Day 1 of 365, Malam Pergantian Tahun Dan Cerita Tentang Militer

day 1 of 365

Day 1 of 365 ala ala Rey nih, *tssaaahhhh. 

Anyway, gimana nih kabar Temans semua, ada yang begadang di pergantian tahun semalam?. Atau biasa aja kayak malam-malam lainnya.

Sebenarnya saya juga terbiasa melewatkan malam begitu dengan biasa aja, hanya setelah si Kakak mulai remaja, dia senang banget jika kami melakukan sesuatu menikmatinya.

Seperti 2 tahun lalu, kami keliling Surabaya dan menikmati kembang api di balai kota Surabaya. Setahun yang lalu kami sibuk packing dan duit sangat terbatas, jadi menikmati kembang api di malam Surabaya dari kontrakan aja.

Nah tahun ini, kami melewatkan malam pergantian tahun di kota Baubau. Kebetulan saya bertugas shift malam.

Awalnya saya udah berencana menghabiskan malam dengan menulis di blog aja, apalagi anak-anak minta ikut tidur di klinik.   

Ternyata, di sore hari, seorang teman leting STM mengirim pesan melalui chat WA, yang isinya menanyakan waktu saya, apakah bisa kumpul-kumpul di malam tahun baru?.

Saya menjawab kalau jaga malam, dan dia menawarkan apakah boleh ketemuan di coffee shop dekat klinik tempat bekerja?. Dan saya menawarkan untuk mengajak teman-teman lainnya.

Ternyata dia setuju, meminta saya mengajak lainnya.

Ye kan, teman saya laki, laki orang pulak, istrinya di kota lain pulak, dan saya berada di kota Baubau, sekali lagi, di Baubau. Kota kecil yang penuh dengan keluarga saya, yang penuh dengan 'omongan orang' yang membahana.

Ditambah status saya yang pra jendes, lengkap sudah!.

Setelah menyebarkan info dengan setengah memaksa di WAG Alumni STM, yang ditanggapi beberapa teman dengan bercanda doang, akhirnya saya menelpon seorang teman akrab, si Mila. Dan syukurlah dia mau, karena paham banget kalau temannya ini, selalu disalah pahami oleh banyak teman lainnya.

Kami janjian bertemu di atas pukul 9 malam, dan saya tiba di klinik pukul 21.10.

Sedikit telat karena rempong dengan dua anak yang berantem aja mulu setelahnya bercanda lagi, lalu berantem lagi, ckckckck.

Dan ternyata, baru nyampe saya disambut oleh pasien dong, datang di pergantian shift itu owow selalu, hahaha.

Terpaksa deh saya minta temans lainnya untuk duluan ke coffee shop aja, saya nyusul belakangan jika pasien udah sepi. Kebetulan juga coffee shop-nya persis ada di depan klinik, cuman nyebrang doang, sampai.

Ternyata si Mila dan teman satunya nggak mau masuk duluan, nungguin saya di parkiran, ampun deh. Jadilah saya mondar mandir dulu urus pasien, lalu beliin si Mila sebuah roller panas karena pinggangnya sakit di apotek Farus Medika. Dan setelahnya saya pamit ke teman lain yang jaga, kalau saya di depan, dan jika ada pasien cukup call saja.

Anak-anak juga masih asyik main HP karena dikasih kebebasan menikmati malam tahun baru di meja maminya, jadi semuanya aman.

Baca juga : Coffee Ground Surabaya, Tempat Nongkrong Instagramable


Menikmati Malam Pergantian Tahun Dengan Mengobrol Di Renovfood Social Space

Setelah semua beres, saya segera menyeberangi jalan menuju kedai kopi yang bernama Renovfood Social Space. Jujur ini pertama kali saya menginjakan kaki di sini meskipun udah berbulan-bulan bertetangga dengan tempat ini.

Berkali-kali saya tertarik ingin coba kopinya ketika ngantuk, tapi urung karena selalu terbayang Nescafe Caffe Latte atau Cappucino yang cuman seharga 1/3 dari harga 1 gelas kopinya, wakakakakak.

