"Saya pernah ngajukan resign tanpa curhat, aba-aba, dan lainnya. Tapi tetap ada sampai 30 hari ke depan, dan tau nggak, baru 3 hari kursiku sudah di isi penggantiku, seorang junior. Saya bahkan disuruh cari kursi lain di ruang meeting!"
Sebuah curhatan di Threads, menghentikan scroling iseng mencari ide yang saya lakukan malam ini. Dan momennya kayak pas banget, karena sejak siang tadi, saya sedikit mixed feeling mendengar omongan rekan kantor.
Jadi, beberapa waktu belakangan ini, klinik tempat saya bekerja memang lumayan sepi pasien. Berujung dengan jam kerja kami dikurangi selama ramadan ini, karena toh juga mubazir masuk 24 jam.
Keadaan tersebut berakhir dengan perombakan pemimpin, diganti dengan seorang pemimpin baru, dokter muda yang cerdas dan sat set banget.
Baru saja sehari dia memegang SPK atau Surat Perintah Kerja dari ketua yayasan, keesokan harinya dia membawa 'pekerjaan' buat petugas administrasi di klinik. Yaitu diminta menyiapkan berkas-berkas kerja sama dengan pihak lain.
Di tim administrasi, saya sebenarnya karyawan yang paling baru, dibandingkan yang lain, yang sudah bersama sejak klinik tersebut didirikan.
Baca juga : Bekerja di Bagian Pelayanan Dengan Otodidak, Tanpa Pelatihan, Tapi Bisa!
Akan tetapi, nggak ada satupun yang menyahuti semangat si dokter, even membalas WAnya di dalam grup. Iseng, saya balas deh,
"Baik, Dok"
Eh diikutin 1 petugas administrasi lainnya.
Keesokan harinya, kami ada acara buka bersama kecil-kecilan di kantor, si dokter pemimpin itu datang. Eh nggak tahunya dia basa basi nanyain,
"Gimana Kak, udah dicoba aplikasinya?"
Saya kaget dong, untung saya udah sempat baca, hahaha, jadi bisa diajak diskusi.
Melihat semangatnya, saya jadi tersemangatkan juga dong, berasa menemukan aliran yang sama.
Fyi, udah mau 8 bulanan saya bekerja di klinik tersebut, saya jadi paham betapa semangat kerja kebanyakan orang di sini tuh, emmm.... gimana ya ngomongnya.
Nggak cocok banget sama gaya saya, nggak cocok banget dengan kebiasaan saya, dan nggak cocok dengan semangat serta energi saya.
I mean, bisa gitu ada orang-orang yang masuk ngantor, cuman untuk tiduran atau nonton drama China di aplikasi apa tuh di ponsel. Atau scroll medsos, atau main game.
Saya capek hapus-hapusin game atau aplikasi aneh-aneh yang sering mereka download di ponsel kantor, yang mengakibatkan memori HP jadi penuh banget.
Dan mereka juga hampir capek kesal, karena ketika HP tersebut mereka pegang, eh habis dah semua game dan aplikasi aneh-anehnya udah kehapus, hahaha.
Jujur, melihat rutinitas mereka aja, saya bosan minta ampun. Karenanya, meski klinik sepi, dan ruang pendaftaran sering nggak ada orang, karena semua kumpul di Apotek. Namun jika tiba waktu shift saya, dijamin ruang tersebut akan selalu ada penghuninya, ya saya.
Pasien nggak bakal kesusahan mencari-cari di mana petugas, karena saya selalu ada di kursi saya, di depan komputer melakukan banyak hal.
Lalu akhirnya, muncul pemimpin yang semangatnya sat set kayak gitu. Kebayang kan bagaimana semangatnya saya.
Jadilah, ketika tiba masa shift saya, sejak pagi saya sudah ribut mengganggu semua orang. Orang-orang ada di manajemen, yang sebenarnya punya kerjaan di tempat lain juga, nggak bisa tenang, karena saya gangguin terus.
Nanyain ini itu, agar semua hal yang dibutuhkan segera ada, dan semua rencana-rencana si dokter pemimpin itu bisa segera terealisasi.
