6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua

6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua

Sharing By Rey - Drama Korea Its Okay to Not Be Okay memang sudah tamat dari on going-nya, akan tetapi, gema dari drakor ini masih terus terngiang.

Beberapa teman yang memang kurang menyukai mengikuti drama Korea yang sedang on going bahkan baru saja menontonnya.
Dan tentu saja hal itu membuat gemanya terus berlangsung. 

Btw, drama Korea ini sedikit banyak berarti buat saya, karena drakor ini adalah satu-satunya drakor yang saya tonton secara lengkap, tanpa di skip-skip atau dipercepat saking bosannya.

Saya memang jarang nonton drama Korea sekarang, tahu sendiri lah alasannya.
Mau tidur saja saya selalu ngomel dulu, saking waktu saya buat tidur kadang tidak terpenuhi, gimana bisa waktunya mau digunakan nonton drakor yang ber episode itu?

Meskipun, mungkin banyak yang bilang, 
"Ih, kan drakor cuman dikit episodenya, palingan belasan, bandingkan dengan sinetron di TV nasional yang 1 episode aja isinya zoom out zoom in wajah pemainnya!" hahaha.
Ya kagak usah dibandingin juga sih ya, karena saya nggak pernah nonton sinetron Indonesia, bukan karena zoom in zoom out-nya, tapi waktunya boookk....
I am sooo fakir waktu, huhuhu.

Mungkin karena itu kali ya, saya memang menonton sedikit banyak drama Korea yang ada, sebut saja drama Korea Go Back Couple yang meskipun saya menikmati dan feeling so CLBK karenanya, tapi di tengah-tengahnya saya nontonnya di percepat mulu, hahaha.

Juga yang kemaren sungguh fenomenal meski bertepatan dengan bulan Ramadhan, yaitu drakor The World Of the Married yang menurut saya B aja, hehehe.
VIP, Crash Landing On You, dan masih banyak lagi.

Akan tetapi kesemuanya saya tonton dengan cepat, saking saya percepat mulu hihihi.

Jadi kebayang kan, betapa istimewanya drama Korea Its Okay to Not Be Okay ini, meskipun sebenarnya ya kalau mengenai gregetnya ya kurang lebih sama dengan drama Korea lainnya.
Tapi ada beberapa hal yang membuat saya menikmati dramanya, yaitu:


1. Jadi Pengingat Saya Dalam Memanajemen Emosi Sebagai Ibu


Karakter Moon Gang-Tae serta Ko Moon-Young merupakan cerminan asuhan ibunya yang kurang bisa memanajemen emosi dan kesehatan mentalnya.

6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua

Gang-Tae sendiri, dibesarkan oleh seorang ibu yang terus merasa sedih karena harus mengasuh 2 orang anak seorang diri, sepeninggal suaminya.
Terlebih salah satu anaknya adalah anak berkebutuhan khusus.

Karenanya, sang ibu terlihat gagal menempatkan diri sebagai ibu yang adil untuk kedua anaknya.
Di mana, dia lebih cenderung memperhatikan anak pertama yang berkebutuhan khusus, tanpa dia sadari anaknya yang sehatpun butuh kasih sayang utuh seorang ibu.

Demikian pula dengan Moon-Young, dia lebih parah, karena dibesarkan oleh seorang ibu yang tidak bisa berdamai dan menyadari kesehatan mentalnya yang terganggu.
Alhasil, Moon-Young tidak hanya tumbuh menjadi anak yang egois, tapi juga kasar dan nekat.

Kondisi mental saya belakangan ini juga lumayan parah, hal itu tentu saja berdampak pada anak-anak.
Meskipun belum terlihat nyata pada si Kakak, tapi adiknya sudah terlihat, betapa dia jadi anak yang suka memaksakan kehendak dengan menawarkan cranky-nya, huhuhu.

That's why, segala upaya saya lakukan, demi bisa memanajemen emosi saya, tentunya selain memohon pada-Nya sang maha penguasa alam.