Sementara saya, minum Cappucino Nescafe aja, udah cukup menghapus rasa kantuk, bahkan kadang jadi susah bobok. Dasar ya mamak-mamak wanna wanna, hahaha.

Renovfood Social Space atau orang-orang biasanya menyebut dengan Renov aja, selalu terlihat ramai hampir setiap malam. Apalagi di malam minggu, karena ada live music-nya.

Saya agak khawatir ketika teman-teman belum juga mau masuk duluan, takutnya kami nggak dapat kursi kosong.

Ternyata, ketika masuk suasana kedai terlihat ramai oleh muda mudi dengan usia sepertinya di bawah kami. Tapi nggak yang penuh banget.

Terlihat masih banyak kursi yang kosong.

Teman saya yang laki meminta si Mila untuk pesan dan memberikan duit buat bayarnya. Awalnya saya sungkan dan ingin membayar pesanan sendiri, tapi Mila memaksa jadilah saya nurut aja.

Mila memesankan mereka berdua Coffee Latte Ice 2 gelas seharga 27ribuan + PPN 10%, ditambah 2 kentang goreng seharga 20ribuan + PPN 10%. Sedangkan saya pesan Matcha Latte dengan harga yang sama.   

Di kedai kopi ini menerima pembayaran cash dan Qris juga. 

Setelah memesan dan membayar, kami kembali ke meja dengan membawa papan pesanan. Hanya sekitar 15 menitan menunggu, pesanan minuman datang, dan 10 menit kemudian pesanan kentang goreng juga datang. 

Akan tetapi, pesanan saya nggak juga muncul.

Ternyata ketika melihat struk, pesanan saya belum masuk dong, alhasil kami kembali ke kasir dan si Mila protes tentang pesanan kami.

Melihat si Mila hampir kesal, karena mbak kasirnya malah nanya,

"Apa Kak, pesanannya belum diinput?"

Buru-buru saya jawab,

"Lah, nggak tahu Mba, kan yang input Mba-nya, mana saya tahu Mba udah input atau belum!"

Mungkin karena logat saya berbeda dengan kebanyakan orang sini, ditambah saya tuh masih sering kepleset manggil 'mbak' ke orang-orang, hahaha. Jadinya mbak kasirnya segera meminta maaf dan memproses pesanan tambahan buat saya.

Setelahnya kami menunggu sekitar 15 menitan, sampai akhirnya pesanan saya tiba.

Minuman dingin di kedai kopi ini, disajikan dalam gelas plastik tebal berukuran kecil. Dan isinya juga cuman setengah lebih dikit, hahaha.

Saya nggak tahu, apakah memang standar-nya gitu, tapi es batunya dikit, dan hasilnya minumannya, maniiisssss buanget, hahaha.

Tapi ini mungkin nggak merepresentatifkan rasanya secara umum ya, memang saya aja udah jarang minum minuman yang manis banget.

Untuk minuman Coffee Latte nya juga sama ukurannya dan banyaknya dengan punya saya, sayang saya nggak cicipin rasanya. Sementara kentangnya lumayan banyak sih, meski buat saya ya masih lumayan pricey.

Saya yang udah makan nasi banyak banget ketika makan malam, jadinya malas sekadar mencicipi kentangnya, tapi penampilannya sih mirip kentang yang biasa dijual di supermarket itu loh, hehehe.

Kalau dihitung-hitung, teman saya mengeluarkan duit sebesar 136ribuan untuk pesanan 3 minuman dan 2 kentang goreng. Sebenarnya standar ya untuk sebuah kedai kopi, tapi memang untuk mamak-mamak pecinta kopi Nescafe ini, ya lumayan pricey, wakakakaka.   

Oh ya, untuk suasana kedainya sendiri, jujur kurang ngobrol-able yak (buat saya). Karena mejanya dekat-dekatan banget. Ada ruangan ber-AC, juga ada lokasi outdoor.