Btw, kalau di kantor, saya berkomunikasi dengan orang-orang di manajemen, atasan-atasan, dengan menggunakan ponsel kantor. Dan ketika berkomunikasi lewat chat, tentu saja gaya tulisan saya ya kayak gini. Lengkap, tapa disingkat, dan nggak seperti logat Buton yang sering teman-teman lainnya tulis.
Jadi, semua orang bisa mengetahui, kalau itu kerjaan saya. Karena gaya tulisan saya, nggak ada samanya.
Lalu setelah saya pulang, ponsel kantor itu kan dipegang oleh teman-teman yang shift setelah saya, dan tentu saja jejak komunikasi saya dengan banyak atasan terekam di ponsel tersebut.
Dan begitulah, mulailah omongan-omongan sumbang bergaung.
"Apaan sih si Rey ini, semua kerjaan orang diambil, mau cari muka!"
"Mau dibilang hebat kali si Rey ini!"
Dan omongan-omongan semacamnya, yang bergaung di telinga saya, melalui pemberitahuan teman-teman lainnya.
Saya bilaik, WOW!
Baca juga : Tujuh Bulan Bekerja di Klinik Medis dan Hal Baru yang Dikuasai
********
Sebenarnya, tanpa dikatakan demikian, ketika pertama kali masuk ke klinik tersebut, dan melihat kinerja beberapa teman, saya sudah memperkirakan, kalau suatu saat, akan ada omongan kalau saya 'cari muka'.
Jangankan di kantoran di Buton, yang pekerjanya sering terpapar kinerja para PNS di mana banyak yang menormalilasi bahwa PNS itu lebih bebas waktunya dalam bekerja.
Ditambah dengan penilaian kinerja yang kurang berpengaruh terhadap karir sendiri, karena semua tergantung atasan dan aturan negara.
Hal-hal seperti itu, membuat banyak pekerja yang lebih santai, dan menganggap itu normal.
Seorang teman saya yang bekerja di Dinas PU kabupaten, bahkan mengeluh, ketika dia sudah lulus P3K lalu kemudian diwajibkan hadir setiap hari di kantor, dengan mengisi absen yang sulit dipalsukan.
Saya yang seumur-umur terbiasa bekerja di perusahaan swasta, terbiasa bekerja dengan energi dan semangat yang besar, nggak suka kalau di kantor nggak ada kerjaan, selalu happy kalau sibuk, jujur ternganga-nganga.
Nyatanya, kinerja seperti itu banyak diadaptasi pekerja bahkan di sektor perusahaan swasta.
Kinerja yang saya maksudkan ini, bukan semata bekerja sesuai job desc ya, tapi lebih dari itu, di mana menjadi karyawan swasta itu dituntut untuk memberikan berbagai opsi solusi buat atasan.
Dan itu yang sudah menjadi bagian dari kinerja saya selama mengenal dunia kerja. Saya tak pernah mau bekerja hanya sesuai job desc, bekerja dengan disuapin aturan atau atasan.
Saya terbiasa mendahului atasan dan datang ke hadapan atasan dengan berbagai opsi solusi. Itulah rahasia saya selama mengenal dunia kerja, Alhamdulillah sama sekali nggak pernah merasakan dimarahin atasan.
Jangankan dimarahin karena menjadi sampah emosi atasan, dimarahin ketika saya melakukan hal salah pun, nggak pernah.
Mengapa? karena atasan-atasan saya sungkan pada saya, mereka juga butuh saya.
Dan lucky me, dulu tuh lingkup pekerjaan saya mengharuskan saya bekerja dengan banyak rekan lelaki. Itulah juga yang menyelamatkan saya dari anggapan 'cari muka', karena rekan-rekan kerja saya yang kebanyakan laki itu, jarang bahkan hampir nggak pernah saya temukan merupakan suka bergosip.
Mereka lebih menganggap karena saya perempuan, wajar kalau saya disayang bos. Meskipun mereka juga paham, saya disayang ya karena menjadi karyawan yang dibayar 1 gaji, tapi bisa meng-handle kerjaan banyak orang.