2. Jadi Pengingat Saya Bahwa Setiap Anak Bertanggung Jawab Terhadap Dirinya Sendiri 


Kadang, saya dengan maupun tanpa sadar terlalu memaksakan pada si kakak, bahwa atas nama dia lahir duluan, si kakak jadi kudu bertanggung jawab terhadap adiknya.

6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua

Seperti Gang-Tae yang diharuskan ibunya untuk bertanggung jawab menjaga kakaknya yang terlahir special need. Padahal ya, bukan salah dia jika kakaknya terlahir special need dan dia tidak.

Karena pengharusan yang entah dengan sengaja ataupun tidak, ibunya tekankan, Gang-Tae akhirnya tumbuh menjadi orang yang nggak bisa mengekspresikan dirinya tertutup dan seolah hidupnya hanya untuk menjaga kakaknya saja.

Saya tidak mau si kakak, seperti itu, biar bagaimanapun, setiap anak seharusnyalah bertanggung jawab dengan hidupnya sendiri.
Saling menjaga, bukan berarti menggantungkan hidup dengan membebani saudaranya, kecuali memang hal-hal sepele yang masih bisa ditolerir.


3. Semua Anak Butuh Kehangatan Orang Tuanya 


Moon Gang-Tae dan Ko Moon-Young adalah cerminan anak yang kekurangan kehangatan orang tuanya, terutama ibunya.

6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua

Gang-Tae yang merasa kekurangan kasih sayang ibunya karena ibunya lebih fokus pada kakaknya yang special needs, demikian juga Moon-Young yang sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang ibunya, karena memang ibunya punya masalah mental.

Ayahnya pun hanya sibuk dengan urusannya sendiri, meskipun demikian, satu momen yang pernah ayahnya lakukan dengan menemaninya dan membacakannya dongeng, sangat melekat di ingatan Moon-Young.

Ini yang bikin saya kadang takut, kalau si kakak menilai saya tidak bisa lagi memperlakukannya dengan hangat seperti dulu.
Yup, kami pernah sangatlah dekat bagaikan separuh jiwa.

Si kakak, yang tidak pernah bisa mengabaikan pelukan dan ciuman pada pipi maminya, demikian pula maminya ini huhuhu.
Semenjak kelahiran adiknya, rasanya saya kewalahan.

Baik kewalahan mengurus 2 anak, terlebih kudu disambi dengan bekerja cari duit, pasangan yang tidak bisa bekerjasama dengan baik dalam menciptakan mood yang baik.
Jadilah saya semakin hari jadi semakin kayak orang gila dan kadang pikun.

Tapi saya tidak boleh menyerah dengan keadaan, drama Korea ini mengingatkan saya, bahwa saya harus berjuang untuk menjadi ibu yang baik, hangat dan adil kepada kedua anak saya.


4. Menyadari Bahwa Trauma Masa Kecil Itu Nyata 


Ada scene di mana salah satu pasien RSJ tempat Gang-Tae bekerja, yang sering menjadi pribadi yang berbeda, seolah dia kembali ke masa kecilnya, menjadi anak kecil.

6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua

Hal itu terjadi karena trauma masa kecilnya yang masih melekat hingga sekarang.
Mungkin bisa dibilang dengan inner child kali ya, tapi dalam versi yang berat, karena dia sepenuhnya kembali ke masa kecil, menjadi kepribadian anak kecil.

Itu juga yang sering saya rasakan, seolah saya gagal tumbuh dewasa, karenanya saya nggak mau anak-anak seperti saya.
Sekuat tenaga saya akan berusaha memperbaiki diri, agar bisa menjadi ibu yang baik bagi kedua anak saya.


5. Menyadari Bahwa Mencintai Diri Sendiri Itu Penting


Ini yang agak challenging buat diterapkan sebagai seorang ibu.
Di mana, seorang ibu adalah malaikat bagi anaknya, namun ibu juga jangan sampai lupa mencintai dirinya sendiri.

