Cerita Hari Ini dan Tentang Kisah Pribadi Di Medsos

cerita hari ini

Mau curhat lagi ah, menetrsalisir otak dari tulisan tema ramadan yang sejak awal bulan puasa ini memenuhi otak saya, hahaha.

Jadi, bikin tulisan curhat saya, tentang kisah pribadi yang saya tulis di medsos, yang kadang bikin banyak orang terkejut dan bereaksi berbagai macam itu.

Jadi, hari ini saya agak pusing (padahal ya tiap hari pusing menanti doa saya dikabulkan Allah, punya pemasukan 50 juta sebulannya, aamiin). Ya udah sih ya, tolong aamiin kan aja kali Temans, *uhuy.

Tapi pusing hari ini tuh gegara dijapri seorang ortu murid di sekolah si Adik, di mana dia nagih iuran beli kado sama iuran buka puasa bersama.

Di sisi lain, secara tak sengaja saya membaca sebuah tulisan di Threads, saya lupa siapa yang nulis, intinya si empunya tulisan itu ternyata sering sharing pengalaman hidupnya sebagai single mom di medsos. 

Sudah sejak lama dia rajin menulis cerita kehidupannya, banyak yang bilang dia lebay, suka cari perhatian. Tapi dia mematahkan hal itu dengan share beberapa chat personal dari orang lain. Di mana ada banyak orang lain berterima kasih atas tulisannya yang bisa menguatkan wanita lainnya.

Di satu tulisan lainnya, si empunya tulisan itu menuliskan, bahwa apa yang dia share di medsos itu, ada batasan tersendiri, yang dia tentukan sendiri, mana yang bisa di share, mana yang di keep.


Lalu, nggak tahu kenapa, kok jadinya saling berkesinambungan, iseng saya chat dengan (siapa lagiiii kalau bukan mamak 3F) si blogger Kendari yang humble dan sering saya kerjain itu, wakakakaka.

Intinya kami chat, saya menceritakan kondisi yang cuman sama dia saya katakan dengan terus terang, dan si Mamak 3F kaget, nggak nyangkah karena dipikir saya happy-happy aja, kayak di medsos.


Mari kita tarik benangnya, keknya yang baca udah bingung, apa hubungannya cobak?. Sayapun aslinya bingung, tapi di dalam otak saya tuh udah tau ini semua nyambung banget, tapi mengeluarkan isi kepala saya ke dalam bentuk tulisan ini yang masih harus saya pikirkan, gimana caranya, wakakakaka.


Mungkin bisa dengan memulai cerita, bahwa saya senang ternyata ada teman yang sama kayak saya. Suka nulis di medsos, bedanya dia nulis di Threads, saya di fesbuk dan blog, hehehe.

Saya belum tahu sepenuhnya sih, tulisannya kayak gimana, tapi membaca di beberapa tulisan terakhirnya, kayaknya mirip-mirip kayak saya lah, sambat masalah diri sendiri, hahaha.

Dan karena itulah, banyak yang baca menganggapnya lebay, caper.

Ini sama banget kayak saya.

Sering banget saya tuh mendapatkan komentar, khususnya melalui DM, bahwa sebaiknya jangan suka curhat aib pribadi di medsos.

Etdah, suka curhat aib pribadi?

Padahal, saya tuh nggak suka selalu curhat atau ngeluh hal pribadi loh di medsos dan blog, coba deh liat isi medsos saya, curhat hal pribadi yang dibilang orang lebay tuh, palingan sebulan 2-3 kali.

Itupun, andai saya bisa memberitahukan semua, bahwa apa yang saya tulis itu, hanya sepersekian dari yang saya alami saat itu.

Jujur, apa yang saya alami itu jauh lebih berat. Mengapa saya akhirnya curhat di medsos tipis-tipis, ya karena saya sudah nggak sanggup lagi memendam sendiri.

Itupun, saya cuman spill tipis-tipis loh, andai saya ceritakan semuanya, mungkin banyak yang ngadakan open donasi buat saya. Dan saya nggak mau hal itu terjadi, malu tauk!.  

Buktinya ya ketika saya menceritakan sedikit (hanya sedikit loh) beban nyata yang saya pikul saat itu kepada si Mamak 3F, dia kaget juga dong.

Andai saya ceritakan semuanya, tapi sejujurnya saya tuh orang yang super sungkanan membebani orang lain, jadinya bahkan punya teman ceritapun, saya nggak mau yang terlalu berlebihan membebaninya dengan masalah saya.


Di sisi lain, yang bikin pusing itu kan biaya hidup ya. Jujur akhir-akhir ini, saya masih berjibaku mengatur keuangan yang nggak seberapa untuk bisa mencukupi biaya hidup kami, terutama buat anak-anak.