Kami pilih di outdoor karena teman saya merokok. Untungnya rokoknya nggak bau yang tajam gitu, saya bisa tahan aja baunya, akan tetapi pas pulang, saya bete sendiri mencium bau rokok di ruangan saya, eh ternyata baju saya ketempelan bau rokok, wakakakakak.

Kalau menurut saya, kedai ini cuman menang di lokasinya yang super strategis. Karena dia berada tepat di pertengahan kota Baubau. Orang yang dari ujung kota sangat adil jika ketemuan di sini, karena letaknya di tengah-tengah.

Untuk tempatnya sendiri, kalau menurut saya biasa aja ya. Rapi dan bersih sih, instagramable juga nggak terlalu. 

Karena letak meja sangat berdekatan, ditambah suara musik yang meski pelan, lumayan bikin kami kaum milenial jompo kalau ngobrol serasa teriak-teriak, wakakakakak.

Sepertinya, orang-orang yang duduk di samping kami, udah kenyang banget dengerin semua cerita kami. Apalagi, saya nggak berhenti ngoceh, nanyain ini itu ke teman-teman, biar ngobrolnya lancar gitu loh maksudnya.

Meanwhile yang lain sih terlihat lebih santai, malah banyak yang asyik liatin HP masing-masing.


Ngobrolin Militer dan Lainnya

Semalam ngobrol sampai 4 jam, ngobrolin apa saja?. Banyak.

Mulai dari masalah tentara AD dari kasus pembunuhan sadis dengan pelaku tentara di Baubau barusan, hingga lainnya.

Tentu saja ditimpali dengan obrolan lainnya.

Dan karena saya memang tipe orang yang lebih suka mendengarkan, jadinya keduanya rebutan cerita buat saya, hahaha.

Namun, teman laki saya selalu menang menguasai obrolan, jadinya topik pembicaraan lebih banyak di seputaran tentara atau militer.

Mulai dari membahas tentang sikap pihak militer yang sampai detik ini tidak mau menjelaskan secara rinci kronologi pembunuhan sadis seorang perempuan di Baubau yang terjadi 2 mingguan lalu. 

Setelah diselidiki ternyata pelakunya adalah 2 orang tentara yang baru tiba di batalyon yang ada di Baubau. 

Meski Dandenpom XIV/3 Kendari Letkol CPM Haryadi Budaya Pela telah menjelaskan motifnya adalah karena sang wanita menagih tanggung jawab kehamilannya pada si tentara. Tapi hingga saat ini belum ada keterangan resmi tentang kronologi lengkapnya.

Padahal banyak masyarakat yang protes akan hal tersebut.

Ternyata, memang di militer hukumnya berbeda dengan umum. Nggak ada yang namanya publikasi secara lengkap.

Biasanya pelaku hanya akan diadili secara militer, dan biasanya itu tertutup.

Saya penasaran dong, lalu browsing sendiri.

Ternyata, pengadilan militer itu pada dasarnya sama aja dengan pengadilan umum, terbuka buat umum. Namun, ada 2 hal yang biasanya dijadikan tertutup buat umum, yaitu:

  • Menyangkut rahasia negara
  • Kasus asusila

Nah, sebenarnya pembunuhan tersebut kan didasari juga oleh kasus asusila, jadi itu kali keputusan pemimpinnya yang tak mau membuka kasus ini secara jelas pada masyarakat umum.

Namun jujur, saya masih dongkol memahaminya, karena ini menyangkut Femisida atau pembunuhan yang disengaja dan bermotif gender terhadap perempuan.

Selain itu, ada sebuah konteks dan isu transparansi yang masih mengganjal. 

Yaitu, UU TNI dan Konflik Hukum.

Di mana Undang-Undang TNI yang lebih baru mengamanatkan prajurit TNI yang melakukan tindak pidana umum diadili di peradilan umum (Pasal 65 UU No. 34 Tahun 2004).

Sayangnya implementasinya masih menghadapi tantangan karena konflik dengan UU Peradilan Militer yang lebih tua.