6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua

Kadang mencintai diri sendiri ini disalah artikan oleh beberapa orang, termasuk saya.
Di mana, misal saya ingin me time, agar saya bisa lebih bahagia, karena saya mencintai diri saya sendiri.
Me time versi saya adalah terlepas sejenak dari anak-anak, di mana hal itu tidak memungkinkan, karena saya adalah satu-satunya orang dewasa yang peduli sama mereka.

Jadi, saya kadang sibuk menghibur hati sendiri, saat ada kesempatan datang berisi sesuatu yang menjadi impian saya, harus saya tepiskan, karena keadaannya tidak memungkinkan.
Misal, jika ada event blogger di hari kerja, dan saya nggak bisa ikut karena anak-anak nggak bisa ditinggal.

Atau tawaran jalan-jalan gratis dari beberapa sahabat lama saya, entah itu ke tempat wisata, atau semata ke mall, nongkrong dan ngobrol santai, padahal saya butuh banget teman ngobrol, namun tidak bisa saya lakukan.

Hal ini memicu stres, karenanya saya menyikapi bahwa mencintai diri sendiri itu penting, namun tetap berusaha menerima kondisi.
Atau mengubah apa yang kita sukai, sesuai kondisi, misal, jika nonton adalah me time saya, maka saya terpaksa mencari film ramah anak agar bisa me time bersama anak-anak.

Yang penting adalah, bisa mencintai diri sendiri, meskipun terlihat egois, seperti kata Nam Ju-Ri, bahwa,
"Kalau kamu ingin memberikan kebahagiaan pada orang di sekitar, coba temukan dulu hal yang membuat dirimu sendiri bahagia. Memikirkan diri sendiri tidak selamanya buruk

6. Menyembuhkan Luka Batin Itu Penting


Luka batin sebaiknya dihadapi, diterima lalu bisa berdamai dengannya.
Seperti karakter Moon-Young dan Gang-Tae serta kakaknya Sang-Tae yang mempunyai luka batin akibat masa kecilnya yang kurang bahagia.

6 Pelajaran Menarik Dari Drama Korea Its Okay to Not Be Okay Bagi Orang Tua

Ketika Gang-Tae harus berpindah-pindah hanya untuk membawa Sang-Tae terlepas dari semua mimpi buruknya tentang kupu-kupu.
Pada akhirnya memang, hanya dengan menghadapinya, semua bisa ditaklukan.

Saya rasa, inilah yang membuat saya sedemikian betahnya menonton scene demi scene dari drama ini, karena dari semuanya, berkisar pada kesehatan mental yang diakibatkan oleh luka batin masa kecil.

Baik karakter utamanya Moon Gang-Tae, Moon Sang-Tae dan Koo Moon-Young, hingga masalah para pasien RSJ tempat Gang-Tae bekerja, semua berkisah akan masalahnya yang disebabkan oleh luka batin, serta cara menghadapinya agar bisa keluar dari masalah tersebut.

Semuanya, juga menceritakan, bahwa tak mengapa jika kita merasa hidup kita tidak baik-baik saja.
Toh semua orang punya masalahnya sendiri.

Dan drama Korea Its Okay to Not Be Okay ini seharusnya bisa jadi pengingat bagi orang tua seperti saya, baik untuk selalu menjadi orang tua yang baik demi karakter anak di masa mendatang, pun juga merealisasikannya dengan jangan mudah menghakimi atau mendikte orang lain.
Terlebih jika kita tidak tahu masalahnya dengan jelas.

Demikianlah.
Kalau temans, punya hal menarik apa lagi nih dari tontotan drama Korea Its Okay to Not Be Okay ini?
Share yuk :)


Sidoarjo, 30 Agustus 2020


Sumber : Drama Korea Its Okay to Not Be Okay 
Gambar : Asianwiki dan IDNTimes

18 komentar :

  1. Saya tidak nonton drama its okay to not be okay mbak, soalnya memang kurang suka drama Korea. Untuk alasannya kenapa kurang suka drama Korea kurasa sudah tahu lah.😂

    Jadi drama ini seperti drama keluarga ya mbak, seorang adik yang harus menjaga kakaknya yang berkebutuhan khusus, masa kecil yang kurang bahagia hingga terbawa sampai dewasa.