Sayangnya, kali ini kebanyakan rekan saya adalah perempuan, di tengah-tengah budaya kinerja orang yang terbiasa mengikuti aturan dan jabatan.
Sering menunggu disuapin dulu baru mau kerja, kalau nggak disuruh ya mending tidur atau nonton. Bahkan sudah disuruh pun, diam aja. Nanti udah berkali-kali ditagih baru sibuk dikerjain asal-asalan.
Nggak heran, ketika ditanya ini itu, jawabannya 'tidak tahu', 'tidak ada'.
Ah sudahlah.
Lucky me (lagi), saya kembali ke dunia kerja melalui relasi dari atas, jadi semua hal yang saya lakukan masih dinilai positif bahkan mereka terbantukan.
Saya juga Alhamdulillah bisa bekerja dengan sangat baik, disiplin dan semuanya. Sehingga nggak takut ketika omongan-omongan buruk rekan kerja, berubah jadi adu domba yang merusak nama baik saya.
Atasan-atasan paham seperti apa kemampuan saya, seperti apa kebiasaan saya. Dan lucky me juga, saya lebih tua dari atasannya, hahaha.
Dan selama ini juga semua yang saya lakukan untuk kemajuan dan keuntungan perusahaan, tanpa saya ikut ambil keuntungan sendiri, sama sekali.
Saya malah bersyukur, karena dapat banyak ilmu dan pengalaman baru, karena memang bekerja di bagian pelayanan klinik medis itu, adalah hal yang sangat baru buat saya.
Insya Allah sejauh ini aman-aman saja, even terdengar beberapa suara sumbang yang mengatakan saya sok-sokan, saya cari muka. Duh ye, si Rey udah tuwah, ogah banget cari muka sama yang lebih muda, *eh, hahaha.
Baca juga : Diary Working Shift Malam, Pasien Anak Tengah Malam
**********
Lalu, apa hubungannya dengan cerita keluhan di Threads, yang saya bahas di awal tulisan ini?.
Mungkin lebih ke 'semangat kerja' kali ya, atau seberapa hebatnya kita dalam menjadi karyawan yang tak tergantikan.
Di luar banyak yang mengatakan saya bodoh dan rugi terlalu rajin, padahal gajinya... ya gitu deh. Tanpa mereka sadari, kalau saya beruntung, setiap kali resign, perusahaan kesulitan mencari pengganti saya.
Manalah ada karyawan yang mau melakukan hal-hal terbaik, sementara gajinya biasa aja. Dan saya melakukan semua kemampuan terbaik saya, tak peduli saya digaji berapapun.
Karena motto saya, gaji akan mengikuti kinerja dan keringat yang sudah kita keluarkan, even nggak berbentuk gaji besar banget.
Di pengalaman saya dalam dunia kerja sebelum-sebelumnya, gaji saya juga tetap kecil-kecil semua, belum pernah rasanya bisa merasakan gaji besar yang bisa dengan bangga dikasihkan ke ortu.
Akan tetapi, setiap saya bekerja, bahkan saya bisa menyaingi pengetahuan direkturnya, saking semua hal saya urusin, saya bantuin, lalu lama-lama jadi tugas saya.
Dan begitulah, ketika saya pergi, perusahaan kesulitan mencari orang yang bisa menggantikan posisi saya. Jadi, nggak ada tuh adegan baper, belum juga keluar, udah digantikan junior.
Ye kan, zaman sekarang tuh kita, khususnya para milenial bersaing dengan gen Z yang meski lumayan aneh-aneh, tapi pengetahuan mereka tuh mengagumkan.
Jadi, jangan menganggap kita spesial, hanya karena udah lama kerja di sebuah perusahaan, kalau kinerja kita standar. Setelah kita pergi, atau misal meninggal, bahkan perusahaan lebih sibuk mencari pengganti kita, ketimbang ikut berbela sungkawa dengan kepergian kita.
Menurut loe, perusahaan kudu libur seminggu dulu gitu, guna berduka atas perpisahan dengan kita yang biasa-biasa aja?.
Sementara persaingan zaman sekarang luar biasa, setiap menit adalah duit.
Begitulah.
How about you, Temans?
Baubau, 11-03-2026

Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)
Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)