Demi Bisa Mudik, Untuk Ortu dan Keluarga Tujuan Mudik

 demi bisa mudik

Semakin banyak konten mudik yang seliweran di timeline media sosial, mengingat hari lebaran tinggal menghitung hari.

Eh btw, ini lebarannya kapan ya? Saya puasa-puasa aja mulu, bahkan saya nggak tahu ini sudah ramadan malam ke berapa? hahaha.

Tapi sudahlah, sejujurnya saya nggak punya rencana apa-apa saat lebaran, enggak beli baju lebaran juga, enggak beli kue-kue lebaran. Palingan lagi pusing, soalnya belum bayar zakat, sementara si Rey ini lagi sakit udah 2 harian ini.

Pusingnya karena masjidnya agak jauh, dan belum beli berasnya.

Tapi sudahlah, di luar dari itu, nggak ada hal yang diribetkan sih, ye kan mau ke mana pulak? mau mudik ke rumah ortu? jauh boookk dan keuangan tidak atau belum memadai.

Kalau dulu almarhumah ibu mertua masih hidup, mau segimanapun malesnya, saya pasti akan berkunjung ke sana. 

Sekarang? ogah banget.

Palingan, saya insya Allah bakal berkunjung ke 'rumah baru' almarhumah ibu aja. Abis itu ngemall enak kali, atau berenang aja pas lebaran, wakakakaka.

Meski enggak mudik, kadang juga kangen gitu dengan suasana mudik, gegara banyak konten mudik, dari perjalanan seru, sampai konten mudik yang menyedihkan atau menyentuh hati.

Sampai konten mudik dan himbauan kepada orang yang selalu berekspektasi tinggi terhadap orang yang mudik.

Aaahhh, been there!


Cerita Mudik Dari Tahun ke Tahun

Pernah berada di sana, di masa-masa mudik yang seru tapi jujur bikin malas kalau ingat bagaimana kerempongan perjalanannya.

Kayaknya udah sering saya ceritakan ya bagaimana effort-nya mudik yang pernah saya alami. Dari zaman kuliah dulu, mudiknya naik kapal Pelni.

Dari yang zaman pelabuhan Perak masih kacau, sejujurnya kalau enggak ingat ingin membahagiakan mama dan bapak, rasanya malas banget saya mudik lebaran itu.

Gimana enggak?

Dulu tuh kan belum zamannya online shop, di Bau-Bau masih belum se berkembang sekarang, di mana belum ada Matahari dan Outlet terkenal lainnya.

Jadi, setiap lebaran mau mudik atau enggak, saya harus keliling Matahari atau semacamnya, buat beliin pesanan kakak saya.

Baju lebarannya, anak-anaknya, tas, sepatu, sandal, dan lainnya.

Nah, kalau mudik, itu pesanannya luar biasa banyak, karena mereka pikir kan nggak perlu bayar ongkos kirim di pos atau semacamnya kan.

Tapi mereka lupa, how hectic di pelabuhan itu.

Tahu nggak sih, ketika kita baru aja turun dari kendaraan misalnya, udah diserbu tuh sama banyak portir yang menawarkan jasanya mengangkut barang kita untuk naik ke kapal. 

Masalahnya adalah, mereka sering mematok harga yang nggak kira-kira mahalnya. Well, memang sih tenaga mereka itu patut dihargai, tapi kalau akoh tak punya uang banyak kan, pegimana bayarnya? sementara mereka maksa.

Nah, belum lagi hectic-nya rebutan naik kapal, itu luaaaarrr biasa menyebalkan, mana saya takut jatuh ke laut pulak, kan nggak bisa berenang.

Nah, ketambahan pulak, sampai di atas kapal, harus rebutan cari tempat tidur, terutama kalau beli tiket ekonomi. Kadang nggak nemu tempat tidur, akhirnya tidur di bawah tangga, saya pernah loh tidur di bawah tangga, untung saat itu ada bapak saya.

Masalahnya lagi adalah, lama perjalanan ke Buton dari Surabaya itu, selama 3 hari 2 malam. Kebayang nggak sih selama 3 hari 2 malam, berada di bawah tangga?.

Mau ke kamar mandi antri, mana kamar mandinya masya Allaaaahh kotornyaaa...

Sekarang nggak tahu sih, terakhir kami pulang itu, naik kapal Pelni ketika si Kakak belum masuk SD, dan kayaknya sistemnya udah diganti, nggak ada lagi tiket kelas. Tauk sekarang.

Lalu, setelah 3 hari 2 malam berlayar, menahan lapar, pipis, pup dan gerah karena malas banget ke kamar mandi. Akhirnya sampailah kapal di pelabuhan Murhum Bau-Bau.

Apakah perjuangan selesai?

Oh tentu saja belum.

Mau turun dari kapalpun butuh perjuangan banget, tawar menawar dengan tukang angkut barang atau portir. Ketika kakak saya udah nikah, keadaan udah lebih baik.

Karena kakak ipar saya tentara, jadi dia bisa menyelinap lewat orang dalam, dan diperbolehkan naik kapal meskipun nggak pakai tiket, buat jemput saya.

Tapi sebelumnya, harus berusaha sendiri dong.

Sampai akhirnya menikah, punya anak, nggak sanggup deh saya ajak anak-anak naik kapal, akhirnya naik pesawat, cepat sih sampainya, sehari doang.