    Aku rasa poin poin yang diberikan mbak Rey sudah bagus, seorang anak memiliki tanggung jawabnya sendiri sendiri dan semua anak itu butuh kasih sayang orang tuanya, drama keluarga yang spesial. Biarpun begitu sepertinya saya masih belum pengin nonton mbak.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahha, soalnya juga lama banget ya, drakor berseri-seri sebenarnya membosankan, tapi drakor yang ini satu-satunya drakor terbaru yang saya tonton tanpa di skip :D

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. kayaknya drama ini baru dan belum pernah nonton tapi setelah baca tulisan ini, saya jadi tertarik untuk nonton karena banyak sekali hal positif yang bisa diambil dan terapkan dalam kehidupan nyata.

    BalasHapus
  4. Ya ampun drama viral ini saya belom nonton😟 padahal kata temen saya drama ini bagus banget karena selain yang main adalah idola😍 tapi juga membahas tentang kesehatan mental. Setelah baca ini saya jadi kepo juga, harus nunggu kesempatan buat minta temen atau cari wifi. Jadinya romantic plus mental illnes. Bikin penasaran....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haruuus nontooin mba astriii ;). Sumpaaaah aku sukaaaaak banget. Susah move on akhirnya skr hahahaha. Msh trgiang2 hubungan gang Tae dengan moon young :D.

      Hapus
  5. Numpang komentar kembali Mau Nulis Direcokin Anak Gw Melulu...Konsentrasi Buyaarr!! Simpan Draf Aja Dah Dulu...Haahaa 🤣 🤣 Mending Baca2 Blog Semua Orang Aja Dah..🤣 🤣

    Yaa memang sebuah Film pastinya mengambil kisah dari sisi kehidupan manusia yang nyata. Meski tidak semua.😊

    Dan karena Film kita juga bisa mengambil inspirasi, Apapun bentuk filmnya, Untuk kita jadikan percontohan nyata kehidupan kita. 😊😊 Namun mutu Film tersebut juga harus kita tahu dan fahami secara real juga.

    Saya pribadi belum pernah nonton film atau drama korea yang berjudul Its Okay to Not Be Okay .... Eeehh tapi pernah waktu lagi sebel sama si Vina, Begitupun dia. Cuma karena sebuah Film akhirnya ngobrol lagi...Haaahaaa!..Filmnya judulnya apa saya juga lupa cerita horor tapi ada romantisnya juga. Awalnya seraamm!! Dan menegangkan akhirnya tanpa sadar si Vina nanya tentang itu film.

    Sayapun lupa, Akhirnya menjawab apa yang ia tanyakan, Hingga film itu berakhir sayapun nyindir balik.

    "Lho kenapa kita ngobrol"...Kata Saya.

    "Boodoohh Aahh!" Kata si Vina.....TV pun saya matikan, Tapi ia minta dinyalakan kembali, Alasannya belum ngantuk akhirnya kami berdua ngobrol kembali sampai pagi, Dan saling diam pun terlupakan...Haaahaaa 🤣 🤣

    Terbukti berarti sebuah film terkadang yaa bisa jadi panutan juga, Walau terkadang bentuk dan cara penerapannya berbeda-beda.😊

    Haaahaaaa!...Lebay juga gw yee...Haahaaa 🤣 🤣 🏃🏃🏃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Astagaaa KangSat, kok saya senyum-senyum sendiri baca ini yaaa :D
      Ecieeehhh, film ternyata kadang bisa membaurkan 2 hati yang sebel-sebelan alias seneng betoolll :D