Ketika awal ramadan, saya bahagia banget anak-anak libur, itu berarti bisa hemat uang transport dan uang jajan mereka.

Tapi, ketika anak-anak masuk, mengalir deras deh pengeluaran. Baik sekolah si Adik yang mengharuskan bawa sembako dengan jumlah yang ditentukan sekolah.

Pun juga mengharuskan anak-anak ya bayar zakat fitrah di sekolah.

Jujur, saya yang lagi berjibaku dengan berhemat sebaik mungkin, jadi ngos-ngosan mengatur ulang pengeluaran. Karena you know lah, harga beras sekarang lumayan.

Saking memang berat, dan saya tetap memenuhi semua ketentuan sekolah, karena kasian juga kalau cuman si Adik yang belum kumpulin.

Eh ternyata, pas diumumkan, cuman si Adik yang bawa beras dengan agak ngepres jumlahnya. Dari jumlah besar 3kg, saya bawain hampir 4 kg, dan lainnya bawa 5 kg an, hahaha.

Lalu itu diposting di grup, dan saya legowo saja, nggak perlu malu sih ya, kan emang disuruhnya demikian, apalagi sebenarnya zakat fitrah itu kan 2,4 kg ya!

Sementara itu, si Kakak pun pulang membawa kabar, kalau kegiatan ramadan di sekolahnya juga banyak, salah satunya mereka harus ikut pondok ramadan dan harus menggunakan atribut lengkap. Dan you know, si Kakak menghilangkan kopiah sekolahnya.

Beli lagi dong, duit lagi dong, iya kalau murah gitu, harganya lumayan, tapi sekolahnya mengancam, kalau nggak pakai kopiah sekolah nggak boleh ikutan, huhuhu.

Dan belum lengkap lagi, nantinya si Kakak juga dipaksa bawa beras 3 kg untuk zakat fitrah, astagaaaahhh!

Oh jangan lupa, minggu depan si Adik bakalan ada kegiatan ramadan lainnya, di mana kami disuruh bawa nasi kotak minimal 3 kotak, hahaha.

Saya cuman meringis aja, puyeng memikirkan gimana atur duitnya.

I know, sangat know, bahwa Allah akan mencukupkan. Tapi sebagai single fighter mom yang menghadapi semuanya sendiri, tidak ada pasangan tempat berbagi... that's soooo f*ckingggggg hard tauk!


Lalu, dalam kepuyengan kepala mikirin hal itu, tiba-tiba ada yang WA nagih uang iuran kado guru dan biaya bukber, tiba-tiba tanduk saya seolah keluar!

Masya Allllaaaaaahhh, saya dan si guru, lebih kaya si guru itu woeeee.
Dan saya nggak mau ikut bukber, apalagi kalau bayar, karena emang you know akoh lagi puyeng memikirkan gimana caranya bisa memenuhi kebutuhan utama anak-anak, hiks.

Karena nggak sanggup lagi, kepala panas, migren kambuh, padahal udah minum obat, btw saya jadi sering berbuka dengan parasetamol dah ini, wakakakakak.

Offkors saya kesal.

I mean, kenapa sih harus ada kegiatan yang menyusahkan ortu lainnya itu?. Kenapa nggak masing-masing aja ngasih kado, atau ajak aja yang mau, yang nggak mau, biarin aja nggak usah disebut.

Saya nggak masalah tuh dibilang pelit, daripada kudu hutang demi beliin kado orang lain.

Apalagi masalah bukber, masya Allah, how i hate kegiatan kek gitu. Sejak jadi single fighter mom, tempat bukber terindah itu ya di rumah, cukup air hangat lalu kami makan malam, dan Alhamdulillah anak-anak masih nerima.

Males banget ikut acara bukber, sama orang yang nggak terlalu dekat pulak, apalagi kerjaan saya banyak, mending cari uang mah, ketimbang keluarin uang.  

Maksudnya gini loh, biarin aja kalau mau bikin acara, tapi plis lah, selama itu bukan acara wajib sekolah. Plis jangan memberatkan ortu lainnya yang kondisi ekonominya sedang tidak baik-baik saja.

Silahkan kalian bikin acara sendiri, tawarin ortu lainnya, kalau mereka nggak bisa dan nggak mau, ya udah jangan dipaksa.

Silaturahmi itu penting, tapi berhutang demi silaturahmi, tentunya sangat dibenci Allah juga kan?


Lalu balik lagi, ke masalah share masalah pribadi di medsos.

Keluhan tentang biaya ini itu di sekolah TK si Adik, saya tulis di medsos. Dan seperti biasa, jika saya menulis hal yang bisa dibilang sedikit 'berani', padahal ya udah milih kalimat sehalus mungkin, dan fokus ke diri sendiri. Dijamin beberapa orang akan memberikan petuah buat saya melalui DM.