Tapi rekening menangis, wakakakakak.

Dulu tuh ya, saking stresnya saya akan kondisi mudik, repot di jalanan, saya sering banget bilang,

"Abis ini saya malas mudik, nggak sanggup dengan perjalanannya yang hectic!"

Kenyataannya, sampai tahun 2020 silam, mudik udah menjadi kayak tujuan hidup satu-satunya saya dong. Sampai sering banget tuh masa lebaran tuh, se-happy apapun saya, kayaknya kurang kalau mudik enggak terlaksana.

Jadi, rentang waktu antara tahun 2000-2020, 20 tahunan yak, rasanya hidup saya tuh receh, tujuannya cari uang untuk bertahan hidup dan untuk mudik, hahaha. 


Demi Bisa Mudik

Kenyataannya, untuk mudik itu nggak melulu manis seperti kata orang-orang di medsos. Di mana, banyak yang bilang, teruslah berusaha, biar bisa mudik.

Jauh sebelum konten demikian banyak di medsos, saya udah merasakan bagaimana sulitnya berusaha untuk mudik.

Dulu tuh setiap kali mau lebaran, sibuk mengira-ngira, bisa nggak ya duit kita dipakai buat mudik, bahkan ketika si papinya anak-anak dapat THR lumayan, di pikiran saya cuman pengen dipakai buat mudik.

Sampai-sampai saya pernah tersinggung, ketika mertua menyinggung bahwa ongkos mudik emang gede, terus kalian kapan nabung buat masa depan sendiri.

Duh, kesal banget rasanya.

Nantilah akhir-akhir ini, terutama setelah terakhir kali saya mudik ketika Bapak meninggal 3 tahun lalu, baru menyadari, iya juga ya, keknya saya terlalu berlebihan hanya menempatkan hidup untuk tujuan mudik terus.

Terlebihhhhh, ketika mudik, selalu banyak kecewanya ketimbang bahagianya, huhuhu.

Untuk manusia dengan rezeki pas-pasan kayak saya, mudik adalah sesuatu yang sangat berat sebenarnya. Biayanya besar, habis semua isi rekening demi bisa mudik ketemu ortu dan keluarga.

Dan iyes, sama dengan konten-konten mudik yang berseliweran di media sosial itu, emang serempong itu masalah mudik ini.

Apalagi, kami tuh bukanlah orang berada, bahkan bisa dibilang masih sangat kekurangan loh. Karena saya dan papinya anak-anak memang benar-benar memulai semuanya dari nol, tanpa bantuan ortu, kayak kakak saya.

Mudik bukan hanya mikirin biaya tiket dan perjalanan, tapi juga biaya oleh-oleh, biaya THR ngasih ortu dan keponakan, biaya lebaran dan lainnya.

Untungnya sih, sejak dulu saya nggak pernah tertarik untuk mudik dengan menggunakan uang hutangan. Tapi, selepas mudik itu ya kami benar-benar suci, alias kosong melompong, wakakakakak.


Teruntuk Orang Tua dan keluarga Tujuan Mudik

Karena itulah, saya jadi gemes untuk menuliskan pesan kepada para orang tua dan keluarga tujuan mudik.

Ketika anak, dan saudaramu bisa mudik dari rantau, plis jangan terlalu berekspektasi tinggi akan mereka.

Jangan memberatkan dengan minta oleh-oleh ini itu

Kalau saya masih sangat beruntung, karena ketika mudik dan kakak saya yang super cerewet itu nitip ini itu, tapi dia selalu kasih duitnya, malah dilebihin.

Saya palingan kebagian rempong bawanya doang.

Tapi, banyak orang yang terpaksa berhutang, demi bisa beli oleh-oleh buat keluarga yang didatangi loh. Apalagi kalau mudiknya dari kota besar, ekspektasi orang tuh terlalu berlebihan.

Ketika ada saudara yang mudik, mau udah nikah atau belum, plis jangan biasakan anak-anak kita berani meminta uang atau semacamnya ke saudara yang baru datang itu.

Saya masih beruntung karena keponakan saya dididik untuk malu minta-minta sama orang lain, even sama tantenya. Palingan yang berani minta-minta malah anak teman, meskipun secara halus.

Tapi, banyak loh orang yang terpaksa berhutang demi bisa ngasih keluarga, terutama keponakannya di tempat tujuan, demikian juga orang tua.

Dan lagi, ketika saudara kita mudik, atau para ortu yang anaknya mudik, plis tunda dulu nasihatnya, sambutlah mereka dengan penuh riang gembira.

Saya tidak beruntung akan hal itu, karena bahkan bertahun-tahun enggak mudik, ketika bisa mudik, mama saya biasa saja menyambut saya, bahkan sibuk mengomel katanya nggak usah mudik, sayang uangnya.

Ya Allah, ngenesnyaaaa...

Intinya, yuk sambut keluarga yang mudik dengan penuh gembira, tak perlu berekspektasi tinggi, cobalah lebur rasa rindu tanpa embel-embel oleh-oleh, THR dan lainnya.

Kalau dikasih oleh-oleh, ya syukur Alhamdulillah.

Kalau enggak, ya udah doain aja, semoga tahun depan saudaranya sukses bisa mudik lagi bawa oleh-oleh. 

Begituh...


Surabaya, 06 April 2024

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)