      Hapus
  6. ini juga belum nonton,dan booming banget ya
    awalnya aku dengerin lagu di story temen temen, didenger denger meskipun cuman 15 detik kok enak, slow gitu, trus liat liat produk olshop temanya its okay to not be okay, sampe segitunya dijadiin tema barang.

    karena penasaran sama lagu tadi, aku coba browsing dan ternyata OST nya dari drama ini hahahaha

    yang aku tangkap dari drama ini mengenai kehidupan keluarga yang cukup pelik juga ya, dari kasih sayang ibu dan hubungan antara anak-anaknya juga. kalau drama ini sampe dijadiin tema barang berarti artinya baguss bener ceritanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, ini ceritanya semua dihubungkan dengan sebab akibat mental illness sih :D
      Tapi maknanya banyak banget :D

      Hapus
  7. Semua point-point yang kak Rey sebut diatas, juga apa yang aku dapat dari hasil nonton drama ini. Paling utamanya adalah peran orangtua begitu sangat besar saat membesarkan anak. Dari drama ini aku belajar bahwa kita harus benar-benar siap mental sebelum menjadi orangtua >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah betul sekali Lia, mental itu penting banget buat persiapan ortu, selain dana pastinya hahaha.
      Sayangnya masih banyak yang belum ngeh hal tersebut, pokoknya liat bayi lucu aja dikira bisa dipause :D

      Hapus
  8. OMG Rey, ini Drakor yg bikin aku susaaaaaah utk move on lanjut menonton Drakor yg lain hahahahah. Saking sukanyaaaa ❤️❤️. Banyaak sih memang yg bisa diambil dari drama ini, trutama utk masalah pengasuhan anak yaaa.

    Aku jadi takuuut banget sikapku ke anak ada yg bikin mereka trauma , apalagi aku sadar aku bukan mami yg sabar. Makanya setelah nonton ini, pelan2 sih aku mau berubah demi anak2.

    Trus aku jd banyak belajar ttg handle anak2 autis seperti sang Tae. Selama ini pasti banyak orang2 yg ga mengerti menghadapi anak autis. Ada yg takut, ada yg terganggu , ada yg menganggab mereka gila dll :(. Padahal sbnrnya anak autis itu kebanyakan malah pandai, berbakat , dan ingatannya kuat. Bersyukur sih sang Tae ada ibu yg sangaaat perhatian. Makanya aku sempet ksh tau anak2ku juga, kalo seandainya mereka tahu ttg anak2 autis, ato mungkin mereka bertemu anak yg seperti itu, jgn dianggab aneh, gila ato apapun sebutan yg melecehkan. Karena anak pada dasarnya hanya ingin diperhatikan :(.

    Duuuh, aku masih kebayang2 Mulu nih sikapnya Sang Tae, cara dia bicara dll. Malah sbnrnya aku paling favoritin sang Tae sih di Drakor ini :D. Baru setelah itu Gang Tae dan Moon Young :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah, terdrakor Mbaaa :D

      Sebenarnya apapun keadaan anak-anak kita tuh, bakal diberikan tantangan dan juga jalan keluarnya ya.
      Kayak Sang Tae maupun Gang Tae ini, akhirnya ketemu sesama yang punya mental illness dan bisa lebih baik :D

      Btw di film Indonesia ada juga tuh yang peranin persis gitu, siapa sih namanya, main di filmnya MArcella Zalianti :D

      Hapus
  9. dari it's okay to not be okay. terkadang rasa sakit bisa berangsur membaik jika menemukan kawannya. jad, jangan pernah merasa sendiri ketika mendapatkan masalah, karena kamu tidak sendiri. kak, Ray. terikasih

    BalasHapus

Terimakasih sudah mampir dan membaca tulisan saya, silahkan meninggalkan komentar dengan nama dan url yang lengkap, mohon maaf, percuma ninggalin link di dalam kolom komentar, karena otomatis terhapus :)

Link profil komen saya matikan ya Temans.
Agar pembaca lain tetap bisa berkunjung ke blog masing-masing, gunakan alamat blog di kolom nama profil, terima kasih :)