Yang sabar mbak Rey, bersyukur saja, orang lain banyak yang lebih susah.

Yang sabar Mbak Rey, nggak semua hal boleh kita tulis di medsos.

Dan lain sebagainya.

Etdaahhh, andai orang-orang tahu kondisi saya yang sebenarnya ya, andai mereka tahu bahwa apa yang saya share ke publik itu hanyalah tipis-tipis kondisi saya aja.

Dalam artian, saya menuliskan hal itu, karena nggak sanggup lagi nahan beban diri. Saking beratnya beban yang menurut saya dipikulkan ke bahu saya seorang diri.

Dan plis lah, itu hanya sebagian kecil banget saya share ke medsos, yang asli jauh lebih besar. 

Salah satu alasan saya lebih memilih share ke medsos ketimbang bercerita ke orang terdekat, ya selain saya itu orangnya super sungkan membebani orang lain. Pun juga, paling nyaman tuh melampiaskan beban melalui tulisan di medsos atau blog aja.

Kenapa? karena saya punya kuasa luar biasa untuk menentukan, mana yang bisa saya bagikan, mana yang enggak.

Berbeda dengan curhat langsung ke orang terdekat, bukan tidak mungkin saya akan membuka semua masalah keluarga yang katanya jadi aib itu.

Ini bukan hanya overthinking semata, tapi memang sudah pernah banget saya alami dulunya. Saya pernah diajak ngobrol sama seorang teman, ujungnya saya merasa risih karena semua hal ditanyakan, bahkan hal-hal yang sensitif dan terlalu privasi buat saya.

Masalahnya kan saya adalah manusia yang sulit bilang enggak. Jadinya serba nggak nyaman.

Di satu sisi, curhat buat melapangkan dada, tapi ujungnya nambah beban pikiran. Apalagi saya kan introvert ya, yang namanya overthinking setelah ngobrol itu sering terjadi.

Bertanya-tanya sendiri, 

Saya tadi over sharing nggak ya?

Duh kenapa cobak saya harus jawab begini?

Duh kenapa cobak saya harus kasih tahu dia?

Karena sesungguhnya kebanyakan teman bicara itu, cuman kepo aja, malah keponya kebangetan pulak, sampai hal paling privasi pengen dia ketahui.

Ujung-ujungnya ya malah bikin beban pikiran tambahan kan buat saya.

That's why betapa saya lebih suka curhat di tulisan. 

Dengan menulis, saya bebas mengontrol apa yang harus saya sampaikan, apa yang nggak mau saya sampaikan. Kalaupun ada orang yang pengen nanya sesuatu, kan harus melalui kolom komentar, dan pertanyaannya dibaca banyak orang. Jadi orang sendiri yang akan menilai bagaimana bentuk pertanyaan itu, pantas atau enggak.

Gimana kalau dia nanya melalui DM?

Lucky me, saya jarang buka DM facebook, wakakakakak.

Jadi seringnya DM banyak orang tuh numpuk aja nggak pernah terbaca.

Intinya demikianlah, kisah hari ini yang sungguh berwarna, terjadi dalam sehari. Antara kesal, tapi jujur ketika menuliskan hal ini, udah nggak terlalu kesal juga.

Udah lebih tenang, mungkin karena lega sudah menuliskan uneg-uneg diri meski di medsos. Lega karena teman-teman FB saya memang dari dulu masya Allah baik-baik banget, selalu menenangkan.

Dan semua tanggapan mereka, selalu ngademin hati, bukan bikin makin kesal.

Jadi ingat komentar saya di akun threads yang saya baca tadi, di mana saya bilang kalau medsos dan blog sudah menjadi sebuah psikolog gratis buat saya selama 4-5 tahun belakangan ini.

Beneran loh, udah nggak terhitung lagi berapa kali saya terselamatkan setelah menuangkan keluhan diri melalui tulisan.

Hal yang buat orang lain sebagai sesuatu aib, tapi ternyata buat saya itu adalah sebuah hal yang sangat berarti dan bikin saya merasa beruntung.

Tahu nggak sih? kalau Temans pernah ikutan di Grup Mother Hope Indonesia, atau grup Single Mom Indonesia. Lalu membaca curhatan anggota grup itu, betapa mereka merasa depresi dengan kehidupan, nggak tahu harus berbuat apa.

Banyak yang akhirnya ke psikolog hingga ke psikiater berbekalkan BPJS, itupun tidak serta merta bikin mereka lebih baik.

Karena emang nggak semudah itu, kita ke psikolog sekali, abis itu kita curhat, pulangnya langsung membaik. Enggak ya!.

Butuh berkali-kali, dan sayangnya psikolog itu, sama kayak dokter gigi, cocok-cocokan, dan kita kudu balik lagi berkali-kali sampai masalah yang ada di kita bisa diurai dengan baik.