Sehingga revisi UU Peradilan Militer sangat didesak untuk memastikan transparansi dan supremasi  sipil. Ini juga pernah oleh Komnas Perempuan ketika mengadakan seminar Zoom 'Isu-isu Krusial dalam KUHAP: Peluang, Tantangan dan Dampaknya Bagi Perempuan' bulan lalu. 

Dan kenyataannya, hal ini memang merugikan masyarakat, khususnya korban perempuan (dan laki juga sih) ketika pelaku adalah seorang dari militer.

Dai obrolan kasus pembunuhan tersebut, kami malah membahas tentang hal-hal lain tentang tentara. Jujur saya tertarik membahas peran istri dalam meng-support suaminya yang seorang tentara.

Salah satunya dengan memberikan kepercayaan penuh kepada suami jika ingin karirnya cepat berkembang.

Akan tetapi ketika karir atau pangkat suami cepat naik, seiring juga dengan berbagai risiko, salah satunya siap dipindahkan ke mana saja dalam waktu yang pendek.

Yang jadi masalah tuh kalau istri juga bekerja, tentunya masalah suami tentara yang sering berpindah-pindah ini bakalan jadi problem tertentu. Termasuk ketika istri tak bisa memberikan kepercayaan penuh pada suami takut suami nyeleweng.

Nyatanya ada juga beberapa tentara yang terpaksa nggak bisa mengejar kenaikan pangkat dengan cepat karena hal tersebut. Di samping ada juga yang memang sengaja menghindari kenaikan pangkat karena merasa sudah nyaman di daerah tersebut, dan berat jika harus sering dipindahkan sana sini.

Menurut saya, hal ini penting banget dipahami dengan sebenar-benarnya, serta didiskusikan dengan calon pasangan militer sebelum melangkah masuk dalam hubungan sebagai istri militer yang syaratnya banyak itu.

Dengan memahami, akan berkurang drama perempuan yang merasa dirugikan oleh hukum militer. Salah satunya seperti masalah hukum militer yang tak bisa diakses oleh umum itu.

Over all, percakapan kami jadi terasa menarik buat saya, meskipun kedua teman saya jadi menyimpulkan,

"Rey, kamu cocok deh punya suami militer!"

Woowwwww...woooowwwww...woooowwwww!

Mulai deh salah paham, hahahaha.

Baca juga : Ingin Bersilaturahmi, Kenapa Jadi Ribet

Enggak ya, di luar dulunya saya tidak suka dekat-dekat dengan polisi atau tentara, dengan alasan nggak mau ditinggal-tinggal, terus berjodoh dengan pekerja konstruksi, ujungnya ditinggal juga, wakakakak.

Tapi, semua hal tentang keingin tahuan saya tuh, lebih banyak murni karena saya penasaran dan pengen tahu aja, apalagi kalau itu menyangkut masalah perempuan dan anak.

You know, profesi apapun menarik buat saya ketahui.

Di klinik misalnya, ketika saya duduk dan ngobrol sama dokter, saya akan mengubek-ubek tentang semua hal di profesi dokter.

Apa aja yang mereka pelajari, bagaimana tantangannya, bagaimana pemikirannya dengan isu-isu dokter terkini, udah berasa wartawan beneran dah akoh, hahahaha.

Baca juga : Blogger Perempuan Baubau Belajar Jadi Wartawan

Demikian juga ketika kumpul perawat atau bidan, saya jadi tahun banyak hal tentang dunia itu ya karena saya kepo jadi nanya. Jujur saya ebih suka ngobrolin hal-hal begini ketimbang ngobrolin bergibah tentang masalah orang lain, hehehe.

Begitulah.

Empat jam kami ketika menikmati malam pergantian tahun sangat menarik, how about you, Temans?.

Note: sayangnya kagak ada foto yang terekam, saya sama sekali nggak kepikiran mau foto-foto dong, hahaha.


Baubau, 01-01-2026


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)