Rumah Asuh Kota Baubau, Solusi Untuk Bahagiakan Perempuan dan Anak

Rumah Asuh Kota Baubau akhirnya hadir untuk memberikan jawaban atas berbagai permasalahan perempuan dan anak di kota seribu benteng ini. Ras...

Kita-nya Orang Buton yang Sering Bikin Salah Paham

kita-nya orang buton

Sudah 2 hari ini, saya berkutat di depan komputer kantor, mengerjakan berkas-berkas kerja sama klinik dengan asuransi. Dan karena kegiatan ini, saya jadi sedikit paham, apa-apa saja yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan, selain SIUP atau Surat Izin Usaha Perdagangan.

Ada yang namanya Anggaran Dasar, yang awalnya saya pikir isinya ya tentang keuangan gitu. Namanya juga anggaran kan ye. Saya biasa tuh bikin rencana anggaran pelaksanaan proyek, isinya ya biaya-biaya yang akan digunakan dalam pengerjaan proyek. 

Tapi ternyata yang namanya anggaran dasar sebuah perusahaan adalah sebuah dokumen hukum tertulis yang memuat peraturan fundamental, tujuan, dan struktur utama suatu organisasi, perkumpulan, atau perusahaan.

Bahkan bisa dibilang, kagak ada nominal keuangannya, hahaha.

Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan, melainkan obrolan yang disalah pahamin ketika menyiapkan berkas-berkas perusahaan tersebut.

Dan itu melibatkan istilah-istilah di Buton yang rancu dengan bahasa Indonesia, salah satunya kata 'kita'.

FYI, dalam dialek Buton, kata 'kita' yang dalam bahasa Indonesia, berarti 'saya dan kamu', diucapkan untuk orang kedua.

Baca juga : Culture Shock Logat dan Kebiasaan Sulawesi Pertama Kali Di Jawa


Tapi, kalau di Buton, kata 'kita' itu bisa berarti 'kamu' versi sopan.

As we know, pengucapan kamu itu kadang memang terdengar kurang sopan ya, terutama untuk budaya-budaya daerah yang menjunjung tinggi adab dan kesopanan.

Salah satunya di Buton, bahkan sepertinya di sebagian besar daerah Sulawesi, mengucapkan kata 'kamu' dengan sebutan 'kita'.

Misal,

"Rey, kamu sudah makan?"

Itu kurang sopan, dan biasanya diganti,

"Rey, kita sudah makan?"

Seharusnya dalam bahasa Indonesia, arti kalimat percakapan tersebut adalah,

"Rey, (aku dan kamu) sudah makan?"


Sebagai orang yang besar di Buton, tentunya paham akan kata 'kita' yang tak berarti 'aku dan kamu' itu. Tapi dalam penerapannya di percakapan keseharian, masih sering banget menjadi salah paham.

Seperti, ketika saya berbicara dengan salah satu dokter di klinik tempat bekerja,

"Dok, berkas yang ini ternyata belum ada, apa kita bikin sendiri aja kah? mungkin dokter ada contoh formatnya?"

Tak lama dijawab,

"Ya udah, nanti saya bikin!"


Awalnya saya cuek aja, menganggap si dokter memang berniat bikin berkas itu sendiri. Tapi setelah saya baca ulang, sepertinya si dokter salah paham, dikira saya nulisnya,

"Apa kamu bikin sendiri aja?"

Padahal maksud saya,

Apa nggak sebaiknya (saya, dan teman-teman semuanya) yang bikin sendiri aja?.

Ah, kalimat saya juga ambigu ya, gegara distraksi logat Buton yang membingungkan, kebolak balik. Harusnya kan,

"Apa kami saja yang bikin?"

Hahahaha. 


Sebenarnya, sejak di Buton, saya sering banget disalah pahami karena kata 'kita' ini, karena saya masih menggunakan kita, dalam 2 arti.

Saya sering menggunakan kata 'kita' sebagai 'aku dan kamu'.

Tapi juga sudah mulai sering pakai 'kita' sebagai 'kamu'.

Sebenarnya saya lebih suka pakai 'sebut nama atau panggilan' ketika menggunakan 'kamu' yang sopan. Misal,

"Dok, apa Dokter aja yang buat?"

Tapi mungkin karena kepanjangan, apalagi saya sungkan pakai kata 'kamu' bahkan ke adik-adik, biasanya saya pakai kata 'dirimu', atau 'sebut namanya'.

Sehingga lama-lama ikut-ikutan pakai kata 'kita' sebagai sebutan 'kamu'.


Pernah juga penggunaan kata 'kita' ini, membingungkan seorang bapak militer di Baubau. Ketika itu saya sedang menceritakan sesuatu, dan mengucapkan kembali perkataan saya yang telah lalu.

Tapi kalimatnya jadi menggunakan kata 'kita' berkali-kali, dalam arti yang berbeda. Apalagi, saya sering mengganti kata 'kami' dengan 'kita'. makin membingungkan nggak tuh?.

"Jadi gini Pak, saya dan dia kan, kita tuh sering telponan, terus saya udah bilang, 'kita jangan gitu, kalau gitu kita jahat banget sama dia, padahal saya sayang sama dia!'"

Saya masih hendak terus nyerocos, tapi melihat si bapak militer ini mengernyitkan dahi. Seketika saya paham, kalau dia bingung.

"Oh ya, 'kita' dalam bahasa Buton tuh, artinya 'kamu', itu versi sebutan yang sopan, Pak"

Perlahan, kerutan di dahi si bapak menghilang, 

"Iya nih, saya masih harus terus belajar memahami logat Buton, banyak yang membingungkan!" katanya.

Baca juga : Ketika Anak Lain Terlalu Sibuk Untuk Sekadar terima Telpon Ibu


Si bapak mah nggak tahu, jangankan dia yang bukan asli Buton, saya aja kadang bingung dalam penyebutannya, meskipun dalam memahami perkataan orang, saya sih paham-paham aja.


Begitulah.

Kalau Temans, ada yang bukan orang Buton, tapi paham logat Buton nggak?


Baubau, 08-03-2026


 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)