Mana mihil pulak!

Saya pikir, BPJS mungkin tidak akan menyediakan banyak pilihan psikolog secara gratis. Saya aja dulu ke psikolog bayar sendiri, cuma 1 jam dan jujur kurang puas.

Mau balik lagi, kok ya sayang duitnya, masih dipakai buat lainnya.

Ternyata saya bisa menggantikan posisi curhat di psikolog itu, dengan menulis curhat di blog. Dan memang terasa banget loh manfaatnya, meskipun tidak berarti saya udah lebih baik dalam harfiah sembuh total ya. Tapi setidaknya menenangkan, mengurai banyak suara riuh rendah di kepala saya.

Dan kayaknya juga nih ya, salah satu hal yang bikin lebih baik, setelah sibuk menulis curhat di blog, eh ujungnya blognya bisa digunakan untuk menghasilkan uang.

Emang sih, yang namanya uang itu, obat paling mujarab, wakakakakakak.

Selain itu, keseringan menulis di blog bikin saya jadi terlatih menulis dengan cepat, meskipun belum bisa menghasilkan tulisan yang bisa dibukukan ya. Buat saya kemampuan menulis yang easy reading itu belum bisa saya kuasai. Masih banyak kata-kata yang boros, kebolak balik atau semacamnya yang saya lakukan.

Doakan deh, suatu hari nanti saya juga bisa menulis sebuah buku yang bermanfaat buat orang lain, dan juga bermanfaat buat diri saya, salah satunya menghasilkan duit wakakaka.

Duit aja mulu si Rey ini!

Ye kan, bukankah itu adalah hal yang luar biasa, bermula dari suka curhat di medsos dan blog, eh ujungnya bisa nulis buku, apalagi bukunya bisa disukai banyak orang, khususnya para wanita seperti saya, ye kan?.   

Etapi, saya nggak mau juga sih kalau memberikan inspirasi kepada semua orang untuk secara asal share kisahnya di medsos.

Kenapa?

Semua itu butuh modal ya Temans, setidaknya mental yang kuat. Saya pernah liat beberapa teman yang menulis kegundahannya di medsos, ujungnya stres sendiri karena diserang dengan komen kontra dari friendlist-nya.

Belum lagi ketambahan ada temannya yang menasihati dia di kolom komentar,

"Hal-hal begini, jangan diumbar di medsos!"

I know bagaimana rasanya membaca komentar seperti itu, apalagi kalau yang tulis adalah teman kita sendiri.

Antara sedih dan kesal, merasa teman kita kok nggak ngertiin kita, nggak mendukung kita?.

Bedanya, saya udah khatam perasaan itu, jadi bisa lebih cuek kalau ada yang komen kontra, ya udah nggak usah dibalas, atau dibaca. Kecuali meman udah keterlaluan dan berulang kali terjadi, ya udah tinggal di block aja, wakakakakak.

Demikianlah, curhatan ini pure saya tulis untuk diri sendiri, tapi kalau ada Temans yang mau baca, dan merasakan manfaatnya Alhamdulillah.

Kalaupun merasa kontra, juga nggak masalah.

Bukan tugas saya untuk selalu memberikan hal yang pro kepada semua orang kan?

How about you, Temans? 


Surabaya, 21 Maret 2024

1 komentar :

  1. Aku tuh juga sebel Ama kegiatan sekolah yg banyaak bgt pakai duit tp ga mikirin ortu murid lain yg mungkin kurang bisa memenuhi semua. Apalagi kalo pake Kata2 wajib dibayar padahal ga ikutan :(.

    Sekolah anakku negeri juga samaa Rey. Tp mungkin ga terlalu dipaksa sih. Bisa jadi juga Krn banyak ortu yg ga mampu dan wakorlas nya juga ga bisa maksa jadinya.

    Kayak akhir may ntr, ada acara perpisahan ke Kidzania dan puncak. Aku mikirnya aja, mo ngapain sih ke puncak segala, anak kls 2. SD gitu loh 🤣🤣. Mana biayanya lumayaaan. Tiket Kidzania juga ga murah kan. Kau kepikiran LGS Ama ortu2 yg ga mampu.

    Trus jawaban wakorlas, udh JD keputusan komite, dan kalo bisa nyicil nabung dari skr biar ga berat 😅. Solutif sekali 😂

    Aku ga kebayang kalo anakku sekolah di sekolah swasta yg LBH mahal, mungkin budget travelingku LGS ludes kepake juga 😅.

    Tp yg case mu ini, menurutku sih memang bagusnya terbuka ke mereka ttg masalah keuangan. Jadi ga mungkin juga mereka paksa . Kita toh hrs ada skala prioritas. Kalo utk hal ga penting kayak kado dan bukber, ya ngapain dipaksain kan. Drpd kewajiban lain ga kebayar.

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)