangan.

Akhirnyaaaa...
Setelah menunggu lumayan lama, kamipun bisa pulang menjelang Magrib (lama yaakkk -_______- )
Beruntung pihak RS baik banget, saya tetap dapat makan sampai waktu makan malam.
Jadinya sebelum pulang saya makan dulu jatah makan malam saya hahaha..

Alhamdulillah, kamipun pulang berempat.

Jadiiii..
Kesimpulannya enakan sesar mendadak atau sesar terencana?
Menurut pengalaman saya, gak enak dua-duanya hahaha..

Tapi kalau di suruh milih, saya milih sesar terencana, namun saya punya teman yang menguatkan di ruang operasi.
Karena saya rasa, efek ruang operasi kemaren membuat saya lumayan trauma terutama pada hawa dingin.

Semoga bermanfaat

TPJ, 17 Oktober 2017

Reyne Raea

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...